
Sesaat kemudian, Ratu Iblis berhasil menguasai dirinya, matanya melotot melihat ke arah Serigala Angin antara marah dan gentar.
“Siluman Serigala ini, kekuatannya sangat tinggi. Aku harus berhati-hati, serangan jarak jauh sepertinya sangat efektif untuk menghadapinya.”
Setelah berkata demikian dalam benaknya, Ratu Iblis mengeluarkan sebuah tongkat yang salah satu ujungnya tertancap sebuah tengkorak kecil.
Ia pun mengalirkan sejumlah energi kedalam tongkat pusaka tersebut. Sesaat kemudian kedua mata tengkorak itu, mengeluarkan cahaya hitam yang pekat.
Ratu Iblis menggeram, lalu mengarahkan mata tengkorak itu ke arah Serigala Angin.
Selarik sinar yang kemudian membesar setelah keluar dari kedua rongga mata tengkorak itu, meliuk membentuk seekor ular Cobra yang sangat besar.
Serigala Angin terlihat tenang saja melihat hal itu. Saat Energi berbentuk ular Cobra melesat ke arahnya dengan cepat, Ia segera mengerahkan hawa sangat dingin yang segera memenuhi udara dalam radius lebih dari seratus meter.
Fan Mo dan Yao Chan yang belum memulai pertarungan mereka, keduanya merasakan juga hawa yang sangat dingin itu.
Jarak keduanya kurang dari seratus meter dengan Serigala Angin, membuat api yang menyelimuti tubuh Fan Mao mengecil secara cepat.
Menyadari api di tubuhnya mulai mengecil, Fan Mao segera mengerahkan energinya, lebih besar dari sebelumnya.
Udara terasa panas kembali saat api di tubuh Fan Mao membesar. Yao Chan mengerutkan dahinya, hawa panas kali ini terasa saat menerpa kulit tubuhnya.
Hal ini menunjukan kekuatan Fan Mao yang setidaknya berada di tingkat Pendekar Dewa Level satu puncak.
Yao Chan menyeringai lalu menghentakkan energi di tubuhnya. Fan Mao terkesiap saat merasakan hawa sangat dingin, memancar sangat kuat dari tubuh pemuda yang telah menyegel tubuh kedua muridnya itu.
“Inti Api Iblis!”
Fan Mao seger berteriak dengan keras untuk membangkitkan semangat tarungnya yang sempat menciut merasakan hawa dingin dari dua arah yang berbeda itu.
Seketika udara dalam radius lima puluh meter terasa memanas kembali. Namun Yao Chan tidak merasakan rasa panas itu karena menggunakan Teknik Naga Es.
Fan Mao segera melesat ke arah Yao Chan dengan kedua tangan yang memancarkan api hitam yang sangat panas.
Fan Mao mendengus kesal, serangannya yang sangat cepat itu di hindari dengan sangat mudah oleh Yao Chan.
Ia pun segera menyerang kembali Yao Chan dengan serangan gabungan antara pukulan langsung dan serangan dengan menembakan energi dari telapak tangannya yang memancarkan panas dari Api Hitam.
Pertarungan keduanya semakin sengit, Yao Chan dengan Teknik Naga Es nya, membuat Iblis Fan Mo semakin lama semakin merasakan energinya terkuras dengan cepat.
“Jika begini terus, Aku bisa kehabisan energi, tak ada cara lain aku harus menjauh dari tubuhnya .”
Dengan gerakan sangat cepat, Iblis Fan Mao segera melesat mundur menjauhi Yao Chan. Ia segera mengerahkan energi ke arah dua telapak tangannya hingga membuat kedua tangannya kembali bersinar dengan api hitam yang sangat besar.
Sesaat kemudian serangkum Api besar melesat ke arah Yao Chan dengan sangat cepat.
Yao Chan yang sudah menduga akan serangan energi itu, berdecak kesal. Ia berpikir dengan cepat jika Ia menghindari serangan itu, maka perisai pelindung itu akan retak.
Ia pun segera mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan dan melesatkan sebuah Sinar Biru yang berhawa sangat dingin menghadang Sinar Api Hitam itu.
BLAAAM
BLAAAAAR
Kedua sinar energi yang sangat kuat itu saling beradu dan menimbulkan suara menggelegar yang membuat udara bergetar dalam radius seribu meter.
Suara menggelegar lain terjadi nyaris bersamaan, saat energi berbentuk Ular Cobra raksasa dari Tongkat Ratu Iblis, berbenturan dengan Dua buah sinar berbentuk Pedang yang besar dari kedua mata Serigala Angin.
Ular Cobra raksasa itu hancur menjadi butiran energi hitam yang membeku dan jatuh dengan cepat ke tanah.
Ratu Iblis terkesiap melihat hal itu, tidak sekalipun dalam benaknya Ia akan bertemu dengan siluman yang begitu kuat.
Seandainya Serigala Angin mengetahui bahwa dirinya disebut Siluman, mungkin dia akan marah besar karenanya.
Karena dirinya adalah Hewan Dewa, satu tingkat di atas Hewan Roh yang memiliki kekuatan terbesar sekalipun.
