
"Akhirnya aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi budakku. Hahahaha."
Suara Song He berubah menjadi berat, Membuat Xun Chang dan Gui Han menelan ludah mereka.
Menyadari bahwa Song He telah dirasuki Iblis, Xun Chang dan Gui Han menjadi lebih waspada, karena bisa saja Song He yang kerasukan itu menyerang mereka.
"Selamat berjumpa saudaraku Iblis Hitam, akhirnya kami berhasil menemukanmu."
Suara berat yang lain terdengar dari sosok Huang Lun.
Xun Chang dan Gui Han akhirnya menyadari bahwa mereka berhadapan dengan para pendekar yang memilih bekerjasama dengan bangsa Iblis melalui Pusaka dimana roh para Iblis itu bersemayam.
Roh Iblis Hitam yang merasuki tubuh Song He, terdiam sambil memandang tajam ke arah Shin Mu yang juga telah dirasuki oleh Panglima Iblis Ren Mo.
"Hormatku kepada panglima Iblis Ren Mo yang agung. Senang bisa bertemu anda di dunia manusia ini."
Mengenali Sosok iblis di dalam tubuh Shin Mu, Roh Iblis Hitam segera berlutut dan memberikan Hormatnya kepada Panglima Iblis Ren Mo yang telah merasuk di dalam tubuh Shin Mu.
"Kau terlalu sungkan Iblis Hitam, sekarang kaulah yang yang menjadi Panglima dari Bangsa Iblis. Jadi sekarang kaulah pemimpin kami."
Panglima Iblis Ren Mo menyadari bahwa kekuatan Iblis Hitam setidaknya dua tingkat di atas kekuatannya. Dengan demikian sepatutnya ia menjadi pemimpin diantara mereka.
"Panglima Ren Mo, anda adalah legenda bangsa Iblis di dunia Moxian, sangat tidak pantas sekali aku menjadi pemimpin anda."
"Hahahaha ... Iblis Hitam, kau sungguh naif sekali. Apakah kau lupa aturan tidak tertulis bangsa kita bahwa mereka yang kuatlah yang menjadi penguasa? Tentu kau menyadari bahwa kekuatanku di bawahmu dua tingkat.*
Xun Chang dan Gui Han tersurut dua langkah saat mengetahui kekuatan Iblis Hitam yang merasuki tubuh Song He. Firasat buruk kini menggelayuti pikiran mereka.
"Baiklah jika begitu, jadi apa sebenarnya yang telah terjadi selama ini Iblis Merah? kenapa aku hanya bisa merasakan Aura Iblis Kuning dan Iblis Hijau? Kemana Iblis Biru?"
Rentetan pertanyaan Iblis Hitam membuat Iblis Merah tersenyum kecut. Ia pun menceritakan tentang apa yang ia lihat dan ketahui semenjak dirinya menemukan wadah yang cocok yaitu Huang Lun.
Iblis Hitam terkejut beberapa kali mendengar berita yang disampaikan oleh Iblis Merah.
"Jadi Iblis Biru telah tertangkap oleh pemuda itu? Siapa sebenarnya pemuda dan gadis itu? Mengapa mereka memiliki Pedang Dewa Perang dan Cambuk Naga Api?"
Iblis Hitam terlihat termenung memikirkan situasi yang ia dapati saat ini. Siapapun pemuda itu, dia bukanlah lawan yang mudah. Karena mampu menyegel Iblis Biru sehingga ia tidak dapat merasakan auranya sedikitpun.
Sementara Xun Chang termangu mendengar kisah tersebut. Akhirnya ia pun memahami bagaimana Yao Chan yang masih belia memiliki kekuatan yang begitu tinggi.
"Baiklah, mari kita temui Iblis Kuning yang keberadaanya terdekat dengan kita. Sepertinya ia telah menemukan wadah yang sesuai dengan dirinya."
Iblis Hitam akhirnya memutuskan langkah mereka berikutnya.
"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?"
Tanya Iblis Merah sambil melihat Xun Chang dan Gui Han yang kini terlihat khawatir.
"Menurutmu apakah mereka masih pantas hidup setelah mengetahui sebanyak ini?
Iblis Hitam.menyeringai setelah menjawab pertanyaan Iblis Merah.
***
"Chan Gege ... Aku lapar, masih jauhkah desa yang terdekat?"
Entah yang ke berapa kalinya Yu Lian merengek manja kepada Yao Chan. Zhu Yin hanya tersenyum tipis mendengarnya, mengingat gadis yang terlihat manja dan kekanak-kanakan itu, bisa menjadi monster tanpa ampun ketika bertarung dengan lawannya.
