
"Dimana ini?"
Shin Mu yang tersadar lebih dahulu dari Shin Lung, terlihat kebingungan saat mendapati dirinya berada di bebatuan yang dikelilingi oleh pepohonan yang besar.
Hal terakhir yang diingat olehnya adalah dirinya sedang berusaha menolong Shin Lung yang sedang terluka. Namun tiba-tiba sebuah ledakan terdengar tak jauh darinya, membuat pandangannya menjadi gelap.
Shin Mu mencoba berdiri, dan Kakek berusia hampir seratus tahun itu, kembali menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya. Seingatnya, tulang lengan kanannya hancur karena menahan laju serangan Cambuk Naga Api. Namun saat memperhatikan lengan kanannya tersebut, lengannya terlihat baik-baik saja dan tidak terasa sakit sama sekali.
Sesaat kemudian Shin Lung juga tersadar dari pingsannya dan terlihat kebingungan saat menyadari berada di sebuah tempat yang tak dia kenali.
"Kakak.. dimana ini? apa yang terjadi?"
"Entahlah .. aku juga baru tersadar, dan tak tahu siapa orang yang telah menolong kita." Jawab Shin Mu."Bagaimana luka-luka mu?"
Shin Lung yang baru saja berdiri, baru menyadari bahwa tubuhnya tidak merasakan sakit sama sekali. Tentu saja hal ini membuatnya terheran-heran. Hal terakhir yang diingatnya adalah dirinya terluka parah saat bertarung dengan Yu Lian.
"Kakak . aku tidak merasakan sakit sama sekali, siapa yang mengobati aku?" Tanya Shin Lung Kebingungan.
"Guru.. bagaimana luka-luka guru? pastinya sudah tidak terasa sakit lagi bukan?" Sebuah suara yang familiar mengejutkan mereka berdua.
"Lun'er!!.bagaimana bisa?!!. bukankah kau..?" Shin Mu terbelalak saat menyadari bahwa Huang Lun ternyata masih hidup dan berdiri dihadapan mereka dengan kedua tangan yang utuh dan salah satunya memegang sebuah tombak berwarna merah.
Aura yang tak biasa dari tombak di tangan Huang Lun dirasakan oleh kedua kakek sepuh itu. Aura yang membuat tengkuk mereka merinding.
"Hahahaha Guru terkejut bukan melihat aku masih hidup? Terimakasih karena guru telah mengurangi tenaga dan tidak tega untuk membunuhku." Huang Lun tertawa dengan nada yang lepas. Hal yang belum pernah Shin Mu lihat selama ini.
Ketujuh murid Shin Mu tak ada satu pun yang berani menyuarakan tawa mereka saat dihadapan sang Guru. Namun tidak dengan hari ini.
Shin Mu dan Shin Lung mengerutkan dahinya, saat mencoba melihat tingkat beladiri Huang Lun. Mulut mereka terbuka saat menyadari, kemampuan Huang Lun yang kini setara dengan kemampuan mereka, Pendekar Suci Tahap Menengah.
"Kakak bagaimana mungkin..? bukankah dia kemarin baru ditingkat Pertapa tahap Akhir?" Shin Lung tak bisa menahan rasa penasarannya.
Shin Mu tak menjawabnya, pikirannya terus mencerna situasi yang terjadi di hadapannya. Ketika menatap tombak di tangan Huang Lun, saat itulah Shin Mu mulai tercerahkan.
"Rupanya begitu? Tombak di tanganmu itu telah menyelamatkanmu dan juga memberimu kekuatan sebesar ini." Shin Mu berkata dengan mata berbinar, memandang tombak ditangan Huang Lun. Shin Lung terdiam dan menatap tombak tersebut dengan hasrat yang tak dia tutupi.
"Akhirnya guru bisa memahami semuanya dengan tepat. Tombak ini adalah Tombak Iblis Merah, di dalam tombak ini bersemayam Roh Iblis Merah yang menyembuhkan lenganku, dan memberiku kekuatan sebesar ini."
Huang Lun pun lalu menjelaskan semua hal tentang Tombak Iblis Merah dan menjelaskan tugas yang harus dilaksanakan dari Roh Iblis Merah.
