Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
175: Pengalihan Konflik


Dewa Obat pun menyampaikan berita tentang apa yang terjadi di Negeri Song yang kini berada dalam situasi tak menentu semenjak kematian Kaisar Song Yu.


Ambisi Song He yang hari ini dinobatkan menjadi Kaisar, dinilai banyak orang akan membuat rakyat Song menderita dalam waktu yang lama.


Sedangkan untuk menggulingkan Song He sangatlah tidak mudah, selain memiliki kemampuan bela diri yang tinggi yaitu pada Pendekar Suci tahap Akhir, ia juga memiliki pusaka Iblis yang mampu membuatnya menjadi jauh lebih kuat.


Dewa Obat menyampaikan harapannya kepada Yao Chan yang berdasar cerita Gui Han selama perjalanan mereka berdua, memiliki kemampuan untuk menghadapi para Roh Iblis dalam Pusaka mereka itu.


Dewa Obat berharap Yao Chan dapat membinasakan Song He, karena jika tidak maka ratusan ribu rakyat Song akan menderita. dalam kurun waktu yang cukup lama.


Gui Han pun menambahkan bahwa selama berada di ibukota, ia menemukan ratusan bahkan ribuan anggota sekte dari aliran hitam telah berkumpul di Ibukota Song.


Entah apa yang sedang direncanakan song He dengan para pendekar dari Sekte Aliran Hitam tersebut, untuk itulah mereka menemui Kaisar Wu Jian dan Yao Chan agar lebih waspada terhadap rencana tersembunyi dari Song He.


Yu Ma terlihat menganggukan kepalanya, sebuah strategi telah mengisi benaknya. Ia hanya tak sabar menunggu hari berganti pagi, untuk dapat segera melaksanakan rencananya bersama Yao Chan dengan Jurus barunya itu.


**


Sehari setelah dinobatkan menjadi Kaisar, Song He segera mengumpulkan para menterinya untuk segera memulai persiapan Perang.


Tak satupun dari para menteri yang bersuara mengemukakan usul mereka, setelah mereka mengetahui bahwa sosok Kaisar Song saat ini adalah seorang pendekar tingkat tinggi.


Para menteri yang telah begitu takut kepada Song He segera bergegas melaksanakan semua perintah Kaisar Song Yang baru itu.


Mereka ingin secepat mungkin menyelesaikan tugas mereka, agar terhindar dari hukuman pancung yang akan diberikan Song He apabila mereka dinilai gagal melaksanakan tugas tersebut.


Kini di Ruang Pertemuan itu hanya tersisa Song He, Jiao Xin, Mo Duan dan Matriak Bunga Hitam.


Song He pun lalu memanggil beberapa Prajurit penjaga dan memerintahkan mereka untuk memanggil para tamu yang menginap di sebuah bangunan khusus untuk tamu istana.


Mereka yamg dimaksud tamu oleh Song He adalah Ketua Sekte Aliran Hitam dan beberapa Tetua yang menemaninya. Sementara Anggita sekte mereka yang lain menginap di penginapan diluar Lingkungan Istana.


Setidaknya ada dua belas ketua Sekte aliran Hitam dari Sekte-sekte yang berada di Wilayah Kekaisaran Song.


Sementara ada dua orang ketua Sekte Aliran Hitam dari Kekaisaran Ming yang juga bersedia bergabung dengan Aliansi yang dibentuk oleh Song He.


Keduanya memiliki kemampuan beladiri yang sanga tinggi yang menyamai kemampuan mereka berempat. Mereka mendapat imbalan terbesar dari Song He dibanding dengan dua belas ketua sekte lainnya.


Selain itu, mereka masing membawa sekitar lima ratus anggotanya, dimana tiga hingga empat puluh orang diantaranya adalah para Tetua yang memilki kemampuan di tingkat Pendekar Pertapa tahap awal hingga Akhir.


Sementara ratusan anggota mereka berada pada tingkat Pendekar Raja tahap Awal hingga tahap Akhir. Membuat kedua sekte tersebut adalah kelompok terkuat diantara sekte lainnya yang membantu Song He.


Kedua sekte itu adalah Sekte Pedang Baja dan Sekte Golok Hitam yang merupakan dua sekte aliran hitam terkuat di Kekaisaran Ming.


Selang beberapa waktu kemudian sekitar tiga puluh orang terlihat memasuki ruang pertemuan yang disambut dengan ramah oleh Song He.


Setelah mereka semua menduduki kursi yang tersedia, Song He pun mulai membuka pertemuan dan mulai menjelaskan rencananya yang akan sepenuhnya dilaksanakan oleh mereka.


Song He mengeluarkan sebuah Peta dan membentangkannya di sebuah dinding. Peta itu adalah peta wilayah kekaisaran Wu dan wilayah Kekaisaran Song.


Ia pun mulai menjelaskan bahwa Empat Belas Ketua Sekte tersebut akan memimpin anggotanya untuk membuat kekacauan di tujuh kota yang cukup besar dan penting bagi Kekaisaran Wu itu.


Tujuannya sebenarnya dari kekacauan itu adalah untuk mengalihkan konsentrasi prajurit Kekaisaran Wu yang berada di Benteng terbesar mereka yaitu Benteng Xinjiang.


Song He pun menjelaskan bahwa Ke tujuh kota itu masing-masing akan dirampok dan dibumihanguskan oleh dua sekte sekaligus.


