Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
197: Luo San Vs Yao Chan


Luo San yang dipenuhi amarah dan dendam kepada Yao Chan, menyerang pemuda itu dengan segenap kemampuan dan teknik yang ia miliki selama dua ratus tahun hidupnya.


Memiliki kekuatan yang setara dengan lawan, membuat jiwa bertarungnya menggelora. Pertarungan tangan kosong itu pun berlangsung hingga puluhan jurus dengan sengitnya.


Jurus-jurus berganti digunakan Luo San, dari yang sedang hingga kini mulai menggunakan jurus tingkat tinggi dari Dunia Kultiva.


Yao Chan yang mulanya mendominasi dengan Teknik Elemen Naga mulai kewalahan, namun ia tetap tenang menghadapi lawan yang memiliki pengalaman bertarung jauh lebih banyak darinya itu.


Sebuah pukulan Luo San tiba-tiba saja mengeluarkan seberkas sinar yang melesat sangat cepat dari jarak yang begitu dekat sehingga tidak bisa dihindari oleh Yao Chan.


Tubuh Yao Chan terlempar puluhan meter, baru saja bisa menguasai posisi melayangnya, Luo San kembali melepaskan pukulan yang mengeluarkan seberkas sinar merah kehitaman kearah dirinya.


Tak ada pilihan lain, Yao Chan menghadang serangan itu dengan jurus Sentilan Jari Naga. Kedua bola energi saling bertemu di udara dan terjadi ledakan keras yang membuat keduanya terpelanting kebelakang akibat energi benturan itu.


Dari sudut bibirnya, Yao Chan terlihat mengeluarkan darah segar, namun dirinya tetap terlihat tenang karena Mutiara Jiwa Naga segera menyembuhkan luka dalam itu.


Sementara Luo San kembali menyerang dengan Jurus Tendangan Dewa Bumi, demikian Luo San meneriakkan nama jurusnya sesaat sebelum melesat ke arah Yao Chan.


Tendangan itu terasa begitu cepat dan kuat saat Yao Chan menangkis dengan lengannya. Yao Chan memilih menghindari tendangan itu karena rasa kebas ia rasakan setelah dirinya menangkis tendangan itu dengan lengannya.


Luo San semakin geram karena tendangannya selalu mengenai ruang kosong. Ia pun segera mengubah pola serangannya menjadi antara tinju dan tendangan.


Pola serangan Lho San itu berhasil merepotkan Yao Chan untuk sesaat, Yao Chan yang merasa kesal dirinya diserang secara brutal dan terus menerus itu akhirnya. mengeluarkan teknik Auman Naga.


Dalam sebuah kesempatan, Yao Chan yang telah mengalirkan qi ke dada dan lehernya itu, segera melesat sepuluh meter menjauhi Luo San.


Ia pun membuka mulutnya lebar seraya berteriak sekuatnya dengan mulut yang terarah kepada Luo San yang heran melihat tingkah Yao Chan yang terlihat lucu baginya.


Namun keheranan Luo San berganti rasa sakit saat di telinganya saat melihat lingkaran energi keluar dari mulut Yao Chan dan mengurung dirinya dengan sangat cepat sekali hingga terlambat untuk menghindarinya.


Luo San segera mengalirkan qi ke telinganya dalam jumlah besar berusaha meredam suara keras ditelinganya itu. Namun tetap saja suara itu membuat telinganya sakit dan mulai mengeluarkan darah.


Menyadari bahwa ia tak bisa lepas begitu saja dari lingkaran energi suara itu, Luo San segera mengeluarkan pedang pusaka dari Gelang Ruang Dimensinya.


Sambil menahan sakit di telinganya, Luo San segera memutar pedang pusaka didepan tubuhnya dengan sangat cepat.


Suara menderu terdengar dari pedang seiring keluarnya sinar merah kehitaman dari putaran pedang pusaka itu. Sinar itu pun terlihat melesat menerobos lingkaran energi suara Yao Chan.


Menyadari adanya serangan terarah ke mulutnya, Yao Chan segera melompat dan menghentikan teriakannya, lalu mengeluarkan Pedang Dewa Perang dari gelangnya.


Walau Luo San berhasil membuyarkan serangan lawannya, namun ia terluka yang tidak ringan di bagian telinganya.


