Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
216: Lima Taring Naga Hitam 2


BLAAMMM


Dentuman keras mengejutkan seluruh mereka yang sedang bertempur. Dentuman dari sepuluh pedang energi besar yang menghantam tubuh Duplikat Yao Chan.


AAARRRGGGGGHHH


Teriakan kesakitan diikuti tubuh rekan mereka yang terhempas jauh, mengejutkan empat orang lainnya dari kelompok Lima Taring Naga Hitam.


Saat itu mereka tengah tersenyum puas melihat serangan gabungan yang kuat itu, berhasil mengenai lawannya dengan telak.


Namun entah bagaimana caranya, mereka mendapati sosok pemuda itu, telah berada di belakang satu orang rekan mereka, tanpa mereka bisa melihat gerakannya sedikitpun.


Tinju Naga dari Yao Chan bersarang telak di punggung salah satu dari Lima Taring Naga Hitam itu. Membuat tubuhnya terhempas dengan mulut yang menyemburkan darah segar.


Tubuh anggota Taring Naga Hitam itu, berhenti setelah terhempas lima puluh meter dari tempatnya semula.


Lelaki yang terlihat berusia lima puluh tahun itu, segera mengeluarkan sebuah Pil dari Gelang Ruang Dimensinya.


Keempat rekannya melesat menghampiri, sesaat setelah ia menelan pil itu dan mulai menyerap khasiatnya.


Sesaat kemudian, Yao Chan melihat kelima lawannya telah kembali bersiap menyerang dengan senjata terhunus di tangan mereka.


Tak ingin gegabah Yao Chan segera mengeluarkan Pedang Dewa Perang dari Gelang Ruang dimensinya.


Ke Lima Taring Naga Hitam itu kembali melesat mengepung Yao Chan dengan menyerangnya secara langsung.


Dua buah tombak dan tiga buah pedang berkelebat silih berganti menyerang tubuh Yao Chan yang besarnya dua kali lipat dari tubuh kelima Taring Naga Hitam itu.


Dengan Jurus Pedang Bayangan dari Kitab Dewa Perang, Yao Chan berhasil mengimbangi serangan cepat dan kuat dari kelima lawannya itu.


Kelimanya menyerang dengan kekuatan penuh mereka, namun belasan jurus telah mereka lalui dan belum satu pun dari senjata mereka yang berhasil melukai pemuda bertubuh besar itu.


Rasa putus asa mulai menghinggapi hati kelima Taring Naga Hitam setelah pertarungan itu berlangsung lebih dari seratus jurus.


Hal yang belum pernah mereka temui sebelumnya, saat menyerang lawan dengan formasi Taring Naga Menghujani Bumi yang mereka gunakan saat ini.


Yao Chan pun mengubah pola serangannya saat merasakan serangan dari kelima lawannya dengan teknik yang tinggi itu, mulai terasa melemah dan tidak berpadu dengan kuat.


Jurus Pedang Bayangan, memilki pola pertahanan yang kuat dan serangan balik yang cepat, hanya saja Yao Chan sedari tadi baru menggunakan pola bertahan saja dengan sesekali melakukan serangan balik.


Saat ia membalikan pola serangan lebih sering daripada pola bertahannya, formasi serangan Kelima Taring Naga hitam itu, mulai memperlihatkan celahnya..


Hal itu membuat Yao Chan semakin antusias menyerang mereka dengan cepat dan mengalirkan energi qi nya lebih besar lagi ke dalam pedang tersebut.


Kelima Taring Naga Hitam dari Klan Naga Hitam itu, segera melesat mundur saat pedang Yao chan bertambah berat ketika mereka menangkisnya.


Kelimanya memperlihatkan kekagumannya dengan serangan Yao Chan yang begitu banyak memiliki pola variasi antara serangan dan pertahanan itu.


“Kakak Ia sangat kuat sekali, bagaimana ini? Dan Kenapa Guru belum datang juga, seandainya Ia …”


Perkataan salah satu anggota Taring Naga Hitam Itu, terputus saat mereka melihat serangan energi dari tebasan pedang Yao Chan, menderu ke arah mereka secara menyilang dengan sangat cepat sekali.


Ketiganya berhamburan ke berbagai arah untuk menghindari tebasan energi Pedang yang besar dan panjang itu.


Namun beberapa orang jubahnya tersambar oleh energi pedang tersebut dan membuat wajah mereka menjadi geram dan gentar secara bersamaan.


Yao Chan yang telah bersiap dengan jurus Berpindah Dalam Sekejapnya, segera saja berada di depan satu orang tadi telah terkena tinjunya.


Lelaki tersebut terkejut saat mendapati pemuda lawannya itu, telah menebaskan pedang ke arah lehernya.


