Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
120: Mustika Jiwa Api


"Chan Gege, bukankah itu panji-panji Kekaisaran? Bukankah yang merah itu panji Pasukan Elit pengawal Kaisar?"


Yu Lian menyuarakan rasa penasaran di hatinya, saat mengenali bendera yang berkibar


di tiup oleh angin senja yang berhembus cukup kencang.


"Benar, tapi ada urusan penting apakah Kaisar sampai berada di tempat ini?"


Yao Chan pun memiliki pemikiran yang sama dengan Sang Adik. Benaknya dipenuhi pertanyaan, permasalahan seperti apa yang membuat seorang Kaisar harus datang ke sebuah kota kecil seperti Anhui ini.


"Sebaiknya kita masuk ke penginapan ini saja dan memastikan apakah Kaisar benar-benar berada disini."


Zhu Yin pun meminta mereka untuk segera memasuki penginapan yang bangunannya megah itu.


Ketiganya pun segera bergegas mendekati penginapan. Setelah menambatkan kuda, mereka pun melangkah menuju pintu masuk penginapan.


Namun langkah mereka terhenti, karena pengawal melarang mereka memasuki penginapan. Hal ini karena seluruh ruang penginapan telah di sewa oleh majikan mereka.


Tubuh para pengawal seketika gemetar saat Yu Lian menunjukan Lencana Permaisuri miliknya. Mereka pun memasuki penginapan dengan di pandu oleh seorang prajurit Elit Kekaisaran yang memiliki kemampuan beladiri setara Pendekar Ahli.


"Lian'er! kau berada di sini juga!"


Suara Kaisar Wu Jian bergetar saat mereka bertiga memasuki ruangan besar dimana Sang Kaisar berada bersama dua orang menterinya. Kegembiraan terdengar jelas dari suara Kaisar Wu Jian. Wajahnya pun berubah ceria walau sesaat sebelumnya terlihat dipenuhi dilema.


"Jian Gege ..."


Yu Lian pun terlihat gembira dengan pertemuan mereka. Dirinya tak menduga bahwa akan bertemu sang kekasih hati di tempat terpencil seperti ini.


Keduanya saling berpegangan tangan beberapa saat sebelum akhirnya batuk Yao Chan memisahkan kedua tangan sepasang kekasih itu.


"Saudara Chan, kau terlihat semakin kuat saja ... " Suara Wu Jian terputus oleh suara manja Yu Lian.


"Bukan hanya Chan Gege yang semakin kuat, aku juga semakin kuat dan aku punya jurus rahasia yang hebat."


Yu Lian berkata dengan suara manjanya, membuat Kaisar Wu Jian pun kembali menatapnya Mesra.


"Benarkah Lian'er bisakah kau tunjukan padaku jurus itu padaku?"


Yu Lian pun meminta Kaisar Wu Jian berbalik sesaat, lalu kembali membalikan badan setelah mendengar suara Yu Lian yang memintanya membalikan badan.


Saat Kaisar Wu itu berbalik, ia terkejut karena tidak menemukan kekasih hatinya itu. Sesaat kemudian terdengar suara tawa Yu Lian saat melihat wajah Kaisar Wu itu terkejut.


Kaisar Muda itu terkejut, suara Yu Lian terdengar dekat dengannya, namun ia tak melihat wujud sang kekasih. Ia pun memutar-mutar tubuhnya untuk memastikan jika Yu Lian berada di belakangnya.


Yao Chan dan Zhu Yin hanya tersenyum tipis melihat ulah Yu Lian. Sementara dua orang Menteri yang menemani Sang Kaisar, tampak terheran-heran melihat situasi di hadapannya.


"Lian'er dimana kau sebenarnya?"


"Aku disini Jian Gege."


Perlahan lahan kabut yang sangat tipis terlihat muncul dari bayangan Kaisar Wu Jian memperlihatkan sosok Yu Lian yang masih tertawa melihat tingkah sang kekasih itu.


"Luar biasa kau Lian'er ... hebat sekali jurus baru mu ini, apa nama jurus hebat ini?"


Kaisar Muda Wu itu tidak berhenti memuji jurus yang digunakan oleh Yu Lian. Decak kekagumannya membuat wajah Yu Lian perlahan merona merah.


"Jurus ini bernama Sembunyi Dalam Terang Jian Gege. Aku baru saja mempelajarinya. Chan Gege juga bisa melakukannya."


