Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
075: Rencana Menteri Lin Yung


Lin Bao melepaskan pelukannya dari Yao Chan, menatap penuh kasih wajah tampan sang cucu. Hingga suara Lin Yung sudah terdengar di sampingnya.


"Chan'er maafkan kata-kata paman tadi, semua itu Paman lakukan karena.." Lin Yung tak bisa meneruskan kata-katanya karena Yao Chan segera berlutut dihadapannya.


"Paman terimalah hormatku" Yao Chan sudah hendak bersujud, namun dengan cepat Lin Yung menahannya. Lalu memeluk sang keponakan dengan erat.


Dada Yao Chan terasa hangat mendapatkan rasa sayang dari Kakek dan Paman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan pelukan sang paman pun membuatnya teringat kepada mendiang sang Ayah.


"Perdana Menteri Lin, maaf mengganggu kebahagiaan kalian, bisakah kita lanjutkan pertemuan untuk membahas masalah Kelompok Pembunuh bayaran ini?"


Suara Kaisar Wu Mao membuat Lin Bao dan Lin Yung segera tersadar, lalu membungkuk untuk memohon maaf. Yao Chan pun kembali ke tempat di mana Wu Jian dan rekan-rekannya berada.


"Bagaimana solusi kita untuk mengatasi masalah ini, aku tak ingin kejadian pada Menteri Ekonomi terulang kembali." Suara Kaisar Wu Mao terdengar bergetar mengingat kematian sang Menteri yang mengenaskan.


Lin Yung sebagai Menteri Pertahanan segera berdiri dan mengutarakan solusinya. Ia akan menempatkan lebih banyak lagi prajurit di setiap kediaman para Menteri.


Selain itu, Lin Yung juga akan mendiskusikan hal ini bersama Jendral Ma Yun selaku Panglima Perang Kekaisaran Wu.


Lin Yung juga mengatakan kecurigaannya, bahwa ada kemungkinan pihak di belakang kelompok Pisau Perak bukanlah orang atau kelompok dari Kekaisaran Wu.


Semua orang yang mendengar penjelasan Lin Yung mengerutkan dahinya, namun tidak ada yang menyanggah hal tersebut.


Lin Yung melanjutkan penjelasannya, ia mengusulkan untuk membentuk sebuah tim khusus yang bertugas untuk menyelidiki hal ini. Tim khusus ini akan beranggotakan para prajurit dengan kemampuan beladiri yang tinggi.


"Baiklah, rencanamu sungguh bagus Menteri Pertahanan Lin, apakah ada yang ingin memberikan solusi lain?" Kaisar Wu Mao mengedarkan pandangannya kearah para Menteri.


Menteri yang mengurusi masalah logistik istana, berdiri dari duduknya. Setelah memberi hormat, ia pun mulai menjelaskan idenya.


"Yang Mulia Kaisar, Hamba memiliki ide untuk menyewa beberapa pendekar untuk mengawal kami. Pendekar tersebut adalah mereka yang berasal dari Sekte Aliran Putih. Apakah Yang Mulia berkenan mengizinkan kami melakukan hal tersebut?"


Kaisar Wu Mao terdiam beberapa waktu sebelum akhirnya ia mengizinkan para menteri yang ingin menyewa jasa pengawalan dari pendekar aliran putih.


Wajah semua menteri terlihat cerah saat mendengar keputusan Kaisar Wu Mao, walau harus mengeluarkan biaya besar untuk hal itu, mereka tak memperdulikannya.


Kaisar Wu Mao tersenyum kecut melihat keegoisan para menterinya. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Perdana Menteri Lin Bao yang dahinya masih berkerut, seolah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.


"Perdana Menteri Lin adakah yang akan engkau sampaikan kepada kami'?" Tanya Kaisar Wu Mao setelah melihat Lin Bao tersenyum.


Lin Bao segera berdiri, setelah memberi hormatnya ia mengatakan bahwa sebaiknya mereka meminta bantuan dari Pasukan Bayangan Malam untuk menumpas kelompok tersebut.


Kaisar Wu Mao mengangguk, akhirnya pertemuan di ruangan itu diakhiri dengan mengambil keputusan yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Lin Yung.


Sebelum membubarkan pertemuan, Kaisar Wu Mao mengadili kedua orang anggota Pisau Perak yang mencoba membunuh Putera Mahkota Wu Jian.


Keduanya diputuskan mendapatkan hukuman Pancung atas perbuatannya yang begitu berani. Hukuman Pancung tersebut akan dilakukan esok hari dan akan dilaksanakan di Alun-alun Kota Wu Chang An.


