Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
046: Kembali ke Kota Xinan


Yu Lian terkejut, mulanya ia mencurigai tujuan Zhu Yin. Namun saat Zhu Yin menjelaskan jika siluman yang dia bunuh bisa ber-reinkarnasi ke wujud manusia, kecurigaan Yu Lian menghilang seketika itu juga.


Yu Lian menghela nafas dalam-dalam. Jauh di dalam hatinya mengagumi kemampuan dan bakat Zhu Yin yang baginya luar biasa. Namun rasa cemburu hampir saja membutakan mata hatinya.


"Baiklah jika memang harus begitu.." Yu Lian segera mengambil Cambuk Naga Api dari Cincin Ruang Dimensinya.


Saat gagang cambuk berada dalam genggaman tangannya, Yu Lian segera mengalirkan sejumlah tenaga dalam cukup besar, seribu simpul tenaga dalam ia alirkan ke Cambuk Naga Api.


Tali Cambuk Naga Api seketika membara dan mengeluarkan api yang semakin membesar. Kobaran api itu perlahan berubah membentuk bayangan seekor naga.


Yu Lian segera melompat tinggi kearah Raja Siluman Serigala Merah. Lalu melakukan gerakan mencambuk dengan sangat Kuat.


" Gelombang Api Naga!"


"Whhuuuut....ctaaaarrrrr".


BUUUUMMM!


Cambuk Naga Api menghantam kepala Raja Siluman Serigala Merah, lalu terdengar ledakan yang sangat kuat.


Semua orang terperanjat dengan apa yang terjadi. Lecutan Cambuk Naga Api Yu Lian menghancurkan tubuh Raja Siluman tersebut hingga menjadi seperti debu. Bahkan Mutiara Jiwa Silumannya pun ikut hancur tak berwujud lagi.


Bukan hanya tubuh siluman itu saja yang hancur, pohon besar yang menindihnya pun hancur berkeping-keping beserta mayat siluman dan jasad manusia yang berada dalam radius dua puluhan meter.


Selain Yao Chan, semua orang telah bergerak menjauh. Aura yang terpancar kuat dari Cambuk Pusaka Langit itu, membuat mereka waspada.


Yao Chan dan Zhu Yin mengerutkan dahinya saat Yu Lian menggerakan cambuknya sekali lagi kearah tumpukan mayat Siluman serigala.


"CTAAAARR..!!! BUUMMM"


Suara yang tiga kali lebih keras dari sebelumnya, menggelegar seolah hendak meruntuhkan langit.


Dalam radius lima puluh meter, mayat-mayat siluman serigala dan jasad manusia, hancur lebur menjadi debu. Udara sampai ketinggian lima meter kini menjadi berkabut merah.


Selain Yao Chan, semua orang terbelalak dengan kekuatan cambuk di genggaman Yu Lian. Bahkan Zhu Yin pun bergidik menyaksikan kehebatan cambukan Yu Lian.


Yu Lian kembali mengangkat tangannya hendak melecutkan cambukan berikutnya yang lebih kuat. Namun tiba-tiba tangannya ada yang menahan.


"Cukup!!, apa kau ingin meratakan seluruh hutan ini?" Yao Chan telah berada di samping Yu Lian.


Perkataan Yao Chan menyadarkan Yu Lian yang segera menurunkan tangannya lalu menyimpan Cambuk Naga Api kedalam Gelang Ruang Dimensi.


Kekesalan Yu Lian sudah berkurang dengan apa yang baru saja dia lakukan dan menuruti apa kata-kata Yao Chan.


"Sebaiknya kita cepat kembali ke kota Xinan, jika mereka tiba disini, bisa jadi mereka mengira kita yang telah mengambil Pusaka Iblis itu."


Guo Jin akhirnya memberikan keputusannya. Lalu ke sepuluh orang tersebut segera melesat keluar dari Hutan Merah dengan ilmu peringkat tubuh mereka untuk kembali ke kota Xinan.


Beruntung sekali mereka sampai di kota Xinan tanpa bertemu dengan siapapun yang akan menuju ke Hutan Merah.


Sesampainya di Kediaman Walikota Fu Zianhe, mereka segera berkumpul di ruang Tetua Ma Hua untuk membahas langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh.


"Kakek ... Kakek tadi berjanji untuk menceritakan siapa Pendekar Tongkat Giok Darah itu" Zhu Yin memberanikan diri menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.


