
Yao Chan segera melesat ke arah Dua penunggang kuda yang tak lain adalah Yu Ma dan Pamannya Lin Yung. Kuda kedua orang tersebut, bersuara keras saat tiba-tiba Yao Chan melayang di hadapannya.
"Dasar Bocah sontoloyo" Lin Yung ingin memaki seperti itu kepada Yao Chan, yang datang secara tiba-tiba membuat kudanya bergerak liar.
Namun Lin Yung menelan kembali kata-katanya saat melihat jubah keponakannya tersebut bersimbah darah dan robek di beberapa bagian.
"Chan'er apa yang terjadi padamu, apakah kau terluka"
Yao Chan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Pamannya. Wajah sang paman yang terlihat khawatir, membuat hati Yao Chan pun terasa hangat.
"Aku baik-baik saja Paman. Tetapi mengapa paman kemari? siapa yang menjaga Kakek?"
"Ibumu begitu khawatir padamu, Chan'er, hingga ia memintaku dan Paman mu Lin Yung untuk segera menyusul dirimu. Bagaimana situasinya?"
Setelah mengamati dengan seksama, Yu Ma bisa melihat bahwa darah yang melekat di jubah Yao Chan, bukanlah darahnya sendiri.
"Paman, aku sudah membunuh seratusan anggota Pisau Perak di markas mereka. Namun hanya separuhnya yang berada di sana."
Yao Chan pun menambahkan bahwa dirinya berhasil membuat Raja Pisau Perak takluk dengan memusnahkan tenaga dalam dan memotong lengan kanannya sekaligus merampas Pusaka Pisau Perak miliknya.
Yao Chan juga menjelaskan dirinya sudah mengetahui siapa dalang di balik rencana keji untuk membunuh para pejabat istana dan juga Putera Mahkota. Hanya saja Yao Chan tidak menjelaskan siapa orangnya.
Penjelasan Yao Chan berikutnya membuat Raut Wajah Lin Yung memucat. Yaitu tentang adanya kelompok pembunuh lain yang jauh lebih kuat dari Pisau Perak sedang mengincar Ayahnya yang menjabat Perdana Menteri itu.
"Chan'er apa rencanamu selanjutnya?"
Yu Ma mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Yao Chan. Informasi itu terlalu mengejutkan baginya.
Yu Ma tentu saja mengetahui Kelompok Pembunuh terkuat di Kekaisaran Wu itu. Karena ia pernah berhadapan dengan orang ke dua terkuat di kelompok itu, Tao Yan.
"Entahlah paman, aku belum mengetahui di mana markas mereka berada, bahkan aku belum mengetahui satu pun anggota dan tingkat kekuatan Kelompok Rubah Hitam itu."
Jawab Yao Chan lalu melanjutkan bahwa dia juga menemukan banyak wanita di markas Pisau Perak yang di sekap dan di jadikan wanita penghibur oleh mereka.
"Chan'er sebaiknya kau kembali terlebih dahulu ke ibukota, tunjukan saja di mana letak markas mereka. Biarkan kami yang mengurusnya."
Lin Yung berkata sembari melihat Yu Ma yang menganggukkan kepala sebagai tanda ia menyetujui perkataannya. Yao Chan kemudian memberikan arahan tentang markas mereka.
Saat akan menyampaikan keberadaan Raja Pisau Perak, suara kawanan serigala terdengar riuh dari tempat di mana Raja Pisau Perak berada. Kawanan serigala itu seperti sedang berebut makanan.
Yao Chan menepuk jidatnya saat menyadari kemungkinan bahwa Raja Pisau Perak tengah menjadi rebutan para serigala yang pastinya sedang kelaparan itu.
"Paman sepertinya tidak perlu repot-repot mengurus ketua mereka. Mungkin saat ini para serigala itu tengah memakannya hidup-hidup."
Yao Chan tersenyum tipis yang membuat Yu Ma dan Lin Yung tertegun mendengar perkataannya. Sekejam itukah Yao Chan kepada lawan-lawannya?
Yao Chan menyadari pandangan Kedua orang yang dipanggilnya "Paman" itu. Tak ingin mendapat ceramah dari Lin Yung yang telah beranjak menghampirinya, Yao Chan segera berpamitan kembali ke Ibukota tanpa menunggu jawaban mereka berdua.
