
Di sebuah desa kecil yang berada di Barat Daya kota Anhui, suasananya ditengah malam itu terlihat masih cukup ramai. Setidaknya ada belasan orang yang masih duduk bersantai di depan rumah sambil menikmati arak.
Yao Chan yang memutuskan berjalan kaki untuk mendekati markas perampok Singa Gurun itu berjalan dengan santai saat memasuki desa kecil tersebut.
Langkahnya yang santai itu menarik perhatian beberapa orang yang rata-rata berusia diatas tujuh puluh tahun. Mereka pun berbisik-bisik yang membuat Yao Chan menjadi jengah mendengarnya.
Namun ia tetap santai karena mengetahui tempat macam apa yang sedang ia datangi ini. Dari ingatan yang didapat dari anggota perampok Singa Gurun, Yao Chan mengetahui bahwa desa yang ia datangi ini bernama Desa Lei Kong.
Langkah Yao Chan terhenti ketika melihat sebuah bangunan terbesar dari semua bangunan di desa Lei Kong ini. Terlihat empat orang pria sedang duduk berpasangan di depan Pintu masuk yang terhitung besar untuk ukuran sebuah rumah.
Yao Chan melangkah santai menuju ke rumah penduduk yang didepannya ada tiga orang kakek yang sedang menikmati arak. Ketiganya menatap heran kepada Yao Chan saat pemuda tampan tersebut tiba dihadapannya.
"Anak muda, ada apa kau mendatangi kami? kalau kau berminat kepada kami, maaf saja, sebaiknya kau masuk saja ke rumah itu. Kau akan menjadi idola yang diperebutkan di sana hehehe."
Sang Kakek yang terlihat paling muda itu tertawa terkekeh, lalu tangannya menjulur hendak mengambil guci dihadapannya.
Seketika mata ketiga orang Kakek itu melotot lebar saat mendapati kenyataan bahwa guci tersebut melayang di udara dan bergerak kearah keatas kepala kakek yang tadi hendak mengambil guci itu.
Wajah kakek tersebut, terlihat memucat saat menyadari tubuhnya tak bisa lagi ia gerakan. Lalu perlahan-lahan guci itu bergerak berjungkir membuat arak didalamnya tumpah dan menyiram kepalanya hingga arak tersebut habis.
"Kakek kau terlalu banyak minum arak, sebaiknya ku dinginkan kepala mu terlebih dahulu hehehe."
Wajah kakek itu semakin memucat, saat menyadari bahwa guci itu bergerak karena dikendalikan oleh tangan pemuda tampan yang kini tertawa meledeknya. .
"Kakek aku datang ke desa Lei Kong ini untuk menumpas mereka yang berada didalam rumah itu. Sebaiknya kau ajak warga lain untuk menyingkir dulu dari tempat ini."
Penjelasan Yao Chan membuat ketiga Kakek tersebut mengangguk dengan cepat. Ketiganya bergegas meninggalkan Yao Chan saat mereka bisa menggerakan tubuhnya.
Yao Chan pun segera melangkah mendekati Markas Singa Gurun. Tatapan kekaguman dan terpesona, Yao Chan dapati saat dirinya hanya berjarak beberapa meter dari empat laki-laki penjaga pintu masuk itu.
"Kyaa ... kau sangat tampan sekali anak muda, aku bersedia melayani mu sampai kau puas hehehe ayo masuk bersamaku."
Suara Feminim dan genit dari sosok salah satu pria itu membuat Yao Chan merasa jengah, perutnya pun menjadi mual seolah ingin memuntahkan seluruh isi didalamnya.
Walau ia sudah mengetahui bahwa Kelompok Singa Gurun adalah kelompok perampok yang semua anggotanya menyukai sesama jenis, tetap saja ia merasa sedikit kikuk melihat tatapan genit para penjaga pintu itu.
Dengan langkah gemulai, laki-laki berbadan tegap dan bercambang lebat itu, mendekati Yao Chan yang kini terlihat sangat kesal.
Seandainya ia tidak memiliki ingatan salah satu anggota mereka, mungkin Yao Chan tak akan percaya jika mereka adalah perampok yang sadis dan kejam.
Yao Chan memecahkan kepala perampok yang ia hisap ingatannya karena tak kuasa menahan emosinya.
Dalam ingatan yang ia lihat, Yao Chan menemukan mereka sering menculik lelaki muda bahkan anak-anak untuk melampiaskan hasrat tak biasa mereka. Lalu mereka membunuhnya dengan sangat sadis dan kejam, setelah bosan menggaulinya.
"Ayolah tampan ... jangan malu-malu pada .."
