Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
224: Kematian Petinggi Naga Hitam


“Ketua Zeng bagaimana ini?”


Tetua Zhao Wu terlihat panik saat ratusan Ekor Ular Naga dari energi qi Yao Chan melesat meliuk-liuk kearah mereka.


“Buat Perisai Pelindung!”


Ketua Zeng Hu segera mengangkat goloknya yang seketika mengeluarkan cahaya hitam kemerahan. Cahaya itu segera membentuk kubah perisai yang melindungi keduanya.


Dua energi yang berbentuk ular naga segera menghantam dinding perisai itu membuat sosok tubuhnya meledak dan hancur menjadi butiran energi di udara.


Ular Naga energi qi itu terus berdatangan dan menghantam dinding perisai hingga membuatnya retak.


Wajah Ketua Zeng Hu terlihat khawatir, namun dirinya tetap bertahan dengan terus mengalirkan energi kedalam pedang yang terus saja mengeluarkan cahaya.


“Cepat bantu Aku, letakan ujung tombak mu di bilah golok ku! … Cepat!”


Tetua Zhao Wu segera melakukan perintah Ketua Klan-nya itu. Sinar Hitam kemerahan segera berubah menjadi hitam kebiruan saat tombak tersebut mengeluarkan cahaya setelah dialiri energi qi.


Melihat hanya tersisa kurang dari dua ratus ekor ular naga-nya, Yao Chan segera menggerakan kedua telapak tangannya.


Ratusan ekor ular naga dari energi itu, melesat berbalik arah dan meliuk-liuk berkumpul menjadi satu.


Sesaat kemudian udara berubah menjadi kuning keemasan saat terbentuk seekor ular naga raksasa dari energi Yao chan.


Energi berbentuk ular naga itu panjangnya mencapai puluhan meter dengan diameter badannya mencapai tujuh meter.


Energi ular naga itu segera melesat dan menukik kearah Ketua Zeng Hu dan Tetua Zhao Wu yang berada di balik perisai energi dengan wajah yang terlihat khawatir.


Keduanya segera mengerahkan seluruh energi qi nya yang tersisa untuk menahan energi Ular Naga raksasa itu sesaat sebelum kepala Ular naga membentur perisai.


Berbeda dengan sebelumnya, Kepala Ular Naga dari energi itu, tidak meledak saat membentur Kubah perisai yang bergetar hebat karenanya.


KRAAK KRAAAAK


Kepala Ular Naga itu terlihat tertahan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar suara dinding perisai yang pecah.


BUUUUUMMM


Ledakan besar pun menggelegar saat kepala ular Naga itu menghantam kedua petinggi Klan Naga Hitam dan meledakkan tubuhnya menjadi butiran debu.


Udara di sekitar keduanya tadi berada berubah warna menjadi merah. Sementara Udara berfluktuasi dengan sangat hebatnya, dan menerpa seluruh yang ada dalam radius satu kilometer dari pusat ledakan.


Serigala Angin terlihat tetap tertidur, seolah tidak merasakan energi besar menerpa tubuhnya. Ia hanya membuka sebelah matanya untuk sesaat sebelum kemudian terpejam dan tidur kembali.


Sementara Gong Li terlihat terengah-engah saat udara kembali normal. Perisai Energi yang Ia buat, sempat retak karena energi ledakan itu.


Mereka semua bernafas lega, saat mengetahui bahwa kedua orang itu telah tewas dengan hanya menyisakan dua buah Gelang Ruang Dimensi yang kini berada di tangan Yao Chan.


Yao Chan segera kembali ke tempat mereka dan Ia segera saja meminta maaf kepada Lin Mo yang sedang memandang wilayah Lembah Hou Mon yang telah porak poranda.


Tanpa mereka sadari dan ketahui, seluruh energi dari kedua orang itu yang berada di udara, mengalir ke sebuah hutan dimana sosok Peri Hitam sedang bermeditasi.


Peri Hitam segera membuka matanya saat merasakan kekuatannya menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya setelah ia menyerap tujuh energi lain beberapa hari sebelumnya.


“Bunda … Sekarang Bunda bisa membalas dendam atas kematian Kakek dan Nenek. Kekuatan Bunda sekarang sudah sangat besar.”


Roh Han Mo segera berbicara dalam pikiran Peri Hitam yang terlihat bersemangat dan langsung berdiri. Saat itulah Ia menyadari perutnya membuncit dua kali lebih besar dari sebelumnya.


Ia terkejut dan menanyakan kepada Han Mo perihal perutnya yang membesar begitu cepat seolah Ia telah hamil lima bulan.


