Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
265: Serangan Aliansi Aliran Hitam 4


Menyadari lawan memiliki Teknik Iblis yang membuatnya sulit untuk dibunuh dengan cara biasa, Yao Chan pun mengeluarkan Tombak Pemusnah Roh.


DUUAR


Firasat Yao Chan seketika memburuk saat melihat dan mendengar suara kembang api yang sepertinya berasal dari bangunan Paviliun Harta Kultiva.


“Hahahaha … Sebentar lagi kedua saudara seperguruanku akan datang, kami akan membinasakan dirimu pemuda sombong!”


Ye Mao berteriak setelah menyadari bahwa Ketua Chu Lung telah memanggil kedua saudara seperguruannya.


Rasa Jerih dengan kemampuan yang Yao Chan tunjukan, berhasil Ia atasi saat melihat kembang besar di atas langit Kota Anmei itu.


Mendengar perkataan Ye Mao, Yao Chan hanya tersenyum dan perkataannya, membuat Ye Mao terkesiap.


“Baguslah jika begitu … Aku memang tengah mencari kalian bertiga, para murid Iblis Sejati.”


Setelah berkata demikian, Yao Chan segera mengalirkan energi qi ke Tombak Pemusnah Roh.


Wajah Ye Mao seketika memucat saat melihat seekor ular naga yang sangat besar, melesat keluar dari ujung tombak tersebut.


Ia pun teringat akan cerita Lin Shan yang dikalahkan dengan telak oleh pemuda yang memiliki tombak pusaka yang hebat.


Tombak itu mampu mengeluarkan seekor naga putih raksasa yang memiliki kekuatan yang sangat hebat. Nyaris setara dengan kekuatan yang dimiliki oleh guru mereka.


“Kau! …”


Ucapan Ye Mao terputus, saat tiba-tiba ular Naga Putih itu melesat ke arahnya dengan mulut yang terbuka lebar, siap untuk menelan dirinya.


Ye Mao melompat ke atas menghindari terkaman mulut Ular Naga Putih tersebut, secepat yang Ia bisa.


Namun kecepatan Ular Naga putih itu, jauh diatas kecepatan yang dimiliki oleh Ye Mao.


Sementara Yao Chan tersenyum saat melihat sebuah lingkaran cahaya merah kehitaman yang muncul di luar dinding.


BLAAAAR


Suara ledakan, membuat Yao Chan segera mengalihkan pandangannya, Ia terkejut saat mendapati kepala Ular Naga putih terpental saat hampir saja menerkam tubuh Ye Mao.


Di luar dugaan Ye Mao sekalipun, tiba-tiba dari pusarnya melesat segumpal asap yang segera menghantam kepala ular naga itu.


“Iblis Angin … Akhirnya kau muncul juga.”


Ular Naga Putih berbicara kepada makhluk yang tercipta sesaat setelah asap hitam itu, sirna dari pandangan mata.


“Naga Putih! … Rupanya kau sudah muncul di dunia ini. Ku ingatkan pada mu, jika aku tak selemah dulu!”


Sosok berkepala botak dengan dua tanduk di kepalanya, berkata seraya mengeluarkan sebuah Kipas Berwarna hitam sepanjang satu meter.


Kipas itu terlihat kecil di tangannya, karena Ia memiliki tubuh setinggi tujuh meter.


“Bodoh Kau Iblis Angin! … Kekuatan Naga itu jauh diatasmu sekarang. Cepat bunuh pemuda yang memegang Tombak itu!”


Sebuah suara sangat serak terdengar berasal dari lingkaran cahaya merah kehitaman yang bergaris tengah sepuluh meter itu.


Perkataan itu membuat Iblis Angin terkejut, Jika saja informasi itu bukan berasal dari Rajanya, Iblis Sejati, mungkin Ia tak akan mempercayainya.


Ia pun memandang ke arah Yao Chan yang memegang Tombak Pemusnah Roh. Ia lalu menyeringai dan segera mengibaskan kipas hitamnya ke arah Yao Chan.


“Jangan kau pikir aku diam saja Iblis Angin.”


Ular Naga Putih segera meliukkan tubuhnya menghadang serangan energi besar yang sedang menderu cepat ke arah Yao Chan.


BLAAAR


Energi cahaya itu meledak saat mengenai tubuh Ular Naga putih. Namun tubuh Ular Naga Putih tidak bergeming sama sekali.


