
Suasana pun menjadi hening saat semua mata menyaksikan serpihan tubuh Shin Mu terbakar seperti daging panggang gosong yang tak siap saji itu.
Hanya dua orang saja yang masih bertarung, Yao Chan Palsu dan Iblis Hitam yang terdengar berkali-kali mengumpat kesal karena terkena tendangan atau tamparan Yao Chan palsu.
Yu Ma yang tiba beberapa saat kemudian menatap Yu Lian dengan pandangan kosong. Ia tak mengerti harus bagaimana menyikapi kekejaman putrinya yang sangat kuat itu.
Peri Hitam, Iblis Merah, Iblis Kuning dan Iblis Ren Xian segera berkumpul mendekati Iblis Hitam yang masih bertarung dalam pertarungan yang aneh sekaligus berbahaya.
Bukan hanya mereka dari bangsa Iblis yang menyaksikan pertarungan aneh tersebut. Naga Bumi dalam tubuh Guo Jin mendekat ke arah Yao Chan asli bersamaan dengan Naga Emas untuk melihat pertarungan itu.
Zhu Yin dan Xian Mey datang setelah kedua roh Naga tersebut. Sementara Yu Lian dan Yu Ma terlihat sedang melayang ke arah mereka.
"Salam Ayah ... Lian'er ... Baguslah kau datang tepat waktu sehingga si Tua Shin Mu itu tidak bisa lagi membuat keonaran."
Yao Chan memberikan salam kepada Yu Ma yang merupakan Ayah tirinya itu.
Sementara Yu Lian hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Kakak tirinya tersebut. Ia pun segera mendekati Kakeknya Ma Hua dan menanyakan kondisinya dengan suara manja.
Tetua Ma Hua tersenyum tipis dan mengusap kepala Yu Lian seperti ketika Yu Lian masih kecil.
"Bagaimana kau bisa bersikap manja seperti ini setelah membunuh seseorang dengan cara yang sangat kejam?"
Tentu saja Tetua Ma Hua bertanya demikian hanya dalam benaknya saja. Karena ia menyadari bukan Yu Lian yang kejam, tetapi kekuatannya saja yang luar biasa.
Yu Lian kemudian menyapa Nenek Xin Jia, saat akan menyapa Guo Jin ia diingatkan oleh Nenek Xin Jia bahwa Kakek gurunya tersebut sedang dirasuki oleh Roh Naga Bumi.
Yu Lian dan Yu Ma menganggukan kepala mereka secara bersamaan. Alasan Sikap Guo Jin yang dingin pada mereka berdua, kini dimengerti oleh Ayah dan Anak itu.
"Apakah Sosok saudari Qing Mi juga sedang dirasuki? Sosok Naga Betina apa yang merasukinya ya?"
Yu Lian yang mendapati Qing Mi seolah tidak mengenalnya, bertanya dalam benaknya sendiri, ia mencoba mencari jawaban atas dugaannya.
Namun suara tawa orang-orang disekitarnya membuatnya mengalihkan pandangan ke Pertarungan Sosok Yao Chan Palsu dengan Iblis Hitam.
Yu Lian pun ikut tersenyum dengan wajah memerah yang sama merahnya dengan wajah Zhu Yin.
Iblis Hitam tampak sedang mendekap tubuh bagian bawah pinggangnya yang baru saja terkena tendangan Yao Chan palsu.
Wajah kesakitan dan posisi tubuhnya terlihat lucu bagi laki-laki yang melihat hal itu. Karena hanya laki-laki yang memahami rasa sakit yang didera apabila yang satu itu tersakiti. Melebihi sakit gigi maupun patah hati sekalipun.
"Ayo Chan'er ... Hajar lagi bagian itu ...hahahaha"
Yao Chan tertawa terbahak-bahak sambil meneriaki tubuh palsunya dan memanggilnya dengan sebutan Chan'er. Hal itu membuat yang lain pun tersenyum-senyum mendengarnya.
"Dasar Bocah Tengil, bisa-bisanya ia bercanda dengan lawan sekuat itu."
Xin Jia mengumpat kepada Yao Chan dalam benaknya saja melihat ketengilan yang Yao Chan tunjukan.
Sedangkan Iblis Hitam kini terlihat benar-benar marah, ia pun mengangkat Trisulanya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, lalu dari ujung Trisula Pusakanya keluarlah cahaya merah kehitaman berbentuk bulat yang semakin lama semakin membesar.
Walau melihat bola energi sebesar itu, Yao Chan palsu tidak merasakan gentar sedikitpun. Wajahnya masih terlihat dingin saat melesat kembali ke arah Iblis Hitam yang bersiap melepaskan bola energi itu ke arahnya.
"Gawat!! dasar kembaran bodoh!"
Setelah mengumpat pada dirinya yang palsu, Yao Chan segera melesat beberapa meter di depan kelompok Pihak Sekte Lembah Dewa. Membuat mereka yang melihatnya terkesiap.
Bertepatan dengan selesainya Yao Chan membuat Dinding Pelindung dari Separuh Energi qi nya. Yao Chan palsu sudah berada pada jarak dua meter dari Iblis Hitam.
