
"Siapa Kau? mengapa Kau menolongnya dari kematian!"
Qing Mi terlihat gusar dengan apa yang baru saja dilakukan oleh pemuda tampan yang kini berada di hadapannya.
Yao Chan tersenyum tipis, ia bisa merasakan kemarahan dalam nada suara Qing Mi.
"Namaku Yao Chan, bagaimana kabar Kakek Dewa Racun Barat?"
Tubuh Qing Mi bergetar, ada rona merah terlihat pada kulit pipinya yang seputih salju itu saat mendengar nama pemuda tampan di hadapannya itu.
"Ah dia lebih tampan dari yang diceritakan Kakek."
Nama Yao Chan bukanlah nama asing bagi Qing Mi karena nama itulah yang membuat ia kini berada di Kota Anhui.
Sang Kakek, Dewa Racun Barat, menceritakan kepada Qing Mi bahwa ia berhasil membawa Tao Yan karena seorang pemuda bernama Yao Chan membiarkannya pergi membawa lelaki tersebut.
Walau sebenarnya Yao Chan bisa saja membunuhnya, namun ia memilih memegang janji kepada sang Kakek daripada melepaskan amarah di hatinya.
Karena rasa simpati Kakeknya kepada karakter Yao Chan dan juga ketampanan pemuda tersebut, sang Kakek berniat menjodohkan dirinya dengan pemuda tersebut.
Awalnya Qing Mi menolak mentah-mentah niat sang Kakek, namun seiring waktu dan seringnya sang Kakek bercerita, membuat Qing Mi mengiyakan saja keinginan kakeknya tersebut agar berhenti menjodohkan dirinya dengan pemuda yang belum ia kenal itu.
Kini rasa malu mendera hatinya saat menyadari pertemuan awal mereka dalam keadaaan dirinya berlaku kasar dengan membunuhi orang, sekalipun mereka adalah perampok yang terkenal dengan kekejamannya.
"Nona kenapa kau diam saja, apakah ada yang salah dengan wajahku?"
Pertanyaan Yao Chan membuyarkan lamunan Qing Mi yang saat itu matanya sedang terarah kepada Yao Chan, namun pikirannya melanglang buana ke waktu satu bulan yang lalu.
"Ah maaf aku hanya teringat cerita Kakek tentang dirimu. Oh iya aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, karena kau membiarkan Kakek membawa Tao Yan dan aku bisa membalaskan dendam atas kematian ke dua orang tuaku."
Qing Mi segera mengucapkan rasa terimakasih untuk mengusir rasa malu yang bergelayut dalam hatinya.
"Nona Qing Mi kau tidak perlu sungkan seperti itu, Setelah urusan ku selesai di barat ini, justru aku ingin datang menemui kakek mu selain memenuhi janjiku padanya, aku juga ingin meminta maaf atas sebuah kesalahanku."
Yao Chan tersenyum tipis mengingat ia sempat memvonis bahwa Dewa Racun Barat adalah orang yang menyebabkan kematian Kakeknya Lin Bao.
Saat menemukan kebenaran bahwa Song He adalah dalang dibalik semuanya, Yao Chan ingin meminta maaf saat nanti ia memiliki kesempatan bertemu dengan Dewa Racun Barat.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan perampok ini?"
Qing Mi menunjuk lelaki dihadapannya yang seketika berubah pucat ketika pedang gadis itu mengarah ke wajahnya.
"Aku akan melakukan sesuatu hal terlebih dahulu padanya."
Selepas berkata demikian Yao Chan kalau memegang leher lelaki bertubuh besar itu hingga matanya melotot.
Dengan menggunakan energi qi yang dialirkannya pada kedua matanya, kini Yao Chan dengan mudahnya memasuki, alam pikiran lelaki perampok itu.
PRAAAAK
Wajah Yao Chan berubah kelam saat selesai melihat ingatan lelaki tersebut. Tanpa berkata apapun ia melepaskan pukulan keras kearah kepala lelaki itu hingga kepalanya pecah dengan tulang tengkorak yang berhamburan.
Qing Mi tersurut dua langkah melihat hal itu, sementara Kaisar Wu Jian menelan ludahnya beberapa kali melihat kekejaman calon kakak iparnya itu.
"Saudara Chan ... kenapa.kau terlihat semarah itu?"