Hal itu membuat Iblis Angin terkesiap, saat menyadari bahwa kekuatan Ular Naga Putih memang jauh diatas kekuatannya.


Iblis Angin yang masih terkesiap dengan kekuatan tubuh Naga Putih, baru tersadar saat serangan itu telah dekat dengan dirinya.


Ia pun mengumpat dan berusaha menghindari serangan itu, namun gerakan tubuhnya masih kalah cepat dengan energi itu.


BRUSSSSH


Energi dingin itu seketika membekukan tubuh Iblis Angin yang membuatnya tak bisa bergerak saat Naga Putih menelannya.


“TIDAAAKK!!”


Suara Iblis Sejati terdengar sedih dan marah ketika salah satu pengikutnya itu, harus tewas ditelan Ular Naga Putih yang adalah Hewan Dewa pengikut Dewa tertinggi.


Seandainya saja saat ini kekuatannya telah kembali sepenuhnya, Ia ingin keluar dari dimensinya untuk menghajar Ular Naga putih.


Namun mengingat Dewa Tertinggi akan muncul, membuatnya membatalkan hal tersebut.


Dinding Perisai energi yang Yao Chan buat, terlalu kuat untuk Ia hancurkan dengan mudah, membuatnya harus rela kehilangan salah satu pengikutnya dan juga salah satu muridnya.


Sesaat setelah tubuh Iblis Angin tertelan oleh Ular Naga putih, terdengar ledakan teredam di dalam tubuh Ular Naga itu.


Bersamaan dengan meledaknya tubuh Iblis Angin, Tubuh Ye Mao juga meledak hingga menjadi serpihan kecil.


Hal itu karena Mutiara Jiwa Iblis Angin yang tertanam dalam tubuh Ye Mao, ikut meledak hingga membuat Ye Mao tewas dengan tubuh hancur.


Ular Naga Putih masih memandangi Lingkaran Cahaya yang semakin lama semakin redup dan akhirnya hilang dari pandangan itu.


Ular Naga Putih segera kembali masuk ke dalam Tombak Pemusnah Roh setelah berpesan kepada Yao Chan untuk segera menyerap energi Iblis Angin yang telah Ia murnikan.


Yao Chan segera duduk bersila di atas udara untuk menyerap energi murni yang masuk dan mengalir deras ke dalam tubuhnya.


Rasa sakit luar biasa, tiba-tiba Yao Chan rasakan saat energi itu hampir habis terhisap oleh tubuhnya.


“AAARGGGGHHHHH”


Yao Chan merasakan energi itu akan meledak, membuatnya segera memasukan Tombak Pemusnah Roh ke dalam Gelang Ruang Dimensinya.


Sesaat kemudian Yao Chan melepaskan serangan kuat untuk membuang sebagian energi itu dengan menghantam perisai pelindung yang Ia buat.


BLAAAAM


Suara menggelegar terdengar ke seantero kota Anmei, saat dinding perisai itu hancur oleh serangan Yao Chan sendiri.


Yao Chan terengah-engah seraya melihat kedua telapak tangannya.


Ia tersenyum lebar saat menyadari bahwa langkahnya untuk menjadi Pendekar Dewa Sejati semakin dekat.


Ia pun mengedarkan pandangannya saat menyadari aura keberadaan Gong Li dan Yao Shen berada dekat dengannya.


Ia pun tersenyum lebar saat mendapati Isteri dan puteranya baik-baik saja.


Sementara di dekatnya terlihat, seorang gadis cantik yang kembali membuat jantung Yao Chan berdebar-debar.


Kecantikan Ji Xia yang bagaikan bidadari itu, membuat Yao Chan harus menelan ludahnya saat Ia tiba di hadapan mereka.


JEEDAAAR


Saat hendak berkata kepada Gong Li, Yao Chan merasakan Aura Kekuatan besar muncul bersama suara petir yang menggelegar keras itu.


Aura besar itu Ia kenali milik Lin San, hanya saja Ia tak menduga kekuatannya kini mampu menindih Aura kekuatan Kakak Iparnya dan Ketua Zhou Kin.


“Li’er kalian tetaplah di sini. Jaga Nona ini dan Putera kita. Ada dua musuh yang lebih kuat dari Ye Mao.”


*****