Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
145: Tentang Tongkat Giok Darah


"Kenapa manusia selalu menjerit jika terkejut? kalian membuat telingaku sakit saja!"


Xian Mey mengomel karena mendengar teriakan dari Yao Chan dan Zhu Yin yang kali ini terdengar sedikit keras.


"Maaf ... Aku hanya terkejut saat menyadari betapa kuatnya diriku di kehidupan pertamaku."


Walau sangat terkejut dengan penjelasan Xian Mey, Yao Chan akhirnya memiliki gambaran tentang sejauh apa seseorang bisa memiliki kekuatan dalam menguasai beladiri.


"Hmm ... Sepertinya ada yang berubah dari dirimu, tapi apa ya..?"


Xian Mey memegang dagunya dengan jari jempol dan telunjuk, sementara matanya memandang keatas seolah-olah sedang mengingat sesuatu.


"Berubah bagaimana? ... Apakah aku yang sekarang lebih tampan dari aku yang dulu?"


"Tampan..? Ya ... ya ... Dirimu yang sekarang memang sedikit lebih tampan dari dirimu yang dulu. Tahukah kau apa julukan lain yang disematkan oleh orang-orang dari dunia asal mu berkaitan dengan ketampanan mu itu?"


Xian Mey yang gagal menemukan apa yang ingin ia ingat, menjadi kesal mendengar kata-kata narsis dari Yao Chan. Ia pun berniat mengerjai Yao Chan dengan menceritakan kisah palsu yang ia reka-reka sendiri.


"Apakah Pendekar Tertampan di dunia Kultiva?"


Yao Chan yang tidak mengetahui dirinya sedang dikerjai oleh Xian Mey, mencoba menjawab pertanyaan tentang julukan lain itu.


Xian Mey menggeleng pelan membuat Yao Chan berpikir lagi.


"Pendekar Ternarsis Di Dunia Kultiva?"


Zhu Yin ikut terpancing dengan pertanyaan Xian Mey, ia pun ikut-ikutan menerka jawaban atas pertanyaan itu. Ia pun berpikir lagi saat Xian Mey menggelengkan kepalanya.


"Pendekar Idola Wanita"


Yao Chan menyebutkan julukan lain yang kira-kira berkaitan dengan ketampanannya.


"Bukan!"


"Pendekar Idaman?"


"Bukan!!"


"Pendekar Wajah Dewa?"


"Bukan! bukan itu! Ah sudah lah... Lupakan saja."


Xian Mey akhirnya menjadi kesal sendiri karena keisengannya itu membuatnya harus mengatakan kata-kata yang tidak ingin dia katakan.


"Julukan lain dirimu adalah Pendekar Pemetik Bunga"


Zhu Yin yang sebelumnya berada didekat Yao Chan seketika bergerak menjauhi Pemuda Tampan yang wajahnya kini berubah menjadi murung setelah mendengar perkataan Xian Mey.


Melihat raut wajah Yao Chan dan sikap Zhu Yin yang seketika berubah, membuat Peri Legendaris Dunia Moxian itu tertawa terpingkal-pingkal.


Shouren yang tidak memahami pembicaraan mereka pun ikut tertawa senang bersama beberapa orang anak buahnya.


Saat itulah Yao Chan sadar dirinya telah dikerjai oleh Xian Mey membuat bibirnya tersenyum lebar karena terbersit sebuah ide untuk membalas peri itu di suatu saat nanti.


"Tuan Shouren, aku sudah menepati perjanjian kita beberapa waktu lalu, namun benda yang akan kau tukarkan dengan Tongkat Giok Darah itu telah hancur bukan?"


Yao Chan berniat meninggalkan Lembah Siluman, ia pun menyampaikan bahwa tujuannya mendatangi Lembah siluman adalah untuk memenuhi perjanjian mereka berdua.


Namun karena Mustika Hati Peri telah hancur, maka Yao Chan pun secara tidak langsung membatalkan perjanjian tersebut.


Perkataan Yao Chan dalam bahasa mereka itu membuat Shouren merasa bersalah, hal itu terlihat dari wajahnya yang berubah menjadi sedih.


"Maafkan Aku Pemuda Tampan Chan, aku tidak berniat mengingkari janjiku padamu ataupun kakek mu Qin Yun. Hanya saja kejadian tak terduga tadi membuatku tidak bisa memenuhi perjanjian kita dulu."


"Akulah yang memintanya menukarkan Mustika Hati Peri itu dengan Tongkat Sakti Giok Merah itu. Bolehkah aku memeriksa keaslian Tongkat itu?"


Yao Chan tersenyum lebar mendengar perkataan Xian Mey ia pun mulai menjalankan rencananya untuk balas dendam kepada Peri Legendaris Dunia Moxian itu.


"Untuk apa kau ingin memeriksa keasliannya? Dan kenapa kau menginginkan tongkat ini dengan cara menukarkannya dengan mustika mu itu?"