Han Mo juga mengatakan bahwa dirinya akan terlahir kurang dari dua bulan lagi karena hal tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Peri Hitam terkejut sekaligus bahagia, bahwa Ia akan segera memiliki bayi yang takkan pernah melihat sosok sang Ayah yang telah mati.


“Anakku … Bunda akan segera menuju ke Pohon Abadi Xian Fun Da Shi dan membunuh mereka semua setelah puas menyiksanya.”


Peri Hitam mengepalkan tangannya dan Ia pun segera keluar dari goa tempat dimana Ia bermeditasi selama satu minggu ini.


Peri Hitam melayang di udara tanpa mengembangkan kedua sayapnya. Hal itu karena kemampuannya sudah sangat tinggi jauh dari sebelumnya.


Peri Hitam segera melesat dengan cepat ke arah Pohon Xian Fun Da shi dengan hati yang dipenuhi semangat membara untuk membalas dendam.


Roh Han Mo hanya tersenyum saja melihat hal tersebut. Ia akan lebih kuat dari kehidupan pertamanya, jika saja berhasil menyerap kekuatan Kristal Dewa yang berada di pangkal Pohon Xian Fun Da Shi.


Untuk itulah Ia meminjamkan Kekuatanya kepada Peri Hitam, untuk membalas dendam kematian kedua orang Tuanya.


Setelah menguasai Pohon Abadi Xian Fun Da Shi, maka setiap hari dirinya dapat dengan mudah menyerap energi Kristal Dewa itu, setelah merobohkannya.


Roh Han Mo tersenyum saat merasakan Aura kehidupan yang di penuhi energi jahat sedang berada di depan mereka sejauh tiga kilometer lagi.


Peri Hitam segera menyadari adanya ratusa Iblis sedang bergerak ke arah dirinya. Dan sesaat kemudian, Ia menemukan pasukan Iblis yanng dipimpin Panglima Iblis Hen Mo, sedang bergerak ke hutan tempatnya berada tadi.


“Sepertinya Iblis Hitam telah membocorkan rahasia keberadaan ku sebelum Ia mati.”


“Bunda … sebaiknya bunda habisi terlebih dahulu mereka, karena itu akan membuat Bunda semakin Kuat.”


Lagi-lagi Roh Han Mo memprovokasi Peri Hitam dengan berbicara dalam pikirannya. Peri Hitam menyeringai dan Ia pun melesat turun menghadang ratusan pasukan Iblis yang tengah berlari dengan cepat itu.


“Berhenti !!”


Suara Peri hitam terdengar menggelegar mengejutkan ratusan pasukan Iblis dan panglima Hen Mo.


“Peri Hitam … Akhirnya kau mendatangi kami, sehingga kami tidak perlu bersusah payah untuk mencarimu Hahahaha. Cepat serahkan Mutiara Hati Iblis kepada ku!”


Setelah hilang rasa terkejutnya, Panglima Iblis Hen Mo segera berkata dengan menghunuskan tombak goloknya kearah Peri Hitam yang tersenyum mendengar perkataan Panglima Iblis itu.


“Menyerahkannya padamu? Jika Aku tidak mau menyerahkan bagaimana?”


Peri Hitam sengaja memancing emosi Panglima Iblis Hen Mo agar mereka menyerang dirinya.


“Tentu saja kami akan memaksamu untuk menyerahkannya. Jadi serahkan Mustika itu padaku sekarang juga … Cepat!”


Mendengar Panglima Iblis Hen Mo membentaknya, raut wajah peri Hitam seketika berubah menyeramkan.


Aura kekuatan yang besar segera saja memenuhi udara saat Peri hitam mengalirkan sejumlah energi ke dalam sepuluh jarinya.


Panglima Iblis Hen Mo tertegun merasakan Aura kekuatan yang menurutnya setara dengan kekutan yang di miliki oleh Ratu Iblis Rin Mo.


Panglima Iblis Hen Mo segera melompat ke udara saat sepuluh larik sinar hitam melesat dari jari tangan Peri Hitam.


Jerit kematian dari pasukannya terdengar sesaat kemudian dan terus silih berganti saat Peri hitam berkelebat ke arah pasukannya.


Suasana menjadi hening beberapa saat kemudian menyisakan Panglima Iblis Hen Mo yang terpana dengan kematian tiga ratus prajurit yang Ia pimpin.


Tubuhnya bergetar saat melihat Peri Hitam memandang dirinya dengan tatapan tajam dan kemudian melesat dengan sangat cepat ke arahnya.


******