Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
277: Tiba Di Dunia Moxian


Sebuah Cahaya kuning keemasan, tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Cahaya yang sesaat kemudian menampakan wujud yang tingginya lebih dari lima meter.


“Hormat kepada Dewa Naga”


Yao Chan dan Gong Li, segera berlutut dan memberi hormat. Sementara Gong Xhun yang baru kali ini melihat sosok Dewa Naga yang Ia agungkan, segera bersujud.


Ji Xia dan Ratu Es abadi bersikap yang sama dengan apa yang dilakukan oleh ketua Gong Xhun. Keduanya bersujud saat mengetahui jika yang muncul adalah Dewa Naga.


“Ratu Es Abadi … Apakah Kau tidak percaya jika yang pemuda itu katakan adalah sebuah kebenaran dari Dewa?”


Tubuh Ratu Es abadi terlihat bergetar dengan hebat, melihat ada nada kemarahan dalam kata-kata Dewa Naga.


“Hamba Mohon Ampun Wahai Dewa. Hamba telah salah.”


“Ketahuilah olehmu wahai Ratu Es , Cucumu ini telah ditakdirkan untuk melahirkan seorang anak terpilih. Anak yang akan membantuku untuk menyegel Iblis Sejati yang ingin menguasai Tiga Alam Semesta.”


Setelah terdiam sejenak, Dewa Naga lalu melanjutkan bahwa Yao Chan dan ketujuh isterinya itu, akan menjadi Dewa dan Dewi yang menjaga perdamaian Tiga Dunia.


“Apakah Kau tak ingin cucumu itu menjadi seorang Dewi dan hidup abadi?”


Pertanyaan Dewa Naga membuat lidah Ratu Es Abadi menjadi kelu. Ia pun menyadari semua kekeliruannya saat itu juga.


“Ampuni Hamba Wahai Dewa, Hamba kini mengerti dan telah merestui keduanya.”


“Baguslah jika begitu, Yao Chan, segeralah memasuki Alam Penempaan Dewa, Kita akan segera berlatih bersama di sana.”


Setelah berkata demikian, Sosok tubuh Dewa Naga pun perlahan memudar dan hilang dari pandangan mata.


Yao Chan menghela nafas panjang saat menyadari betapa berat hari-hari yang akan Ia lalu ke depannya nanti.


Yao Chan lalu meminta Gong Li untuk memanggil Yao Shen. Ia berencana berangkat Ke Dunia Moxian saat ini juga.


Sementara Serigala Angin dan Serigala Petir datang beberapa saat kemudian.


Yao Chan meminta kedua Serigala tersebut untuk menjaga Klan Pedang Suci selama Ia pergi ke Dunia Moxian.


Yao Chan lalu memberikan Lima buah Apel Dewa kepada Nenek Ratu Es Abadi yang kini terlihat canggung padanya.


“Nenek … Terimalah Buah Apel Dewa ini dan juga Secawan Air hijau agar kultivasi nenek bisa meningkat lagi hingga ke level delapan atau level sembilan Tingkat Pendekar Dewa.”


Mata Gong Xhun melebar saat melihat apa yang Yao Chan lakukan. Ia pun tersenyum saat Yao Chan memberinya Dua puluh buah Apel Dewa dan Lima Cawan Air hijau.


“Chan’er … terimakasih … Maafkan Nenek yang telah salah menilaimu.”


“Nenek sudahlah semua itu hal yang wajar. Nenek jaga diri nenek baik-baik. Kami akan segera pergi.”


Yao Chan berkata demikian seraya melirik Ji Xia yang segera memeluk Ratu Es Abadi dengan sangat erat. Ini adalah kali pertama bagi mereka berpisah.


“Nenek … Hiks .. jaga diri Nenek ya..”


Hanya Yao Shen yang tidak terbawa suasana haru itu, bocah kecil itu segera melesat lalu melompat ke pundak Yao Chan dan duduk disana.


Gong Li ingin mencegahnya, namun Yao Chan melarang hal itu, mengingat Ia akan meninggalkan puteranya, untuk beberapa waktu ke lamanya.


Setelah semua selesai berpamitan, Yao Chan kemudian menghilang dari tempat tersebut dengan menggandeng Tangan Gong Li dan Ji Xia.


Dengan kekuatannya sekarang, Yao Chan berhasil menembus Ruang Dimensi yang jauh antara Dunia Kultiva dengan Dunia Moxian.


Sehingga dalam sekejap mereka telah tiba di Dunia Moxian mengejutkan Raja Peri Xian Bun dan Ratu Peri Xian Xing.


Ji Xia terkejut saat melihat sosok yang memiliki tinggi dua kali lipat dari tinggi mereka saat ini.


Aura Energi Yao Chan segera saja membuat Xian Mey, Zhu Yin dan Qing Mi serta dua Peri Abadi lainnya mendatangi tempat tersebut.