Yao Chan bukannya tidak menyadari arti pandangan kedua orang Jendral itu. Ia pun sebenarnya merasa heran pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini sangat menikmati setiap pembunuhan yang ia lakukan.
Yao Chan terbang perlahan-lahan karena memikirkan berbagai hal dalam benaknya. Kepalanya terasa pusing saat mengingat banyak tugas dan rencananya sepertinya akan tertunda dalam waktu yang cukup lama.
Menemui para penghuni Lembah Siluman dan menukarkan Tongkat Giok Darah Xin Jun dengan sebuah benda yang dimiliki oleh mereka adalah rencana pertama Yao Chan.
Mengumpulkan empat pusaka Iblis lainnya yang mungkin kini sudah berada di tangan para pendekar, lalu tugas untuk mengambil dua kitab peninggalan Zhu Long bersama Zhu Yin berdasarkan petunjuk yang berada dalam Peta.
Selain itu ia pun harus menemukan Mutiara Jiwa Api untuk membantu Yu Lian agar kekuatan cambuk Naga Api nya mencapai kekuatan penuh.
Namun yang membuat Yao Chan lebih pusing adalah keberadaan air terjun berwarna Hijau yang aliran airnya terbalik. Yao Chan ingin sekali segera mencari Guci Dewa Air untuk meningkatkan kemampuannya, agar tubuhnya bisa menyimpan dan mengolah qi, bentuk lain dari energi yang lebih murni dan memiliki kekuatan lebih dahsyat dari tenaga dalam.
Keinginan Yao Chan bukanlah tanpa alasan. Sosok pria dalam ingatan Raja Pisau Perak yang ia lihat, memiliki kemampuan yang melebihi tingkat Pendekar Suci tahap Akhir.
Sosok itu adalah pendekar yang bertugas untuk mengawal seorang yang membayar Raja Pisau Perak untuk melakukan pembunuhan terhadap Menteri di Kekaisaran Wu.
Semua informasi yang Yao Chan dapat dari ingatan Raja Pisau Neraka membuat Yao Chan dalam kekhawatiran yang tak bisa ia hilangkan dalam sekejap.
Yao Chan mempercepat laju terbangnya mengingat saat ini hanya Yu Lian dan Zhu Yin yang berada di rumah kakeknya. Yao Chan tidak mengetahui berapa jumlah dan setinggi apa kekuatan yang dimiliki oleh para pembunuh dari kelompok terkuat di kekaisaran Wu itu.
***
"Ketua benarkah informasi itu"
Tao Yan bertanya dengan mengerutkan dahinya, ia tak menyangka sebagai orang terkuat nomor dua di kelompok Rubah Hitam, ia harus turun tangan menjalankan misi yang seharusnya tidak sulit itu.
"Aku pun masih meragukan kebenaran informasi itu, tetapi jika itu benar maka mereka berempat tidak akan bisa menghadapi pemuda itu."
Lelaki yang dipanggil Ketua oleh Tao Yan itu menjawab pertanyaannya dengan sedikit ragu. Ia pun lalu menjelaskan kepada mereka untuk singgah di markas Kelompok Pisau Perak menemui Raja Pisau Perak dan menanyakan kebenaran informasi yang ia terima.
"Ketua Hung..Apakah mereka berempat belum berhasil menjalankan satu misi pun?"
Tanya Bai Xun yang merupakan orang terkuat ke tiga di kelompok Rubah Hitam. Lelaki yang bernama Hung Fei itu lalu menjelaskan bahwa kemungkinan mereka baru sampai tadi pagi di Kota Wu Chang An, Ibukota Kekaisaran Wu.
"Apakah tidak sebaiknya kita menunggu hasil kerja mereka terlebih dahulu?" Bai Xun kembali bertanya.
"Tidak, jika informasi itu benar, mereka berempat akan gagal dan bisa jadi terbunuh oleh pemuda itu."
Hung Fei tak ingin mengambil resiko kehilangan empat orang anak buahnya yang memiliki Kemampuan di tahap Pendekar Pertapa tahap Akhir.
Mereka berempat adalah orang terkuat di kelompok Rubah Hitam setelah Tao Yan dan Bai Xun.
...*****...