Mustika Hati Iblis adalah Sumber kekuatan Raja Iblis En Mo yang kini sedang tersegel di dunia Moxian. Mustika tersebut diasingkan ke dunia manusia oleh Dewa Naga sesaat setelah menyegel Raja Iblis En Mo.
Raja Iblis En Mo memiliki lima orang Anak buah, yaitu Iblis Biru, Iblis Kuning, Iblis Merah, Iblis Hijau dan Iblis Hitam. Iblis Hitam adalah Iblis terkuat diantara mereka. dan Iblis Biru adalah yang terlemah.
Mereka berhasil menemukan cara untuk pergi ke alam manusia, hanya saja mereka tidak bisa mewujudkan dirinya seperti di dunia mereka. Mereka akhirnya menembus batas dunia Moxian dan dunia Manusia dengan bersemayam di dalam senjata mereka masing-masing sebagai roh senjata.
Dengan cara tersebut, mereka masih dapat menggunakan kekuatan yang mereka miliki. Namun hanya separuh dari kekuatan mereka yang dapat digunakan di Dunia Manusia. Sedang separuh kekuatan mereka berada dalam tubuh asli mereka yang berada di dunia Moxian, Dunia bangsa Iblis dan Bangsa Peri.
Shin Mu dan Shing Lung terpana mendengar keterangan Huang Lun. Mereka tak ingin percaya dengan apa yang dikatakan oleh Huang Lun, namun mereka pun tak bisa menjelaskan bagaimana cara lengan Huang Lun yang telah buntung, kini kembali normal seperti semula.
"Jadi Pusaka Iblis itu ada lima buah yang berada di dunia ini? Apakah golok yang memiliki aura biru termasuk salah satu diantaranya?" Tanya Shin Mu.
"Benar Guru, Roh Iblis Merah merasakan energi dari saudaranya tersebut, dan menyuruhku untuk menemuinya, sayang sekali saat aku hampir sampai, tiba-tiba energi Iblis Biru telah hilang, apakah yang sebenarnya yang telah terjadi Guru?"
Shin Mu menghela nafas panjang, bulu kuduknya berdiri mengingat aura energi yang sangat besar dari Golok Iblis Biru di tangan Qin Yun si Pendekar Tongkat Giok Darah beberapa waktu lalu.
Kemudian Shin Mu menceritakan bagaimana Qin Yun tewas terbunuh oleh Yao Chan yang lalu mengambil Golok Pusaka tersebut dan membuatnya menghilang dari pandangan mereka semua.
Roh Iblis Merah yang berada dalam tombak terkejut mendengar hal tersebut. Dirinya menjadi geram saat menyadari bahwa Iblis Biru telah tertangkap dan kini dipenjarakan dalam Gelang Ruang Dimensi.
"Bagaimana bisa bangsa manusia memiliki Pusaka para Dewa?" suara Roh Iblis Merah terdengar gemetar. "Sepertinya mereka dilatih oleh para dewa untuk menghadapi kami yang menembus Dunia manusia." Huang Lun yang bisa mendengar suara Iblis Merah yang sedang mengumam sendiri, ikut tertegun mendengar hal tersebut.
Hal ini pun menjelaskan bagaimana Yao Chan dan Yu Lian menunjukan kemampuan yang setara dengan gurunya di usia mereka yang masih sangat belia.
Huang Lun kini menyadari bahwa sebuah keberuntungan besar bagi dirinya yang tidak terbunuh malam itu, saat terlibat pertarungan dengan Yao Chan di Kota Xinan.
"Lun'er apa rencanamu selanjutnya?"
Shin Mu yang sebenarnya menginginkan tombak pusaka Iblis tersebut, menyelidiki lebih jauh rencana Huang Lun berikutnya.
"Guru, aku akan mencari tiga pusaka Iblis yang lainnya dan juga mencari Mustika Hati Iblis Raja En Mo." jawab Huang Lun tanpa rasa curiga sama sekali.
Shin Mu dan Shin Lung terdiam, keduanya mempunyai pikiran yang sama, bagaimana caranya agar dapat merebut Tombak Pusaka Iblis tersebut dari tangan Huang Lun yang kekuatannya kini setara dengan mereka berdua.
...*****...