Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
252: Empat Tombak Merajut Petir


“Shen’er Apakah kau siap untuk mengambil Tombak Inti Petir yang berada di dalam gumpalan awan itu?”


Yao Chan berkata kepada puteranya seraya menunjuk ke arah Awan Hitam di atas kawah itu.


Yao Shen pun menganggukkan kepalanya dengan cepat, Ia pun segera bersiap untuk melesat ke udara. Namun sebuah suara telah terdengar mendahuluinya.


“Siapa Kalian?! Dan apa tujuan kalian kesini?”


Bentakan keras itu membuat Yao Shen membatalkan apa yang Ia Lakukan. Bocah kecil itu, menatap Ayahnya untuk meminta sebuah keputusan.


“Tunggulah sebentar, Ayah akan mengurus mereka.”


Yao Chan segera melangkah ke arah lima orang yang baru saja datang ke tempat itu.


Sementara Gong Li telah bersiap dengan mengalirkan energi qi nya ke arah telapak tangan.


Salah satu dari mereka segera melangkah maju dan menghadang Yao Chan, orang itulah yang tadi membentak mereka dengan suaranya yang keras.


“Aku Yao Chan … Dan tujuanku adalah mengambil Tombak Inti Petir yang mungkin berjodoh dengan Puteraku. Apakah ada masalah?”


Yao Chan berkata apa adanya seraya tersenyum ramah kepada pria tersebut.


“Lancang!! Tempat ini adalah tempat suci Bagi Klan Tombak Petir. Pergilah secepatnya dari sini!!”


Pria tersebut berkata seraya mengibaskan tangannya beberapa kali di depan dadanya.


Hal itu membuat Gong Li sangat geram, Ia pun segera akan melesat, namun Ia terkejut karena tubuhnya tidak bisa Ia gerakan.


“Bagaimana jika aku tidak mau pergi dan memaksa tetap di sini?”


Yao Chan tersenyum mendengar perkataan pria tersebut. Ia pun menjawab dengan santai seraya, membuat pria tersebut meradang marah padanya.


“Lancang!!”


Setelah berkata demikian, pria itu segera melesat sambil mencabut tombak pendek dari pinggangnya dan langsung menusukan ke dada Yao Chan.


TRAANG


Pria tersebut sangat terkejut karena tombaknya tertahan oleh sesuatu seperti baja, hingga menimbulkan suara benturan yang keras.


Tangannya serasa lumpuh, membuat tombak pendek itu terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh di tanah.


Pria tersebut segera melesat mundur dengan wajah yang terlihat pucat. Tidak berbeda jauh dengan keempat rekannya yang lain, yang juga terkejut melihat hal itu.


“Siapa manusia lancang yang berani memasuki area Suci Klan Tombak Petir ini?”


Sebuah suara yang dialiri oleh energi qi yang besar menggema di seantero wilayah Gunung Erlang.


Yao Chan yang sudah merasakan adanya empat energi besar sedang menuju ke tempat mereka berada, hanya tersenyum saat melihat empat orang itu, melesat turun dari udara.


“Ketua! …”


Kelima Pria itu, segera memberi Hormat pada seorang lelaki yang terlihat berusia lima atau enam puluh tahun itu.


“Siapa Kau, Lancang sekali memasuki Area Suci Klan Tombak Petir!”


Sosok yang dipanggil Ketua itu berkata dengan keras kepada Yao Chan yang tersenyum mendengar pertanyaannya.


“Ketua Liang... Pemuda lancang ini, ingin mengambil Pusaka Tombak Inti Petir Kita.”


Dengan sedikit tergagap, pria yang menyerang Yao Chan tadi, melaporkan apa yang Ia ketahui kepada Ketua Klannya itu.


Ketua Klan Yang bernama Hu Liang itu, wajahnya seketika mengelam mendengar perkataan anggotanya yang menjaga Area Suci tersebut.


Namun alangkah terkejutnya Hu Liang saat mendapati serangannya mengenai ruang kosong.


“Apa!!!...”


“Bagaimana bisa ….”