Iblis Hitam menggeram marah, karena ia belum selesai mengeluarkan setengah saja dari energinya, Yao Chan palsu sudah sudah semakin dekat saja dengan dirinya.
Karena lawan sudah semakin dekat, dan tak ingin bagian bawah pinggangnya yang tanpa pertahanan terkena tendangan lagi, Iblis Hitam pun segera mengayunkan Trisula Pusakanya ke arah Yao Chan palsu.
Bola energi berwarna merah kehitaman yang sebesar kepala orang dewasa itu, menderu sangat cepat kearah Yao Chan palsu yang terus saja bergerak tanpa memperdulikan bola energi itu akan menghantam dirinya.
BLAAAAAR
Suara dentuman yang sangat keras bagaikan petir di siang bolong mengejutkan kedua belah pihak saat bola energi hitam itu berbenturan dengan tubuh Yao Chan palsu yang meledak hebat bersama bola energi dari Iblis Hitam.
Ledakan energi tersebut membuat tanah dalam radius satu kilometer berguncang hebat bagaikan dilanda oleh Gempa Bumi yang dahsyat.
Iblis Hitam yang tidak menduga akan terjadi ledakan sedahsyat itu, menjerit keras saat merasakan sakit dan panas ditubuhnya akibat diterpa gelombang energi qi yang meledak sangat dekat dengannya.
Tubuhnya terpental seratus meter dari tempatnya semula dan jubah yang dikenakan oleh tubuh Song He telah hancur dan hanya menyisakan pakaian lapis keduanya saja,
Pakaian itupun dalam kondisi yang sudah tidak layak pakai lagi karena telah hangus serta sobek di banyak bagian yang mempertontonkan sebagian besar kulit tubuh Song He terutama bagian pinggang ke atas.
Hal yang sama terjadi dengan ketiga rekannya yang lain, mereka mengalami hal yang hampir serupa dengan dirinya hanya saja kondisi mereka tidak separah seperti yang ia alami.
Setidaknya luka dalam mereka tidak separah luka dalamnya dan pakaian mereka masih terlihat utuh walau beberapa bagian terlihat sobek dan hangus terbakar oleh terpaan gelombang energi yang panas itu.
Dari keempat rekan iblis Hitam, hanya Iblis Merah saja yang tidak terpental seperti ketiga rekannya. Ia berada di depan mereka berempat sejauh lima puluh meter dan dalam kondisi yang baik-baik saja.
Iblis Merah sempat melihat apa yang Yao Chan lakukan, sehingga membuatnya menjadi waspada lalu mengerahkan energi untuk membuat dinding perisai yang melindungi tubuhnya sendiri.
Sehingga saat rekan-rekannya yang lain terpental kesakitan karena diterpa gelombang energi panas dari ledakan itu, Iblis Merah hanya terdorong beberapa puluh meter tanpa sedikitpun tubuhnya diterpa gelombang energi tersebut.
Iblis Merah merasa beruntung dengan kewaspadaan yang ia miliki dan ia pun tersenyum dengan tipis melihat kelengahan rekan-rekannya.
Jika saja ia mengetahui apa yang akan terjadi beberapa saat lagi, mungkin Iblis Merah yang kini merasuki tubuh Xun Chang itu, tidak akan menganggap dirinya beruntung, tapi sedang menanti sebuah kesialan.
Iblis Merah mengerutkan dahinya, saat Peri Hitam melambaikan tangan padanya yang ia pahami sebagai isyarat untuk dirinya mendekati mereka.
Dengan malas Iblis Merah pun melayang santai dan perlahan saja mendekati ke empat rekannya yang terlihat sedang berbincang-bincang itu.
Sayang ... sebaiknya kita harus segera pergi dari sini, tidak mungkin bagi kita untuk melanjutkan pertarungan, selain karena luka dalam kita, jumlah mereka pun lebih banyak dari jumlah kita."
Peri Hitam lalu menjelaskan lebih lanjut bahwa ia akan membuat Sihir Pemindah Ruang yang akan menghantarkan mereka berlima ke tempat Jiao Xin berada, karena hanya tempat itulah yang aman dan terdekat dengan mereka saat ini.
Iblis Hitam pun menyetujuinya, lalu Peri Hitam segera menggerakan belatinya dan beberapa saat kemudian keluarlah asap hitam dari belati itu yang membentuk sebuah lingkaran besar berwarna hitam dengan garis tengah hampir dua meter.
Peri Hitam meminta Iblis Hitam dan lainnya untuk pergi terlebih dahulu, karena dirinya harus menjadi yang terakhir pergi dari tempat ini untuk menutup gerbang Sihir Pemindah Ruang agar mereka tidak dikejar oleh lawan.
Iblis Hitam segera melesat memasuki gerbang Sihir Pemindah Ruang di ikuti oleh Iblis Ren Xian dan Iblis Kuning.
Peri Hitam hendak berteriak memangil Iblis Merah untuk memintanya segera memasuki gerbang Sihir Pemindah Ruang. Namun suaranya tertahan karena sesuatu tak terduga terjadi di depan matanya.
,*****