Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
281: Pertempuran di Mulai


Dua orang yang tiba-tiba saja muncul dan menampakan diri, mengejutkan Lin Shan dan seluruh pasukan Aliansi Klan Aliran Hitam.


Selain terkejut karena kekuatan mereka yang sangat besar, merek terkejut melihat wujud mereka.


Keduanya tak ubahnya seperti manusia di dunia Kultiva. Hanya saja tubuh keduanya sangatlah tinggi. Setidaknya lebih dari dua meter.


Selain itu, kulit mereka juga berbeda, satu orang yang mengenakan jubah berwarna merah, memiliki kulit dan rambut yang berwarna merah pula. Rambut sepanjang satu meter itu, dibiarkan tergerai begitu saja.


Satu orang lain yang tak kalah tingginya, berjubah hitam, memiliki kulit putih seputih salju dengan kepala botak dan seluruh bola matanya berwarna putih pula. Tangannya memegang sebuah kipas hitam yang panjangnya hampir satu meter.


“Lin Shan …. Siapa yang Lin Shan.”


Suara sosok yang bertubuh tinggi, tiba-tiba berbicara dengan bahasa yang terdengar kaku dan suara yang serak.


“Aku Lin Shan. Hon Ji dan Bhu Kin apakah itu nama kalian berdua?”


Lin Shan yang sudah mengetahui nama Kedua orang yang akan datang itu, segera maju mendekati mereka berdua.


“Aku … Hon Ji … Ini … Bhu Kin.” Sosok yang mengaku bernama Hon Jin itu menjawab dengan terbata-bata.


Mereka sebenarnya telah datang dua hari yang lalu, namun mereka menemui Iblis Sejati terlebih dahulu di alam dimensinya.


Dari Iblis sejati itulah mereka mengetahui nama Lin Shan dan bahasa yang digunakan oleh manusia di dunia Kultiva itu.


Walau terlihat belum begitu fasih, setidaknya keduanya bisa berkomunikasi dengan Lin Shan.


Lin Shan lalu meminta Hon Ji untuk menghancurkan Dinding Perisai yang melindungi Kota Anmei.


Hon Ji terlihat menganggukan kepalanya. Lalu Ia mengibaskan tangannya.


WHUUTSS


BRRAAAKK


BLAAAMM


Sebuah Bola Api sebesar kelapa, tiba-tiba saja melesat dan menghancurkan Dinding perisai itu hingga menimbulkan ledakan yang sangat keras.


Bukan hanya menghancurkan Perisai saja, bola api itu terus meluncur dengan cepat dan menghantam bangunan besar yang berada di bawah pasukan Aliansi Klan Aliran Putih.


Seketika sepuluh bangunan hancur dan menimbulkan kobaran Api yang sangat besar.


Hal itu membuat mata kedua belah pihak melotot lebar. Sebelumnya Lin Shan dan beberapa ketua telah menghantam dinding perisai itu dengan serangan energi mereka.


Tetapi tidak sedikitpun membuat dinding perisai itu mengalami keretakan. Namun baru saja mereka melihat, sebuah bola api kecil, mampu menghancurkan dinding tersebut dengan hanya sekali hantam saja.


“Yao Chan … mana ?… Aku … akan … membunuhnya?”


Hon Ji berkata lagi dengan terbata-bata kepada Lin Shan yang baru saja tersadar dari keterpanaannya.


“Sepertinya Yao Chan tidak ada … sebaiknya Tuan bunuh mereka semua.” Kata Lin Shan yang segera menunjuk dimana Ketua Zhou Kin, Ratus Es Abadi dan Gong Xhun berada.


“Tidak … Mau … Aku … hanya bunuh … Yao Chan …”


Lin Shan terkejut mendengar perkataan Hon Ji, Ia bisa merasakan jika Ketiga orang lawannya itu memiliki kekuatan yang sama dengan dirinya.


Lin Shan ingin menggunakan kekuatan Hon Ji dan Bhu Kin untuk menghabisi mereka bertiga namun mengetahui Hon Ji tidak mau melakukannya.


Lin Shan lalu memutuskan untuk memulai penyerangan.


“SERBUUU!!!”


