Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
090: Sosok Misterius


Yu Ma kembali melesat dengan kekuatan penuh yang ia miliki. Kecepatannya kini sudah di luar kemampuan Tao Yan lagi. Karena telah kehilangan mata kirinya, Tao Yan sulit mengikuti pergerakan Yu Ma.


Tao Yan berhasil menangkis dan menghindari dua serangan Yao Chan berikutnya. Namun sebuah tendangan keras bersarang dengan telak di dadanya.


Tao Yan jatuh tersungkur dan menggelinding dari atap genteng. Pedang di tangannya tak bisa lagi ia pertahankan. Tubuhnya melayang jatuh dari atap genteng.


Namun sesaat sebelum tubuhnya jatuh di halaman, sesosok bayangan bergerak dengan cepat menangkap tubuh Tao Yan dan pedang pusakanya. Kecepatan sosok misterius itu melebihi kecepatan yang Yu Ma tunjukan sebelumnya.


Sosok misterius itu segera membawa tubuh Tao Yan ke atas atap di sisi yang berlawanan dengan atap di mana Yu Ma berada. Sesuatu melesat dengan cepat dari tangan sosok itu ke arah Yu Ma.


Yu Ma terkejut dengan serangan tak terduga itu, ia segera melompat ke udara dan menghindar dengan rasa kesal di hatinya.


Saat benda yang melesat itu menyentuh atap di mana kaki Yu Ma tadi berada, benda tersebut tiba-tiba meledak dan mengeluarkan asap hijau.


Melihat Asap yang berwarna tidak biasa itu, membuat Yu Ma Segera melesat menjauh. kearah di mana sosok misterius itu menghilang ditelan gelapnya malam.


Yu Ma berdecak kesal karena tidak menemukan sosok misterius yang ia cari tersebut. Ia pun melompati atap demi atap untuk mencari keberadaan sosok itu.


Setelah berkeliling di atap sekitar kediaman Putera Mahkota, Yu Ma akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman Putera Mahkota Wu Jian. Dahinya mengerut saat melihat seorang prajurit dengan tergesa-gesa menuju ke ruangan di mana putra mahkota berada.


Yu Ma segera turun dari atas atap dan segera menghampiri Putera Mahkota yang sedang mendengar laporan seorang prajurit yang diketahuinya bertugas menjaga kediaman ayahnya, Kaisar Wu Mao.


Bak disambar petir di siang bolong, seluruh orang yang mendengar laporan tersebut tubuhnya bergetar hebat. Tak pernah mereka menduga akan mendapat kabar tragis di malam yang sebentar lagi pagi.


Bahkan Putera Mahkota Wu Jian, terduduk mendapati laporan jika Ayahanda kaisar Wu, telah terbunuh dengan leher nyaris putus bersama empat pengawal rahasianya.


**


Yao Chan menebaskan Pedang Dewa Perang sesaat setelah berhasil mengecoh Bai Xun dengan jurus Langkah Dewa Anginnya.


Bai Xun yang yang tak menduga serangan secepat itu, segera berbalik seraya menangkis Pedang Yao Chan yang hendak membabat tangan kanannya.


TRAAAANG


Bai Xun terpental akibat benturan dua senjata yang dialiri tenaga dalam itu. Belum sempat ia menguasai langkah, tanpa bisa ia lihat gerakannya, Yao Chan telah berada di sisi kanannya dan mengayunkan pedang secara perlahan kearah lehernya.


Bai Xun ingin menangkis pedang tersebut dengan Trisula Pusakanya. Namun ia sangat terkejut ketika menyadari, lengan yang hendak ia angkat telah tergeletak diatas atap bersama Trisulanya.


"Menyerahlah.. jangan kau coba untuk melawan lagi."


Ucapan Yao Chan menyadarkan Bai Xun yang terlihat syok melihat lengannya. Tubuhnya bergetar, entah karena takut dengan pedang Yao Chan yang kini berada di lehernya atau karena hal lainnya.


"Lakukanlah. aku sudah tidak bisa melawan mu lagi."


Bai Xun terlihat pasrah dan menerima kekalahannya.


