Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
068: Meninggalkan Desa Yongan


Chu Lang menjadi marah saat kembali mendapatkan kesadarannya. Bagaimanapun mereka adalah anak buahnya yang telah mengikuti dirinya selama belasan tahun terakhir.


Setelah apa yang dilakukan oleh Yao Chan padanya, Chu Lang merasa sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perbuatan jahatnya selama ini.


Dicabutnya pedang salah seorang penjaga yang berdiri di belakangnya. Lalu melompat menyerang Yao Chan yang sudah menduga hal tersebut.


Yao Chan menghindari tebasan pedang dengan memundurkan sedikit tubuhnya. Selanjutnya Yao Chan hanya menghindari setiap serangan yang dilancarkan Chu Lang tanpa membalasnya.


"Kepala Desa Chu Hentikan tindakan mu!"


Yu Ma membentak Chu Lang karena memahami apa yang Yao Chan lakukan.


Chu Lang tidak peduli mendengar bentakan Yu Ma tersebut. Dirinya bertekad membalas kematian anak buahnya meskipun nyawanya menjadi taruhan.


Setelah puluhan jurus menyerang Yao Chan, Chu Lang baru menyadari bahwa kemampuan pemuda di hadapannya ini jauh diatas kemampuannya.


"Chan'er .. lumpuhkan dia tapi jangan membunuhnya!"


"Baik Paman.."


Mendengar Yu Ma memberikan instruksinya, Yao Chan tidak lagi menghindari tebasan pedang Chu Lang. Dipegangnya pedang yang hendak menebas ke lehernya itu dengan mudah.


Chu Lang terkejut hingga mulutnya terbuka, tebasan pedangnya yang begitu kuat di hadang hanya dengan telapak tangan kiri Yao Chan. Pedang itu hancur berkeping-keping setelah Yao Chan meremasnya.


Chu Lang segera melepaskan pedang yang tersisa separuh tersebut dan melompat mundur menjauhi Yao Chan. Namun Yao Chan bergerak lebih cepat lagi dengan langkah Dewa Angin.


Yao Chan melepaskan tinjunya saat Chu Lang baru saja menjejakan kaki di tanah. Serangan yang begitu cepat itu tak dapat di tangkis oleh Chu Lang hingga tubuhnya terlempar membentur dinding rumahnya.


Chu Lang berusaha bangun sambil menyeka darah yang keluar dari sela bibirnya. Namun diluar dugaannya, Yao Chan sudah berdiri dihadapannya memukul dan menotok tubuhnya beberapa kali.


Chu Lang terduduk dengan nafas tersengal-sengal dan tubuhnya terasa berat sekali. Wajahnya memucat saat menyadari tenaga dalamnya telah dihancurkan oleh Yao Chan.


"Kau..kenapa tidak kau bunuh aku saja?" Suara Chu Lang bergetar sambil menunjuk Yao Chan yang tersenyum sinis.


"Seandainya Paman Yu Ma menyuruhku untuk membunuhmu, sudah sedari tadi nyawamu melayang!"


Yao Chan menanggapi perkataan tersebut seraya mengangkat kerah jubah yang dikenakan Chu Lang. Lalu melemparkan lelaki tua itu ke hadapan Yu Ma.


Yu Ma sedikit terkejut dengan sikap Yao Chan yang sedikit berubah sejak dirinya tersadar di hutan. Tidak biasanya Yao Chan bersikap kejam seperti beberapa waktu yang lalu dan juga yang baru saja ia tunjukan.


"Kepala Desa Chu..Aku akan membawamu dan Adikmu ke Ibukota kekaisaran. Berdoalah aga kaisar tidak memberikan hukuman pancung kepadamu."


Yu Ma berkata dengan tegas, lalu memerintahkan beberapa prajurit untuk mengikat Chu Lang.


Tak lama kemudian pimpinan prajurit penjaga desa Yongan datang lalu memberi hormat kepada Yu Ma. Dahinya mengerut, saat melihat Kepala Desa Yongan dalam keadaan terikat bersama adiknya.


"Jendral Ma Yun selamat datang di desa Yongan, jika hamba boleh tahu ada permasalahan apakah sebenarnya ?"


"Jendral Ma Yun apa yang harus saya lakukan untuk membantu anda?"