Yao Chan bergerak lebih cepat lagi dan kini telah berada sepuluh meter di belakang mereka. Membuat ketiga orang lain yang merupakan tetua Klan itu sangat terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.


Hu Liang tercekat melihat kemampuan yang ditunjukan oleh Yao Chan. Ia pun menelan ludahnya ketika menyadari kemampuan Yao Chan yang di luar dugaannya.


Walau merasakan sedikit gentar, Namun Hu Liang tidak ingin menunjukkannya. Ia pun berteriak kepada tiga orang tetuanya untuk membantunya meringkus Yao Chan.


Ketiga orang Tetua klan Tombak Petir itu, segera mengeluarkan senjata mereka berupa tombak yang memiliki mata tombak dengan bentuk yang terlihat aneh di mata Yao Chan.


Pertarungan pun segera kembali terjadi saat Hu Liang melesat seraya mengeluarkan tombak dari Gelang Ruang Dimensinya.


Empat Tombak menderu bergantian menyerang Yao Chan yang kini di keroyok oleh empat Orang Petinggi Klan Tombak Petir itu.


Belasan jurus berlalu hingga dan menjadi puluhan jurus, namun keempat orang tersebut belum satu pun dari mereka yang berhasil mendaratkan serangannya ke tubuh Yao Chan.


“Bentuk formasi Empat Tombak Merajut Petir!”


Ketiga tetua itu segera melesat mundur ketika Hu Liang berteriak memberi komando untuk menggunakan jurus yang jarang mereka pakai karena daya serangnya yang dahsyat itu.


Empat tombak kembali menderu ke arah Yao Chan dari empat arah Mata Angin. Yao Chan menghindari serangan tersebut dengan melompat ke atas.


JEDAR


Saat ke empat mata tombak itu bertemu satu sama lainnya, melesatlah sebuah Petir sangat besar yang segera saja menyambar Yao Chan dengan cepat.


Petir itu menghantam kaki Yao Chan yang tidak menduga jika akan diserang sedemikian rupa.


Yao Chan berjingkrak-jingkrak merasakan sedikit geli di kedua telapak kakinya.


Ia tak menduga serangan dari tiga orang tetua yang berada di level satu tingkat pendekar Dewa itu, mampu membuat kakinya terasa sedikit kebas yang membuat telapak kakinya terasa geli.


Sementara itu Hu Liang dan tiga Tetua Klannya, terkejut bukan kepalang. Mereka pun saling berpandangan melihat hasil serangan formasi terkuat mereka yang di luar dugaan itu.


Serangan yang pernah membunuh Pendekar Dewa Level Dua dan membuat tubuhnya hancur berkeping-keping itu, kini terlihat seperti serangan lemah yang hanya membuat seorang pemuda meringis menahan geli di telapak kakinya.


“Ketua … kemampuan Pemuda ini sangat tinggi, bagaimana ini…?”


Salah satu Tetua bertanya kepada Hu Liang yang masih mencoba menerka di level berapa kemampuan Yao Chan.


Hu Liang terdiam beberapa saat, menyadari situasi sulit yang mereka hadapi saat ini.


Ia pun menelan ludahnya saat mengingat perkataan Ketua Klan sebelumnya yang telah wafat seratus tahun lalu, tentang siapa yang berjodoh dengan Tombak Inti Petir itu.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan, Jika memang Pemuda ini berjodoh dengan Tombak Inti Petir, melawannya adalah bunuh diri.”


Ketiga Tetua itu pun tercekat, mereka pun lalu teringat tentang Tombak Inti Petir yang tidak bisa dipegang oleh sembarang orang. Karena hanya orang yang berjodoh saja yang dapat menyentuhnya.


“Kenapa kalian terdiam, Ayo serang lagi.”


Yao Chan yang melihat lawannya terdiam, segera berkata demikian agar mereka menyerangnya kembali.


Namun yang terjadi kemudian membuat mata Yao Chan mendelik lebar, Ia menatap heran ke arah Empat Petinggi Klan Tombak Petir yang telah memasukan kembali senjata mereka ke dalam Gelang Ruang Dimensinya masing-masing.


*****