Ia pun menggeram lalu kembali melesat ke arah Yao Chan dengan salah satu jurus pedang terkuat yang ia miliki.


Melihat serangan kuat itu, Yao Chan segera menggunakan jurus Murka Jiwa Pedang untuk menghadapi serangan ganas dari Luo San.


"Jurus Gelombang Pedang"


Seraya berteriak demikian, Luo San melakukan gerakan yang terlihat aneh di mata Yao Chan, namun Yao Chan menyadari adanya perbuhan udara di sekitar tubuh Kakek itu yang membuatnya menjadi waspada.


Benar saja dugaan Yao Chan, udara disekitar Luo San berubah menjadi bergulung-gulung dan lalu membentuk puluhan pedang Angin yang segera melesat dengan cepat kearah Yao Chan.


Yao Chan mengumpat keras saat berusaha menghindari dan menangkis puluhan pedang yang tiba-tiba saja bergerak mengepungnya dari berbagai arah.


Beruntungnya Zirah Sisik Naga di tubuh Yao Chan melindungi tubuhnya dari luka tebasan atau tusukan pedang angin yang gagal ia hindari atau ia tebas.


Walau kulitnya tidak terluka, tetap saja pedang angin itu membuat bagian dalam tubuh Yao Chan mengalami rasa sakit karena terluka memar. Namun lagi-lagi Mutiara Jiwa Naga segera mengobatinya.


Luo San tertegun saat melihat puluhan pedang anginnya perlahan hancur satu persatu akibat di tebas oleh pemuda itu.


Di satu sisi ia merasa heran karena melihat sendiri bahwa pedang anginnya berhasil mengenai tubuh lawan dengan tebasan maupun tusukan.


Namun pemuda itu, tetap terlihat baik-baik saja. hanya jubahnya yang robek di banyak bagian akibat serangannya.


"Sepertinya ia memiliki pusaka pindung di balik tubuhnya. Mungkin jurus terkuat ku yang terakhir ini bisa menembus pusakanya itu."


Luo San berkata dalam benaknya menyadari serangannya tidak bekerja kepada pemuda tersebut.


Ia pun segera mengerahkan seluruh energi qi nya ke dalam pedang Pusaka Merah miliknya. Seketika pedang pusaka itu mengeluarkan Cahaya merah yang sangat terang membuat Yao Chan yang baru saja menghancurkan pedang Angin terakhir yang tadi menyerangnya menjadi terkejut.


Aura energi yang sangat besar dan belum pernah Yao rasakan sebelumnya, membuat udara berfluktuasi dengan hebat.


Yao Chan sempat terdorong beberapa meter kebelakang karena hal itu. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya, ia pun melihat Luo San akan segera memulai serangannya kembali.


Apa yang terjadi kemudian membuat mata Yao Chan melebar, Sementara Gong Li yang mengamati pertarungan keduanya sedari tadi, kini menjadi tertegun.


Ia mengenali teknik itu sebagai teknik dari seorang Kultivator yang merupakan salah satu Kultivator terkuat dan terkejam di Dunia Kultiva.


Ia ingin berteriak dan memperingatkan Yao Chan, namun semuanya telah terlambat. Pemuda itu sudah berada dalam dinding energi yang yang tiba-tiba saja terbentuk dari teknik itu.


Saat mengangkat pedangnya ke udara, awan hitam dalam radius satu kilometer berkumpul sepuluh meter diatas pedang Merah yang sedang diacungkan ke udara oleh Luo San.


Saat awan yang membentuk lingkaran dengan diameter lebih dari dua puluh meter itu memayungi keduanya, tiba-tiba saja dari ujung pedang Merah itu melesat seberkas cahaya merah yang menerpa gumpalan awan hitam itu.


Awan berwarna hitam itu berubah menjadi kemerahan dalam waktu yang sangat cepat dan tiba-tiba saja membentuk dinding kasar mata yang mengurung keduanya.


Apa yang terjadi kemudian membuat Gong Li menahan nafas, ia hanya berharap Yao Chan baik-baik saja mengingat teknik itu adalah teknik yang ditakuti oleh para Kultivator Di Dunia Kultiva.


*****