Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
117: Dua Kitab Sembilan Jurus


Mang Shee segera menyemburkan Api besar dari mulutnya untuk menahan laju serangan dari kedua Roh Naga itu.


BLAAAAM


Suara ledakan menggelegar memenuhi udara pagi di pegunungan Huashan. Akibat gelombang kejut kedua energi yang berbenturan itu, membuat tanah dan hutan dalam radius seribu meter bergetar hebat.


CRAAASSSH


Aaaaaarrrrrgggghhhh!!!!


Mang Shee meraung keras saat tubuh raksasanya tersayat cukup dalam. Tanpa ia duga, setelah terjadi ledakan, sebuah energi pedang dari Pedang Dewa Perang melesat menghantam tubuhnya tanpa bisa ia hindari.


"Curang kau Naga Emas, aku baru sekali menyerang kau sudah dua kali!"


Roh Naga Api menggerutu kepada Roh Naga Emas yang terkekeh mendengarnya. Karena Cambuk Naga Api memiliki panjang seratus meter, butuh jeda lebih lama jika akan memberikan serangan susulan.


Berbeda dengan cambuk, pedang jauh lebih cepat dalam memberikan serangan susulan, sehingga Mang Shee tak menduganya dan terlambat untuk menghindar.


"Kau saja yang lamban, sepertinya Roh mu benar-benar kurang berolahraga. Hahahaha."


Roh Naga Api menggeram jengkel mendengar ledekan Roh Naga Emas. lalu Ia mengangkat cambuk itu tinggi-tinggi, setelah api cambuk itu kembali menyala terang, ia pun memutar tali cambuk hingga membentuk tiga buah cakram energi api raksasa yang berputar cepat.


Zhu Yin terpana dengan mulut terbuka lebar melihat kemampuan yang ditunjukan oleh Roh Naga Api. Belum pernah sekalipun dalam hidupnya ia melihat pertarungan dengan jurus-jurus yang luar biasa hebat seperti yang ia lihat saat ini.


Tiga buah energi berbentuk Cakram Api Raksasa berdiameter lima puluh meter itu, segera melesat dengan cepat ke arah Mang Shee yang terlihat sedang berusaha mengobati luka akibat serangan Roh Naga Emas.


"Benar-benar licik kau Naga Api, kau membuat tiga serangan sekaligus."


Kini Roh Naga Emas yang menggerutu melihat serangan Roh Naga Api melesat sangat cepat ke arah Mang Shee yang kebingungan dengan adanya serangan ke tiga titik di tubuhnya.


BLAAAAR BLAAAAR BLAAAAR


ARRRGGGGHHH


Mang Shee kembali meraung keras saat ketiga Cakram Api Raksasa itu menghantam tubuhnya. Rasa sakit dan panas kini mendera tubuh Mang Shee. Luka bakarnya memang tidak mengeluarkan banyak darah, tetapi luka akibat energi pedang Roh Naga Emas membuatnya kehilangan banyak darah.


Akibat darahnya yang terus mengalir, tubuhnya pun perlahan-lahan menyusut hingga ke kembali ke ukuran semula saat pertama ia keluar dari mulut Goa.


Wajah Mang Shee berubah menjadi pucat saat melihat kedua manusia itu melayang mendekati dirinya. Rasa penyesalan pun mulai menggelayuti hatinya.


Seandainya tadi ia tidak menyombongkan diri dengan kekuatannya untuk melawan Roh Naga Emas, mungkin nyawanya saat ini masih bersemayam dengan tenang dalam tubuhnya.


"Ampuni Aku wahai Tuanku Naga Emas. Berilah kesempatan hidup padaku untuk merubah diriku menjadi sosok siluman yang baik. Ku mohon berilah kesempatan sekali lagi."


Roh Naga Emas tersenyum sinis mendengar ucapan Mang Shee yang menghiba padanya.


"Aku sebenarnya telah memberi mu kesempatan sekali selama seribu tahun untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Namun kau telah mengkhianati kepercayaanku. Ketahuilah oleh mu bahwa kepercayaan itu bukan dibuat oleh kata-kata melainkan dilahirkan oleh tindakan yang jujur dan benar."


Siluman Ular Piton Putih itu terdiam mendengar perkataan Roh Naga Emas. Menyadari bahwa melawan mereka adalah hal sia-sia, akhirnya Mang Shee pun pasrah dengan wajah yang terlihat menyesal dan ketakutan, seolah-olah ia melihat Dewa Kematian, sedang melambaikan tangan memanggilnya.


"Sebelum aku mati, mohon jawablah pertanyaanku ini. Apakah aku bisa bereinkarnasi menjadi manusia setelah kematianku ini?"