Dengan panik, Ia menahan pedang itu dengan mata tombak di tangannya. Namun kekuatan besar yang Ia hadapi, membuat tombaknya terdorong hingga Pedang itu berhasil menebas lehernya hingga putus.


“Adik Kedua !”


“Kakak Ketiga!”


Aura Pendekar Langit Tahap Akhir segera saja memenuhi udara kembali saat keempatnya terlihat sangat marah kepada Yao Chan.


Yao Chan tersenyum tipis, Ia pun kembali Berpindah Tempat Dalam Sekejap dan telah berada di belakang salah seorang Anggota lainnya.


“Adik Ke Tiga Awas di belakangmu!!”


Lelaki yang disebut Kakak pertama tadi, segera berteriak mengingatkan adik ketiganya.


Namun teriakan itu seiring dengan tebasan pedang Yao Chan yang sangat cepat dan Kuat.


Sosok yang dipanggil Adik Ke Tiga itu, terkejut saat merasakan adanya serangan cepat dari belakang ke arah lehernya. Ia pun berbalik serasa berusaha menangkis serangan itu.


Namun gerakan pedang yang cepat itu karena adanya energi kuat yang menggerakannya. Membuat tubuh sosok lelaki empat puluhan tahun itu, menjadi limbung dan pedangnya terlepas dari tangan.


Sebuah tendangan kuat dari bawah dan mengenai bagian bawah pinggangnya, membuat tubuhnya membungkuk dan menahan rasa sakit luar biasa pada pusakanya.


Lelaki itu hanya pasrah saat Yao Chan mengangkat Pedangnya. Tubuh Lelaki itu terpotong menjadi dua bagian saat Pedang Dewa Perang menghantam pinggangnya.


Teriakan kemarahan dan kengerian membaur menjadi satu saat tubuh itu melayang jatuh dengan darah yang berhamburan memenuhi udara.


“Kurang Ajar Kau!”


Sosok yang dipanggil oleh mereka sebagai Kakak Pertama, berteriak marah melihat dua anggotanya telah tewas dengan cara yang kejam di tangan Yao Chan.


Sementara Yao Chan tak ingin berlama-lama lagi. Ia merasakan Aura besar yang sedari tadi Ia rasakan datang mendekat, hanya berjarak kurang dari dua kilometer lagi di belakang Lelaki yang berteriak tadi.


Ia pun mengalirkan energi qi nya sebanyak tiga ribu Kristal untuk melepaskan Pedang energi yang menyilang dan melesat dengan sangat cepat cepat dari sebelumnya.


Lelaki yang merupakan pimpinan Lima Taring Naga Hitam itu, berlompatan menghindari dua Serangan Energi yang menyilang dengan cepat dari Yao Chan,


Ia berhasil menghindari serangan tebasan Energi dari Pedang lawan, namun Ia menyadari bahwa Pemuda bertubuh besar itu telah berada di belakangnya dalam sekejap saja.


Ia segera melesat ke depan dengan cepat, sehingga pedang Yao Chan mengenai udara kosong.


Namun alangkah terkejutnya lelaki itu, saat mendapati Yao Chan telah berada di depannya sedang ia sedang bergerak dengan cepat.


Tak bisa menghentikan gerakannya, Ia pun menghunuskan tombaknya ke depan dengan cara yang sama dimana Yao Chan tengah menantinya dengan ujung Pedang mengarah ke dadanya.


TRAANG


JLEEEB


Dua suara berbeda terdengar keras di telinga, mata lelaki itu melotot lebar saat tombaknya seperti membentur besi ketika menusuk dada kiri Yao Chan.


Sesaat kemudian pandangan lelaki yang merupakan pimpinan dari Lima Taring Naga Hitam itu, menjadi gelap.


Nyawanya pun melayang meninggalkan tubuhnya yang kini masih mengambang tertembus Pedang Dewa Perang tepat di jantungnya.


Sementara itu, Energi dari tebasan Pedang Dewa Perang tadi melesat jauh hingga satu kilometer dan hampir mengenai seekor Hewan Roh yang dipunggungnya berada seorang lelaki Tua yang terlihat cemas.


Burung Elang tersebut memekik dan terlihat marah seraya menghindari energi itu. Ia pun melesat dengan cepat saat lelaki tua itu berteriak agar terbang lebih cepat lagi.


Lelaki Tua itu terlihat khawatir karena merasakan satu aura lagi dari lima muridnya telah menghilang .


Sedetik kemudian Aura Pendekar Roh Tahap Menengah, memenuhi Udara di atas pertempuran di tepi Lembah Hou Mon itu.


Aura yang berasal dari seorang lelaki Tua yang baru saja melesat dari atas seekor Burung Elang Raksasa.


Wajah Lelaki itu terlihat sangat marah saat melihat murid pertamanya tewas dengan tubuh masih tertusuk Pedang seorang pemuda yang terlihat berusia belasan tahun.


******