
"Chan'er bolehkah aku minta tolong padamu, seandainya terjadi sesuatu yang buruk padaku, maukah kau membantuku untuk menjaga Mi'er?"
Dengan nada suara yang berat, Dewa Racun Barat akhirnya bisa mengucapkan sesuatu yang mengisi benaknya sejak pertemuannya dengan Yao Chan lebih dari satu bulan lalu.
Dewa Racun Barat, entah kenapa memiliki simpati terhadap pemuda tampan berusia belasan tahun itu sejak mereka pertama kali bertemu.
Sebagai seorang Kakek, Ia tentu saja berharap bahwa cucu satu-satunya itu memiliki jodoh seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab serta bisa melindunginya dari kekejaman dunia persilatan. Dan ketiga kriteria itu, ia temukan pada diri Yao Chan.
Hanya saja Dewa Racun Barat merasa tidak pantas mengatakan hal itu secara langsung, mengingat mereka baru dua kali bertemu. Beruntungnya ia menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan niatannya tersebut.
"Kakek, kakek jangan begitu, kakek akan baik-baik saja apalagi dengan kemampuan Kakek yang sudah tinggi sekarang, sulit mencari lawan yang bisa mengimbangi Kakek."
"Dasar bocah sontoloyo, apa dia tidak paham kemana arah pembicaraanku.?"
Dewa Racun Barat menggerutu dalam hati mendengar jawaban Yao Chan, ia merasa Yao Chan tidak memahami kata-katanya sehingga berbicara tentang kekuatan seorang pendekar, bukan tentang pernikahan.
Senyum kecut Terlihat dibibir Dewa Racun Barat saat ia mengingat Pemuda dihadapannya itu, usianya belum melewati dua puluh tahun. Ia pun mulai memikirkan sebuah strategi cinta untuk sang cucu yang sangat ia sayangi itu.
Namun di sisi lain Yao Chan yang sebenarnya memahami maksud dan tujuan dari perkataan Dewa Racun Barat, hanya saja merasa bingung bagaimana harus menyikapinya.
Saat ini, ia belum ingin memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan cinta dan sejenisnya. Walau ia akui ia mengagumi kecantikan dan karakter Qing Mi yang periang.
"Chan'er kemanakah kau akan berkelana setelah dari sini?"
Pertanyaan Dewa Racun Barat menyadarkan Yao Chan dari lamunannya.
"Kakek, aku akan mendatangi Lembah Siluman, karena aku telah berjanji untuk menemui pemimpin mereka untuk sebuah urusan. Selain itu aku juga masih harus mencari dan mengambil Pusaka Iblis itu."
Yao Chan menjelaskan tujuan perjalanannya setelah dari Lembah Nang Xin. Wajah Dewa Racun Barat tersenyum. Sebuah ide melintas dibenaknya.
"Chan'er, jika kau bertemu dengan Dewa Obat mungkin kau tak akan mengenalinya. Bagaimana kalau kau mengajak Mi'er? Ia sudah pernah bertemu dengan Dewa Obat, ia pasti bisa mengenalinya."
Dewa Racun Barat tersenyum lebar melihat Yao Chan terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Merasa tak ada pilihan lain Yao Chan pun menyetujui usulan tersebut.
"Baiklah .. hari sudah terlarut malam, istirahatlah, besok kalian akan menempuh perjalanan panjang."
Dewa Racun Barat pun mempersilakan Yao Chan untuk beristirahat, kegembiraan pun merengkuh hatinya.
"Oh iya Kakek, jika kau tidak sedang sibuk, mungkin sebulan lagi dari hari ini, akan terjadi kekacauan besar di wilayah timur Kekaisaran Wu."
Yao Chan pun menceritakan isi surat yang dibawa Tetua He Jun untuk kaisar. Mata-mata yang dikirim melaporkan bahwa Song He telah membentuk Aliansi besar yang melibatkan dunia persilatan Kekaisaran Song untuk menyerang Kekaisaran Wu.
"Semakin banyak orang dunia persilatan Kekaisaran Wu yang mendukung Kaisar, maka semakin kuat kita untuk mempertahankan diri. Ku harap Kakek bersedia membantu bila serangan dari mereka datang."
Yao Chan menyampaikan harapannya yang disambut dengan anggukan kepala oleh Dewa Racun Barat.
