
Tangan Iblis Hitam sedikit bergetar saat Trisula Hitamnya berbenturan dengan Pedang Dewa Perang di tangan Yao Chan
Iblis Hitam menggerutu saat menyadari Kekuatan lawannya itu sedikit diatas kekuatannya, namun teknik pedang yang digunakan jauh tingkatannya dari teknik Trisula miliknya.
Keduanya bertarung dengan teknik terkuat yang dimilikinya. Yao Chan menggunakan jurus ketiga dari Kitab Dewa Perang yaitu Murka Jiwa Pedang, sedangkan Iblis Hitam menggunakan Jurus Tornado Angin Trisula.
Pertukaran serangan pun berlangsung dengan sengit diantara keduanya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata oleh Guo Jin dan pihak sekte Lembah Dewa lainnya.
Hanya Zhu Yin dan Xian Mey yang masih mengikuti pertarungan tersebut dengan jelas.
"Apakah kita akan menonton pertarungan mereka saja, masih ada lima Iblis lainnya. termasuk iblis perempuan itu."
Xian Mey berkata kepada Zhu Yin yang telah bersiap dengan Pedang Gadis Suci di tangannya.
"Tentu saja tidak, aku akan menghadapi Kakek bernama Shin Mu itu, dulu ia berhasil lolos dari maut, tetapi sekarang aku tak akan membiarkannya pergi membawa nyawanya!"
Setelah berkata demikian, Zhu Yin segera melesat ke arah Iblis Ren Mo yang juga tengah memilih-milih lawan yang akan ia hadapi.
Zhu Yin melesat bersamaan dengan Gui Han dan Xun Chang yang masih penasaran dengan pertarungan mereka melawan Iblis Ren Mo dan Iblis Merah beberapa waktu lalu.
"Nona ... Biarkan kami yang menghadapi Iblis Itu meneruskan pertarungan kami yang tertunda dulu."
Gui Han berkata kepada Zhu Yin saat keduanya sama-sama melesat ke arah Iblis Ren Mo yang kini bersenjatakan Pedang Iblis Hijau itu.
Zhu Yin tersenyum tipis dan ia memilih untuk mengalah pada Gui Han demi menghormati Kakek itu. Ia pun melesat ke arah Iblis Kuning yang tengah bergerak ke arah Guo Jin dengan Cakram Kuning di tangannya.
"Kakek Cebol mau kemana kau? Aku lawan mu!" Zhu Yin berteriak seraya menebaskan pedangnya kearah kepala Mo Duan yang telah dirasuki oleh Iblis Kuning.
TRAAAANG
Suara benturan pedang dan Cakram terdengar mengawali pertarungan ke duanya.
Sementara Guo Jin yang telah bersiap dengan Pedang Rajawali di tangannya kini melesat menuju ke arah Jiao Xin yang telah dirasuki oleh Iblis Ren Xian.
"Jiao Xin! kita tuntaskan urusan kita karena kau telah menghancurkan seluruh bangunan Sekte ku, hari aku minta nyawamu sebagai gantinya.!"
Guo Jin berteriak keras seraya melepaskan serangan dahsyat dengan pedang Rajawali, Ia menggunakan Teknik yang ia pelajari saat di alam Kultiva Naga bersama Yao Chan, jurus pertama Gelora Jiwa Pedang.
Keduanya pun mulai bertukar serangan di udara dengan jurus andalan masing-masing. Sehingga suasana di atas wilayah Sekte Lembah Dewa menjadi riuh oleh suara dentingan senjata dan teriakan dua belas orang yang bertarung satu lawan satu itu.
Sementara dua orang terlihat sedang mengawasi ke dua belas orang yang sedang bertarung itu. Tetua Ma Hua dan Xin Jia, keduanya bersiap terjun ke dalam pertarungan jikalau salah satu dari rekan mereka ada yang terdesak.
"Kekuatan Chan'er dan Iblis Hitam benar-benar luar biasa, kita tidak bisa mengikuti kecepatan gerak mereka berdua."
"Benar, Anak itu telah jauh diatas kita kekuatannya. Benar-benar anak pilihan Dewa."
Xin Jia yang juga mengalami hal yang sama dengan Tetua Ma Hua, tidak bisa melihat pertarungan Yao Chan dengan Iblis Hitam yang bergerak sangat cepat itu.
"Gadis yang membuat dinding pelindung tadi sepertinya berhasil mendominasi pertarungan dengan Matriak Bunga Hitam."
Kakek Yu Lian dari Sisi Ibu itu, tengah memandang kagum ke arah Xian Mey yang sedang menyerang dengan jurus-jurus yang tidak pernah ia lihat selama puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan.
