Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
079: Ke Markas Pisau Perak


Lin Yung terkejut mendengar Rencana Yao Chan.


"Chan'er jangan gegabah, kau jangan pergi sendiri, biarkan paman menemanimu." Lin Yung tentu saja tidak akan membiarkan Yao Chan melakukan rencananya sendirian.


Meskipun ia mengetahui kemampuan Yao Chan, namun untuk menghadapi ratusan orang yang berprofesi sebagai pembunuh bukanlah hal yang mudah. Apalagi mereka menggunakan pisau yang di lemparkan dengan keahlian tinggi. Itulah setidaknya yang berada dipikiran Lin Yung


Yao Chan menggaruk kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba terasa gatal, perhatian sang paman yang penuh kasih membuatnya memikirkan untuk menunda sementara waktu rencananya tersebut.


"Baiklah Paman, kita akan bergerak menjelang matahari terbit esok hari, saat ini kita bereskan dulu kekacauan ini. Usahakan Kakek tidak mengetahui peristiwa ini, karena peristiwa ini akan membuat beliau tertekan."


Lin Yung tersenyum mendengar perkataan Yao Chan. Walau belum lama mereka berkumpul, namun Yao Chan terlihat begitu sayang kepada Kakek dari pihak ibunya itu.


Tanpa diketahui oleh Lin Yung, apa yang dikatakan oleh Yao Chan hanyalah sebuah alasan demi membuat sang Paman menjadi tenang. Yao Chan tersenyum geli dalam hatinya, membayangkan kejengkelan di wajah pamannya beberapa saat lagi.


"Paman...aku akan memeriksa kamar ibu, untuk meninggalkan pesan bahwa kita akan pergi sebelum matahari terbit"


Lin Yung mengangguk mendengar perkataan Yao Chan. "Benar-benar anak yang berbakti kepada orang tua, bersyukurlah Hua'er memiliki anak sepertinya." Lin Yung berkata dalam hatinya sambil menatap Yao Chan menuju keruangan ibunya.


Setelah tidak terlihat oleh Pamannya Yao Chan segera mendekati sebuah jendela dan membukanya perlahan, ia pun keluar dari jendela tersebut. Lalu tanpa suara Yao Chan segera melesat ke udara hingga mecapai ketinggian dua ratus meter.


Dari ketinggian tersebut, Yao Chan segera melesat ke arah Utara, hal ini berdasarkan ingatan yang ia dapat dari anggota Kelompok Pembunuh Bayaran Pisau Perak siang tadi.


Setelah melayang selama beberapa menit, Yao Chan merasakan telinganya berdengung tanpa sebuah sebab.


Sementara itu, di kediaman perdana Menteri Lin Bao, Lin Yung sedang marah-marah kepada para prajuritnya tanpa sebab yang pasti. Sebenarnya Lin Yung sedang kesal karena dirinya dibohongi oleh Yao Chan.


"Dasar bocah sontoloyo, lihat jika kau sudah pulang nanti.." Lin Yung terus mengomel karena mengkhawatirkan Yao Chan.


**


Saat malam beranjak pagi, di sebuah rumah dengan ukuran sangat besar yang berada di tengah lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tampak seseorang bergerak dengan ilmu peringankan tubuh tingkat tinggi menuju rumah tersebut.


Melihat gerakannya, setidaknya pria yang memakai cadar tersebut memiliki kemampuan seorang Pendekar Raja. Hingga dalam beberapa helaan nafas, dirinya telah tiba didepan pintu rumah yang tidak memiliki penjaga tersebut.


Suara Tawa terdengar begitu riuh, saat pria tersebut membuka pintu dan memasuki ruangan dimana setidaknya delapan puluh orang sedang berpesta minuman, sebagian yang lain sedang sibuk berjudi.


Di sudut lain ruangan, pria berusia sekitar lima puluh tahun itu, menggelengkan kepalanya melihat puluhan pria lain sedang mempermainkan belasan wanita dalam pelukannya.


Mereka adalah para wanita yang diculik dan dijadikan pelampiasan nafsu bejad oleh para pria yang kesemuanya berprofesi sebagai pembunuh itu.


Kedatangan pria itu tak dihiraukan oleh mereka, seandainya mereka tahu kabar yang dibawa olehnya, mungkin tawa mereka seketika lenyap dan berganti desahan ketakutan yang belum pernah mereka rasakan.