Tiga puluh tahun lalu terjadi pertarungan hebat dan seru antara tujuh orang pendekar berkemampuan tinggi. Pertarungan tersebut untuk menentukan siapa yang berhak atas sebuah kitab pusaka yang berisi tentang teknik pengolahan tenaga dalam tingkat tinggi, yaitu Kitab Pembalik Bumi.


Selain Jiao Xin, Pendekar Tongkat Giok Darah adalah satu dari tujuh orang yang bertarung dalam perebutan kitab pusaka itu. Namun dirinya gagal mendapatkan kitab tersebut.


Pendekar Tongkat Giok Darah adalah julukan yang diberikan kepada Qin Yu, yang juga merupakan pendiri Sekte Tongkat Darah.


Qin Yu merupakan salah satu tokoh aliran hitam yang sangat di takuti, baik oleh kawan maupun lawan. Qin Yu terkenal sebagai seseorang yang licik dan sering berbuat semaunya.


Dengan Tongkat Giok Merah yang merupakan Pusaka Bumi, Qin Yun menorehkan namanya sebagai salah satu Pendekar yang sulit dicari tandingannya. Tiga puluh tahun lalu, tingkat beladiri Qin Yun Berada di tingkat Pendekar Pertapa Tahap Akhir.


Melihat yang terjadi di Hutan Merah sebelumnya, Guo Jin menduga bahwa kemampuan Qin Yun saat ini, setidaknya berada di Tingkat Pendekar Suci Tahap menengah.


Namun yang dikhawatirkan oleh Guo Jin dari kemunculan Qin Yun adalah siasat dan karakternya yang licik. Qin Yun sering mengadu domba antara aliran Hitam dan Aliran Putih.


Qin Yun dikabarkan terluka cukup parah dalam perebutan kitab Pusaka itu. Dirinya tidak pernah terlihat lagi hingga puluhan tahun.


Mengetahui Qin Yun muncul kembali di dunia persilatan dan berhasil mendapatkan salah satu Pusaka Iblis membuat Guo Jin khawatir kedamaian Kekaisaran Wu akan hilang berganti kekacauan dan kerusuhan.


**


Salah satu dari Enam Hantu Lembah Neraka yang masih hidup, akhirnya memutuskan kembali ke tempat gurunya, Shin Mu yang berada di Lembah Neraka.


Saat pagi tiba, lelaki yang bernama Huang Lun tiba di Lembah Neraka dengan kondisi nyaris pingsan. Beruntungnya dia masih bisa mempertahankan kesadarannya.


Shin Mu saat itu sedang bermeditasi di dekat sebuah jurang. Jurang itu bernama Jurang Neraka.


Shin Mu terkejut saat mengetahui bahwa Guo Jin dan Tetua sekte Lembah Dewa lainnya masih hidup dan berani membunuh ke lima muridnya.


Shin Mu menatap Huang Lun dengan tatapan marah. Hal itu karena Huang Lun memilih menyerah daripada mati seperti saudara seperguruannya.


Wajah Huang Lun menjadi pucat saat melihat tangan sang guru bergetar mengerahkan tenaga dalamnya, Huang Lun bergerak mundur saat mengetahui bahwa sang guru hendak membunuhnya.


"Kau seharusnya mati bersama saudara-saudara mu, tetapi kau memilih menyerah kepada musuh..memalukan !" Shin Mue membentak Huang Lun sambil mengerahkan serangan kepada muridnya itu.


Huang Lun yang memang sudah kelelahan, hanya bisa pasrah menerima kematiannya. Dia tidak melawan sama sekali, saat pukulan Shin Mu mengenai dirinya.


Shin Mu terkejut dengan sikap pasrah Huang Lun, namun ia gagal menghentikan gerakan tangannya.


"Arrrgghhhh..."


Tubuh Huang Lun terpelanting dan jatuh kedalam Jurang Neraka saat pukulan Shin Mu mengenai dadanya.


Shin Mu tersadar dari amarahnya, namun semuanya sudah terlambat. Beruntungnya, Shin Mu sempat mengurangi tenaga sesaat sebelum pukulannya mengenai dada sang murid.


Huang Lun hampir hilang kesadarannya setelah terjatuh selama hampir empat ratus meter dari tempatnya berdiri sebelumnya.


Saat tubuhnya hampir jatuh mengenai pucuk pepohonan, tiba-tiba seberkas sinar merah kehitaman, menggulung tubuhnya lalu menariknya perlahan-lahan hingga tiba di tanah dengan selamat.


Mata Huang Lun melotot saat mengetahui bahwa sinar merah kehitaman tersebut, berasal dari sebuah Senjata yang mengeluarkan aura kematian begitu pekat.


..........