Yao Shen segera turun dan melompat mendekati adiknya, Yao Xian Li. Ia lalu memamerkan tombak Inti Petir kepada adiknya tersebut.


JEDAAAR


Suara menggelegar dari Tombak Inti Petir, mengejutkan seluruh penghuni Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.


“Chan Gege … Diakah Isteri ke tujuhmu?”


Pertanyaan Zhu Yin menyiratkan cemburu akan kecantikan yang Ji Xia miliki.”


Yao Chan menggaruk-garuk kepalanya, Ia mengangguk dan berpikir keras berusaha untuk meredam kecanggungan tersebut.


Beruntungnya Yao Xian Li datang dan menangis karena ingin mainan seperti yang dimiliki oleh kakaknya Yao Shen.


Yao Chan segera menggendong Yao Xian Li, lalu mengatakan bahwa itu adalah Senjata pusaka yang hanya bisa di pegang oleh kakaknya.


Gong Li sebagai isteri tertua segera mengenalkan Ji Xia kepada Xian Mey dan empat orang calon isteri Yao Chan lainnya.


Setelah berbincang-bincang dengan Raja Peri Xian Bun dan Ratu Peri Xian Xing, Yao Chan segera pamit untuk menemui Tabib Xian Niu yang belum terlihat sedari tadi.


Gong Li mendengus kesal mengetahui Yao Chan pergi menemui Tabib Xian Niu.


Selain untuk meminta ramuan Pembesar Raga bagi mereka bertiga, Gong Li mengetahui apa lagi yang akan di ambil oleh suaminya itu.


Namun Ia menyadari bahwa itu demi Yao Chan untuk memenuhi takdirnya sebagai Ayah dari tujuh anak terpilih.


Seperti yang diduga oleh Gong Li, Yao Chan menemui Tabib Xian Niu di ruangannya. Kedatangan Yao Chan yang tiba-tiba saja sempat mengejutkan Tabib Xian Niu.


Namun saat menatap Yao Chan, tabib itu kembali kagum saat melihat peningkatan jumlah Cakra Yao Chan.


“Bagaimana Cakramu bisa meningkat lagi?”


Yao Chan hanya menggaruk kepala saat mendengar pertanyaan Tabib tersebut. Hal itu karena Ia sendiri tak tahu mengapa bisa begitu.


“Entahlah kek … Takdir mungkin.”


“Takdir apaan? Sembarangan saja! Kalau berbicara takdir seharusnya aku yang memiliki Cakra sebesar itu sebagai Peri Pejantan.”


Yao Chan tertawa mendengar perkataan Tabib Xian Niu yang terdengar seperti orang yang sedang mengomel itu.


Lalu Ia meminta Ramuan Pembesar Raga untuk tiga orang. Selain itu Yao Chan juga meminta ramuan penguat stamina untuk malam pertamanya nanti.


Dengan bangga Tabib Xian Niu menjelaskan bahwa Ia berhasil membuat ramuan yang mampu membuat stamina tetap penuh selama satu minggu penuh tanpa jeda.


Mata Yao Chan berbinar mendengarnya tetapi tidak dengan Gong Li dan Xian Mey yang tiba-tiba saja membuka pintu ruangan tersebut.


“Kakek … Serahkan botol itu kepadaku, atau Pusaka kakek akan ku hajar sampai tidak bisa digunakan lagi!” Ancam Gong Li yang membuat Yao Chan dan Tabib Xian Niu menelan ludahnya.


“Jangan diserahkan Kek …. aaaahhh”


Yao Chan mengeluh kecewa saat botol itu dilemparkan oleh Tabib Xian Niu ke arah Gong Li yang segera menyimpan botol itu di Gelang Ruang Dimensinya.


Keduanya pun keluar dari ruangan Tabib Xian Niu. Sesampainya di luar ruangan, Xian Mey bertanya kepada Gong Li untuk apa Ia menyimpan ramuan itu.


“Ini untuk kita minum berdua, agar stamina kita tidak kalah dengan lima gadis lainnya. Hihihihi.”


Xian Mey pun tertawa geli mendengar rencana Gong Li.


Sementara Yao Chan terlihat sedang mengomel kepada Tabib Xian Niu yang masih diam saja mendengarnya.


Setelah merasa Aura Xian Mey dan Gong Li menjauh, Ia pun memarahi Yao Chan.


“Cerewet sekalilah Kau ini! … Aku telah menukar botol itu dengan Ramuan lain."


Tabib Xian Niu lalu membisikan sesuatu di telinga Yao Chan. Setelah itu, Ia Pun meminta tiga buah Apel Dewa sebagai gantinya.


Yao Chan tentu saja senang mendengar hal itu. Ia bahkan memberikan lima Apel Dewa kepada Tabib Xian Niu.


Setelah mendapat kedua ramuan itu, Yao Chan segera kembali ke ruangan Aula Istana Peri dengan pura-pura memasang wajah cemberut yang membuat Xian Mey dan Gong Li menahan tawa mereka.


*****