"Aku tidak mengetahui hal tersebut, hal itu adalah wewenang yang Maha Kuasa. Namun pesanku, jika kau bereinkarnasi menjadi manusia, berpijaklah pada norma-norma kebenaran menurut pandangan banyak orang, bukan berdasar kebenaran menurut mau mu sendiri."


Naga Emas mengakhiri kata-katanya seraya mengangkat pedang Dewa Perang.


"Tenanglah, aku akan memberikan kematian yang cepat untukmu."


Tanpa disadari oleh kedua Roh Dewa itu, nun jauh di sebelah selatan pada jarak hampir seribu kilometer, seekor siluman lain sedang memandang ke arah pegunungan Huashan.


Siluman yang memiliki kekutan jauh diatas kekuatan Siluman Ular Piton Putih itu, menghela nafasnya saat menyadari aura Siluman ular itu telah hilang.


"Apakah kekuatan Mustika Hati Iblis di tubuhku ini, mampu mengalahkan kekuatan para dewa dari Ras Naga itu?"


Ia pun bertanya dalam benaknya sendiri seraya membalikan tubuhnya dan kembali ke tempatnya bermeditasi untuk meningkatkan kekuatan sambil menahan rasa laparnya.


Seandainya ia tidak sedang dalam wilayah yang tersegel oleh Sihir dari seorang peri dari Dunia Moxian, mungkin saat ini ia telah kenyang karena menyantap para manusia yang ia temui.


"Sedikit lagi kekuatan mencapai tingkatan yang dapat menghancurkan segel sihir peri sialan itu. Jika aku telah memusnahkan sihirnya, dialah yang pertama akan kujadikan santapan ku."


***


"Chan Gege cepatlah keluarkan dua kitab pusaka itu, aku tak sabar ingin mengetahui jurus sakti apa yang berada di dalamnya."


Yu Lian merajuk kepada Yao Chan saat mereka bertiga telah berada di markas Rubah Hitam. Yao Chan tersenyum tipis mendengar permintaan Yu Lian. Rasa penasaran sang adik ternyata jauh lebih besar daripada rasa lelah ditubuhnya sendiri.


Selepas kesadaran mereka dikembalikan oleh Roh para Naga, Mereka bertiga masih harus bertarung hingga tiga jam untuk membantai ribuan Siluman yang mencoba keluar dari hutan yang berada di pegunungan Huashan tersebut.


"Tunggulah sebentar Lian'er, kita pulihkan tenaga dalam kita terlebih dahulu."


Setelah berkata demikian, Yao Chan mengeluarkan tiga buah cawan berisi air hijau dari Guci Dewa Air yang berada di dalam gelang Ruang Dimensinya.


Yu Lian mendengus kesal mendengar perkataan kakaknya. sementara Zhu Yin justru terlihat antusias melihat ketiga cawan tersebut. Walau ia juga diselimuti rasa penasaran seperti Yu Lian, namun keinginannya untuk menjadi lebih kuat ternyata jauh lebih besar.


Setelah satu jam mereka bermeditasi memulihkan kembali tenaga dalamnya. Akhirnya Yao Chan pun mengeluarkan Peti yamg berisi dua kitab tersebut.


Setelah membuka kunci pengaman peti, akhirnya mereka menemukan dua buah kitab yang sampulnya terlihat seperti masih baru.


Saat menyentuhnya, Yao Chan menyadari bahwa kedua kitab tersebut dilapisi suatu cairan yang membuat sampul dan isi kitab tersebut tetap terlihat baru.


Kitab Pertama di sampulnya bertuliskan "Kitab Teknik Keahlian." Yao Chan pun membuka halaman pertama yang berisi nama lima keahlian yang membuatnya tersenyum lebar.


*Chan Gege, jurus apa yang berada didalamnya?"


Yu Lian tak dapat lagi menahan penasarannya melihat Kakaknya itu tersenyum senang.


Namun lagi-lagi Yao Chan memintanya bersabar. Ia pun lalu mengambil kitab Ke dua yang pada sampulnya tertulis "Kitab Teknik Beladiri" dan mendapati empat jurus yang tertulis di halaman pertama dari kitab itu.


Yao Chan lagi-lagi tersenyum senang membuat Yu Lian dan Zhu Yin semakin penasaran.


"Dua Kitab Sembilan Jurus, sungguh jurus-jurus langka yang hebat."


Yao Chan mengguman yang membuat Yu Lian segera kembali bertanya.


*Chan Gege Apa saja jurus dari kitab Keahlian itu?"


"Jurus pertama Kitab Teknik Keahlian merupakan teknik ilusi, jurus ini bernama Sembunyi Dalam Terang."


Jawaban Yao Chan membuat dahi kedua gadis muda yang memiliki kecantikan surgawi itu mengerut besar.


*****