
“Li Jiejie Aku merasakan Aura energi Chan Gege tapi kenapa tidak bisa melihatnya?”
“Aku juga demikian, apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Gong Li menjawab pertanyaan Xian Mey seraya menajamkan pandangan matanya.
Merasa tidak menemukan keberadaan suami mereka, keduanya lalu melihat ke arah pertarungan rekan mereka yang lainnya.
Terlihat Ketua Zhou Kin sedang berada da atas angin dalam pertarungannya melawan Zhang Feng, Ketua klan Pedang semesta.
Sementara Gong Xhun sedang menghajar Gao Shen yang telah mengalami banyak luka di bagian tubuhnya.
Terlihat juga oleh mereka, Ratu Es Abadi berhasil mengatasi serangan hebat dari Xhu Jun, Ketua Klan Tombak Api dari Benua Awan Merah.
Serangan api merah yang sangat besar dari Tombak Pusaka di tangan Xhu Jun, berhasil dibekukan oleh Ratu Es Abadi.
Hal itu membuat Xhu Jun merasa jerih saat mendapati serangan terkuat miliknya gagal merobohkan lawan.
Ia pun berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Namun Ratu Es Abadi bukanlah sosok kemarin sore yang tidak bisa membaca rencananya itu.
Xhu Jun kembali menggunakan jurus kuat lainnya untuk membuat celah baginya meninggalkan tempat itu.
Mata tombak pusakanya kembali menyala, lalu Ia pun menembakan bola-bola api dari tombaknya seraya bergerak mundur untuk menjauhi Ratu Es Abadi.
Ratu Es Abadi pun mendengus kesal, bola api yang melesat ke arahnya, Ia bekukan dengan energi dari Pedang Es Abadi seraya bergerak memperpendek jarak dengannya.
Xhu Jun terlihat kesal melihat hal itu, Ia pun mengerahkan energi dalam jumlah besar dan menembakan tiga buah bola Api yang tiga kali lebih besar dari sebelumnya.
Ratu Es Abadi yang tidak menduga serangan hebat itu, berjibaku menghindari dua bola api yang terlambat Ia bekukan.
Satu bola api besar lain, membakar ujung gaunnya. Wajahnya seketika mengelam. Setelah memadamkan api itu, Ia melihat ke arah Xhu Jun yang telah lima puluh meter jauhnya dari tempat dirinya berada.
“Huh … Ingin beradu cepat denganku?” Setelah berkata demikian dalam benaknya, Nenek Ji Xia itu, segera melesat mengejar Xhu Jun.
Perbedaan level kekuatan diantara keduanya, membuat kecepatan terbang mereka juga berbeda jauh.
Dalam beberapa detik, Ratu Es Abadi telah melewati Xhu Jun dan menghadangnya tepat lima meter di hadapannya.
Tanpa permisi atau meminta izin lagi, Ratu Es Abadi segera menyerang Xhu Jun yang terlihat terkejut, melihat kecepatan yang dimiliki oleh Nenek itu.
Ratu Es Abadi segera melancarkan serangan jarak dekat dengan jurus Pedang Es Abadi yang memancarkan hawa dingin dari waktu ke waktu.
Kecepatan tebasan dan besarnya tenaga yang digunakan Ratu Es Abadi, membuat Tombak Pusaka di tangan Xhu Jun beberapa kali nyaris terlepas dari genggamannya.
Melihat wajah pucat Xhu Jun, Ratu Es Abadi menyeringai lebar seraya melepaskan serangan Angin Es dari pedangnya.
Angin berhawa sangat dingin perlahan menyelimuti tubuh Xhu Jun. dan membuatnya tercekat saat menyadari tenaga dalam berhawa panas di tubuhnya, tidak mampu mengatasi hawa dingin itu.
Gerakannya pun semakin melambat, membuat Ratu Es Abadi berhasil memberikan beberapa luka di tubuh lawan.
Dalam satu serangan tipuan yang cepat, Ratu Es Abadi berhasil membuat Xhu Jun tamat riwayat hidupnya.
Kepala Xhu Jun melayang jatuh terlebih dahulu karena Ratu Es Abadi mengambil terlebih dahulu Tombak pusaka itu lalu Gelang Dimensi Ruang milik Ketua Klan Tombak Api tersebut.
Matanya berbinar-binar saat menemukan setidaknya lima juta Batu Roh yang cukup untuk mengganti gaunnya yang telah terbakar itu.
Ia pun tersenyum dan melihat ke arah rekannya yang lain. Di waktu yang nyaris bersamaan, Gong Xhun berhasil membunuh Gao Shen dan memotong tubuhnya menjadi dua bagian dengan Pedang Suci miliknya.