**


Malam pun tiba di kota kecil Anhui, hawa sejuk udara malam menyelimuti kota yang semakin ramai saat bulan menampakan wujudnya. Kehidupan malam di Kota Anhui pun mulai bergerak didukung oleh suasana cerah malam itu.


Di ruangan besar dimana Kaisar Wu Jian menginap, terdapat dua pasang muda mudi yang telah selesai menyantap hidangan terlezat yang dimiliki oleh Penginapan termegah di Kota Anhui tersebut.


"Saudara Jian, jika aku boleh mengetahui, hal apakah yang membuatmu mendatangi kota Anhui ini."


Suara Yao Chan terdengar serius saat menanyakan hal tersebut. Seandainya dua Menteri yang tadi menemani Kaisar Wu itu mendengarnya mungkin mereka akan terkejut dengan sebutan Yao Chan saat memanggil Kaisar Wu itu.


Wajah Kaisar Wu Jian kembali berubah murung saat Yao Chan bertanya demikian, suasana pun berubah menjadi hening, Yao Chan menelan ludahnya mendapati hal tersebut.


"Kami baru saja hendak mengunjungi sebuah desa yang telah tak berpenghuni lagi sejak sepuluh tahun lalu. Desa itu merupakan desa penghasil beras dan sayuran terbesar yang menyuplai kota Anhui."


Wajah Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin seketika berubah mendengar penjelasan Kaisar Wu Jian.


Kaisar Muda Wu itu kemudian melanjutkan penjelasan yang sama, seperti yang didengar oleh mereka bertiga dari pemilik kedai tempat dimana mereka pernah singgahi.


"Jian Gege, biarkan kami yang menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini sepertinya berhubungan dengan sebuah Mustika Dewa yang sedang kami cari."


Yu Lian pun melanjutkan kata-katanya, mereka bertiga mendatangi Kota Anhui karena mendengar hal tersebut.


"Saudara Jian, engkau bisa kembali Ibukota setelah kami mengambil mustika itu dan menyatukannya dengan Cambuk Naga Api milik Lian'er."


Yao Chan pun memberikan penjelasannya lebih lanjut, bahwa mustika itu bernama Mustika Jiwa Api. Tidak akan ada yang mampu mengambil mustika itu selain Yu Lian yang memiliki Cambuk Naga Api.


Yao Chan mengatakan bahwa setelah Mustika Jiwa Api itu bersatu dengan Cambuk Naga Api, maka segala permasalahan yang kini dihadapan oleh rakyat di desa tersebut akan selesai. Dan mereka pun bisa kembali ke desa itu setidaknya enam bulan setelahnya.


Wajah Kaisar muda Wu itu seketika berubah menjadi ceria mendengar penjelasan Yao Chan.


"Terimakasih Lian'er, kau benar-benar anugerah terindah yang akan kumiliki."


"Uhuk!"


Yao Chan tiba-tiba tersedak arak yang telah berada di tenggorokannya, membuat Zhu Yin terkekeh geli melihatnya.


"Hati-hati saudara Jian, arak dari kota Anhui ini memang terkenal keras."


"Keras gundul mu!, aku tersedak karena kata-kata lebay mu itu."


Yao Chan mengumpat dalam hatinya mendengar ucapan Kaisar Wu Jian yang telah salah menduga tentang penyebab dirinya tersedak arak yang diminumnya.


Zhu Yin tersenyum tipis melihat semua hal itu, terutama pada kemesraan dua orang yang sedang dimabuk asmara. Ia pun ingin segera merasakan rasa mabuk yang indah itu. Sayangnya pemuda yang dia sukai kurang peka terhadap perasaannya.


Yah begitulah Cinta ketika asmaranya melanda hati manusia, dunia ini serasa hanya milik berdua. Kata mesra memuja pun selalu tercipta di setiap kebersamaan berdua.


*****


Mohon maaf sebelumnya kepada Reader setia PTD, Minggu ini mungkin tidak bisa update 2 Chapter per hari. Tetapi tetap satu Minggu akan di usahakan 14 Chapter..


Stock Chapter yang mau di salin sudah Habis, tiga hari terakhir maraton nulisnya sambil mikir ngembangin kerangka cerita.


Jadi mau Nabung Chapter dulu biar bisa Update Rutin dan tepat waktu.


Mohon pengertiannya ya 🙏🙏🙏