Saat Yao Chan hendak menjawab perkataan Bai Xun, terdengar sebuah ledakan kecil di udara diikuti dengan nyala kembang api yang cukup terang. Yao Chan menyipitkan matanya, memastikan asal dari kembang api tersebut. Sementara Wajah Bai Xun terlihat semakin memucat.


"Sepertinya kau mengenali kembang api itu? bisa kau katakan apa yang terjadi!"


Yao Chan menanyakan hal tersebut saat menyadari perubahan raut wajah Bai Xun, karena seingat Yao Chan, kembang api tidak ada dalam rencana yang dia susun bersama Yu Ma dan lainnya.


"Itu..tanda itu dari rekanku, kami berbagi tugas, sepertinya rekanku mengalami situasi yang berbahaya di sana dan ia meminta pertolongan kepada kelompok yang di sini."


Bai Xun akhirnya memutuskan untuk berkata yang sebenarnya kepada Yao Chan. Entah karena sudah merasa tak ada lagi harapan untuk mempertahankan hidupnya, atau karena ketakutan terhadap Yao Chan dan berharap dengan kejujurannya itu nyawanya bisa terselamatkan.


"Chan awas!!"


Teriakan Zhu Yin di belakangnya membuat Yao chan terkejut, saat itulah ia merasakan sesuatu bergerak dengan cepat kearahnya.


Yao Chan melompat secepat yang dia bisa. Benda yang menderu dengan cepat itu, akhirnya meledak saat menyentuh tubuh Bai Xun. Asap Hijau seketika mengisi udara. Zhu Yin melompat menjauhi asap tersebut.


Bai Xun yang tak mampu bergerak, terselimuti oleh asap hijau itu, tubuhnya mengejang beberapa saat kemudian. sebelum akhirnya tumbang, tewas dengan seluruh kulit yang berubah warna menjadi kehijauan.


Yao Chan seketika melesat dengan langkah Dewa Angin ke arah dari mana benda itu datang. Terlihat olehnya seseorang melayang dengan kecepatan tinggi, sambil memanggul seseorang diatas pundaknya.


"Yin.. tolong jaga Kakek, aku akan mengejarnya"


Yao Chan segera melesat dengan kecepatan penuhnya ke udara. Ia pun melayang dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat diatas kecepatan sosok misterius itu.


Saat telah tiba di luar wilayah bagian barat dari kota Wu Chan An. Yao Chan akhirnya bisa mempersempit jarak diantara keduanya.


Saat hanya berjarak kurang dari dua puluh meter lagi, sosok tersebut tiba-tiba melemparkan sebuah benda yang sama seperti sebelumnya.


Yao Chan tersenyum, ia menangkap benda tersebut dengan melapisi tangannya dengan tenaga dalam.


Benda yang ternyata berbentuk bulat sebesar kepalan bayi yang baru lahir itu memiliki warna hijau, benda itu tidak meledak seperti sebelumnya membuat sosok misterius itu sedikit terkejut.


Karena melempar senjata rahasianya, kecepatan melayang sosok tersebut berkurang, membuat Yao Chan berhasil menyusul dan menghadangnya dengan Pedang Dewa Perang yang terhunus.


"Siapa kau! "


Yao Chan membentak sosok tersebut setelah mengamati sejenak yang ternyata seorang kakek yang usianya mungkin sama dengan Guo Jin.


"Apakah penting mengetahui diriku sementara dirimu sebentar lagi mati?"


Suara serak sosok misterius itu, membuat Yao Chan tersenyum tipis.


"Jika Kakek merasa memiliki kemampuan untuk itu, lakukanlah?"


Selesai berkata demikian Yao Chan mengerahkan kekuatan Zirah Sisik Naga membuat sekujur kulitnya dilapisi oleh sisik berwarna kuning keemasan.


"Zirah Sisik Naga!!"


Mata tua sosok misterius itu melotot dengan mulut terbuka. Tak pernah ia menduga pemuda yang berusia belasan tahun dihadapannya memiliki Pusaka Dewa Legendaris yang menghebohkan dunia persilatan di tiga Kekaisaran ratusan tahun lalu.


"Racun-racunku tidak akan bekerja padanya, menang melawannya tanpa menggunakan racun adalah mustahil."


Sosok tua itu berbicara sendiri dalam benaknya, mencoba mencari cara agar bisa menaklukan Yao Chan yang telah bersiap dengan pedangnya.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih...