Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
077: Ibu, Ini Aku Yao Chan Anakmu


Suara Lin Hua yang memanggilnya dengan sebutan Ayah membuat Lin Bao terpana, sudah sejak lama ia tidak mendengar kata itu dari Lin Hua. Tubuhnya bergetar hebat ketika mendapati Lin Hua tersenyum kepadanya.


Lin Bao tak dapat lagi menahan kebahagiaannya, dipeluknya Lin Hua yang menyambut pelukannya dengan heran.


Lin Hua merasa seolah dirinya baru terbangun dari tidurnya yang entah kenapa terasa sangat panjang.


Saat bergerak menyambut pelukan Ayahnya, Lin Hua merasakan sekujur tubuhnya sakit dan tenaganya lemah sekali.


"Ayah ada apa? kenapa Ayah menangis? Kenapa tubuhku lemas sekali?"


Lin Hua menyuarakan rasa penasarannya terhadap situasi yang terlihat aneh baginya. Pertanyaannya terjawab saat Lin Bao ayahnya, melepaskan pelukannya.


Lin Hua melihat kedua kakinya terpasung ke sebuah kayu, lengannya terlihat kurus, dekil dan pakaiannya begitu lusuh. Saat meraba dan melihat rambutnya yang terurai, ia terkejut mendapati rambutnya begitu kotor dan lengket.


"Ayah kenapa dengan diriku?. ken..."


Pertanyaan lanjutan Lin Hua terhenti seketika saat seorang gadis yang wajahnya sekilas ia kenal, tiba-tiba datang dan memeluknya sambil menangis.


"Bibi Hua...Syukurlah bibi sudah sadar, aku sangat merindukan Bibi" Ucap Yu Lian di sela-sela tangis kebahagiaannya.


Lin Hua tercenung mencoba mencerna situasi dihadapannya. Seingatnya hanya satu orang perempuan yang memanggilnya Bibi Hua, dan anak perempuan itu adalah Yu Lian, puteri Saudara Yu Ma.


Namun seingatnya, Yu Lian masih anak-anak yang berumur enam tahun, tetapi gadis dihadapannya ini berusia setidaknya lima belas tahun.


"Lian'er? benarkah... kamu Yu Lian putri saudara Yu Ma.. ?" Dengan terbata-bata Lin Hua mencoba memecahkan sendiri kebingungannya.


"Benar Bibi aku Yu Lian, syukurlah bibi benar-benar telah sadar."


Yu Lian masih memeluk Lin Hua yang terdiam mencerna kata-kata terakhir dari Yu Lian.


"Sadar? apakah aku telah pingsan selama bertahun-tahun sehingga Yu Lian kini telah dewasa?" Lin Hua bertanya-tanya dalam benaknya.


"Lian'er apa yang sebenarnya terjadi dengan bibi? kenapa kamu sudah sebesar ini?"


Lin Hua benar-benar tak mengerti dengan situasi yang dihadapinya.


"Benar Ibu, Ibu begitu terkejut mendengar tentang kematian Ayahanda sehingga ibu kehilangan kesadaran ibu selama sepuluh tahun"


Sepuluh tahun!!! Lin Hua melepaskan pelukannya saat sebuah suara laki-laki terdengar dari belakangnya.


Setelah melepaskan pelukan terhadap Yu Lian, Lin Hua berusaha membalikan tubuhnya. Namun karena kakinya masih terpasung, ia kesulitan melihat wajah pemuda di belakangnya.


Yao Chan segera bergerak ke samping Ibunya, Lin Hua mengerutkan dahinya melihat wajah pemuda tampan yang tidak ia kenali.


Namun saat menatap lebih lama wajah sang pemuda, Lin Hua tersentak mendapatkan ingatan tentang wajah suaminya saat pertama ia bertemu. Namun di satu sisi ia seolah melihat wajahnya pada wajah tampan pemuda dihadapannya tersebut.


Yao Chan segera bersujud tiga kali dihadapan Ibunya yang membuat tubuh Lin Hua bergetar, karena hal seperti itu hanya akan dilakukan seorang anak kepada orang tuanya atau kepada kakek dan neneknya.


"Kamu...kamu.."


"Ibu, ini aku Yao Chan, anakmu."


Lin Hua terkejut bukan kepalang, untuk beberapa saat ia terdiam. Tangisnya membuncah seketika, sesaat setelah memastikan bahwa yang ia alami adalah sebuah kenyataan.


Dipeluknya Yao Chan dengan sangat erat. Kerinduannya pada putera satu-satunya itu, ia tumpahkan dengan air mata dan isakan yang membuat seluruh orang di dalam ruangan itu mengalirkan air dari mata mereka.


Bukan lagi air mata kesedihan seperti pertama kali mereka memasuki ruangan, tetapi air mata kebahagiaan melihat kesembuhan Lin Hua yang telah bertemu dengan Yao Chan.


Hari pun berganti malam, suasana bahagia sedang menyelimuti kediaman Perdana Menteri Lin Bao.


Lin Hua kini sudah membersihkan dirinya, dan sudah berhias dibantu Yu Lian dan Zhu Yin. Seringkali Zhu Yin tersenyum melihat kedekatan Yu Lian dan Lin Hua. Jika orang yang tak mengenali mereka, tentunya akan mengira mereka adalah Anak dan Ibunya.


