Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
070: Wu Mei


"Silakan masuk Kolonel He Jun"


Prajurit penjaga Gerbang Timur segera mempersilakan He Jun dan yang lain untuk memasuki Ibukota Kekaisaran Wu, Kota Wu Chang An.


He Jun menganggukkan kepala, setelah mengucapkan terimakasih lalu memacu kudanya secara perlahan karena jalanan yang dilalui sedang ramai.


Selain itu, He Jun juga sedang memberikan kesempatan kepada ketiga anak muda yang bersamanya untuk menikmati keramaian kota Wu Chang An.


Bagi Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin, ini adalah pertama kalinya bagi mereka memasuki Ibukota Kekaisaran Wu. Mereka bertiga terlihat kagum dengan Kota yang begitu besar dimana bangunan-bangunan megah berdiri dengan indah.


Di sepanjang sisi kiri dan kanan terdapat banyak toko-toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan bagi penduduk kota maupun penduduk dari desa yang berada tak jauh dari kota Wu Chang An.


Selain itu, terdapat juga beberapa rumah makan yang ramai dikunjungi oleh para pelanggannya. Kebanyakan para pengunjung itu, membawa senjata di pinggangnya.


Namun tak sedikit dari mereka yang tidak membawanya, biasanya mereka berasal dari kalangan penduduk desa atau para bangsawan.


"Chan Gege... berhenti sebentar ya, aku mau beli sesuatu untuk Bibi Hua" Yu Lian tiba-tiba melompat dari kudanya, lalu memberikan tali kekang kuda kepada Yao chan.


He Jun dan Yao Chan hanya mengangguk dan tetap berada di kuda mereka. Yao Chan dan He Jun sedikit menepi sambil memegang tali kuda milik Yu Lian.


Sementara Zhu Yin ikut melompat turun, ia pun ingin membeli oleh-oleh untuk ibu Yao Chan. Hal ini membuat Yu Lian memasang wajah cemberut.


"Kenapa wajah mu begitu?" Zhu Yin bertanya dengan sedikit canggung melihat Yu Lian bersikap demikian. Setelah itu memberikan tali kekang kudanya kepada He Jun.


"Memangnya ada yang salah dengan wajahku?" Yu Lian balik bertanya yang membuat Zhu Yin tersenyum kecut mendengarnya.


Zhu Yin ingin menanggapi perkataan Yu Lian yang menyiratkan kecemburuan terhadap dirinya. Namun dirinya memilih diam, berharap Yu Lian menemukan sendiri hal yang disadarinya beberapa waktu lalu.


Keduanya berjalan bersama memasuki sebuah toko yang menjual berbagai aksesoris untuk wanita.


Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan yang berpapasan dengan mereka berdua, tampak takjub memandang paras keduanya.


Belum pernah mereka melihat paras seindah itu, mereka seolah-olah melihat Putri Kaisar Wu saat ini. Namun tentu saja mereka berdua bukan Putri tersebut, walau kecantikan keduanya bisa disejajarkan dengan sang putri.


"Silakan dipilih-pilih Nona Muda. Barang-barang disini adalah yang terbaik di Kota ini."


Zhu Yin dan Yu Lian disambut pemilik toko dengan ramah, tanpa menyembunyikan kekagumannya terhadap kecantikan keduanya.


"Kami ingin membeli beberapa aksesoris untuk Ibu teman kami, usianya sekitar empat puluh tahunan." Yu Lian terlebih dahulu mengutarakan maksudnya.


Pemilik toko segera mengajak mereka ke suatu sisi yang lain, dimana banyak terdapat perhiasan-perhiasan untuk perempuan dewasa.


Yu Lian segera memilih beberapa hiasan yang biasa dikenakan untuk menghias rambut dan beberapa diantaranya dikenakan di leher.


Sementara Zhu Yin memilih sebuah gelang yang terbuat dari giok berwarna hijau muda. Walau harganya terbilang mahal, namun Zhu Yin dengan mudah membelinya.


Keduanya segera keluar dari toko perhiasan tersebut setelah menyelesaikan semua pembayarannya. Wajah keduanya terlihat senang karena berhasil mendapatkan barang yang dianggap pantas untuk Lin Hua.


Namun wajah kedua gadis cantik tersebut berubah menjadi kesal saat mereka melihat kearah dimana Yao Chan dan Tetua He Jun berada. Keduanya terlihat telah turun dari atas kuda mereka masing-masing.


"Dasar Chan Gege!... pasti dia menggoda perempuan itu!"


Adik seperguruan Yao Chan ini, tidak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya saat melihat Tetua He Jun dan Yao Chan sedang berbincang-bincang dengan seorang gadis yang memiliki kecantikan yang tak kalah dari mereka berdua.


