Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
203: Melawan Ratu Siluman


Ribuan Siluman Laba-laba terlihat mulai menampakan diri diatas pepohonan raksasa karena adanya energi kuat milik Yao Chan.


Hal itu membuat Yao Chan tersenyum manis. Namun senyumannya berubah menjadi senyuman kecut, saat merasakan sebuah pancaran energi besar, berasal tepat dari bawah kakinya.


Saat mengalihkan pandangannya, Yao Chan mendapati Sesosok Siluman Laba-Laba yang memiliki ukuran Tubuh dua kali lipat lebih besar dari yang lainnya dengan mata belok berwarna Kekuningan.


“Sepertinya itu Ratu Siluman Laba-laba, tapi mengapa kekuatannya bisa setingkat dengan pendekar Langit Tahap Awal? Sepertinya ini akan sedikit lebih lama dari yang ku duga.”


Yao Chan segera mengalirkan lebih banyak energi qi-nya setelah menyadari keberadaan Ratu Siluman yang berada tiga puluh meter tepat di bawahnya itu.


Kilatan Petir seketika membesar dan menghantam semua yang ada di bawahnya. Suara menggelegar menindih erangan seram dari ratusan laba-laba yang meregang kehilangan nyawanya.


Setidaknya lima ratus lebih Siluman Laba-laba beracun yang tewas dengan perut besar mereka yang pecah terburai dalam satu kali serangan Hujan Petir tersebut.


Pepohonan yang terkena petir tersebut, kini mulai terlihat menyala karena banyaknya dahan kering yang terbakar dan jatuh di bawah pohon tersebut.


Api pun mulai merembet ke arah atas dan asap pun mulai terlihat mengepul di ratusan titik area Hutan itu.


Yao Chan ingin tersenyum melihat hal itu namun membatalkannya, saat melihat sosok Ratu Siluman Laba-laba kembali menaiki sebuah pohon besar dan lalu melepaskan jaring putih dengan sangat cepat ke arah dirinya.


Yao Chan yang masih mengangkat kedua tangannya ke arah Gumpalan Awan Hitam kemerahan diatas kepalanya, menjadi sangat terkejut.


Ia tidak mungkin menghindari serangan itu, karena hal itu dapat menyebabkan gumpalan awan yang ia kendalikan dengan energi qi dari tangannya, akan pecah dan tercerai berai kebentuk semula.


Sedang untuk menangkisnya menggunakan Jurus Pedang Mata Dewa akan percuma saja, mengingat kekenyalan dari jaring itu yang sangatlah tinggi.


Dalam waktu kurang dari dua detik, Yao Chan segera mengalirkan lima ribu Kristal qi kearah matanya.


Ia terpaksa menggunakan jurus yang baru dua kali ia latih untuk menghancurkan Jaring Putih besar dari Ratu Siluman Laba-laba itu.


Dengan dasar Teknik Elemen Naga-Jurus Naga Api, Yao Chan mengubah energi qi yang mengalir di kedua matanya menjadi unsur api.


Kedua bola mata Yao Chan seketika berubah merah membara dan saat ia berteriak dengan keras, dari matanya tersebut menyembur Api besar sepanjang tiga meter dengan panas yang sangat tinggi.


Semburan Api tersebut berhasil membakar jaring yang melesat kearah Yao Chan hingga berlubang besar, membuat tubuhnya berhasil lolos dari serangan jaring Ratu Siluman Laba-laba bermata Kuning itu.


Ratu Siluman itu terlihat kesal dan menggeram marah, ia pun membuka kembali mulutnya dan menembakan cairan hijau ke arah Yao Chan.


Melihat cairan hijau itu, Yao Chan meyakini bahwa cairan itu mengandung racun berbahaya.


Ia pun segera melapisi tubuhnya dengan Jurus Naga Es, membuat Perisai es dari energi qi-nya.


Cairan Hijau yang kental itu menempel dan langsung membeku saat mengenai tubuh Yao Chan.


Ratu Siluman merasa sangat senang melihatnya, ia pun mengangkat dua kaki sebagai tanda kemenangan seraya berteriak melengking yang membuat Yao Chan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.


