Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
093: Ibukota Berduka


Butuh waktu puluhan menit untuk Yao Chan menenangkan diri dari kesedihan dan kemarahannya saat mendapati sang Kakek telah tewas dengan leher yang hampir putus.


Sementara Lin Yung yang menjaga Ayahnya itu, terbaring dalam keadaan yang mengenaskan dan belum tersadar dari pingsannya. Walau nyawanya telah diselamatkan oleh Yao Chan, dengan energi penyembuhan dari Mutiara Jiwa Naga, namun Lin Yung harus kehilangan tenaga dalamnya.


"Chan...Kakek.. maafkan aku. aku terlambat .. hiks.."


Zhu Yin terisak tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya saat tiba di hadapan Yao Chan. Hati Yao Chan yang sedang berduka itu tersentuh dengan kesedihan dan isak tangis Zhu Yin. Ingin rasanya ia merengkuh gadis yang selalu ceria itu kedalam pelukannya.


Tak dipungkiri oleh Yao Chan bahwa Zhu Yin memiliki sebuah tempat di dalam ruang hatinya. Melihat gadis yang seusia dengan dirinya itu menangis, di lubuk terdalam dari hatinya, Yao Chan merasa bersalah.


"Ini Bukan kesalahanmu, terimakasih telah bersusah payah menjaga Kakek. Kematian bukanlah sesuatu yang dapat kau cegah, ketika telah tiba saatnya, tak kan bisa kau hindari dengan memundurkan atau memajukannya dengan segala daya dan upaya sehebat apapun."


Yao Chan tertegun dengan ucapannya sendiri, entah dari ingatan siapa ia bisa mengucapkan kata yang membuat Zhu Yin semakin terpesona dengan kedewasaan yang baru saja Yao Chan tunjukan.


"Bagaimana kondisi ibu? apakah sudah merasa lebih tenang?"


"Bibi Hua masih menangis, aku kemari karena bibi ingin dirimu menemaninya lagi."


"Baiklah mari kita menemui ibuku."


Yao Chan dan Zhu Yin bergegas keruangan Lin Hua yang saat itu masih menangis ketika mereka berdua memasuki ruangannya.


"Ibu .."


Suara Yao Chan tercekat di tenggorokan melihat kesedihan sang ibu yang begitu mendalam. Yao Chan memeluk ibunya yang bertambah kencang tangisannya hingga jubah Yao Chan pun menjadi basah.


Zhu Yin berusaha menahan airmatanya dan ia pun gagal mencegah air yang kini mengalir deras di pipinya. Bagaimana pun Zhu Yin seorang gadis yang masih belia dan saat ini ia terpisah jauh dari orang tuanya.


Kedekatan Zhu Yin dengan Lin Hua bukanlah kedekatan biasa walau baru beberapa hari mereka bertemu. Kedekatan keduanya layaknya seorang anak dengan ibunya.


"Ibu..relakan kepergian Kakek, ibu jangan terus bersedih, ibu harus menjaga kesehatan ibu. Kakek pergi dengan tenang karena melihat ibu telah sembuh."


Lin Hua terdiam mendengar perkataan putera tunggalnya itu. Dalam hatinya ia mencoba pasrah dan merelakan kepergian sang Ayah yang menyusul Ibunda yang telah mangkat terlebih dahulu.


Beberapa saat suasana di ruangan Lin Hua menjadi hening. Namun keheningan tersebut tidak berlangsung lama karena derap langkah terburu-buru menuju kearah ruangannya.


"Bibi..Bibi Hua.."


Suara Yu Lian memanggil Lin Hua dan terdiam saat memasuki ruangan. Yu Lian berjalan perlahan dan menangis ketika Lin Hua memeluknya.


Di belakangnya Yu Ma berdiri dengan raut wajah yang terlihat sedih dan lelah. Pagi ini dua kabar duka ia terima dari orang-orang yang yang dekat dengan dirinya.


Yao Chan membiarkan ibunya, Yu Lian dan Zhu Yin bertiga dalam ruangan itu, sementara dirinya menemui Yu Ma.


Alangkah terkejutnya Yao Chan saat menerima berita bahwa Yang Mulia Kaisar Wu Mao telah mangkat dengan cara dan kondisi yang sama dengan Kakeknya.


