
Song He bersama Mo Duan, Matriak Bunga Hitam dan Jiao Xin tiba di istana Kekaisaran Wu saat matahari berada di puncaknya.
Kepulangan Song He ke istana Kekaisaran Song disambut dengan gembira oleh sang Ayah, Kaisar Song Yu.
Hanya saja kegembiraan Kaisar Song Yu tidak berlangsung lama saat Puteranya tersebut mengatakan akan menyerang Kekaisaran Wu dengan mengerahkan seluruh prajurit yang dimiliki oleh Kekaisaran Song.
Dengan tegas Kaisar Song Yu menolak hal tersebut, membuat Song He menjadi marah dan meninggalkan ruangan sang Ayah yang terlihat terkejut dengan keinginan itu.
Wajah Kaisar Song Yu terlihat menua beberapa tahun karena memikirkan ambisi Song He yang dinilainya dapat menghancurkan stabilitas bahkan kelangsungan Kekaisaran Song.
Sementara di ruangannya, Song He sedang mengamuk dengan menendang sebuah Meja hingga hancur berkeping-keping.
Hal itu membuat Isterinya yang hendak menemuinya menjadi takut dan membatalkan niatnya tersebut lalu kembali ke ruangannya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana kemarahan Song He tiba-tiba mereda berganti dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Hal itu terjadi karena Iblis Hitam yang mendengar perbincangan Song He dengan Ayahnya itu, mengajak Song He untuk berbicara di alam pikirannya.
Iblis Hitam mengatakan bahwa keinginan Song He untuk menyerang Kekaisaran Wu, akan terwujud jika ia menjadi Kaisar Song menggantikan Ayahnya.
Awalnya Song He menolak ide Iblis Hitam untuk membunuh Ayahnya, namun setelah Iblis Hitam meyakinkan Song He bahwa dibutuhkan keberanian untuk menjadi orang yang besar, Song He pun terdiam sejenak lalu tersenyum tipis seraya memandangi Matriak Bunga Hitam.
Pertanyaan yang mengisi benak ketiga orang sekutu Song He itu terjawab saat Song He mengutarakan remcananya. Matriak Bunga Hitam menyetujui jika ia adalah yang akan menjadi pelaksana rencana Song He itu.
Song He akhirnya tersenyum tipis, ia hanya butuh bersabar beberapa hari lagi untuk bisa menduduki tahta Tertinggi di Kekaisaran Song itu.
Malam di hari setelah kedatangan Song He, sosok bercadar melesat ke dalam ruang tidur Kaisar Song Yu dengan gerakan cepat tanpa suara yang tidak diketahui oleh satupun prajurit penjaga.
Sesampainya sosok bercadar itu di dekat peraduan Kaisar Song, ia pun segera menyentuh kulit tangan Sang Kaisar lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk memasukan racun yang akan membunuh Kaisar tersebut setelah tiga hari kemudian.
Keesokan harinya, kehebohan terjadi di Istana Song saat pelayan mendapati Kaisar Song Yu mendadak sakit yang membuat Kaisar tua itu mendapat perawatan khusus dari para Tabib Istana.
Berbagai upaya dilakukan oleh para tabib istana, namun tiga hari kemudian Kaisar Song Yu menghembuskan nafas terakhirnya membuat Istana berduka cita dalam waktu tiga hari tiga malam.
Esok Hari adalah hari Penobatan Song He sebagai Kaisar Song berikutnya. Hari yang sama dengan hari dimana Kaisar Wu Jian akan menikah dengan Yu Lian.
Sementara di ruangannya, Jiao Xin sedang menggeram marah saat ia mendengar kabar kehancuran Sekte yang telah ia dirikan hampir seratus tahun lalu itu.
Ketiga Tetua yang masih berusia muda itu baru saja tiba di Istana Song, mereka terlihat ketakutan saat Guru Besar mereka menggebrak meja di sampingnya hingga menjadi serpihan kecil.
Jiao Xin pun bertekad akan melakukan pembalasan atas semua yang Yao Chan lakukan terhadap Sektenya. Tanpa ia sadari, ia lah yang sebenarnya memulai hal itu dengan meratakan bangunan Sekte Lembah Dewa sepuluh tahun lalu.
Begitulah Dendam yang hanya akan melahirkan dendam berikutnya. Memaafkan adalah satu-satunya jalan untuk menghapusnya dalam hati.
