Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
127: Mendatangi Lembah Nang Xin


Yao Chan dan Yu Lian telah kembali ke penginapan satu jam setelah kepergian mereka. Hal Itu membuat perjalanan Kaisar Muda Wu Jian kembali ke ibukota menjadi lebih cepat dari yang mereka rencanakan.


"Lian'er hati-hati di jalan, jangan lagi kau gunakan cambuk itu sembarangan, karena dapat menyebabkan kebakaran dalam skala besar."


Yao Chan mengingatkan Yu Lian, karena kini Cambuk Naga Api telah memiliki kekuatan penuhnya. Kekuatan yang dapat membumihanguskan sebuah desa dalam satu atau dua serangan saja.


Yu Lian mengangguk mendengar nasihat kakaknya tersebut. Sebelum kembali ke Kota Anhui, mereka sempat mencoba menggunakan kekuatan penuh dari Cambuk Naga Api itu.


Yu Lian mengerahkan seribu Simpul Tenaga dalamnya ke dalam Cambuk Naga Api, Cambuk tersebut mengeluarkan cahaya kebiruan yang sangat panas, membuat Yao Chan kembali menggunakan jurus Naga Es untuk melindungi tubuhnya dari hawa panas tinggi yang dikeluarkan oleh Cambuk Naga Api.


Saat Yu Lian melecutkan cambuknya ke sebuah pohon besar yang diameternya mencapai tiga meter, pohon tersebut hancur menjadi berkeping-keping dengan seluruh kepingannya terbakar oleh api yang berwarna kebiruan.


Yao Chan takjub melihat hal itu, hal yang sama pun di rasakan oleh Yu Lian. Kekutan Cambuk Naga Api setidaknya meningkat lima kali lipat dari sebelumnya.


Untuk itulah Yao Chan menasehati Yu Lian agar tidak sembarangan menggunakan cambuk pusaka Naga Api itu.


"Saudara Chan, kuharap engkau bisa segera kembali ke ibukota setelah semua urusan mu selesai. Negara akan segera membutuhkan dirimu."


Yao Chan mengangguk mendengar perkataan Kaisar Wu Jian. Setelah menemui Dewa Racun Barat ia berencana ke Lembah Siluman, Yao Chan pun berjanji akan singgah terlebih dahulu di Ibukota sebelum melanjutkan perjalanannya ke Lembah siluman.


"Yin Jie jie, berusahalah jangan sampai kalah dengan Nona Qing Mi."


Yu Lian membisikan sesuatu ditelinga Zhu Yin yang membuat gadis itu memerah wajahnya. Sebagai seorang gadis, Yu Lian bisa melihat bahwa Qing Mi menaruh rasa pada Kakaknya itu.


Setelah semua selesai berpamitan, Rombongan Kaisar Wu Jian pun berangkat meninggalkan kota Anhui dengan pengawalan dua ratus prajurit elit.


Yao Chan memandang iring-iringan rombongan Kaisar dengan nafas lega. Setidaknya Yu Lian dan Tetua He Jun bisa melindungi Kaisar Muda Wu itu selama perjalanan. Hanya saja Yao Chan khawatir jika Yu Lian tidak dapat menahan rasa emosi, maka bukan hanya akan berakibat buruk terhadap lawan, tetapi juga terhadap kawan.


"Apakah kita akan berang sekarang atau nanti sore?"


Suara Qing Mi menyadarkan Yao Chan dari lamunannya.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik."


Yao Chan menjawab sambil mengajak mereka untuk segera mengambil kuda. Ketiganya pun segera menggebrak kuda mereka ke arah utara dari kota Anhui menuju lembah Nang Xin, tempat dimana Dewa Racun Barat berada.


Selama perjalanan Zhu Yin terlihat kesal karena beberapa kali memergoki Qing Mi menatap Yao Chan dengan tersenyum.


Untuk sampai di lembah Nang Xin, dibutuhkan waktu setidaknya setengah hari dengan menunggang kuda. Ketiganya tiba di lembah itu saat matahari beberapa jam lagi terbenam.


Udara terasa mulai dingin saat mereka.memasuki lembah Nang Xin, selang beberapa waktu kemudian, seratus meter terlihatlah dua buah bangunan tinggi dan beberapa bangunan kecil di sekitarnya.