"Aku akan membawa keduanya ke ibukota kekaisaran hari ini juga, selama belum di tentukan pejabat yang baru, Kau menjadi pimpinan desa ini sementara waktu."


Yu Ma juga memerintahkan pemimpin prajurit tersebut untuk menyiapkan kereta tahanan dan beberapa prajurit untuk mengawal kereta tersebut.


Selain itu Yu Ma juga menjelaskan bahwa rombongan yang dipimpinnya akan menginap semalam di desa Yongan. Yu Ma meminta pimpinan prajurit tersebut untuk menyiapkan tempat menginap.


Pemimpin prajurit lalu menjelaskan bahwa rumah yang ditempati kepala desa saat ini bukanlah rumah pribadi Chu Lang melainkan rumah yang diberikan oleh kepala desa sebelumnya yang telah meninggal dunia dan tidak memiliki keturunan.


Yu Ma berdecak kagum mendengar penjelasan tersebut, memuji apa yang dilakukan oleh mantan kepala desa itu yang dengan sukarela memberikan tumah sebesar ini untuk dijadikan pusat pemerintahan desa Yongan.


Seandainya kekaisaran Wu memiliki lebih banyak lagi kepala desa seperti itu, bisa dipastikan desa-desa di kekaisaran Wu akan berkembang dengan pesat dan penduduknya hidup dalam kemakmuran.


Yu Ma pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah tersebut. Dan akan melanjutkan perjalanannya besok pagi.


**


Keesokan harinya, Pemimpin prajurit itu telah menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Yu Ma. Chu Lang dan Chu Lao dimasukan ke sebuah kereta tahanan yang terbuat dari kayu berjeruji.


Seluruh penduduk desa terkejut setelah mengetahui bahwa Kepala Desa mereka adalah seorang pimpinan perampok. Awalnya mereka tak percaya, bahwa Chu Lang yang sehari-harinya bersikap ramah tersebut adalah pimpinan perampok yang kejam.


Selepas mengetahui hal itu, para penduduk melempari Chu Lang dan Chu Lao dengan batu saat kereta tahanan tersebut melintas di depan pemukiman penduduk.


Enam orang prajurit yang ditugaskan untuk mengawal kereta tahanan tersebut, dldengan susah payah berhasil membawa kereta kuda tersebut keluar dari desa Yongan.


Yao Chan dan Yu Lian pun telah membeli dua ekor kuda yang bagus dari penduduk desa. Keduanya terlihat bersemangat saat memacu kuda mereka meninggalkan Desa Yongan.


Rombongan yang kini berjumlah tiga belas orang tersebut memacu kudanya secara perlahan di belakang kereta tahanan. Mereka bergerak mengikuti kecepatan kereta tahanan tersebut.


Dengan kecepatan kereta tahanan tersebut, Yu Ma memperkirakan mereka akan tiba di Ibukota kekaisaran saat malam hari.


Sesampainya di jalan utama yang menuju ke ibukota, Yu Ma meminta Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin berangkat terlebih dahulu bersama seorang Tetua sebagai penunjuk jalan. Sedangkan dirinya dan beberapa tetua lainnya akan mengawal kereta tahanan tersebut.


"Ayah aku berangkat terlebih dahulu bersama mereka. Ayah berhati-hatilah." Yu Lian terlihat bersemangat karena sebentar lagi akan segera bertemu dengan Lin Hua yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Hahaha... jangan khawatirkan Ayah Lian'er, ikutlah dengan Chan'er, dengan begitu kau akan lebih cepat bertemu dengan Bibi mu Lin Hua."


Yu Ma berkata dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Saat menyebutkan nama Lin Hua, entah kenapa hatinya merasakan kesedihan mengingat kondisi Ibu Yao Chan tersebut. Raut wajahnya terlihat murung untuk beberapa saat.


Hal ini membuat Yu Lian tertegun melihatnya, saat itulah Yu Lian menyadari bahwa Ayahandanya memiliki perasaan khusus kepada Ibu dari pemuda yang diam-diam ia cintai dan juga kakak seperguruannya itu.


Sebuah dilema melanda hati Yu Lian. Namun ia memilih untuk diam dan tidak menanyakan hal tersebut kepada Ayahnya.


...****...