Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
060: Kemarahan Huang Lun


Shin Mu dan Shin Lun bertatapan sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta Tombak itu secara baik-baik kepada Huang Lun.


"Lun'er bisakah kau memberikan tombak itu kepada Guru?" Tanya Shin Mu dengan tatapan tajam ke arah Huang Lun.


Huang Lun terkejut mendengar permintaan gurunya tersebut. Roh Iblis Merah pernah memperingatkan Huang Lun bahwa tombak itu tidak boleh di berikan kepada siapapun. Jika Huang Lun melanggar hal tersebut, kekuatannya akan kembali ke semula dan lengan kirinya pun akan kembali buntung.


"Maafkan aku Guru, aku tak bisa memberikan tombak kepada orang lain sekalipun itu Guru sendiri." Jawab Huang Lun dengan suara yang terdengar bergetar. Huang Lun merasa kecewa dengan sang Guru yang selama ini ia hormati.


"Lun'er.. kau sudah berani membantah guru sekarang ?!"


Shin Mu menyipitkan matanya, rahangnya mengeras karena telah tersulut emosi mendengar jawaban Huang Lun.


"Guru..selama ini aku menuruti guru, bahkan aku telah pasrah saat guru hendak membunuhku tempo hari. Dan aku pun telah menyelamatkan guru dan paman guru dari kematian. Apakah hal ini tidak berarti apapun bagi kalian?"


Jawaban Huang Lun membuat Shin Mu dan Shin Lung terhenyak. Keduanya merasa malu mendengar kata-kata Huang Lun. Dan rasa malu ini membuat keduanya meradang.


"Baiklah jika kau tak mau menyerahkan dengan baik-baik, kami terpaksa menggunakan cara kekerasan untuk meminta Tombak itu.!"


Selesai berkata demikian, Shin Mu dan Shin Lung segera mengerahkan segenap kekuatan mereka. Aura membunuh merembes dari tubuh kedua jagoan tua dari aliran hitam tersebut.


Huang Lun tersenyum kecut, dirinya tak menyangka harus melawan gurunya sendiri. Mengingat hal tersebut Huang Lun merasa menyesal telah menyelamatkan mereka berdua dari serangan mematikan Yu Lian.


"Guru.. maafkan aku jika terpaksa berlaku kasar terhadap Guru.!"


Huang Lun pun segera mengerahkan tenaga dalamnya. Aura Kematian yang mencekam terpancar dari tubuh Huang Lun. Tubuh Huang Lun pun diselimuti aura berwarna merah kehitaman.


Shin Mu dan Shin Lung tergetar hatinya melihat kekuatan yang ditunjukan oleh Huang Lun. Namun mereka merasa yakin mampu menghadapi Huang Lun dengan kekuatan mereka berdua. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Shin Mu dan Shin Lung.


Shin Mu dan Shin Lung bergerak bersamaan, Shin Lung segera membacokkan Golok Raja Apinya ke arah kepala Huang Lun, Sedang Shin Mu menyerang bagian bawah.


Huang Lun tak ingin gegabah, golok Shin Lung ditahannya dengan Tombak Iblis Merah, sementara kaki Huang Lun menahan tendangan kuat dari sang Guru. Kedua senjata mengeluarkan gelombang kejut yang membuat ketiga orang tersebut terpental mundur.


Huang Lun menyipitkan matanya, dari pertukaran serangan barusan, dia mengetahui bahwa kedua kakek didepannya ini benar-benar ingin membunuhnya. Hal ini membuat Huang Lun sangat kecewa dan sangat marah terutama kepada gurunya Shin Mu.


Huang Lun kini menyerang terlebih dahulu, dengan menusukan tombaknya, Shin Mu dan Shin Lung pun menghindari selarik sinar merah yang keluar dari ujung tombak.


Ketiganya pun mulai terlibat pertarungan yang tidak seimbang dalam jumlah tersebut, namun Huang Lun yang sekarang, tidak mudah untuk ditaklukan.


Puluhan Jurus telah berlalu, area disekitar pertarungan pun porak-poranda. Shin Mu dan Shin Lung merasa kesal karena tak satupun serangan mereka berhasil menyentuh Huang Lun.


Sebaliknya beberapa tendangan Huang Lun berhasil bersarang di tubuh mereka. Walau serangan tersebut tidak membahayakan mereka, namun harga diri keduanya terluka.


