
"Apa!!! Chan'er pergi ke Markas Pisau Perak?"
Wajah Lin Hua terlihat begitu khawatir setelah mengetahui puteranya Yao Chan, mendatangi markas Kelompok Pembunuh Bayaran nomor dua di Kekaisaran Liu itu.
"Gege.. kenapa kau tidak tidak mencegahnya? kenapa kau membiarkan keponakanmu menempuh bahaya?"
Lin Hua terlihat memarahi kakaknya, Lin Yung, saat dirinya memberitahu keberadaan Yao Chan. Lin Yung hanya tersenyum kecut mendapati dirinya yang kena marah oleh sang adik yang begitu disayanginya.
"Hua'er aku sudah mencegahnya, dan dia sudah berjanji untuk pergi bersamaku. Tapi Aku tak tahu jika bocah itu mengelabui ku..tapi aku rasa... ia mewarisi sifat usil mu itu, mmmpph"
Lin Yung tertawa sambil menutup mulutnya, ia tiba-tiba teringat masa kecil dan remaja mereka berdua, dimana Lin Hua sering berlaku sama seperti yang Yao Chan lakukan saat ini, kepadanya dan juga sang Ayah.
Zhu Yin yang juga bersama mereka saat itu menutup mulutnya menahan tawa, melihat Lin Hua cemberut sambil melotot kearah Lin Yung. Semula Zhu Yin mengira sifat jahil Yao Chan menurun dari sang ayah. Perkataan Lin Yung tadi, menepis semua anggapannya itu.
"Bibi Hua.. Bibi jangan khawatir, Saudara Chan memiliki kemampuan beladiri yang tinggi, lawan yang bisa merepotkan ya bisa dihitung dengan jari kedua tangan."
Zhu Yin menjelaskan tentang kemampuan beladiri Yao Chan. Mendengar hal itu, wajah Lin Hua sedikit berubah, namun tetap saja ia mengkhawatirkan Putera semata wayangnya itu.
"Gege, kau harus segera menemui saudara Yu Ma, ajak dia menyusul Chan'er."
"Aku sudah mengirim seorang prajurit untuk menyampaikan hal ini, mungkin sebentar lagi ia datang."
Lin Yung menjawab pertanyaan Lin Hua yang terlihat menjadi jauh lebih tenang. Melihat hal itu, kecurigaan menyelimuti Lin Yung. Hingga akhirnya ia tersenyum, saat menemukan sesuatu yang mungkin menjadi jawaban sikap adiknya tersebut.
***
"Jadi kau yang telah membunuh anak buah ku? Lancang sekali bocah bau kencur sepertimu mencampuri urusan kami!"
"Jadi Kau si tua jelek keriput yang menjadi pemimpin mereka? Berani sekali kau ingin membunuh kakekku"
Yao Chan menjawab dengan intonasi dan kata yang sama dengan pertanyaan Raja Pisau Perak. Yao Chan tertawa geli melihat wajah pemimpin Raja Pisau Perak yang terlihat semakin murka.
"Lancang!!"
"Kurang ajar!!"
Dua buah suara terdengar dari sisi kiri dan kanan Yao Chan. Dua orang sekaligus secara tiba-tiba melemparkan sebuah pisau yang mengarah ke lehernya. Di lempar dari jarak sedekat itu dengan kecepatan pisau yang tinggi mustahil bagi Yao Chan menghindarinya.
Namun seratus lebih mata orang di dalam ruangan tersebut dibuat melotot dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Dengan kecepatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, Yao Chan menangkap kedua pisau yang datang dari dua arah tersebut. Lalu melemparkan pisau yang kini melesat dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Kedua pisau melesat dan menancap tepat di kening kedua orang yang melemparkan pisau tadi. Keduanya tumbang dengan mata masih melotot, seolah tak rela nyawanya melayang oleh senjata mereka sendiri.
Seluruh orang terkesiap melihat kedua rekan mereka, tewas dengan cara yang kejam. Mata mereka melotot ke arah Yao Chan dengan kemarahan yang memuncak.
Tanpa dikomandoi lagi oleh sang ketua, para pembunuh bayaran kelas 3 dan kelas 2 segera menyerang Yao Chan setelah mencabut pisau perak dari balik jubah mereka.
Puluhan orang bergerak mengepung Yao Chan, beberapa orang melompat dan menerjang Yao Chan. Namun dengan teknik Langkah Dewa Angin Yao Chan dengan mudah berkelit bahkan melakukan serangan balasan dengan meninju kepala beberapa yang menyerangnya.