Seandainya Hati setiap manusia memiliki rasa maaf yang besar, mungkin tak ada lagi benci dan dendam membara yang merupakan Induk dari segala Angkara Murka di dunia.
**
Yao Chan terkekeh setelah menjawab pertanyaan Lang Hu yang datang dengan melayang di udara, di bawahnya beberapa tetua dan ratusan anggota sektenya datang berlarian ke arahnya.
Wajah Lang Hu pun menjadi kelam mendengar jawaban Yao Chan yang membuatnya malu dihadapan setidaknya lima ratus anggota sektenya yang datang karena mendengar suara gemuruh ledakan tadi.
"Anak muda, siapa dirimu? Dan kenapa kau membuat kekacauan dan membunuhi anggota sekte ku?"
Walau sangat marah, Lang Hu bersikap hati-hati saat melihat sebuah bangunan hancur menjadi puing-puing yang kini rata dengan tanah. Ia pun menanyakan identitas pemuda yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Namaku Yao Chan ... Aku Putera Yao Zhi yang berjuluk Pendekar Pedang Pelangi dari Lembah Dewa. Apakah kini kau memahami alasanku ingin membinasakan mu dan seluruh anggota sekte Elang Hitam?"
Kata-kata Yao Chan membuat Lang Hu yang telah memijak tanah, tersurut satu langkah ke belakang.
Ia pun akhirnya menyadari, bahwa kini dirinya sedang berhadapan dengan seseorang yang hatinya diselimuti dendam atas perannya Prahara yang terjadi di Sekte lembah Dewa Sepuluh tahun lalu.
Lang Hu segera mengeluarkan Pedang Pusakanya yang berada di tingkat Pusaka Bumi.
"Ketua, biarkan kami yang memberi pelajaran pada pemuda sombong itu!"
Belum Sempat Ia mengalirkan tenaga ke dalam pedangnya, para Tetua yang berada di belakangnya meminta izin untuk menyerang Yao Chan terlebih dahulu.
Lang Hu pun mengizinkan mereka untuk bertarung terlebih dahulu dengan pemuda yang terlihat masih berusia belasan tahun itu. Ia pun ingin mengetahui setinggi apa kemampuan pemuda yang akan di hadapinya nanti.
Enam orang Tetua yang berada di tingkat Pendekar Pertapa Tahap Akhir segera melesat ke hadapan Yao Chan. Tanpa malu lagi, mereka segera mengeroyok Yao Chan dengan serangan terkuat yang mereka miliki.
Namun wajah keempat Tetua itu, seketika memucat saat mendapati kedua rekannya yang telah bergerak lebih dahulu dari mereka, terjungkal dengan leher yang putus membuat mereka tewas dengan kepala terpisah dari badannya.
Keempat orang tetua itu segera menahan gerakan mereka, namun tatapan ngeri pada mayat kedua rekannya, membuat mereka lengah sehingga tidak melihat adanya serangan empat Pedang pendek yang terarah ke leher mereka berempat.
Mata Lang Hu melebar dengan mulut terbuka menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Enam Orang Tetua tertinggi Sekte Elang Hitam, kini tewas dengan kepala masing-masing terpisah dari badannya dalam waktu yang demikian cepatnya.
"Chan Gege ... Biarkan Kami membantumu, menghabisi mereka!"
Suara Zhu Yin terdengar sesaat sebelum tubuhnya dan Qing Mi melesat sangat cepat melewati Lang Hu yang kembali terkejut melihat kecepatan gerak kedua gadis muda yang sebelumnya berdiri di belakang Yao Chan.
Ia pun menelan ludahnya dengan tubuh yang gemetar saat menyadari, dua orang gadis yang baru saja melesat melewatinya, bisa saja membunuhnya dengan mudah, karena ia tidak bisa melihat gerakan kedua gadis itu dengan kedua matanya sekalipun.
Suara jeritan terdengar bersahutan mengiringi kematian para anggota Sekte Lembah Dewa saat Zhu Yin dan Qing Mi melesat ke tengah-tengah mereka dengan pedang terhunus.
Lang Hu melihat hal itu dengan pilu, jantungnya berdegup kencang saat suara Yao Chan membuatnya membalikan tubuh menghadap ke pemuda tersebut.
"Bisakah kita mulai pertarungan kita berdua?"
*****