Huang Lun beberapa kali meminta mereka untuk segera menghentikan serangan dan pergi meninggalkan dirinya. Namun perkataan Huang Lun justru membuat Shin Mu dan Shin Lung semakin murka.


Melihat Adiknya telah mengerahkan jurus terkuat yang dimilikinya, Shin Mu pun melompat mundur dan mengeluarkan jurus terkuatnya, Tinju Api.


Melihat hal itu Huang Lun merasa lebih kecewa, karena gurunya benar-benar tak menganggapnya lagi. Melihat situasi yang menjadi sangat berbahaya, Roh Iblis Merah pun segera merasuki tubuh Huang Lun.


Huang Lun tak berdaya ketika kesadarannya terambil oleh Roh Iblis Merah. Tubuh Huang Lun kini benar-benar mengeluarkan bara api yang sangat panas. Saat Huang Lun membuka matanya, tampak seluruh bola mata Huang Lun telah berubah merah.


Hal ini membuat Shin Mu dan Shing Lung terkejut, kekuatan yang ditunjukan oleh Huang Lun kini, jauh lebih besar dari kekuatan yang mereka berdua miliki. Rasa gentar mulai menyelimuti kedua jagoan sesat tersebut.


"Kalian memang sebaiknya mati ditanganku Huahahhahaha."


Suara serak Huang Lun yang sedang dirasuki roh Iblis Merah, membuat Shin Mu dan Shin Lung menyadari apa yang terjadi. Rasa gentar jelas terlihat di wajah Keduanya.


Saat mereka sedang terpana, Roh Iblis Merah segera melesat menyerang Shin Lung dengan menusukan tombaknya yang membara. Kecepatan serangan itu dua kali lipat dari sebelumnya hingga membuat Shin Lung tak lagi sempat untuk menghindarinya.


Shin Lung menahan ujung tombak dengan badan golok besarnya tersebut. Shin Lung begitu yakin dengan kekuatan golok Raja Api warisan dari sang Guru. Keyakinannya inilah yang membuatnya harus rela kehilangan nyawa.


"Traaak!!"


Golok Raja Api patah menjadi dua dan mata Tombak Iblis Merah pun terus melesat dan menembus dada Shin Lung hingga ke punggungnya.


Aaaarrrrggghhhhhh


Suara teriakan Shin Lung menggema di dasar Jurang Neraka. Mata Shin Lung terbelalak lebar seolah tak percaya bahwa nyawanya melayang di tangan murid kakaknya yang usianya separuh dari usianya.


Shin Mu membelalakan matanya melihat apa yang terjadi dihadapannya. Rasa marah dan takut menyelimuti hati, membuat tubuhnya bergetar hebat.


Tubuh Shin Lung perlahan-lahan mengeriput, energi hidupnya terhisap oleh Tombak Iblis Merah hingga akhirnya menyisakan tulang belulangnya saja.


Shin Mu mematung melihat sang adik yang kini tinggal tulang belulang dan masih tergantung di ujung tombak. Tak pernah terbayangkan olehnya akan menyaksikan kematian adiknya dengan cara yang sangat mengenaskan.


Tubuh Shin Mu menjadi lemas saat Huang Lun yang dirasuki Roh Iblis Merah, membalikan badan dan melangkah kearahnya. Setiap langkah Huang Lun seolah langkah seorang Algojo yang hendak memenggal kepala Shin Mu.


Hal ini membuat keringat Shin Mu bercucuran dengan tubuh bergetar hebat. Tak sekalipun dalam benaknya terbayang bahwa dirinya akan terbunuh oleh muridnya sendiri, murid yang dia didik sejak masih anak-anak.


Shin Mu memejamkan mata dan pasrah dengan kematian yang akan segera menjemputnya. Jarak Huang Lun dan dirinya semakin dekat, kurang dari dua meter lagi.


Roh Iblis Merah yang merasuki tubuh Huang Lun segera mengubah posisi tombaknya dan siap menusukan ke dada Shin Mu. Namun sesuatu yang tidak di duganya terjadi. Sebuah Energi yang jauh lebih besar dari yang dia miliki, membuatnya membatalkan serangannya dan lalu ia pun membalikan badannya.


...*****...