Yu Ma menceritakan tentang pertarungannya dengan Tao Yan dan berhasil mengalahkannya hingga sosok misterius menolong dan membawanya kabur sambil melempar bom.asap beracun hijau ke arahnya.


Yao Chan terlihat sangat geram mendengar hal itu. tekadnya semakin bulat untuk membalas dendam kepada Dewa Racun Barat yang mengundangnya untuk datang ke lembah Nang Xin.


Yu Ma terkejut mendengar cerita Yao Chan dimana ia sempat bertarung dengan sosok misterius tersebut. Bahkan Yu Ma tercekat saat mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Dewa Racun Barat.


Awalnya Yu Ma berpikir bahwa sosok misterius itu adalah pelaku semua pembunuhan yang terjadi hari ini. Namun saat mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Dewa Racun Barat, Yu Ma merasa perlu berpikir ulang.


"Paman... satu-satunya yang bisa kita jadikan pelaku dari semua ini hanyalah dia. Aku pun tak ingin percaya, namun semua keterangan yang ada saat ini, menunjukan bahwa memang dia pelakunya."


Yao Chan mengepalkan tangannya dengan kuat. Yu Ma pun hanya terdiam melihat Yao Chan yang sudah memastikan bahwa Dewa Racun Barat lah pelaku dari semua ini.


"Tuan muda Tuan Lin Yung sudah sadarkan diri."


Seorang pelayan perempuan yang ditugaskan Yao Chan menjaga pamannya, datang melapor di sela pembicaraan mereka berdua, Yao Chan memerintahkan pelayan tersebut mengabarkan hal ini kepada Ibunya.


Keduanya bergegas menuju ruangan di mana Lin Yung berada. Melihat kondisi Lin Yung yang telah kehilangan tenaga dalamnya membuat Yu Ma terharu. Mereka berdua adalah sahabat sejak waktu sepuluh tahun terakhir.


"Saudara Yung.."


Yu Ma tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan kepeduliannya pada sang sahabat. Kesedihan terpancar jelas dari tatapan dan suaranya.


"Saudara Ma..Aku sudah kehilangan segalanya.."


Perkataan Lin Yung membuat suasana di ruangan dipenuhi keharuan. Yao Chan tiba-tiba teringat sebuah metode penyembuhan dari Kitab Dewa Obat.


"Paman.. paman jangan khawatir. Aku akan menyembuhkan Paman, bahkan Paman akan jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya."


Ucap Yao Chan setelah memastikan bahwa metode yang ia ketahui itu, benar-benar akan membuat Pamannya kembali memiliki tenaga dalam. Sebelumnya Yao Chan tidak.mengingat hal tersebut karena kesedihannya akan kematian sang Kakek.


"Chan'er jangan membahagiakan seseorang dengan kebohongan, karena saat kebenarannya tiba, kebahagiaan itu akan menjadi nestapa yang memedihkan. Belum pernah ada sebelumnya teknik untuk memulihkan tenaga dalam yang telah hilang."


Perkataan Lin Yung membuat Yao Chan terdiam, karena begitu sedihnya sang paman sehingga tidak lagi memiliki rasa optimis di dalam hatinya.


"Paman aku sudah memastikan metode yang ku ketahui dari Kitab Dewa Obat akan bekerja pada kondisi paman. Apalagi aku memiliki semua sumber daya langka yang dibutuhkan untuk itu. Sekarang makanlah Apel ini untuk memulihkan kondisi paman terlebih dahulu."


Yao Chan berkata sambil mengeluarkan sebuah Apel Dewa dari Gelang Ruang Dimensinya lalu memberikan pada pamannya.


Wajah Lin Yung berubah setelah memakan dan menyerap khasiat Apel Dewa dengan bantuan tenaga dalam dari Yao Chan. Wajahnya berbinar saat semua sakit di tubuhnya menghilang. Sebuah harapan terlihat dalam benaknya.


**


Berita kematian wafatnya Kaisar Wu Mao dan Perdana Menteri Lin Bao segera tersebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Wu. Seluruh rakyat di wilayah Kekaisaran Wu berduka cita selama tujuh hari tujuh malam.


Kaisar Wu Mao yang begitu peduli kepada masyarakat, memiliki tempat tersendiri sehingga kematiannya itu menjadi duka mendalam bagi seluruh Rakyat Kekaisaran Wu.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih...