Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
076: "Ayah...."


Siang itu di sebuah penginapan mewah yang terletak di pusat Kota Wu Chang An, Enam orang sedang berkumpul di sebuah kamar dengan ukuran terbesar dan terletak di lantai teratas penginapan tersebut.


"Benarkah yang kalian katakan itu?" Suara yang bergetar terdengar dari mulutnya.


Salah seorang yang terlihat paling tua dan berusia sekitar empat puluh tahun, memandang empat orang rekannya yang duduk dihadapannya dengan tatapan tajam.


Seorang rekannya yang lain duduk santai di sampingnya sambil menikmati arak. Keempat pria tersebut menganggukkan kepala mereka.


Lalu salah seorang diantara mereka menjelaskan bahwa dirinya melihat sendiri, saat Agen 210 dan 205 telah tertangkap oleh seorang pemuda yang bisa melayang di udara.


Kedua Pria yang mendengar laporan tersebut, salah satunya tersedak arak yang sedang di minumnya saat mendengar seorang pemuda bisa melayang di udara. Ia pun terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah.


Hati keduanya bergetar mendengar hal tersebut, belum pernah mereka merasakan ketakutan selama puluhan tahun menjadi seorang Pembunuh.


Seseorang uang mampu melayang di udara adalah mereka yang telah memiliki tingkatan sebagai Pendekar Suci. Namun tidak semua pendekar Suci mampu melakukannya jika tidak memiliki tenaga dalam minimal lima ribu Simpul.


"Apa katamu seorang pemuda bisa melayang di udara? Tidak mungkin!" Pria tersebut membentak rekannya setelah berhenti dari batuk karena tersedak arak.


"Yindao 125, pelankan suaramu, berbahaya sekali jika ada yang mendengarnya!" Pria yang terlihat paling Tua itu, menegur rekannya yang terlihat marah dan menatapnya tajam


"Maaf Yindao104, aku terlalu terkejut mendengar laporan Yindao208." Jawab Pria yang dipanggil Yindao125 itu dengan suara yang jauh lebih pelan dari sebelumnya.


Yindao125 merasa jerih dengan tatapan Yindao104 yang menjadi pemimpin dalam misi mereka kali ini.


Bukan rahasia lagi dalam kelompok Pembunuhan Bayaran Pisau Perak, bahwa Yindao104 adalah Agen yang sangat kejam. Ia bahkan pernah membunuh rekannya sendiri yang dianggapnya telah membahayakan misi mereka.


Dalam Kelompok Pisau Perak, mereka tidak pernah menyebut nama dalam berkomunikasi. Karena mereka diwajibkan menggunakan nama dengan identitas kata "Yindao" di depannya. Kata yang menunjukan nama kelompok mereka "Pisau Perak"


Setelah kata "Yindao" nama mereka akan diberi 3 angka. Angka pertama untuk menunjukan kelas mereka, sedang dua angka di belakang nama mereka, menunjukan peringkat mereka yang ditentukan berdasarkan jumlah orang yang telah mereka bunuh.


Yindao104 adalah nama yang merupakan Pembunuh Kelas 1 dan menempati urutan no 4 dari tiga puluh Pembunuh Kelas 1 lainya yang kemampuan beladirinya berada di tingkat pendekar Raja Tahap Akhir.


"Lalu bagaimana nasib Yindao210 dan Yindao205?" Tanya Yindao104.


"Mereka dibawa kedalam Istana dan karena keberadaan pemuda itu, kami tak bisa leluasa mengikutinya." Jawab Yindao208


Yindao104 tampak termenung, keberadaan pemuda tersebut berpotensi menghancurkan satu misi mereka yang tersisa. Selain membunuh Menteri Ekonomi, mereka mendapatkan dua misi lain yaitu membunuh Putera Mahkota dan Perdana Menteri Lin Bao.


"Putera Mahkota tentunya sekarang dalam penjagaan ketat dari pemuda tersebut. Malam ini, kita sebaiknya menyelesaikan misi untuk membunuh Perdana Menteri Lin Bao. Kita semua akan bergerak saat tengah malam nanti."


Yindao104 akhirnya tetap memutuskan melanjutkan misinya, berharap setidaknya satu misi lagi berhasil ia jalankan. Tanpa dirinya ketahui bahwa pemuda yang membuat hati mereka bergetar takut justru berada di kediaman Lin Bao.


**


"Chan'er inilah ruangan tempat ibumu tinggal, Kakek tidak punya pilihan lain untuk menjaga ibumu agar tetap hidup."


Lin Bao menjelaskan kepada Yao Chan alasan dirinya mengurung Lin Hua saat mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang pelayan perempuan. Yao Chan mengerutkan dahinya sambil menatap sang Kakek dengan heran karena berkata demikian.


Lin Bao tersenyum tips menemukan Yao Chan memandangnya dengan tatapan yang mengisyaratkan sebuah pertanyaan.


Lin Bao lalu memerintahkan salah seorang pelayan membuka pintu. Lalu menyuruh Yao Chan masuk terlebih dahulu.


Tubuh Yao Chan terpaku menatap pemandangan yang ada di depannya. Hatinya menjerit dan menangis keras melihat kenyataan tentang sang ibunda tercinta.


Yu Lian yang juga segera masuk, terdiam beberapa saat, bibirnya memanggil nama Bibi Lin, namun sesaat kemudian menjerit lalu menangis sambil memegang lengan kiri Yao Chan yang air matanya mulai menetes.