Kaisar Wu Jian bertanya saat wajah Yao Chan terlihat tidak sekelam sebelumnya. Perutnya merasa mual melihat isi kepala manusia yang berhamburan, ini adalah kali pertama baginya melihat hal seperti itu.
Yao Chan masih terdiam mendengar pertanyaan Kaisar Wu tersebut. Ia bingung, mulai darimana ia haru menjelaskan kekejian lelaki yang tergeletak dengan kepala pecah itu.
Pandangannya pun beralih kepada para penduduk yang mulai berdatangan menyaksikan keributan tersebut, sebagian yang lain langsung meninggalkan tempat dengan wajah pucat saat melihat kondisi mayat yang terbunuh dengan isi kepala yang berhamburan.
Belasan prajurit penjaga kota pun berdatangan setelah mendapat laporan dari penduduk tentang adanya pertarungan tersebut.
*Ada apa in ... ni "
Suara keras kepala prajurit penjaga itu terputus saat mendapati Sang Kaisar berada dihadapannya.
"Hormat kepada yang Mulia Kaisar!"
Ucapan yang disertai dengan berlututnya belasan prajurit tersebut, sontak membuat para penduduk terkejut lalu mengikutinya. Mereka terkejut karena mendapati seorang pemuda yang terlihat sebagai seorang bangsawan itu ternyata adalah Kaisar Wu yang baru dinobatkan sebulan yang lalu.
Qing Mi yang tak kalah terkejutnya dengan para penduduk, segera hendak berlutut. Namun Kaisar Wu Jian melarangnya dan meminta seluruh orang yang hadir untuk kembali berdiri.
Kaisar Muda itu segera menjelaskan kepada mereka yang hadir agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada dirinya.
Saat mendapati bahwa yang terbunuh adalah para perampok kejam yang terkadang merampok penduduk Kita Anhui, orang-orang pun bernafas lega.
Kaisar Wu Jian kemudian memerintahkan para prajurit untuk membereskan mayat-mayat tersebut, ia pun memutuskan kembali ke penginapan karena peristiwa tersebut.
Qing Mi pun akhirnya mengikuti rombongan Kaisar Wu Jian yang berterimakasih karena telah menolongnya. Hal itu sempat membuat Yu Lian cemberut mendengar ucapan Kekasihnya itu. Ada cemburu yang sungguh terlalu bergejolak dihatinya.
Namun saat mendapati bahwa gadis yang tak kalah cantik dengan dirinya seringkali menatap sang Kakak, Yu Lian tertawa kecil sambil melirik wajah Zhu Yin yang terlihat kesal.
"Chan Gege memang punya kharisma yang membuat hati setiap perempuan luluh melihatnya, semoga Yin Jie jie bisa bersabar dengan semua itu."
Dalam benaknya, Yu Lian bisa merasakan apa yang dialami oleh Zhu Yin saat ini, empatinya pun timbul setelah sekian waktu mengenal Zhu Yin yang memiliki kepribadian yang menyenangkan.
***
Selepas tengah malam, sebuah bayangan melesat dengan cepat ke udara dari sebuah jendela kamar penginapan dimana Kaisar Wu Jian dan lainnya menginap.
Bayangan yang tak lain adalah Yao Chan itu, melesat dengan cepat ke arah barat daya. Berdasar ingatan yang berhasil ia dapatkan dari salah satu perampok itu, Yao Chan memutuskan untuk menghancurkan kelompok tersebut sampai ke akarnya.
Yao Chan melesat terbang dengan kecepatan penuh menggunakan energi qi-nya yang kini berjumlah enam ribu kristal qi.
Masih butuh empat ribu Kristal qi lagi baginya untuk menembus tingkat Pendekar Langit tahap Awal. Hanya saja Yao Chan menemukan bahwa tubuhnya merasakan sakit saat membentuk energi kristal yang ke enam ribu.
Sampai sejauh ini Yao Chan belum mengetahui pasti apa yang menyebabkan hal itu. Seharusnya dengan kualitas tulangnya saat ini, ia bisa mengumpulkan setidaknya dua puluh ribu kristal qi.
Dengan kecepatan penuhnya ini, tempat sejauh seratus kilometer yang akan ia datangi hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk menempuhnya.
****