Sambil berkata kepada Xian Mey, Yao Chan mengeluarkan Tongkat Giok Darah yang disebut oleh Xian Mei sebagai Tongkat Sakti Giok Merah.


Xian Mey tidak memperdulikan pertanyaan Yao Chan, ia segera mendekat dan hendak meraih tongkat yang di acungkan oleh Yao Chan kepadanya.


Saat tangannya hendak meraih tongkat tersebut, tiba-tiba Yao Chan menarik tangannya. Hal itu membuat wajah Xian Mey memerah kesal karena tangannya meraih udara hampa.


"Tunggu dulu, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi?"


Yao Chan berkata serius sambil menahan rasa geli di dalam hatinya. Xian Mey pun mendengus keras, namun ia memilih mengalah dengan menjawab pertanyaan Yao Chan.


"Aku hanya ingin memastikan saja apakah tongkat itu benar-benar Tongkat Sakti Giok Merah atau bukan. Jika itu memang benar Tongkat Sakti Giok Merah, aku mohon padamu untuk mengembalikannya. Karena Tongkat itu merupakan Pusaka leluhur bangsa kami yang telah hilang Ribuan tahun lalu."


Yao Chan mengerutkan dahinya dan menatap Xian Mey dengan tajam untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Xian Mey bukanlah sebuah muslihat.


"Lalu dengan cara bagaimana kau akan membuktikan keaslian tongkat ini?"


Yao Chan masih menggenggam erat Tongkat Giok Darah dengan tangannya. Xian Mey yang memahami keraguan Yao Chan menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.


Lalu Ia pun menjelaskan kepada Yao Chan, bahwa jika tongkat tersebut ditetesi oleh darah Bangsa Peri, maka tongkat itu akan memendarkan cahaya merah kebiruan.


Selain itu tidak ada bangsa manusia yang bisa mengeluarkan kekuatan sebenarnya dari Tongkat Sakti Giok Merah yang merupakan satu dari Tiga Pusaka Sihir Legendaris Bangsa Peri di dunia Moxian.


"Bagaimana? Apakah kau tidak ingin membuktikan kebenaran kata-kata ku? Dan akan ku tunjukan sedikit kemampuan sebenarnya dari Tongkat Sakti Giok Merah itu jika kau ingin melihatnya."


Penjelasan Xian Mey membuat Yao Chan terdiam dan menatap Peri Legendaris Dunia Moxian itu dengan tatapan tajam.


Ada keraguan dalam hati Yao Chan, jika memang benar Tongkat Sakti Giok Merah di tangannya itu adalah Pusaka Legendaris dan satu dari Tiga Pusaka Terkuat Bangsa Peri, Mengapa Pusaka itu bisa berada di dunia manusia.


Suasana menjadi sedikit tegang saat Yao Chan menatap Xian Mey dengan tatapan yang sangat tajam.


"Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau jatuh cinta padaku?"


Yao Chan tersedak ludahnya sendiri, ia pun mengalihkan pandangannya kearah tongkat Giok Sakti Merah di tangannya itu.


"Baiklah, aku akan meminjamkan tongkat ini untuk kau periksa dan jika tongkat ini asli seperti yang kau duga, maka kau boleh memilikinya dengan tiga syarat. Bagaimana? apakah kau setuju?"


"Baik, aku akan menyetujui apapun syarat itu, aku akan memenuhi syarat mu kecuali satu hal, jangan memintaku untuk menikah dengan mu. Itu saja permintaanku."


Xian Mey tertawa kecil sementara wajah Yao Chan menjadi merah karena merasa dongkol mendengar perkataan Xian Mey.


"Mana ada pemuda setampan Aku ingin menikahi nenek-nenek berumur ratusan tahun sepertimu ... hahahaha."


Yao Chan tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuat wajah Xian Mey berubah marah karena mendengar perkataannya. Ia pun melemparkan Tongkat Giok Darah untuk diperiksa oleh Xian Mey.


"Ah ... Aku ingat sekarang, keangkuhan. Ya keangkuhan. Kau yang sekarang tidak se-angkuh dirimu yang dulu, keangkuhan yang membuatmu tetap membujang selama ratusan tahun hidupmu."


Wajah Xian Mey terlihat puas berhasil mengingat apa yang coba ia ingat sebelumnya tentang sosok Yao Chan dimasa lalu.


Sedangkan Yao Chan terlihat mendengus kesal berbeda dengan Zhu Yin yang tersenyum tipis mendengar perkataan Xian Mey.


"Akan ku tunjukan padamu kelak bahwa aku bisa menikahi empat orang gadis sekaligus dalam waktu bersamaan."


Yao Chan berkata dengan kesal tanpa ia sadari Zhu Yin nyaris jatuh terduduk karena lututnya tiba-tiba terasa lemas mendengar sosok pemuda yang ia sukai berkata demikian.


******