Ucapan lelaki feminim itu, terhenti saat tiba-tiba pandanganya menjadi gelap. Senyum manis Yao Chan adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum kematiannya yang begitu cepat.
"Kyaaa.. ada kelapa jatuh eh kepala jatuh !"
Dua lelaki lain terkejut sementara satu Lelaki feminim lainya berteriak dengan menutup mulutnya lalu berjingkrak-jingkrak saat mendapati kepala rekannya jatuh menggelinding kearah kakinya.
Beberapa saat kemudian ketiganya tersadar dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahesum.merekamkini berubah menjadi beringas setelah melihat tubuh rekan mereka tumbang tanpa kepala.
"Kurang ajar! Siapa K...!"
Lelaki lain yang sudah mencabut pedang di pinggangnya itu, tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dalam satu serangan, Yao Chan merobohkan mereka dengan kondisi kepala terpisah dari tubuhnya, tertebas Pedang Pelangi di tangan Yao Chan.
Yao Chan akan menendang pintu masuk saat ia tiba di depan pintu tersebut, namun suara-suara aneh dari dalam markas tersebut membuatnya penasaran.
Perlahan Yao Chan membuka pintu tersebut untuk melihat darimana suara- suara aneh itu berasal, belum pernah seumur hidupnya ia mendengar suara-suara aneh seperti itu.
Mata Yao Chan melotot, tubuhnya bergetar, ia pun segera membalikkan badannya setelah mengetahui asal suara-suara aneh tersebut. Wajahnya terlihat menyesal sekaligus memerah.
"Dasar binatang!! awas mereka semua karena telah membuat mataku kehilangan kesuciannya."
Yao Chan merasa geram, merasa matanya telah ternodai dan telah gagal menjaganya, akhirnya ide konyol pun singgah di kepalanya. Ide yang konyol namun akan sangat mematikan.
Beberapa kali ia telah mencobanya, namun ia selalu gagal membuat tubuh duplikatnya itu menjadi seperti yang ia inginkan. Jurus Menggandakan Diri berhasil Yao Chan pelajari hanya saja menyisakan satu kekurangan.
Dirinya belum bisa membuat duplikatnya itu mengenakan pakaian seperti yang ia kenakan. Tubuh duplikat itu, berhasil ia buat sama persis dengan dirinya dan seolah-olah nyata hanya saja tidak menggunakan sehelai benang pun.
Yao Chan pun mengamati pintu tersebut untuk beberapa detik. Lalu ia duduk bermeditasi di depan pintu yang cukup terang itu.
Setelah bermeditasi kurang dari satu menit, Perlahan-lahan sebuah cahaya terang keluar dari tubuhnya dan bergerak kearah depannya dengan posisi duduk yang persis dengan dirinya.
Saat Cahaya itu redup dan sirna, terlihatlah sosok yang menyerupai dirinya yang tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Yao Chan pun segera bersiap dengan jurus Sembunyi Dalam Terang, saat duplikatnya tersebut berdiri dan membuka pintu, tubuh asli Yao Chan telah hilang dibalik bayangan sebuah pintu.
Tubuh duplikat Yao Chan yang polos tanpa sehelai benang itu, masuk dan melangkah dengan santai namun terlihat sangat gagah dengan senyum manis terkembang di bibirnya.
Suara-suara aneh di dalam ruangan itupun perlahan reda dan berhenti saat semua orang mendengar suara pintu terbuka.
Mata mereka melotot dan mulut membuka lebar ketika mendapati seorang pemuda yang sangat tampan melangkah masuk mendekat kearah mereka dengan tubuh yang polos.
Kondisi pemuda yang sama dengan kondisi tubuh mereka itu, membuat mereka menjadi histeris, suara hening berubah menjadi gaduh karena beberapa orang mulai berebut menghampiri tubuh duplikat Yao Chan.
Mereka berebut ingin menjadi yang pertama untuk memiliki dan merasakan tubuh Yao Chan, yang mungkin terlihat oleh mereka saat ini seperti seekor ayam bakar yang lezat.
Sementara Tubuh asli Yao Chan dibalik bayangan pintu tertegun, saat mendapati bahwa perkataan kakek itu benar tentang dirinya akan menjadi rebutan jika memasuki rumah itu.
Yao Chan melihat tubuh duplikatnya menjadi bahan perebutan oleh setidaknya enam puluh pria yang tak satu pun mengenakan pakaian itu Tanpa mereka sadari, mereka sedang berebut jalan untuk menuju ke neraka bukan ke alam surga dunia.
BLAAAAAAAAAAAM
Rumah besar itu pun hancur menjadi debu yang berwarna merah karena bercampur darah dari puluhan orang yang tak menduga mereka mati dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
*****