Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
194: Pertempuran Di Benteng Xiangjin 2


Melihat dua orang yang berkemampuan besar akan mengeroyok Yao Chan, Dewa Obat Fu Mao yang merupakan orang terkuat setelah Yao Chan, berniat hendak membantunya.


Namun tiba-tiba saja mereka merasakan pancaran energi lain yang lebih kuat dari Luo San maupun Iblis Hitam.


Senyum mengembang dari bibir semua orang yang ada di benteng saat menyadari bahwa aura kekuatan itu berasal dari tubuh Yao Chan.


Perhatian mereka pun teralihkan pada suara derap kaki puluhan ribu prajurit musuh yang sedang bergerak mendekati benteng Xiangjin.


Yu Ma pun segera berteriak kepada pasukan pemanah untuk bersiap memasang anak panah mereka.


Saat barisan terdepan dari prajurit musuh telah berada pada jarak seratus meter dari benteng, Yu Ma melambaikan tangannya sebagai tanda pasukan pemanah untuk melepaskan anak panah mereka pada busurnya.


Sepuluh ribu anak panah melesat ke udara melewati benteng dan menghujani puluhan ribu pasukan infantri dari kekaisaran Song.


Sementara di udara sekumpulan awan yang sangat lebar tiba-tiba saja menderu turun dengan sangat cepat dan memayungi para prajurit Song dari hujan panah yang berjumlah ribuan itu.


Apa yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan Yu Ma dan yang lainnya. Ribuan anak panah itu seolah hilang di telan oleh awan tersebut.


Tiba tiba terdengar jeritan dari belakang mereka dimana pasukan infanteri yang sedang bersiaga, berjatuhan karena hujan panah yang berasal dari awan hitam lain diatas mereka.


Setidaknya lima ribu orang prajurit terbunuh oleh hujan panah itu. Para prajurit lain yang selamat terbengong menatap awan hitam yang tingginya sekitar tiga ratus meter diatas mereka, bisa.mengwluarkan hujan berupa anak panah.


Kaisar Wu Jian dan lainnya terbelalak melihat hal itu, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Namun tidak dengan Qing Mi yang telah dirasuki oleh Peri Xian Mey.


"Perintahkan pasukan pemanah agar menahan serangannya. Biar ku hancurkan dahulu sihir Peri Hitam itu."


Entah kepada siapa Peri itu memberi perintah, yang pasti adalah ia melesat ke udara dan segera mengangkat Tongkat Sakti Giok Merah keatas lalu membaca mantera sihirnya sambil memejamkan matanya.


Xian Mey memutar tongkat itu sebanyak tiga kali di udara, lalu terciptalah Angin Tornado yang bergulung-gulung dan perlahan membesar hingga menggulung Awan Hitam yang memayungi dan melindungi Pasukan Song.


Awan hitam yang tingginya sepuluh meter dari tanah itu, tergulung oleh angin sehingga menimbulkan petir besar yang silih berganti menghantam tubuh ribuan prajurit Kekaisaran Song hingga tubuh mereka hancur dan berbau gosong.


Kengerian terlihat dari ribuan prajurit lain yang melihat hal itu, mereka pun segera lari dengan panik untuk menjauhi Angin tornado yang sedang menggulung Awan hitam yang kini telah tercerai berai.


Xian Mey mengayunkan Tongkat Sakti Giok Merah ke arah para pasukan Song yang sedang berlarian itu untuk membinasakan mereka.


Jedar Jedar Jedar


Lidah petir dan angin tornado menghantam Ribuan prajurit Song hingga tubuh mereka tercerai berai seperti rekan mereka yang tadi berada dibarisan depan.


BLAAAAR


Tiba-tiba saja sebuah bola energi melesat menghantam gulungan angin tornado itu sehingga menimbulkan ledakan besar yang melontarkan ribuan prajurit song hingga puluhan meter dan jatuh di tanah dengan nyawa yang telah melayang.


Xian Mey terkejut mendapati angin tornado dari sihirnya kini telah musnah bersama dengan awan dari Sihir Peri Hitam


Peri Hitam yang melihat sihir pemindah ruang nya yang berupa awan hitam telah dihancurkan oleh Xian Mey menjadi geram, namun untuk menghadapi Peri Legendaris Dunia Moxian itu, ia merasa jerih apalagi setelah melihat Pusaka Sakti Giok Darah itu telah berada kembali di tangan Xian Mey.


