
Liang Hu menghentikan gerakannya karena melihat Hong Qi hendak melepaskan Serangan energi Pedang Bintang Hitam yang diketahuinya dapat menghancurkan sebuah bangunan besar.
Energi dari Pedang Bintang Hitam yang menyerupai seekor ular naga yang memiliki mata merah itu melesat cepat ke arah tubuh Yao Chan.
Yao Chan segera mengaktifkan Perisai Zirah Sisik Naga karena mustahil menghindarinya dari jarak sedekat itu.
BLAAAAM
Suara keras terdengar saat Energi dari Pedang Bintang Hitam menghantam tubuh Yao Chan yang terjajar satu meter kebelakang.
Setelah kabut dari ledakan energi itu menghilang, Liang Hu dan Hong Qi kembali mendapat kejutan yang membuat mata mereka berdua melebar.
Kekaguman terlihat jelas di wajah mereka yang rahangnya menggembung karena merasa sangat geram serangan-serangan mereka seperti tak berpengaruh terhadap pemuda itu.
Yao Chan tersenyum walau sebenarnya merasakan sesak pada dadanya. Namun Mutiara Jiwa naga dengan cepat segera menetralisir efek dari benturan dua energi qi itu.
"Kakak, sepertinya ia memiliki perisai di tubuhnya, serangan energi hanya akan menguras tenaga kita tanpa hasil."
"Benar adik Qi, Kita harus menggunakan serangan langsung dengan senjata, apa kau siap dengan jurus gabungan pedang dan tombak yang diciptakan guru?"
Liang Hu membenarkan perkataan sang Adik seperguruannya. Ia pun segera bersiap dengan jurus gabungan dari teknik senjata mereka masing-masing.
Namun Yao Chan telah melesatkan Sepuluh bayangan pedang kearah mereka sehingga memaksa mereka berjumpalitan ke udara untuk menghindarinya.
Sat berada di udara Yao Chan telah melesat dengan Langkah Dewa Angin. Ia melepaskan tebasan kuat ke arah Leher Liang Hu yang menjadi terkesiap akan kecepatan serangan pemuda itu.
Trang
Liang Hu menangkis tebasan pedang dengan mata tombaknya. Percikan api terlihat dari kedua besi yang beradu tersebut.
Tubuh Liang Hu terjajar dua meter kebelakang. Melihat itu Yao Chan hendak kembali menyerang dengan pedangnya, namun tebasan kuat dari arah samping membuatnya harus melompat ke udara untuk menghindarinya.
Hong Qi merasa kesal mendapati serangannya hanya menghantam ruang hampa, tiga buah bayangan pedang bahkan menyerangnya dari tiga titik yang membuatnya menjadi marah.
Serangan pedang bayangan itu, dua berhasil ia hindari, namun satu pedang bayangan berhasil menggores pahanya.
Yao Chan kembali membuat pedang Dewa Perang miliki tiga bayangan lagi, ia hendak menusukan pedangnya, namun merasakan serangan kuat dari arah belakang membuatnya harus membatalkan serangan dan menangkisnya.
Trang
Namun serangan yang ternyata hanya tipuan itu membuat Yao Chan terkejut, dan ia pun tertusuk tepat di bagian perutnya.
Lang Hu yang awalnya senang karena serangannya berhasil mengenai lawan melebarkan matanya saat mendapati Yao Chan hanya menyeringai menahan sedikit rasa sakit.
Tombak Angin Hitam yang dialiri energi qi kuat itu, tidak berhasil menggores kulit Yao Chan setelah merobek jubahnya. Serangan kuat itu hanya meninggalkan ruam merah yang cukup sakit dirasakan oleh Yao Chan
Belum sempat Yao Chan menguasai keadaannya sebuah tebasan pedang dari belakang yang sangat kuat tepat mengenai lehernya.
TRAANG
Suara pedang dan leher terdengar keras dan berhasil mengejutkan kedua Kakek itu. Mereka segera melompat untuk menjauhi Yao Chan.
Namun Yao Chan tidak membiarkan begitu saja, Ia segera melesatkan serangan dengan jurus Pedang Bayangan yang membuat pedangnya terlihat menjadi sepuluh buah dan menderu ke arah Liang Hu dengan sangat cepat.
Liang Hu berjibaku menghindari serangan sepuluh bayangan pedang itu, namun dua diantaranya gagal ia tepis dan ia hindari.
Satu pedang melesak menembus paha kiri sedang satu lagi menggores lengan kanannya yang seketika itu juga membuat tombaknya terlepas.
"Teknik Pedangnya sangat kuat dan cepat, adik Qi sepertinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku harus membantunya apapun yang terjadi."