Sementara Ketua Zhou Kin telah beberapa waktu yang lalu menghabisi lawannya Zhang Feng Ketua Klan Pedang Semesta.
Para Tetua Klan yang bertarung, menjadi cemas melihat ketua mereka telah binasa. Beberapa orang berusaha meninggalkan tempat tersebut.
Namun Gong Li dan Xian Mey, menghadang mereka dan memberikan kematian yang cepat.
Tak Satupun dari mereka yang datang, berhasil pergi dari tempat itu dalam keadaan hidup-hidup.
Sorak sorai terdengar dari dua ribu pasukan aliansi klan Aliran putih. Mereka berteriak menyerukan nama Serigala Angin dan Serigala Petir.
Namun Sesaat kemudian suasana menjadi hening mencekam saat sebuah dentuman sangat keras membahana dari langit.
Hempasan Energi yang sangat kuat melanda seluruh permukaan Dunia Kultiva. Tanah pun bergetar hebat seolah sedang dilanda gempa besar yang dahsyat.
Beberapa bangunan mulai terlihat retak, bahkan diantaranya sudah ada yang roboh akibat getaran energi tersebut.
Bukan hanya di Dunia Kultiva saja hal itu terjadi. Raja dan Ratu Peri di Dunia Moxian pun, terlihat khawatir melihat Pohon Abadi Xian Fun Da Shi bergetar hebat seolah akan tumbang.
“Bhun Gege … Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Aura Chan’er dan Dewa Naga terasa hingga di sini? Bukankah mereka sedang berada di Dunia Kultiva?”
Pertanyaan Ratu Peri yang beruntun itu membuat suaminya mendengus pelan. Karena Ia pun tidak mengetahui apa yang terjadi di atas sana.
Sementara Xian Chi dan Xian Shi segera menemui ke dua orang tuanya, saat mereka merasakan Aura Energi Yao Chan.
“Ayah … Apa yang terjadi?”
Belum sempat Raja Peri Xian Bun menjawab, Zhu Yin dan Qing Mi beserta Ji Xia mendatangi tempat tersebut.
Kelima Ibu Muda itu semuanya membawa bayi mereka yang terbangun akibat getaran tersebut. Bahkan Putera Xian Shi, menangis keras membuat mereka merasakan firasat buruk dalam benak masing-masing.
“Apapun yang terjadi di sana, kita hanya bisa berharap Chan’er baik-baik saja. Apalagi Dewa Naga ada di sana juga.”
Raja Peri Xian Bun berusaha menenangkan mereka semua. Ia hanya bisa berkata demikian untuk membuat dirinya sendiri menjadi tenang.
Ia pun memandang langit dengan benak dipenuhi pertanyaan, apakah sebenarnya yang sedang terjadi di sana.
***
Sesaat telah kedatangan Dewa Naga di Dunia Kultiva, Yao Chan lalu berbincang-bincang menggunakan telepati dengannya.
Keduanya sepakat untuk bertarung dengan kedua orang dari dunia lain itu, di tempat yang jauh dari Dunia Kultiva.
Dewa Naga lalu menggunakan kemampuannya untuk berpindah dimensi dengan membawa serta Yao Chan dan kedua lawan yang akan mereka hadapi.
Dewa Naga Lalu membuat Alam Dimensi yang cukup luas diantara Dunia Moxian dan Dunia Kultiva.
Hanya saja dimensi yang Ia buat itu, belum mampu meredam Aura kekuatan yang besar dari energi yang mereka miliki.
Namun Alam dimensi buatan itu, tidak akan bisa di tembus oleh Kedua Makhluk itu dan Yao Chan Sendiri.
Hal itu dilakukan oleh Dewa Naga agar jika terjadi sesuatu yang buruk, kedua orang itu tetap terkurung di dalamnya.
Mengingat Dewa Naga sekalipun tidak bisa memprediksi kekuatan sebenarnya yang dimiliki oleh Hon Ji dan Bhu Kin.
Begitu juga dengan Yao Chan, Ia merasa tidak percaya diri untuk pertama kalinya saat hendak melakukan pertarungan ini.
“Jangan gentar … Kita pasti bisa mengalahkan mereka berdua.”
Dewa Naga berkata demikian karena melihat keraguan dan rasa jerih di wajah Calon Dewa Penjaga itu.
Yao Chan tersenyum, Ia telah berada tahap yang tidak pernah Ia duga akan bisa Ia capai di kehidupan keduanya ini.
*****