Pria itu pun segera meneruskan langkahnya ke sebuah ruangan lain yang besarnya setengah dari ruangan sebelumnya. Ia menemukan sosok yang dicarinya sedang asyik meminum arak dengan seorang perempuan dalam dekapannya.


Selain pria yang dicarinya itu, tampak sekitar dua puluh pria berada di tiga buah meja besar, di mana tersedia hidangan beraneka ragam dan puluhan guci arak.


Jika tidak sedang dalam keadaan terguncang atas apa yang baru saja ia saksikan, mungkin ia merasa senang dengan semua itu. Namun pembantaian rekan satu kelompoknya oleh Yao Chan, membuatnya kehilangan selera atas semua kenikmatan duniawi dihadapannya.


"Yindao101 ada apa dengan mu? Bagaimana kerja anak buah mu?"


Tanya seorang lelaki tua berusia kurang lebih tujuh puluh tahun yang tak lain adalah Ketua Kelompok Pembunuh Bayaran Pisau Perak.


Dengan suara bergetar pria yang ternyata Yindao101 itu melaporkan hasil misi yang ditugaskan kepada bawahannya.


"Apa katamu? dua misi lain gagal?!!" Wajah Pria sepuh yang dipanggil Raja Pisau Perak itu terlihat sangat tidak senang, membuat wajahnya yang tua, jelek dan keriput itu bertambah menyeramkan.


"Aku akan menemui mereka jika telah kembali nanti!!" Suara Raja Pisau Perak yang cukup keras seketika membuat suasana menjadi hening.


Yindao101 menelan ludahnya, ia merasa terlempar dalam dilema. Dirinya tak bisa membayangkan kemarahan yang akan ia saksikan jika mengatakan bahwa mereka semua telah tewas dengan cara mengenaskan.


Namun tidak melaporkan hal tersebut, juga akan membuatnya menjadi sasaran amarah dari Ketua Kelompok mereka yang memiliki kemampuan Pendekar Pertapa setidaknya sudah di tahap akhir.


"Maafkan saya Raja Pisau Perak, mereka semua... mereka semua telah ..tewas.."


"Apa!!!?? bicara yang benar atau kepalamu akan ku hancurkan!"


Raja Pisau Perak dan dua puluh orang lainnya terkejut mendengar penjelasan Yindao101 yang merupakan pimpinan dari Pembunuh Kelas 1.


Ke dua puluh orang yang berada di dalam ruangan itu merupakan Pembunuh Kelas Elit yang memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Pertapa tahap awal.


Mereka mengetahui bahwa pimpinan dari delapan orang yang ditugaskan dalam misi kali ini, yaitu Yindao104 merupakan seorang pembunuh yang jenius dan sangat kejam. Tidak mudah untuk menangkapnya apalagi hingga membunuhnya.


"Bagaimana mereka bisa terbunuh? Cepat katakan siapa Jendral yang telah membunuh mereka?"


"Maaf Raja, yang membunuh mereka hanya satu orang, seorang pemuda yang memiliki kemampuan beladiri sangat tinggi, bahkan.."


"Hahahaha sekumpulan orang bodoh, bisa-bisanya orang tua, jelek, hitam dan keriput seperti itu kalian panggil Raja hahahaha"


Yindao101 ingin mengatakan bahwa pemuda yang dia maksud bisa melayang di udara, namun belum sempat hal itu terucap dari mulutnya, suara tawa yang mengandung tenaga dalam tinggi, menggema di udara tanpa bisa mereka ketahui di mana sumber suara tersebut berasal.


Rahang Raja Pisau Perak menggembung karena merasa sangat geram. Bukan karena mendengar suara yang mengandung tenaga dalam yang tinggi, tetapi karena suara tersebut telah berani menghina dirinya di depan seluruh anak buahnya.


"Siapa kau?!!! tunjukan dirimu!!"


Raja Pisau Perak membalas suara tersebut dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Suaranya menggema hingga memenuhi udara di lembah tersebut.


BRAAAAK


Tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang hancur berkeping-keping. Raja Pisau Perak dan seluruh orang yang berada di ruangan tersebut segera melesat menuju ke bagian depan rumah yang menjadi markas mereka.


Mata mereka melotot lebar ketika melihat seorang pemuda berusia belasan tahun, terlihat berjalan santai memasuki ruangan dimana lebih dari seratus orang menatapnya dengan tatapan membunuh.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih....


...πŸ™πŸ™πŸ™...