Liang Hu segera mengalirkan energi qi nya ke tombak dan melepaskan serangan energi yang berbentuk tombak sebanyak tiga buah.
Yao Chan hampir saja berhasil menebas lengan kanan Hong Qi yang memegang Pedang, Namun serangan tiba buah tombak energi yang mengenai punggungnya dengan cepat, membuat ayunan pedangnya melenceng dan hanya merobek jubah Hong Qi saja.
Hong yang melihat celah segera melesat mundur menjauhi Yao Chan yang kini berpaling kepada Liang Hu dengan wajah terlihat kesal.
"Adik ... pergilah menemui guru, aku akan menahannya dan katakan pada guru untuk membalas dendam atas kematian ku."
Liang Hu berteriak kepada Hong Qi yang telah berada sejauh sepuluh meter dari Yao Chan dan melihat adik seperguruannya itu sedang bernafas dengan terengah-engah.
Hong Qi yang baru saja terhindar dari maut itu, sudah merasa jerih menghadapi teknik pedang Yao Chan yang membuatnya nyaris saja tewas walau sudah menggunakan jurus pedang terkuat yang ia miliki.
Mendengar kakaknya berteriak demikian hatinya menjadi gundah, namun untuk meneruskan pertarungan ia juga sudah merasa jerih.
"Cepatlah jangan pikirkan aku, kau harus tetap hidup dan membalas kematian ku!"
Liang Hu berteriak dengan keras seraya menyerang Yao Chan dengan seluruh energi qi yang ia miliki. mendengar itu Hong Qi segera melesat seraya berteriak sedih.
"Kakak terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku, aku akan membalaskan kematian mu bersama guru!"
Liang Hu tersenyum mendengar hal itu dengan tangan yang kembali memutar tombaknya untuk mengalihkan perhatian Yao Chan.
Yao Chan hanya berdecak kesal saat melihat Hong Qi sudah berada seratus meter darinya. Kekesalannya ia lampiaskan kepada Liang Hu yang terus menerus melancarkan serangan dahsyat padanya.
Walau melihat kemarahan Yao Chan, Liang Hu tidak merasa gentar sedikitpun. Ia memang telah berniat untuk mati demi membuat adik seperguruannya tetap hidup dan menyampaikan kematiannya pada Sang Guru.
Yao Chan sedikit kewalahan menghadapi serangan brutal dari Liang Hu. Bagaimanapun juga Kakek itu sudah berada dipertengahan jalan untuk mencapai tingkat Pendekar Langit.
Walau serangannya terlihat brutal, namun tetap saja menggunakan jurus yang berbahaya sekalipun serangan itu tidak akan membuat Yao Chan terbunuh.
Yao Chan tidak ingin merasakan sakit ditubuhnya walau telah terlindungi Zirah Sisik Naga. Ia segera membalas serangan tombak dengan jurus Murka Jiwa Pedang.
Perubahan teknik serangan yang Yao Chan lakukan membuat Liang Hu mendengus kesal karena serangan kuat dan cepatnya tidak membuahkan hasil.
Dengan Jurus Murka Jiwa Pedang, dalam belasan jurus Yao Chan berhasil memberikan beberapa luka di tubuh Liang Hu yang semakin terlihat kelelahan karena banyaknya darah dan energinya yang telah terkuras.
Ia Pun hanya pasrah saat melihat sang Adik telah sangat jauh bahkan sudah tidak terlihat lagi olehnya.
Yao Chan gagal menghentikan tebasan kuatnya yang ternyata tidak di hindari oleh Liang Hu. Tebasan yang membuat hidup Kakek sakti itu tewas dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
Yao Chan hendak mengejar Hong Qi yang sudah tidak terlihat lagi olehnya, namun teriakan kematian dari para prajurit penjaga kota Nanjing itu membuat ia membatalkan niatnya.
Ia bergegas melesat ke arah gerbang kota dimana empat puluh pendekar Pertapa sedang mengamuk membantai para prajurit.
Yao Chan yang kesal segera mengerahkan seribu kristal qi ke arah matanya. Ia segera menjejakkan kakinya di tengah tengah mereka dan mengedarkan pandangannya ke arah para pendekar Pertapa itu, yang tiba-tiba saja roboh dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
Para pendekar aliran sesat dari kekaisaran Ming itu, terkejut saat melihat lawan mereka adalah pemuda yang tadi menghadapi ketua sekte mereka.
Menyadari pemuda itu telah mengalahkan ketua sekte mereka, nyali mereka pun menjadi ciut, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Yao Chan membantai mereka tanpa ampun dan dalam lima lima menit saja semua Pendekar Pertapa itu telah tewas semua. menyisakan satu orang yang dipanggil Feng Hu oleh Liang Hu tadi.
******