Kedua perempuan yang sedang bertarung itu, mendapat perhatian dari Xin Jia dan Tetua Ma Hua karena keduanya sering menggunakan beberapa teknik yang terlihat luar biasa seperti sebuah sihir.
Peri Hitam beberapa kali berteriak marah ketika serangannya hanya mengenai ruang kosong. Ia pun meningkatkan kekuatannya lagi demi bisa mengimbangi gerakan Xian Mey yang semakin lama semakin cepat.
Peri legendaris Bangsa Peri itu beberapa kali menembakan energi dari Tongkat Sakti Giok Merah. Cahaya Merah Kebiruan melesat keluar dengan cepat dari ujung tongkat menderu ke arah Peri Hitam yang kini ditangan kirinya telah terpasang Perisai Hitam yang mampu memindahkan serangan ke tempat lain.
Beberapa kali cahaya merah dari tongkat Xian Mey berhasil ia alihkan. Hanya saja semakin lama ia merasakan nyeri di tangan kirinya karena hantaman energi yang semakin lama semakin kuat.
"Jika begini terus, Sihir Pemindah Ruang ini akan hancur dan aku tidak akan mampu menghadapinya lebih lama."
Peri Hitam mulai merasa kebingungan karena jurus pertahanannya, Sihir Pemindah Ruang semakin lama semakin rusak akibat terhantam Sinar dari Pusaka Legendaris Bangsa Peri itu.
Xian Mey yang memang mengetahui kelemahan teknik Sihir Pemindah Ruang tersenyum. Ia pun sengaja menyerang terus menerus untuk memberikan serangan yang dapat merusak formasi sihir itu.
"Apakah kau akan terus bertahan dengan jurus lemah mu itu? Jangan salahkan aku jika begitu."
Selepas berkata demikian Xian Mey memutar tongkatnya ke udara beberapa kali, mulutnya terlihat membaca mantera. Selang beberapa saat kemudian, muncullah Seekor ular naga yang berselimut kan api yang membara dari ujung Tongkat Sakti Giok Merah.
Tubuh Xian Mey sedikit bergetar melihat hal itu, Ia pun menghilangkan Perisai Pemindah Ruang di tangan kiri. Lalu Ia merapalkan Mantera secara perlahan untuk mencoba menahan serangan teknik yang akan di gunakan oleh Xian Mey itu.
"Mudah-mudahan teknik ini bisa meredam serangan Sihir Naga Api yang terkenal dahsyat itu."
Peri Hitam menggenggam erat belatinya, lalu menghunuskan ke arah depan dimana pada saat yang bersamaan Xian Mey menggerakan tongkatnya seraya berteriak membuat ular Naga Api itu melesat ke arah Peri Hitam.
"Sihir Naga Api!"
"Sihir Tembok Es!"
Peri Hitam yang telah bersiaga segera berteriak seraya mengibaskan belati ditangannya. Sebuah keajaiban terjadi ketika muncul dinding es setebal satu meter dihadapan Peri Hitam. Dinding itu memiliki lebar dan tinggi setidaknya lima meter persegi.
Dinding yang terbentuk bertepatan dengan datangnya kepala Naga Api sihir itu, membuat kedua sihir itu berbenturan di udara yang menimbulkan ledakan yang suaranya sangat keras.
DUUAAAR
Dinding Es itu hancur, demikian juga Naga Api sihir itu. Kedua Peri berbeda aliran itu, sama-sama terpental ke belakang, Xian Mey terpental sekitar lima meter dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
Sementara Peri Hitam terpental hingga dua puluh meter dengan bibir mengeluarkan darah yang berwarna hitam pekat. Hatinya menjadi berdebar saat merasakan tubuhnya terasa kebas terutama di bagian tangan kanan yang memegang belati.
"Sayang bagaimana kondisimu? Apakah baik-baik saja?
Peri Hitam mendapat pesan telepati dari Iblis Hitam yang sedang terdesak oleh serangan Yao Chan.
"Aku tidak baik-baik saja, Kurasa kita tidak bisa menang melawan mereka saat ini. Kita harus pergi secepatnya dari sini."
Peri Hitam membalas pesan telepati dari Iblis Hitam dan mengajaknya pergi secepatnya mungkin dari Arena pertarungan itu.
"Kau pikir bisa pergi begitu saja dari sini heh!"
Xian Mey yang juga bisa mendengar pesan telepati tersebut segera berteriak membuat Peri Hitam menjadi kesal karena rencananya diketahui oleh salah satu Peri Legendaris Dunia Moxian itu.
*****