
"Ada apa prajurit? Kenapa kau berani masuk tanpa permisi terlebih dahulu?"
Kaisar Wu Jian menatap tajam ke arah prajurit yang telah berlutut di hadapan mereka.
"Ampuni Hamba Yang Mulia Kaisar, ada dua orang Kakek yang memaksa bertemu dengan Yang Mulia Kaisar mereka ..."
Belum sempat prajurit itu menyelesaikan kata-katanya, Pintu pun terbuka dan tampaklah Dua orang Kakek yang segera masuk lalu membungkuk memberi hormat kepada Kaisar Wu Jian.
Yu Ma dan Lin Yung yang telah pulih kembali tenaga dalamnya bahkan kini mencapai tahap pendekar Pertapa Awal, terlihat bersiaga. Tangan keduanya telah berada di gagang pedang masing-masing.
Yu Ma yang telah malang melintang di dunia persilatan, merasa tidak mengenali kedua Kakek tersebut. Melihat kemampuan keduanya berada di tingkat Pendekar Suci, Yu Ma segera melompat ke samping Kaisar Wu Jian.
Selain Tugasnya melindungi Kaisar ia juga tak ingin terjadi sesuatu kepada Calon Menantunya tersebut. Demikian juga dengan Yu Lian, ia pun melompat di sisi kanan Sang Kekasih.
"Lian'er tenanglah, sepertinya mereka bermaksud baik."
"Jian Gege ... Mereka memaksa masuk ke Aula Kekaisaran, bagaimana bisa mereka orang baik-baik?"
Kaisar Wu Jian tersenyum tipis mendengar jawaban Yu Lian. Ada rasa hangat menjalar dalam hatinya melihat kepedulian Calon Ayah Mertua dan Calon permaisurinya tersebut.
"Siapakah Anda berdua? Mengapa menerobos masuk seperti ini?"
Kaisar Wu Jian menatap tajam ke arah dua Kakek yang salah satu diantaranya membawa Trisula berwarna keemasan.
"Ampuni Kami Yang Mulia Kaisar, Kami dua kakak beradik seperguruan dari Kekaisaran Song. Nama hamba Gui Han dan ini adik Seperguruan hamba Xun Chang. Izinkan kami menyampaikan berita penting."
Kaisar Wu Jian menganggukkan kepalanya, Gui Han lalu mulai menjelaskan maksud kedatangannya Tentang Song He dan para Iblis lainnya.
Suasana menjadi hening setelah Gui Han selesai menjelaskan maksudnya dan misteri hilangnya Song He dari ruang penyekapan terkuak.
Semua mata memandang tajam ke arah Xun Chang, yang membuat Kakek tersebut menelan ludahnya. Perasaan bersalah membuatnya terdiam dan menerima tatapan kemarahan mereka padanya.
"Mohon maafkan adik seperguruan hamba, ia memang telah salah langkah dengan mengabdi kepada ketidakbenaran. Namun kini ia telah tersadar dengan semua kesalahannya."
Gui Han segera menyampaikan kata-katanya melihat suasana yang tidak menyenangkan sang adik. Mendengar permintaan maaf yang tulus dari Gui Han akhirnya semua orang menghela nafas dan membuang kemarahan mereka.
"Baiklah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan ke dua. Kita lupakan yang telah lalu. Jadi ... Menurut Kakek Han, hanya saudara Chan yang bisa menghadapi Song He saat ini?"
"Benar Yang Mulia Kaisar, guru kami mendapatkan Trisula Emas ini pun dari Leluhur Zhu Long, beliau berteman baik dengan Guru kami. Beliau mengatakan bahwa Trisula ini merupakan Senjata Dewa Naga Emas yang telah tewas dan kini hanya berbentuk Roh Saja di Alam Dewa."
Yu Ma terkejut mendengar penjelasan Gui Han, jika ia berbohong tidak mungkin ia mengetahui nama leluhur Sekte Lembah Dewa itu.
"Ayah ... kata-kata Kakek itu memang benar, itu memang senjata Roh Naga Emas. Dan Kakek Zhu Long yang memberikannya. Roh Naga Api baru saja menyampaikan hal itu padaku."
Kata-kata Yu Lian membuat Gui Han membelalakan matanya, ia pun akhirnya memahami bahwa dua orang yang memiliki aura pendekar Suci tersebut, ke duanya berasal dari Sekte Lembah Dewa.
Sementara Xun Chang yang telah melihat Yu Lian menggunakan cambuk Naga Api hanya terdiam sambil menelan ludahnya.