Lin Shan yang berteriak keras secara tiba-tiba itu, mengejutkan semua orang. Namun hal itu tidak berlangsung lama.


Ribuan orang bergerak dari dua arah yang berlawanan. Suara dentingan senjata yang beradu, mulai mengisi udara diatas di atas Kota Anmei.


Suara jerit kematian pun mulai terdengar beberapa saat kemudian. Lalu terlihat tubuh-tubuh yang mulai berjatuhan seperti daun yang berguguran.


Suara ledakan energi silih berganti menggelegar membuat suara pertarungan itu semakin riuh.


Walau baru separuh orang yang bertarung, namun sudah terlihat bahwa Pasukan Aliansi Klan Aliran Putih mulai terdesak.


Melihat itu, Ketua Zhou Kin segera meminta Ratu Es Abadi dan Ketua Gong Xhun untuk turun tangan membantu pasukan itu.


Melihat Gong Xhun dan Ratu Es Abadi melesat ke arah Pasukannya, Lin Shan segera meminta Xhu Jung dan Gao Shen untuk menghadapi .


Sementara Jing Mui dan Zhao Wu segera melesat untuk menghadang Ratu Es Abadi. Lin Shan pun segera melesat ke arah Ketua Zhou Kin.


Sementara Hong Ji dan Bhu Kin terlihat melayang ke atas untuk menjauhi arena pertarungan yang semakin meluas itu.


Kini hampir seluruh pasukan Aliansi Klan Aliran putih telah turun tangan bertarung. Namun di pihak Aliansi Klan Aliran Hitam, setidaknya lima ratus orang masih terlihat menunggu lawan.


“Gong Xhun hendak kemana Kau! Kami lawanmu!”


Gao Shen berkata seraya mengalirkan energi berjumlah besar ke dalam dua buah cakram besar di tangannya.


Sementara Xhu Jung yang telah mengeluarkan tombak pusakanya, segera mengalirkan energi ke dalam Tombak yang seketika membara mengeluarkan api besar di mata tombak tersebut.


Gong Xhun mengumpat kesal, melihat pasukan Aliansi yang semakin terdesak hebat. Ingin Ia segera membantu, namun dua orang yang menghadangnya, harus Ia singkirkan terlebih dahulu.


Gong Xhun pun mengganti pedangnya dengan pedang pusaka bernama Pedang Suci.


Gao Shen dan Xhu Jung terlihat waspada saat melihat Gong Xhun mengeluarkan Pedang tersebut. Keduanya sudah mengetahui kehebatan pedang di tangan Gong Xhu itu.


“Baiklah jika kalian ingin segera mati. Aku tak akan bermain-main lagi.” Gong Xhun segera mengerahkan delapan puluh persen energi qi miliknya.


Raut Wajah Gao Shen dan Xhu Jung seketika berubah saat mengetahui kekuatan Gong Xhun yang setara dengan kekuatan Lin Shan.


Keduanya menelan ludah mereka, saat menyadari telah salah memilih lawan.


Hal yang sama terjadi dengan Jing Mui dan Zhao Wu. Jing Mui yang telah mengeluarkan Pedang Hitam pusakanya, terkejut saat merasakan Aura dingin yang sangat besar memancar dari tubuh Ratu Es Abadi.


“Bagaimana bisa kekuatan Nenek ini meningkat pesat dalam sekejap?” Benak Jin Mui di penuhi oleh pertanyaan yang membuat wajahnya terlihat keheranan.


Sementara Zhao Wu tercekat saat merasakan Aura Energi dari Tubuh Ratu Es yang sama besar dengan Aura yang pernah ditunjukan oleh Lin Shan.


“Kenapa wajah kalian seperti itu? Apa kalian menyesal karena telah salah memilih lawan. Hah?” Ratu Es Abadi mencibir ke arah Jing Mui dan Zhao Wu yang seketika menjadi kesal.


Sementara kedua orang dari Dunia Lain itu, terlihat santai sembari berbincang-bincang dengan bahasa yang tak dimengerti oleh manusia Dunia Kultiva.


Namun Sesaat kemudian mata mereka menatap pada satu arah yang sama. Hal itu karena mereka merasakan tiga Aura energi yang besar tiba-tiba muncul di belakang mereka.


*****