Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
273: Teknik Penyatuan Iblis


“Iblis Api! Akhirnya kita bertemu lagi. Kali Ini aku tak akan membiarkanmu lolos dari kematian seperti dulu.”


Perkataan Ular Naga Putih, menjelaskan apa alasan tubuh Iblis Api menjadi gemetar ketika melihatnya.


Huang Jun menelan ludahnya setelah mendengar hal tersebut.


Ia kini memahami kenapa Gurunya berpesan kepada mereka bertiga, untuk menghindari pertarungan dengan Yao Chan.


“Iblis Api! Jangan gentar, kita hadapi bersama Ular Keparat itu!”


Huang Jun berbicara dengan telepatinya kepada Iblis Api yang terdiam mendengar perkataan musuh bebuyutannya itu.


“Baiklah Jika Kau ingin bertarung hidup dan mati denganku, Biarkan Aku merasuki raga mu. Hanya dengan cara itu, kita memiliki kesempatan untuk menang. Bagaimana?”


Huang Jun tak mempunyai pilihan lain. Ia pun menjawab dengan cepat, menyetujui keinginan Iblis Api tersebut.


Sesaat kemudian tubuh Iblis Api menyurut lalu kembali memasuki pusar Huang Jun yang tersentak kaget saat merasakan nyeri di kepalanya.


Perlahan pandangan mata Huang Jun menjadi gelap. Sesaat kemudian Ia bisa melihat kembali dan mendapati dirinya berada di alam lain, alam kesadarannya.


Yao Chan menjadi waspada saat merasakan Aura Huang Jun menjadi lebih kuat dan terus meningkat hingga memasuki Level Sepuluh Pendekar Dewa.


Tubuh Huang Jun kini terlihat bagai bara api yang membuat Udara menjadi lebih panas dari sebelumnya.


Bahkan Huang Fei dan Tetua Wang Rui, harus menjauh dari tempatnya semula hingga lima puluh meter jauhnya.


Keduanya terlihat takjub memandang tubuh Huang Jun yang kini telah mengobarkan api yang sangat besar.


Yao Chan menelan ludahnya. Ia merasa pertarungannya ini tak akan mudah, bahkan bisa saja mencelakai dirinya jika Ia tak berhati-hati.


Sementara Ular Naga Putih menjadi waspada saat melihat apa yang dilakukan oleh Iblis Api.


“Huh … Ia merasuki tubuh manusia untuk meredam seranganku terhadap kekuatan Rohnya. Kita harus mencari cara untuk membuatnya keluar dari tubuh itu.”


Ular Naga Putih berbicara melalui telepati dengan Yao Chan. Mendengar perkataan Naga Putih, membuat Yao Chan berpikir keras.


DUAAGHHH


Yao Chan terkesiap saat tiba-tiba Huang Jun telah melesat dan berada di depannya seraya melepaskan tendangan kuat ke arah perutnya.


Beruntung Ia sempat menangkis tendangan itu dengan lengan kirinya. Walau tubuhnya terpental puluhan meter, namun Yao Chan tidak mengalami luka.


“Cepat sekali serangannya. Aku …”


Belum sempat Yao Chan menyelesaikan kalimatnya, Huang Jun telah melesat kembali dengan melepaskan tinju yang berhawa panas dari kepalan tangannya.


Yao Chan tak ingin gegabah, Ia menghindari serangan bertubi-tubi itu dengan jurus teknik Langkah Dewa Angin.


Huang Jun merasa kesal melihat serangan yang ia lakukan berhasil dihindari terus oleh Yao Chan.


“Huh sampai kapan kau Akan menghindar terus manusia keparat!” Suara Huang Jun berubah menjadi serak-serak kering.


Yao Chan hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.


Melihat dirinya tak bisa membantu dalam wujudnya. Ular Naga putih segera kembali memasuki Tombak Pemusnah Roh.


Yao Chan segera memasukan kembali Tombak pinjaman dari Dewa tertinggi itu ke dalam Gelang Ruang Dimensinya.


“Baiklah Aku tak akan menghindar lagi dari seranganmu.”


Setelah berkata demikian Yao Chan menghilang dalam sekejap dan melepaskan tendangan kuat saat telah berada di belakang tubuh Huang Jun.