“Siluman Serigala jelek sialan, Aku akan membunuh mu dengan jurus terkuat ku!”
Karena kesalnya, Ratu Iblis berteriak dengan kencang memaki Serigala Angin yang wajahnya tiba-tiba saja berubah kelam.
Hal itu membuat Iblis Fan Mao terkesiap, demikian juga dengan Yao Chan yang merasakan tubuhnya seakan membeku.
Yao Chan segera mengubah tekniknya, Ia pun menggunakan Teknik Naga Api dengan kekuatan penuhnya mencoba bertahan dari udara dingin yang semakin meningkat.
“Pendekar Dewa Level Lima!”
Yao Chan mengguman cukup keras membuat Fan Mao tersedak ludahnya. Fan Mo juga mengerahkan kekuatan penuhnya untuk mengusir hawa dingin dari tubuhnya.
Seketika udara di luar Perisai Pelindung mulai dipenuhi oleh salju yang berjatuhan dan membentuk gumpalan es sebesar telapak tangan.
Ratu Iblis wajahnya memucat saat menyadari kemarahan Serigala yang kini mengeluarkan kekuatan penuhnya itu.
Tubuhnya seketika menggigil hebat, antara takut dan juga karena hawa dingin yang begitu kuat menusuk tulang tubuhnya.
Walau Ia sudah mengerahkan seluruh energi panas yang Ia miliki, namun Hawa dingin itu masih terlalu kuat baginya.
“Roh Iblis Abadi Keluarlah!”
Ratu Iblis berteriak kuat dan mengerahkan Tongkat pusaka bertengkoraknya ke udara.
“Serigala Angin! Hentikan kekuatan mu! Apa Kau akan membunuhku juga?!”
Yao Chan berteriak keras kepada Serigala Angin, walau sudah mengerahkan energi penuhnya, namun hawa dingin masih saja menusuk tulangnya.
Serigala Angin terkejut dan tersadar dari kemarahannya. Ia terlupa jika Bos Mudanya itu masih di level dua Pendekar Dewa.
“Maaf Bos Muda, Aku terbawa emosi karena Nenek Iblis Peot ini mengatai Aku sebagai siluman pakai jelek ditambah sialan pula!”
Serigala Angin membalas perkataan Yao Chan seraya menurunkan kekuatannya di batas level dua Pendekar Dewa.
Udara jauh lebih hangat dirasakan oleh Yao Chan, namun sesaat kemudian berubah menjadi sangat panas ketika sesosok Tubuh sangat besar setinggi lima puluh meter keluar dari tongkat Ratu Iblis.
Sosok tersebut diselimuti oleh Api dengan kepala yang bertanduk dua dan mata merah yang menyala memperlihatkan taringnya yang besar dan tajam.
Melihat itu, Serigala Angin segera melompat mendekati Yao Chan. Sementara Iblis Fan Mao segera mendekati Ratu Iblis.
“Ratu Iblis apa yang kau lakukan? Kau telah mengundang Kiamat bagi Dunia Moxian dengan membangkitkan nya!”
Iblis Fan Mao berkata dengan suara bergetar karena mengetahui apa yang akan terjadi jika “Roh Iblis Abadi” telah dibangkitkan dari tidur panjangnya.
“Aku tidak peduli, Aku tidak mau mati sendiri, semua juga harus mati.”
Ratu Iblis yang sudah gelap mata karena nyaris mati membeku, berkata keras yang membuat Fan Mao menyesal telah membantunya.
Sementara Xian Mey dan yang lainnya yang melihat hal terpana dengan apa yang mereka lihat.
“Xian Shi, Xian Chi … Bersiaplah saatnya bagi kita para Peri Legendaris memenuhi Takdir Hidup kita.”
Perkataan Xian Mey membuat Gong Li, Zhu Yin, dan Qing Mi memandang heran ke arahnya. Hanya Iblis Lin Mao yang terlihat diam dan menghela nafas panjang.
Lin Mao mengetahui Makhluk apa yang kini ada dihadapan mereka itu. Makhluk yang terlarang dibangkitkan karena akn menyebabkan Dunia Moxian mengalami Kiamat.
Ia pun memandang ketiga gadis yang disebut Peri Legendaris itu dengan tatapan kagum dan Iba.
Ketiganya harus mengorbankan hidup mereka, demi kelangsungan Dunia Moxian dari Kiamat yang disebabkan oleh Roh Iblis Abadi yang telah dibangkitkan oleh Ratu Iblis.
Ketiga Peri Legendari itu segera melesat ke udara dan sesaat kemudian telah berada dibelakang Yao Chan yang tak jauh dari Dinding Perisai Pelindung itu.
“Mey’er kenapa kalian kesini, menjauhlah!”
Yao Chan yang melihat ketiga Peri Legendaris itu segera berkata demikian karena merasakan firasat buruk melihat Sosok Iblis bertanduk yang tubuhnya diselimuti Api itu.
“Chan Gege … Tolong biarkan kami keluar dari Perisai Pelindung ini, karena takdir hidup kami telah tiba.”
Yao Chan tertegun dan memandang heran ke arah ketiga Peri Legendaris itu. Berbagai pertanyaan membersit dalam benaknya.
*****