Tiba-tiba suara menggelegar terdengar dari arah rumah itu yang membuat ketiganya terkejut. Atap bangunan tertinggi tersebut kini telah hancur, lalu terlihatlah tiga sosok sedang bertarung di udara.


Satu sosok dikenali oleh Yao Chan sebagai Dewa Racun Barat yang sedang bertarung menghadapi dua orang yang memiliki kemampuan setara dengannya.


"Kakek! ... Saudara Chan tolong kakekku, tampaknya ia sedang di keroyok oleh dua musuh bebuyutannya."


"Tentu saja aku akan membantunya. Yin'er tolong jaga Nona Qing Mi, kalian berhati-hatilah sepertinya mereka datang dengan banyak orang."


Setelah berkata demikian, Yao Chan segera melesat ke udara dan melaju dengan kecepatan penuh sehingga dalam dua detik Yao Chan telah tiba di tempat dimana ketiga orang Kakek sedang bertarung.


"Kakek bau pesing, rupanya kau ada tamu lain sehingga lupa menyambut kedatanganku hehehe."


Kedatangan Yao Chan yang tiba-tiba membuat kedua Kakek yang menyerang Dewa Racun Barat menghentikan serangannya. Mereka menatap Yao Chan dengan pandangan takjub mendapati seorang pemuda mampu melayang di udara.


"Bocah sontoloyo, akhirnya kau datang juga bertamu ke rumahku. Maaf aku tidak bisa menyambut mu karena dua orang peot ini bertamu tanpa ku undang."


Wajah Dewa Racun Barat berubah menjadi cerah, mengenali sosok yang datang adalah Yao Chan.


"Sepertinya kedua guru Tao Yan ini, ingin membalas dendam atas kematian murid bejadnya itu."


Wajah kedua orang kakek itu terlihat terkejut saat mendengar perkataan Yao Chan. Mereka belum pernah sekalipun bertemu dengannya, namun pemuda di hadapan mereka telah mengetahui jati diri mereka berdua.


"Mereka adalah tamu tak di undang yang ingin menyebrang ke alam baka, apakah kau bersedia membantuku memenuhi keinginan mereka?"


"Kurang ajar kau Racun Barat, kami kesini justru akan mengirim mu ke neraka untuk meminta maaf kepada murid kami Tao Yan."


Salah seorang dari dua Kakek itu berkata dengan geram mendengar perkataan Dewa Racun Barat.


"Jadi Si Tao Yan itu sekarang berada di neraka? mang seharusnya ia be ada di sana hehehe."


Kedua Kakek itu terdiam mendengar perkataan Yao Chan. Namun kemarahan terlihat jelas di wajah mereka.


"Bocah siapa kau? Kalau kau masih sayang nyawa mu pergilah dari sini. Jangan ikut campur urusan kami!"


Salah seorang kakek yang membawa Pedang di punggungnya membentak Yao Chan. Namun Yao Chan hanya twrsenyum, ia sudah mengetahui keduanya dari ingatan Tao Yan yang ia hisap.


"Kakek Pedang Tengkorak, aku hanya ingin membantu Kakek Dewa Racun Barat untuk mengirim kalian menyebrang ke alam baka, apakah ada yang salah dengan itu?"


Perkataan Yao Chan membuat wajah Kakek yang membawa pedang terkesiap, benaknya di penuhi pertanyaan bagaimana pemuda yang terlihat berusia belasan tahun itu, mengetahui julukannya.


"Bocah kurang ajar jangan salahkan aku jika jika membuatmu mati muda!"


Setelah berkata demikian, kakek yang berjuluk Pedang Tengkorak itu melesat dengan cepat untuk menghajar mulut Yao Chan. Namun ia terkesiap saat pukulannya hanya mengenai tempat kosong, tanpa ia bisa melihat pergerakan Yao Chan yang kini telah berada tiga meter di depannya.


Sabar dulu Kek, ada yang ingin aku tanyakan pada Kakek sebelum kita bertarung, bagaimana cara kakek mengetahui kalau Tao Yan sekarang berada di Neraka?"


Yao Chan sengaja meledek Kedua Kakek tersebut agar mereka berdua menyerangnya.


*****