Bahkan saat di meja makan pun Yu Lian dan Lin Hua terlihat begitu akrab. Membuat Lin Bao dan Lin Yung tersenyum bahagia. Sepuluh tahun mereka seolah tidak melihat Lin Hua.


Sementara Yao Chan dan Zhu Yin, sedang bercakap-cakap tentang beberapa ramuan untuk segera memulihkan kondisi Ibunya yang masih terlihat kurus dan lemah.


Saat mereka sedang asik menyantap makanan, seorang prajurit penjaga tiba-tiba memasuki ruang makan. Dirinya melaporkan bahwa Jendral Besar Ma Yun berada di halaman depan.


Lin Yung segera berdiri dan menyambut Jendral Ma Yun.


"Selamat datang Jendral Ma, Mari masuk, Lian'er ada di dalam sedang menyantap hidangan."


Lin Yung memberi hormatnya, lalu mengajak Yu Ma memasuki ruang makan. Yu Ma mengikuti Jendral Lin Yung dengan sebuah pertanyaan di benaknya. Apakah Saudari Lin Hua telah disembuhkan oleh Chan"'er.


Pertanyaan Yu Ma terjawab saat ia sampai di ruang makan. Di mana terlihat suasana yang begitu bahagia di sana. Mata Yu Ma melebar saat melihat Lin Hua sedang duduk dan menatapnya.


"Saudari Hua.. Kau.. syukurlah engkau telah sembuh." Yu Ma tertegun sesaat mendapati Lin Hua sudah mendapatkan kembali ingatannya. Kebahagian terlihat jelas diwajahnya.


"Terimakasih saudara Ma..terimakasih atas semua usaha anda selama ini." Lin Hua memberikan ucapan terimakasihnya kepada Tetua Yu Ma yang merupakan sahabat dekat mendiang Suaminya.


Kemudian Yu Ma pun mengikuti acara makan malam bersama, canda dan tawa menghiasi suasana jamuan makan malam tersebut. Wajah gembira Perdana Menteri Lin Bao selalu terlihat sepanjang acara tersebut.


Suasana semakin malam, Tetua Yu Ma dan Yu Lian akhirnya berpamitan pulang menuju ke kediamannya yang telah ia tempati selama sepuluh tahun terakhir.


Suasana yang semula ramai perlahan menjadi sepi, Zhu Yin akhirnya memutuskan untuk menempati ruangan bersama Lin Hua. Hal Ini karena permintaan Yao Chan.


Saat menghisap ingatan salah seorang pembunuh bayaran dari kelompok Pisau Perak siang tadi, Yao Chan mengetahui bahwa Kakeknya Lin Bao menjadi salah satu target dari rencana pembunuhan mereka.


Ia menyampaikan hal tersebut kepada Zhu Yin secara diam-diam saat acara makan malam. Zhu Yin sempat terkejut mendengar hal tersebut. Namun ia dengan cepat memahami situasinya, saat Yao Chan memintanya untuk tidur bersama ibunya Lin Hua.


Sesaat setelah Lin Yung mengantarkan kepulangan Yu Ma dan Yu Lian, Yao Chan mengajak Pamannya tersebut berbicara berdua. Lin Yung terkejut, saat mendapat informasi tersebut. Seandainya informasi tersebut bukan dari Yao Chan, mungkin Lin Yung tak akan mempercayainya.


Yao Chan meminta Pamannya untuk merahasiakan hal ini dari Kakek Lin Bao yang telah mabuk karena terlalu banyak menenggak arak.


Selain itu Yao Chan, juga tidak ingin membuat kakeknya yang sedang berbahagia itu menjadi khawatir karena informasi darinya itu. Karena Yao Chan tidak mengetahui kapan mereka akan bergerak atau mungkin membatalkan misi mereka mengingat dua orang anggota mereka telah tertangkap.


Yao Chan meminta Pamannya untuk berada di ruangan sang Kakek. Sementara dirinya akan mengawasi dari atap sebuah bangunan lain untuk memantau kedatangan mereka.


Lin Yung pun menyetujui rencana Yao Chan. setelah mengambil pedangnya, Ia segera menuju ke ruangan sang Ayah yang rupanya telah tertidur. Lin Yung perlahan-lahan memasuki ruang tidur sang Ayah dan duduk penuh siaga di sebuah kursi yang berada di samping jendela.


Sementara Yao Chan keluar secara diam-diam dari jendela ruangan yang disediakan untuk dirinya. Lalu melesat ke udara dan melayang secara perlahan hingga akhirnya berada di sebuah atap bangunan yang lain.


Mata Yao Chan terus mengawasi, keadaan di kediaman Kakeknya, hingga malam pun mencapai puncaknya. Saat itulah dirinya melihat enam bayangan melompat dari atap ke atap hingga berhenti di atap kediaman sang Kakek.


Yao Chan tersenyum sinis, lalu ia mengeluarkan Pedang Pelangi warisan sang Ayah dari Gelang Ruang Dimensinya.


...*****...


...Jangan Lupa Like dan Votenya sebagai Vitamin untuk Author...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...