Dipilihnya tempat umum tersebut adalah sebuah langkah untuk memberi peringatan, bagi siapa saja yang berani berbuat kejahatan terhadap keluarga istana, akan mendapatkan hukuman mati.


Pertemuan pun diakhiri dengan perginya Kaisar Wu Mao ke dalam ruang pribadi Kekaisaran. Wu Jian dan Wu Mei pun menyusulnya setelah berpamitan kepada Yao Chan dan rekan-rekannya.


"Chan'er, mari kita pulang menemui ibumu nak. Teman-teman mu juga menginap saja di rumah Kakek."


Lin Bao mengajak Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin untuk segera kembali menuju kediamannya.


Dahi Lin Bao berkerut mendengar penjelasan Yao Chan.


"Siapa Paman Ma yang kamu maksud itu nak?"


"Beliau adalah Ayah Lian'er, paman Yu Ma, atau lebih kenal di Ibukota dengan Jendral Ma Yun." Penjelasan Yao Chan membuat Lin Bao dan Lin Yung tersentak.


Keduanya mungkin memiliki pemikiran yang sama. Mereka sudah mendengar tentang Yao Chan dan Yu Lian yang sedang berlatih bersama leluhur mereka di sebuah tempat bernama Alam Kultiva Naga.


Lin Bao dan Lin Yung menatap Yu Lian dengan tatapan penuh kekaguman, mereka tak menduga Putri Tetua Yu Ma adalah seorang gadis yang sangat cantik selain memiliki kemampuan beladiri yang tentunya juga tingkat tinggi.


Keduanya mengalihkan pandangan kepada Zhu Yin yang lalu memberikan salam hormatnya kepada Lin Bao dan Lin Yung ketika mereka menatapnya.


"Hormat kepada Kakek Lin Bao dan Paman Lin Yung." Zhu Yin membungkukkan tubuhnya, seperti yang baru saja dilakukan Yu Lian ketika memberikan hormat kepada Lin Bao.


"Ini Zhu Yin kek, dia adalah cucu dari Pendiri Sekte Lembah Dewa, Kakek Zhu Long." Yao Chan memperkenalkan Zhu Yin ketika melihat kerutan di wajah Kakek dan Pamannya.


Lin Bao dan Lin Yung tertegun setelah mengetahui identitas gadis yang kecantikannya tak kalah dengan Yu Lian. Mereka tak menduga Yao Chan memiliki teman-teman dengan latar belakang keluarga yang hebat.


"Teman?, benarkah mereka hanya berteman, sepertinya kedua gadis ini memiliki perasaan terhadap Yao Chan seperti halnya Tuan Puteri Wu Mei."


Lin Bao tersenyum tipis menyadari hal konyol yang ada dalam benaknya.


" Ah.. kalian rupanya adalah keturunan para Pendekar hebat. Tentunya kalian memiliki kemampuan yang tinggi juga bukan?"


Zhu Yin tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Lin Yung.


"Paman, Aku tidak sehebat mereka berdua, Saudara Chan telah berada di Puncak Pendekar Suci, Saudari Yu Lian pendekar Suci tahap Menengah, sedangkan aku baru menginjak Pendekar Suci beberapa waktu yang lalu. Sehingga aku belum bisa melayang seperti mereka berdua."


Lin Yung tersurut satu langkah dengan mulut terbuka lebar ketika mengetahui tingkatan beladiri Yao Chan dan kedua gadis muda dihadapannya.


"Sungguh anak-anak muda yang luar biasa" Lin Yung berkata dalam benaknya, seraya tersenyum kecut, mengingat di usianya yang hampir lima puluh tahun, dirinya baru berada di tingkat pendekar Raja Tahap Akhir.


Mereka berlima akhirnya menuju kediaman Perdana Menteri Lin Bao dengan sebuah kereta yang besar dan Mewah.


Yao Chan berdecak kagum melihat Rumah besar dan megah ketika mereka tiba di halaman kediaman Kakeknya.


Perasaannya menjadi berdebar-debar ketika mereka melangkahkan kaki menuju ruangan dimana Ibunya, Lin Hua berada atau tepatnya sedang di kurung.


"Chan'er apakah kau sudah siap menjumpai ibumu yang ..." Kata-kata Lin Bao yang dipenuhi oleh kesedihan terhenti karena Yao Chan telah memotong kalimatnya.


"Kakek apapun dan bagaimana pun kondisinya, beliau adalah ibu yang telah melahirkan aku ke dunia ini. Dan aku sudah tidak sabar ingin bersujud dihadapannya."


Suara Yao Chan terdengar bergetar membuat yang lainnya ikut bersedih mendengarnya.


...*****...


...Jangan Lupa Like dan Votenya Ya...


...🙏🙏🙏...