Sehebat apapun dirinya sebagai seorang Pendekar, mendapati sang ibu dalam keadaan seperti yang dilihatnya saat ini, tentulah hatinya akan tetap bersedih.


Dihadapannya, sang Ibu sedang duduk dengan kedua kakinya yang terpasung. Rambutnya yang panjang terurai acak-acakan, menutupi sebagian besar wajahnya. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulit yang terlihat kusam.


Yao Chan yang segera tersadar dari goncangan bathinnya, segera bersimpuh lalu memegang kedua kaki sang Ibunda.


"Pergiiiiiiiiii..... pergiiii kamuuuuu..ke***** "


Suara jeritan Lin Hua terdengar mengusir Yao Chan. Lin Hua yang dalam keadaan hilang ingatan tentu saja tidak mengenali Yao Chan. siapapun yang mendekati dirinya, akan ia usir sambil memaki-makinya.


Yao Chan menguatkan hatinya yang terguncang hebat. Sementara Yu Lian sudah menangis terisak-isak. Selama keberadaan Lin Hua di Lembah Dewa, Yu Lian selalu menyempatkan diri menemui Lin Hua setiap harinya. Kedekatan mereka berdua tak ubahnya seorang Ibu dan Anak.


Lin Bao tak dapat lagi menahan airmatanya melihat keharuan dihadapannya itu. Demikian juga dengan Lin Yung, Wajahnya terlihat menua beberapa tahun melihat kondisi sang adik, walau ia sudah sering melihatnya.


Sementara Zhu Yin yang biasanya selalu ceria, kini terlihat raut wajahnya yang muram, menunjukan kesedihan yang mendalam. Namun dirinya yang mulai meneteskan air mata, dengan cepat menguasai dirinya.


"Izinkan aku melihat kondisi Ibumu."


Suara Zhu Yin yang sudah berada di sampingnya, menyadarkan Yao Chan. Ia bisa merasakan kesedihan Zhu Yin dari suaranya yang bergetar. Rasa simpati menyeruak di hatinya melihat kepedulian Zhu Yin.


Yao Chan belum mengetahui bagaimana cara menyembuhkan seseorang yang hilang ingatannya dengan Jurus Mata Menghisap Ingatan, sebagaimana yang dikatakan Zhu Yin beberapa hari lalu.


Yao Chan menganggukkan kepalanya, Lin Bao dan Lin Yung yang juga mendengar perkataan Zhu Yin, menatap heran kearah gadis tersebut.


Saat Zhu Yin menggenggam pergelangan tangan Lin Hua, barulah mereka menyadari maksud perkataan Zhu Yin. Sebuah harapan mengisi relung hati mereka berdua. Mengingat ketiga anak muda itu memiliki kemampuan di luar nalar manusia.


Lin Hua yang biasanya menjerit dan mengusir siapapun yang mendekat, entah mengapa kali ini terdiam. Matanya tak pernah lepas menatap Zhu Yin.


Zhu Yin mengalirkan tenaga dalam kearah kedua matanya, lalu ditatapnya mata Ibu Yao Chan. Keduanya terdiam saling menatap satu sama lainnya. Namun bagi Yu Lian dan Yao Chan mereka memahami apa yang terjadi.


Beberapa saat kemudian, Zhu Yin menghentikan jurusnya. Ia pun berbalik menatap Yao Chan.


"Sepertinya kita harus melakukan hal ini berdua, karena ada beberapa titik syaraf yang harus dibuka menggunakan tenaga dalam dengan jumlah cukup besar."


Zhu Yin lalu menerangkan apa yang harus dilakukan oleh Yao Chan dan memintanya untuk duduk di belakang Ibunya.


Yao Chan mengerutkan dahinya mendengar hal itu. Karena larut dalam kesedihannya, tidak terpikir olehnya sebuah metode yang pernah disebutkan dalam Kitab Pengobatan sang Dewa Obat.


Yao Chan berdiri dengan antusias dan segera duduk di belakang Ibunya, Lin Hua yang melihat hal itu berusaha berontak. Namun Yao Chan menotok punggungnya di beberapa titik, membuat Lin Hua diam tak mampu bergerak lagi.


Zhu Yin kembali menggunakan jurus Mata Menghisap Ingatan, sementara dari belakang, Yao Chan mengalirkan sejumlah besar tenaga dalam kearah punggung dan kepala sang Ibunda.


Tubuh Lin Hua bergetar hebat setelah lima kemudian, matanya melotot melihat kearah Zhu Yin. Dan sesaat kemudian matanya tertutup. Tubuhnya terkulai jatuh tak sadarkan diri bersamaan dengan selesainya proses pengobatan tersebut.


Yao Chan segera menangkap punggung sang ibunda dan membiarkannya bersandar dalam dadanya.


"Chan'er, apa yang terjadi dengan ibumu?" Lin Bao yang melihat hal itu segera mendekat dengan tergopoh-gopoh. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah tua-nya.


Yao Chan tersenyum untuk menenangkan sang Kakek yang terlihat sangat panik.


"Kakek tenang saja, ingatan ibu telah kembali seperti terakhir sebelum ia mendengar kabar tentang Ayah. Ibu akan siuman sesaat lagi."


Lin Bao menghela nafas lega mendengar hal itu. Sesuai dengan apa yang ia katakan Yao Chan, sesaat kemudian mata Lin Hua terbuka. Hal yang pertama ia lihat wajah sang ayah yang terlihat telah sangat tua.


"Ayah.."


...*****...


...Jangan Lupa Like dan Votenya sebagai Vitamin untuk Authornya ya...


...🙏🙏🙏...