"Sekitar dua jam lagi kita akan sampai di kota Nanjing."
Yao Chan menjawab sekenanya, telinganya menjadi gatal dengan rengekan adik tirinya sekaligus adik seperguruannya itu.
"Dari tadi sekitar dua jam terus ... tapi kita belum sampai-sampai juga."
Sejak kemarin setelah prosesi pertunangannya dengan Kaisar Wu Jian, Yu Lian terlihat jauh lebih feminim. Hal ini karena Lin Hua mulai memberitahunya bagaimana ia harus bersikap layaknya seorang permaisuri.
Sejak keberangkatan mereka tadi pagi, Yu Lian terlihat sering melamun. Entah apa yang ia pikirkan, beberapa kali Yao Chan memergoki adiknya itu tersenyum sendiri.
Terakhir Yang Yao Chan ingat adalah Yu Lian tersenyum ceria ketika mendapat sebuah lencana kekaisaran di mana tertulis namanya dan sebuah kata "Permaisuri Wu"
Yu Lian kembali hendak protes, namun di kejauhan dirinya melihat sebuah tembok panjang, tembok Kota Nanjing. Melihat itu, Yu Lian segera menggebrak kudanya dengan cepat.
Yao Chan dan Zhu Yin tersenyum tipis sebelum akhirnya menggebrak kuda mereka menyusul Yu Lian.
Dalam hitungan menit, mereka pun tiba di Gerbang Selatan Kota Nanjing. Belasan Prajurit segera bersiaga, dua orang prajurit menghampiri untuk memeriksa identitas mereka, Mata para prajurit itu terlihat kagum menatap kecantikan Yu Lian dan Zhu Yin.
Yao Chan menunjukan identitasnya sebagai murid Sekte Lembah Dewa. Kedua prajurit tersebut saling berpandangan sejenak, Yao Chan mengerutkan dahinya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa? apakah ada masalah dengan identitas kami?"
Yao Chan bertanya sambil melebarkan matanya menatap tajam kedua prajurit yang terlihat seperti sedang kebingungan itu.
"Begini tuan, sejak penobatan Yang Mulia Kaisar Wu Jian untuk memasuki kota Nanjing dikenakan biaya masuk sebesar lima koin Perak untuk satu orang."
Salah seorang prajurit bernafas lega setelah berhasil menyampaikan peraturan terbaru di Kota Nanjing tersebut.
"Apakah aku tidak salah dengar?"
Yao Chan sempat terkejut dengan peraturan baru tersebut. Setelah memastikan dalam ingatannya bahwa tidak ada peraturan baru tentang hal itu, Yao Chan bertanya kepada prajurit yang berbicara tadi sambil menatapnya dengan tajam.
"Jika kau tak punya uang untuk membayar silakan kembali dan jangan berharap bisa memasuki kota dengan gratis."
Sebuah suara terdengar dari atas gerbang dimana terlihat seorang bertubuh tinggi besar sedang menatap mereka dengan tajam.
"Aku bukan orang yang kekurangan uang, justru aku kelebihan banyak uang. Hanya saja peraturan yang kalian buat sendiri itu, sungguh membuat ku ingin menampar mulut kalian."
Selesai berkata demikian Yao Chan melesat dengan langkah Dewa Angin.
PLAAK PLAAK
Terdengar suara tamparan sebanyak dua kali membuat para prajurit terkejut. Dalam penglihatan mereka, Yao Chan menghilang dari atas kudanya untuk sesaat, sebelum terlihat lagi telah duduk kembali diatas kudanya.
Sementara Komandan jaga yang berada diatas gerbang, wajahnya menjadi pucat pasi. Dia tidak bisa melihat gerakan Yao Chan yang baru saja menampar dirinya sebanyak dua kali hingga membuat bibirnya mengeluarkan darah.
"Siapa yang memberi perintah kalian untuk memungut biaya sebesar itu kepada mereka yang hendak memasuki kota Nanjing? Cepat katakan! Jangan membuat aku bertanya dua kali!"
Bentakan Yao Chan membuat hati belasan prajurit itu menciut. Dengan cepat seorang prajurit berbicara dan mengatakan bahwa perintah ini dikeluarkan oleh Walikota Nanjing yang bernama Hung Lie.
"Tunjukan padaku dimana walikota Hung Lie itu berada!"
Tanpa diperintah dua kali, prajurit tersebut segera mengambil kudanya setelah membuka gerbang untuk memasuki kota.
...*****...
...LIKE dan VOTE adalah VITAMIN bagi Author...
...agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga...
...terus bersemangat dalam menata kata😁...
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....
...Terimakasih...