Dalam sekejap, lima orang kembali tergeletak tewas dengan kepala retak yang mengucurkan darah segar. Aroma amis darah pun mulai merebak di dalam ruangan besar tersebut.
Kematian lima orang rekan mereka, membuat para pembunuh bayaran yang sedang dalam kondisi mabuk itu, menjadi sangat marah.
Dengan menggunakan kemampuan beladiri mereka yang berada di Tingkat Pendekar Bergelar dan Pendekar Raja, mereka menyerang dengan jurus yang mengandalkan pisau di tangan.
Namun Yao Chan masih terlihat santai, bahkan sesekali tersenyum tipis. Setelah beberapa jurus berlalu, Yao Chan mengubah tekniknya dari bertahan menjadi menyerang.
Perubahan gerak Yao Chan terlambat disadari oleh mereka. Dengan menggunakan Teknik dari Kitab Dewa Naga, Yao Chan memainkan jurus Tinju Dewa Naga.
Gerakan tubuh Yao Chan yang tiba-tiba berubah meliuk-liuk seperti seekor ular itu, berhasil membuat lawannya terkejut.
Desss...Dessss....Desss
Dalam waktu yang hampir bersamaan tiga orang terlempar tewas dengan menyemburkan darah segar dari mulutnya saat dada mereka terkena tinju Yao Chan.
Praaak.... Praaak.... Praaak
Tiga orang lainnya tumbang menyusul rekannya yang telah berangkat terlebih dahulu ke Akhirat. Ketiganya tewas dengan kepala retak akibat terkena Jurus Tinju Naga Yao Chan.
Walaupun melihat rekan mereka mati dengan mudah, namun tak membuat jerih para pembunuh bayaran Kelas 3 dan Kelas 2. Bahkan pembunuh Kelas 1 pun ikut merangsek menyerang Yao Chan.
Pertarungan di dalam ruangan tersebut semakin memanas, di setiap satu orang jatuh tewas, yang lainnya segera melompat maju menggantikannya.
"Serang terus!!! sebentar lagi tenaganya pasti habis!!!"
Raja Pisau Perak berteriak dengan lantang, walau ia tahu Yao Chan belum mengerahkan seluruh kemampuannya, ia merasa bisa menghabisi pemuda tersebut saat ia telah kehabisan tenaga melawan anak buahnya.
Jika saja Raja Pisau Perak mengetahui bahwa tenaga dalam yang Yao Chan miliki hampir sepuluh ribu simpul. Mungkin saat ini Ia akan memilih lari secara sembunyi-sembunyi daripada harus lari secara terbirit-birit nantinya.
Sayangnya Raja Pisau Perak tidak bisa mengetahui dengan pasti tingkat beladiri Yao Chan. Hal itu karena Yao Chan berencana membantai seluruh Pembunuh Bayaran yang ada di Markas mereka, sehingga ia hanya menunjukan kemampuan di tingkat Pendekar Pertapa tahap Awal.
Jika ia menunjukan kemampuannya yang di tingkat Puncak Pendekar Suci, mungkin dirinya kesulitan menumpas mereka yang ketakutan dan melarikan diri darinya.
Itulah kenapa saat ini walau sudah puluhan orang yang Yao Chan bunuh, namun tak satu pun dari mereka yang merasa jerih lalu kabur meninggalkan ruangan.
Yao Chan mempercepat gerakan jurus Tinju Naga, hingga dalam waktu satu menit hampir dua puluh orang kehilangan nyawanya dengan kepala pecah atau dada yang remuk.
Melihat anak buahnya yang merupakan Pembunuh Kelas 3 hingga Kelas 1 hanya tersisa belasan orang saja, Raja Pisau Perak baru menyadari bahwa kekuatan Yao Chan sebenarnya berada di tingkat Pendekar Suci setidaknya di Tahap Awal.
"Munduuur!!! dia seorang Pendekar Suci Tahap Awal"
Raja Pisau Perak berteriak panik untuk menyelamatkan sisa anak buahnya yang tersisa lima belas orang tersebut.
Mereka yang sedang mengeroyok Yao Chan tertegun mendengar yang mereka hadapi ternyata seorang Pendekar Suci. Saat itulah Yao Chan menunjukan kekuatan sebenarnya agar dapat segera membunuh ke lima belas orang tersebut sebelum mereka melarikan diri darinya.
...*****...
...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....
...Terimakasih....