Untuk itu Peri Hitam meminta bantuan Hong Qi untuk melawan Xian Mey dan mengatakan jika Hong Qi bisa merebut Tongkat itu maka Ia akan menjadi jauh lebih kuat dari sekarang ini.


Hal itu membuat Hong Qi segera melesat ke arah Xian Mey dengan ambisi besar untuk memiliki Tongkat Sakti Giok Merah yang baru saja ia lihat sendiri Kekuatannya.


Sementara Peri Hitam tertawa geli dalam hatinya, melihat Hong Qi berhasil ia kelabui dan menuruti keinginannya.


"Nona, biarkan aku yang melawannya, Aku tak bisa membiarkanmu menghadapi sosok yang sepuluh kali lipat lebih tua dari mu."


Suara Dewa Obat Fu Mao, membuat Xian Mey tertawa geli mendengarnya. Ucapan berikutnya dari bibir indah Peri Dunia Moxian itu membuat mata Dewa Obat melebar.


"Sepuluh kali lipat dari usiaku? Jadi dia telah berumur empat ribu tahun lebih? Dewa Obat, usiaku sekarang lebih dari empat ratus tahun, jadi biarlah aku bermain-main dengan cucuku itu."


Sambil tersenyum Xian Mey menggerakan Tongkatnya setelah merapal mantera sihirnya terlebih dahulu.


Dari Tongkat Sakti Giok Merah tercipta ratusan lebah sebesar Ayam Kalkun yang segera melesat ke arah Hong Qi yang masih terkejut mendengar ia dipanggil Cucu oleh seorang gadis belasan tahun.


Lebah Raksasa itu, melesat dengan cepat untuk menyerang Hong Qi yang kini terlihat sedang mengerahkan energi qi nya.


Tiba-tiba saja tubuh Hong Qi mengeluarkan api besar berwarna kekuningan yang berkobar dengan ludah api yang cukup panjang. Puluhan lebah yang terlambat menghentikan dirinya harus rela mati dengan sayap dan tubuh yang terbakar.


Lebah-lebah raksasa itu berhenti dan memandangi tubuh Hong Qi dengan rasa takut. Melihat hal itu, Xian Mey segera mengibaskan Tongkat Sakti Giok Darah dan lebah-lebah itu pun menghilang dari sekitar tubuh Hong Qi yang masih membara.


Tiba-tiba terdengar jeritan dari barisan prajurit Song yang kini pontang panting menghadapi serangan ratusan lebah raksasa itu.


Xian Mey kemudian tersenyum kepada Dewa Obat lalu mempersilakan Dewa Obat untuk melawan Hong Qi.


Xian Mey kemudian melesat ke arah di mana Yao Chan yang kini sedang bertarung melawan dua Orang yang kemampuan keduanya membuat Xian Mey berdecak kagum.


Ketiga orang tersebut telah menjauh dari arena pertempuran dimana para prajurit Song kembali bergerak maju, setelah mereka berhasil membunuh lebah yang tidak lagi memiliki sengat karena telah digunakan untuk membunuh rekan mereka sebelumnya.


Xian Mey mengamati pertarungan ketiganya dengan mata yang menyipit untuk dapat melihat pertarungan yang kecepatan geraknya begitu tinggi itu.


Walau menghadapi dua orang yang memiliki kemampuan Pendekar Langit Tahap Akhir, namun Yao Chan tidak terlihat kerepotan. Bahkan ia beberapa kali berhasil mendaratkan pukulan atau pun tendangan kuat kepada lawannya.


Luo San dan Iblis Hitam terlihat sangat kesal karena serangan mereka tidak satu pun yang berhasil mengenai tubuh Yao Chan. Keduanya lalu berpandangan sejenak dan segera melesat mundur membuat jarak mereka dengan Yao Chan menjadi lebih jauh.


Luo San segera mengeluarkan sebuah bola energi berwarna merah kehitaman di kedua telapak tangannya. Hal yang sama dilakukan oleh Iblis Hitam, bola cahaya hitam pekat keluar dari kedua tangannya.


Yao Chan tersenyum tipis melihat hal itu, ia terlihat tenang ketika melihat empat bola energi melesat kearah dirinya dengan sangat cepat.


*****