Keesokan harinya, Yao Chan bersama Zhu Yin dan Qing Mi telah bersiap untuk meninggalkan Lembah Nang Xin. Dewa Racun Barat mengantar mereka hingga ke ujung lembah.
"Kakek, jika nanti Kakek tiba di Ibukota Wu Chang An, kakek temuilah ayahku, Jendral Yu Ma. Beliau adalah Panglima Militer Kekaisaran Wu."
Seraya berkata demikian, Yao Chan mengeluarkan tiga buah Apel Dewa kepada Kakek Qing Mi itu.
Wajah Dewa Racun Barat terlihat gembira. Dengan khasiat tiga apel itu, setidaknya dalam waktu tiga minggu, Energi qi yang ia miliki akan bertambah enam puluh kristal lagi.
Setelah Dewa Racun Barat selesai menyampaikan pesannya, mereka bertiga pun berangkat meninggalkan Lembah Nang Xin.
**
"Pak Tua ... pakah kau menyimpan sebuah senjata atau benda pusaka lain di tubuhmu?"
Roh Iblis Hitam bertanya demikian kepada Pedang Tengkorak karena ia merasa bahwa tidak mungkin Peri Hitam bersemayam dalam tubuh lelaki Tua itu.
"Itu .. Benar aku memang memiliki sebuah belati warisan dari Ayahku. Memangnya kenapa dengan belati tersebut?"
Pedang Tengkorak mengerutkan dahinya mendengar perkataan Iblis Hitam. Walau sudah memahami maksud mahkluk yang merasuki pemuda tampan dihadapannya, namun ia memutuskan berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Serahkan belati tersebut padaku karena Peri Hitam kekasihku itu bersemayam dalam belati itu."
Song He menjulurkan tangannya untuk meminta belati Pedang Tengkorak.
"Enak saja kau meminta belati ku, hanya ini satu-satunya peninggalan Ayahku yang tersisa, mana mungkin aku menyerahkan padamu."
Pedang Tengkorak terlihat gusar dengan sikap arogan Iblis Hitam. Sementara wajah Iblis Hitam berubah menjadi kelam mendengar perkataan Kakek di hadapannya itu.
"Jangan paksa aku menggunakan kekerasan manusia tua!"
Pedang Tengkorak menjadi marah mendengar seorang pemuda berani bersikap begitu arogan padanya. Ia pun segera mengalirkan sejumlah besar tenaga dalam ke arah ke dua kakinya.
"Kau pikir hanya kau saja yang bisa menggunakan kekerasan? Anak muda jaga sikapmu!"
Pedang Tengkorak pun membalas bentakkan Iblis Hitam yang membuat wajahnya terlihat sangat marah.
Api kecemburuan yang membakar dirinya, membuat Iblis Hitam menjadi sangat geram. Dalam satu gerakan cepat, ia menyerang leher Pedang Tengkorak. Namun sebuah tendangan kuat menepis tangannya.
Iblis Hitam segera mengerahkan dua puluh persen kekuatannya. Aura kematian yang mencekam segera memenuhi udara ruang penginapan tersebut.
Pedang Tengkorak menelan ludahnya, namun ia tak gentar sedikit pun walau melihat lawannya terlihat memiliki kemampuan yang tinggi.
Iblis Hitam bergerak lebih cepat dari sebelumnya, hal itu membuat Pedang Tengkorak terkejut, saat menyadari tangan lawannya telah mencengkram lehernya dengan kuat.
Tubuh Pedang Tengkorak seketika merasa lemas, energinya seolah-olah terserap ke dalam tubuh lawannya itu.
"Manusia Tua, kau benar-benar membuatku marah. Jangan salahkan aku jika membunuhmu dengan cara ini."
Kraaaak
Suara leher patah terdengar saat Iblis Hitam mengeraskan cengkeramannya dileher Lelaki tua itu. Tubuh Pedang tengkorak terkulai lemas bersamaan dengan nyawanya yang melayang.
Iblis Hitam segera mencari belati di dalam jubah Pedang Tengkorak. Ia pun mendapatkannya beberapa saat kemudian. Saat menggenggam gagang Belati itu, Iblis Hitam dapat merasakan energi Peri Hitam yang terasa melemah.
"Sabarlah sayang ... akan ku carikan kau manusia yang cocok untuk kau rasuki tubuhnya."
*****