Seandainya dulu ia nekad menghadapi Yu Lian, mungkin saat ini ia sudah tidak bernyawa lagi. Dalam hatinya ia bersyukur bahwa ia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
"Yang Mulia Kaisar di manakah pemuda bernama Yao Chan itu berada? Kami ingin sekali bertemu dengannya."
"Saudara Chan saat ini sedang mengunjungi seorang kenalannya di wilayah barat. Kudengar ia hanya sebentar saja disana. Setelah itu yang aku ketahui, ia akan mengunjungi seseorang di suatu tempat bernama Lembah Siluman. Namun Aku tak Tahu dimana tempat itu berada?"
Kaisar Wu Jian pun tidak lagi menyembunyikan informasi tentang Yao Chan. Ia meyakini bahwa keduanya bukan orang jahat setelah mendengar perkataan Yu Lian.
"Baiklah jika begitu, saat ini kami berencana untuk berkunjung ke Sekte Lembah Dewa. Mengingat ada hubungan baik antara Guru kami dengan Leluhur Zhu Long."
Gui Han pun mengutarakan rencananya tersebut, ia juga mengatakan bahwa ia akan ikut bertarung melawan Para Roh Iblis itu bersama pihak Kekaisaran Wu.
Kaisar Wu Jian terlihat senang mendengarnya lalu meminta mereka berdua untuk menginap dan menghadiri jamuan makan malam di istana. Gui Han dan Xun Chang menerima tawaran tersebut mengingat mereka baru saja menempuh perjalanan jauh.
**
Yao Chan bersama Zhu Yin dan Qing Mi akhirnya bergerak ke arah tenggara. Yao Chan memutuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi Lembah Siluman mengingat ia memiliki janji yang sudah seharusnya ia tepati.
Ketiganya menggebrak kuda mereka dengan kencang hingga dalam setengah hari mereka mulai memasuki sebuah desa kecil.
Mereka memutuskan untuk mengistirahatkan kuda-kuda yang terlihat kelelahan. Ketiganya mencari sebuah kedai yang akhirnya mereka temukan berada di ujung selatan desa itu. Kedai yang besar untuk ukuran sebuah desa kecil.
Seorang pelayan terlihat menghampiri mereka, lalu membawa kuda-kuda tersebut setelah Yao Chan memberinya satu Koin perak untuk biaya memberi makan kuda-kuda tersebut.
Ketiganya memasuki ruangan besar dimana hampir semua meja telah penuh, hanya tersisa satu buah meja dari belasan meja di ruangan itu.
Semua mata pengunjung Kedai menatap ketiga orang yang baru masuk, terutama pada dua orang gadis yang memiliki kecantikan bak Dewi Kahyangan. Qing Mi dan Zhu Yin sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu, terlihat santai.
Seorang pria setengah baya menghampiri meja ketika mereka.baru saja duduk. Pria yang membuat Yao Chan mengerutkan dahinya. Dari gerakannya, Yao Chan mengetahui bahwa Pria tersebut memiliki kemampuan beladiri yang berada pada tingkat pendekar Raja.
Walau Pria separuh baya itu menyembunyikan kemampuannya, Yao Chan masih bisa merasakan kekuatan besar yang disimpan pria yang ternyata adalah pemilik Kedai itu.
"Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu, apakah Lembah Siluman masih jauh dari desa ini?"
Pria pemilik kedai itu terlihat terkejut mendengar pertanyaan Yao Chan. Demikian juga dengan beberapa orang yang berada di dekat meja mereka.
"Tuan Muda Lembah siluman tidak jauh lagi dari sini, mungkin bisa sampai dalam tiga jam dengan berkuda. Ada urusanku penting apakah Tuan muda mengunjungi lembah yang berbahaya itu?"
Yao Chan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Pemilik Kedai. Ia pun menjelaskan untuk menemui Pemimpin Lembah Siluman karena sebuah urusan penting.
"Berbahaya bagaimana maksud paman?"
"Tuan Muda, setiap orang yang memasuki lembah Siluman dikabarkan tidak pernah kembali lagi, bahkan mayatnya pun tidak bisa mereka temui."
Pemilik kedai tersebut juga menjelaskan bahwa mereka tidak menemui satu orang pun di lembah itu.
Namun mereka menemukan sebuah tempat yang dikelilingi kabut tebal. Mereka tidak berani memasuki wilayah berkabut tersebut karena merasakan adanya bahaya.
Saat pria pemilik kedai itu akan menjelaskan lebih lanjut, terdengar suara teriakan dari warga desa dan belasan orang berlarian memasuki rumah mereka.
*****