Karena cairan Ludah Beracun Ratu Laba-laba itu membeku dua sentimeter dari matanya, Yao Chan tidak bisa melihat hiruk pikuk kemenangan dari seribu lebih siluman Laba-laba itu.


Yao Chan segera melepaskan perisai Es untuk membuang cairan racun yang membeku itu dengan melemparkannya agar menjauh dari tubuhnya.


Tubuh Yao Chan menggigil menahan tawanya saat melihat apa yang dilakukan oleh para siluman Laba-laba itu.


Ribuan siluman itu, terpana saat melihat cairan Hijau yang membungkus tubuh Yao Chan itu hancur dan melihatnya masih baik-baik saja.


Mereka sedang mengangkat kedua kaki kanan mereka saat hal itu terjadi. Lalau menurunkan kedua kaki tersebut secara perlahan dengan wajah canggung dan terlihat kecewa karena serangan Ratu mereka masih gagal total.


Melihat Ratu Siluman yang kembali geram dan terlihat akan menyerangnya lagi, Yao Chan segera kembali meledakan energi ditanganya.


Ratusan petir kembali menghujani para siluman laba-laba raksasa itu. Suara menggelegar keras kembali terdengar menindih erangan dan jeritan melengking dari ratusan siluman yang meregang nyawanya.


Yao Chan tidak memberi jeda pada serangannya, ia terus meledakan energi qi-nya hingga Ratu siluman itu akhirnya tewas dengan perut terburai pecah akibat hujan petir buatannya.


Yao Chan yang kehabisan qi-nya menghela nafas lega setelah melihat ribuan siluman itu, telah tewas dan hutan tempat tinggal mereka kini tengah dilahap si jago merah.


Awan Hitam kini kembali terurai tertiup angin dan dinding kasat mata yang mengurung area hutan itu pun sirna.


Yao Chan menoleh mendengar teriakan kepanikan dari keempat gadisnya yang kini tengah melesat kearah tubuhnya yang sedang melayang jatuh secara perlahan ke kobaran api.


Yao Chan memejamkan mata dan melemaskan seluruh tubuhnya sehingga terlihat terkulai lemas seolah tak lagi bernyawa.


Gong Li yang memiliki kemampuan tertinggi diantara mereka, melesat sangat cepat melihat Sosok yang dia rindukan selama puluhan tahun lalu itu, terkulai pingsan dan tubuhnya sedang meluncur ke dalam kobaran api.


Saat tubuh Yao Chan berjarak kurang dari lima meter lagi, Gong Li dengan sigap meraih tubuh Kekasihnya itu, lalu membawanya melesat kearah tebing dimana ketiga gadis lainnya telah kembali berada disana.


Karena terburu-buru meraih tubuh Yao Chan, Gong Li tidak lagi memperhatikan posisi antara dirinya dan Yao Chan.


Yao Chan sedang merasakan sesak pada nafasnya karena dipeluk erat oleh Gong Li yang menempatkan wajahnya tepat di tengah dada.


Karena tak bisa lagi menahan sesak, Yao Chan menggerakan kepalanya dengan kuat agar hidungnya bisa menghirup udara.


Gong Li merasa heran, ia pun mengendurkan pelukannya, dan menatap wajah Pemuda tampan itu, yang kini terlihat memerah dan menahan senyum karena kepergok olehnya.


Menyadari pemuda itu sedang mengerjai dirinya, Gong Li menjadi marah karena malu. Ia pun membanting tubuh Yao Chan sekuat tenaga.


Tubuh Yao Chan kembali meluncur dengan sangat cepat ke arah kobaran api yang berjarak sepuluh meter di bawah mereka berdua.


Karena rasa malu dan marahnya itu, Gong Li terlupa jika dirinya masih berada di atas Kobaran api .


Ia pun terpekik saat melihat tubuh Yao Chan menghilang di telan kobaran Api besar yang tengah melahap Hutan tersebut.


Hal itu mengejutkan ketiga gadis lain yang masih berjarak lima ratus meter dari Gong Li.


Ketiganya langsung melesat kearah Gong Li tanpa menyadari, di belakang mereka di sebuah tempat tersembunyi, satu sosok sedang mengawasi mereka dengan tatapan yang tajam.


*****