"Sepertinya dia bukan gadis biasa, lihatlah Paman He Jun yang tertunduk dengan hormat kepadanya."


Yu Lian tersedak nafasnya sendiri mendengar perkataan Zhu Yin. Setelah melihat Tetua He Jun yang tertunduk dan terlihat begitu segan, membuat Zhu Yin mulai menebak siapa gadis tersebut.


Saat hendak mengatakan sesuatu Yao Chan melihat kearah mereka yang lalu melambaikan tangan seraya memanggil mereka.


"Lian'er, saudari Yin cepatlah kemari..!"


Keduanya pun bergegas menghampiri Yao Chan diiringi tatapan tajam seorang gadis cantik yang seumuran dengan mereka. Di belakang gadis tersebut, tampak beberapa perempuan yang sepertinya adalah pelayan sang gadis.


"Saudari Wu Mei.. perkenalkan ini adik seperguruanku Yu Lian dan ini teman kami saudari Zhu Yin."


Yao Chan mengenakkan mereka berdua kepada Wu Mei yang tak lain adalah Puteri Kaisar Wu saat ini. Namun Yu Lian dan Zhu Yin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Hal ini membuat wajah Tetua He Jun memucat.


Hal tersebut dianggap tidak sopan dan melanggar hukum, ketika seorang biasa berhadapan dengan keluarga kaisar tidak memberikan hormatnya sambil membungkuk.


"Chan Gege siapa dia..?" Yu Lian bertanya kepada Yao Chan yang membuat tubuh tetua He Jun gemetar ketakutan.


"Lian'er jaga ucapan dan sikapmu!! Beliau adalah Tuan Puteri Wu Mei. Puteri Kaisar Wu saat ini."


Dengan rasa segan Tetua He Jun membentak Yu Lian. Hal ini dilakukannya untuk membuat Yu Lian sadar dengan siapa dirinya berhadapan.


Awalnya Yu Lian hendak marah karena Tetua He Jun membentaknya. Namun setelah mengetahui identitas gadis dihadapannya adalah seorang putri Kaisar, Yu Lian dan Zhu Yin segera membungkuk dan memberi hormat kepada Putri Wu Mei.


"Tidak apa-apa Kolonel He Jun, saudari Yu Lian dan saudari Zhu Yin belum mengetahui identitas ku, jadi wajar saja mereka bersikap demikian."


Sang Puteri pun tersenyum sembari memegang tangan Yu Lian dan Zhu Yin untuk berhenti membungkuk. Suara lembut sang Puteri membuat Tetua He Jun menarik nafas lega.


Puteri Wu Mei mengenali Tetua He Jun sebagai prajurit berpangkat Kolonel yang sering mengawalnya, saat bepergian keluar dari istana. Sehingga ia memaafkan Yu Lian yang diketahuinya merupakan Puteri dari Jendral Yu Ma. Jendral Besar Pasukan Kekaisaran Wu.


Saat ini Puteri Wu Mei sedang keluar dari istana dengan sembunyi-sembunyi bersama beberapa dayangnya. Sehingga dirinya tidak dikawal oleh satupun prajurit Istana.


Namun saat di jalan, ia tak sengaja bertemu dengan Kolonel He Jun yang sangat terkejut saat menemukan dirinya berada di luar istana tanpa pengawalan sama sekali.


Sedangkan Puteri Wu Mei yang melihat Kolonel He Jun, awalnya hendak melangkah menjauhinya. Namun seraut wajah yang sangat tampan dan terlihat gagah di samping sang kolonel, membuatnya justru melangkah mendekati mereka.


"Terimakasih Tuan Puteri, maafkan kebodohan kami yang tidak mengenali Tuan Puteri Wu Mei."


Zhu Yin segera meminta maaf setelah mengetahui identitas gadis dihadapannya. Bagi gadis secerdas Zhu Yin, tentu saja dengan cepat dirinya mengetahui bahwa Tuan Puteri tersebut menyukai pemuda yang juga disukai olehnya, yaitu Yao Chan.


Hal itu terlihat jelas oleh Zhu Yin, dari cara Puteri Kaisar Wu itu menatap Yao Chan. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba terasa perih.


...*****...


Terimakasih Bagi yang sudah Melakukan penilaian dan Memberikan rate dengan jujur, walau kejujuran itu membuat rating Pendekar Tiga Dunia menurun 0.4 point' dalam sehari.


Bagi saya itu adalah sebuah pertanda bahwa karya saya belum mampu membuat pembaca terhibur. Hal yang membuat saya berpikir untuk menyelesaikan Arc.1 secepatnya. Dan menata 5 Arc lainnya agar lebih baik lagi.