DUAAGHH


Kini Huang Jun yang terkejut, Ia membalikan badannya namun tendangan Yao Chan telah mendarat lebih cepat di punggungnya.


Tubuh Huang Jun terlempar lebih dari lima puluh meter dengan rasa sakit luar biasa. Ia menggeram marah mengalami serangan yang di luar kecepatannya itu.


Ia pun kembali melesat ke arah Yao Chan dengan sangat cepat, namun Yao Chan telah bersiap dengan Jurus Tinju Naga Es.


Kecepatan keduanya sangat sulit untuk diikuti oleh mata Huang Fei dan Wang Rui yang melihat pertarungan kedua orang itu dari jarak yang cukup jauh.


Udara panas dan dingin yang sama kuatnya saling beradu, membuat hawa menjadi silih berganti selama puluhan jurus mereka bertarung fisik itu.


DESSSHH


Tubuh Huang Jun kembali terpental puluhan meter setelah Tinju Naga Es Yao Chan mengenai dadanya dengan telak.


Bagian dada yang terpukul itu, kini menjadi putih karena membeku. Namun beberapa saat kemudian kembali membara seperti semula.


Huang Jun terlihat kesal, dua bola matanya tiba-tiba mengobarkan api, lalu keluar dua buah bola api yang melesat dengan cepat melaju ke arah Yao Chan.


BLAAAR BLAAAAR


Dua buah bola api itu meledak saat berbenturan dengan Pedang Energi dari dua mata Yao Chan.


GGRRRRHHH


Iblis Api yang merasuki Tubuh Huang Jun terlihat geram melihat serangan Mata Api Iblis miliknya di hancurkan dengan mudah oleh Yao Chan.


Ia kemudian melesat sambil membuat Golok dari Energi Api yang membuat Yao Chan terkesiap.


GOAAARRRRRHH


Yao Chan segera mengeluarkan Teknik Auman Naga dengan kuat ke arah tubuh Huang Jun.


Iblis Api terkejut dengan suara yang sangat tinggi itu, membuat gerakannya terhenti di tengah jalan.


Telinganya terasa sakit dan Ia merasa kekuatannya melemah seiring sakit di kepalanya itu semakin kuat.


Yao Chan tersenyum melihat Iblis Api memegangi kepala Huang Jun yang Ia rasuki itu.


Ia mendapati jika teknik Auman Naga berpengaruh terhadap penyatuan Iblis itu dengan tubuh Huang Jun.


Yao Chan segera melakukan serangan dengan teknik yang sama. Sebuah energi suara berbentuk spiral besar melesat keluar dari mulutnya yang terbuka lebar.


GOAAARHHH GOAARRRHHHH


Yao Chan terus mengerahkan jurus Auman Naga saat melihat nyala api di tubuh Huang Jun semakin meredup.


Bahkan bara api tubuh Huang Jun pun perlahan-lahan mulai meredup dan sirna sesaat kemudian.


Yao Chan segera membuat Pedang dari Energi dingin berbentuk Es yang sangat runcing sepanjang satu meter.


Dengan jurus berpindah dalam sekejapnya, Yao Chen telah berada tepat di depan tubuh Huang Jun yang matanya terbelalak lebar.


Hawa dingin terasa memasuki tubuhnya, sesaat setelah kesadarannya dikembalikan oleh Iblis Api.


Pandangan mata Huang Jun kembali menjadi gelap sesaat setelah merasakan jantungnya berhenti berdetak akibat membeku.


“Jun’eeeeeeeer !!!!”


“Tetua Jun!!”


Huang Fei berteriak panjang dengan suara keras yang terdengar memilukan.


Huang Fei dan tetua Wang Rui bisa melihat jelas jika Pedang Es di tangan Yao Chan telah menembus tubuh adik kandungnya.


Rasa pilu berganti dengan rasa marah yang luar biasa melihat kematian adik laki-lakinya yang paling Ia sayangi.


Yao Chan segera memukul tubuh Huang Jun yang telah membeku, hingga hancur berkeping-keping. Lalu Ia mengambil gelang Ruang Dimensinya.


Hanya saja diluar dugaan Yao Chan, Mutiara Jiwa Iblis Api milik Huang Jun masih utuh dan segera melesat memasuki tubuh Huang Fei yang tengah marah itu.


*****