"Yang Mulia Kaisar, apakah kami boleh membunuh warga dikota itu sekalipun mereka tidak melawan?"


"Silakan kalian berbuat sekehendak hati kalian, yang pasti kalian harus menanamkan ketakutan dan kekacauan besar.di ketujuh kota kecil itu. Akan lebih bagus lagi jika membuat mereka berlarian mengungsi ke Ibukota Kekaisaran."


Song He tersenyum setelah menjawab pertanyaan salah satu Ketua Sekte yang memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Pertapa Tahap Akhir itu.


Dalam benaknya terbayang kekacauan di Ibukota Kekaisaran Wu, jika ribuan warga masing-masing kota itu mengungsi menjadi satu di Ibukota Wu Chang An.


Dengan demikian pengalihan konflik ini akan membuatnya memenangkan pertempuran dengan mudah karena prajurit lawan, akan tersebar di tujuh kota tersebut.


Song He pun meminta mereka melakukan kekacauan di wilayah Kekaisaran Wu itu, selama satu minggu ini. Karena satu Minggu ke depan Song He akan menggerakan ratusan ribu prajurit ke perbatasan untuk menaklukan Benteng Xinjiang.


Hari itu juga keempat belas Ketua Sekte bergerak bersama ratusan anggota mereka menuju kekaisaran Wu, masing-masing telah memiliki kota tujuan untuk mereka hancurkan.


Seperti saat ini, Sekte Pedang Darah dan Sekte Tombak Api yang keduanya berasal dari Kekaisaran Song, sedang bergerak menuju sebuah kota di bagian tenggara Ibukota, yaitu Kota Xinan.


Jumlah anggota kedua Sekte tersebut mencapai seribu lima ratus orang dan yang terlemah berada pada tingkat Pendekar Bergelar tahap akhir.


Kedua Ketua Sekte itu memiliki kemampuan yang setara yaitu Pendekar Pertapa tahap Akhir.


Keduanya telah bersahabat sejak lama sehingga mereka berdua memutuskan untuk bekerjasama menghancurkan kota Xinan yang merupakan Kota yang cukup besar dengan lima ratus prajurit yang kini menjaga Kota itu.


Perjalanan ke kota Xinan cukup dekat, mereka pun melakukan perjalanan pada malam hari, sehingga saat matahari baru saja terbit, mereka telah berjarak lima ratus meter dari Kota Xinan.


Kedua Ketua Sekte sepakat untuk mengirim seorang Tetua sekte mereka yang memiliki kemampuan meringankan tubuh terbaik untuk melihat situasi penjagaan di kota Xinan terlebih dahulu.


Satu Jam kemudian mereka telah kembali dengan berita yang yang membuat wajah mereka terlihat ceria. Kedua Tetua yang memata-matai Kota Xinan itu, mendapat informasi bahwa hanya Kita Xinan saat ini hanya di jaga sekitar seratus lima puluh orang saja.


Sebagian besar prajurit telah di tarik ke Benteng Xinjiang, untuk memperkuat pasukan di sana.


Kedua Ketua Sekte tersebut segera menggerakan anggota mereka dengan senjata terhunus. Mereka yang terlemah adalah Pendekar Ahli yang telah memiliki kemampuan meringankan tubuh cukup baik.


Seribu lima ratus orang berlarian dengan ilmu peringan tubuh mereka, sehingga dalam waktu lima menit mereka telah tiba di gerbang Timur dan Utara Kota Xinan.


Kedua Sekte sepakat untuk menyerang dari dua arah yang berbeda. Sekte Pedang Darah menyerang dari gerbang Utara sementara Sekte Tombak Api dari Arah Gerbang Timur.


Sekte Tombak Api berhasil menjebol gerbang timur setelah Ketua Sekte mereka menggunakan sebuah tombak yang mampu melesatkan Api dari mata Tombaknya.


Dalam lima kali serangan Pusaka Tombak Api itu, Gerbang Kota yang terbuat dari Kayu tebal dan kuat itu, hancur dengan serpihan yang terlihat hangus dan sebagian masih terbakar.


Sementara tiga puluh orajurit yang menjaga gerbang berhasil dihabisi dengan mudah oleh sepuluh tetua sekte yang memiliki kemampuan melompat ke atas tembok tinggi itu.


Kemampuan para prajurit penjaga yang jauh di bawah kemampuan para tetua sekte Tombak Api membuat mereka dengan mudah dikalahkan.


Namun begitu salah seorang prajurit berhasil membunyikan Lonceng tanda bahaya, yang berbunyi nyaris bersamaan dengan lonceng tanda bahaya dari gerbang Utara.


Suara Lonceng yang menggema membuat penduduk kota segera berhamburan lari ke dalam rumah mereka.


Yao Chan dan Yu Ma bersama Zhu Yin dan Qing Mi yang saat itu baru selesai menyantap hidangan di pagi hari seketika berdiri dari duduknya.


Mereka tiba di kediaman Walikota Xinan saat hari telah tengah malam. Dan mereka pun menginap di ruangan yang telah disediakan oleh walikota tersebut.


"Ayah ... Dugaan Ayah benar tentang kemungkinan mereka akan membuat kekacauan di beberapa kota di bagian timur Ibukota."


Yu Ma tersenyum mendengar perkataan Yao Chan, ia pun segera mengajak mereka berbagi tugas. Yu Ma dan Zhu Yin menuju Gerbang Utara sedang kan Yao Chan bersama Qing Mi melesat ke gerbang timur.


*****