
Hari Penobatan Putera Mahkota Wu Jian menjadi Kaisar akhirnya tiba. Pelaksanaan penobatan yang diadakan di hadapan rakyat itu, dilaksanakan di Alun-alun Istana Kekaisaran.
Alun-alun Istana Kekaisaran merupakan tempat seluas dua puluh ribu meter persegi. Alun-alun yang memiliki lebar seratus meter dan panjang dua ratus meter itu adalah tempat dimana dilaksanakannya berbagai acara-acara resmi kenegaraan.
Sebuah Podium sepanjang lima puluh meter dan lebar dua puluh meter, terbentang di sisi barat Alun-alun. Podium berundak itu, di bagian undakan tertingginya terdapat singgasana kekaisaran yang saat ini sedang kosong.
Di sisi kanan singgasana, tampak Wu Jian sudah mengenakan Jubah Kekaisaran, Wajahnya yang tampan kini terlihat jauh lebih tampan dan berwibawa. Dibelakangnya berdiri seorang prajurit yang menjadi pengawalnya.
Sementara di kiri Singgasana duduk Tuan Puteri Wu Mei dengan ditemani seorang dayang di belakangnya. Kecantikan Tuan Puteri tersebut membuat banyak pengunjung terutama kaum pria berdecak kagum.
Di undakan tertinggi kedua adalah tempat duduk para menteri dan jendral, terlihat Lin Yung dan Yu Ma duduk berdekatan. Sedangkan di undakan terakhir, duduk para perwira kemiliteran yang rata-rata memiliki kemampuan Pendekar Bergelar beberapa diantara memiliki kemampuan Pendekar Raja.
Di sisi Selatan Alun-alun telah duduk ribuan rakyat yang turut menyaksikan acara penobatan Kaisar tersebut. Demikian juga dengan sisi Timur dan sisi Utara.
Hanya saja sedikit yang mengetahui bahwa sisi Utara dikhususkan sebagai tempat untuk ribuan pengawal beserta para pedagang yang menyewanya.
Sedangkan di tengah Alun-alun adalah para Prajurit Kekaisaran yang jumlahnya mencapai lima ribu orang. Mereka adalah pasukan elit Kekaisaran yang rata-rata memiliki kemampuan Pendekar kelas satu.
Seluruh orang yang hadir dalam acara penobatan ini, tidak menyadari adanya perubahan susunan yang tidak seperti biasanya. Dimana para bangsawan tidak terlihat di podium.
Hanya tiga orang yang menyadari bahwa susunan ini adalah sebuah formasi pertahanan yang sulit di tembus apabila ada yang hendak mengacau. Mereka bertiga berada disisi Utara yang menunjukan bahwa mereka adalah pedagang dan para pengawalnya yang berasal dari luar wilayah Kekaisaran Wu.
"Sepertinya mereka sudah mengantisipasi adanya serangan Paman."
Salah seorang lelaki yang termuda itu terlihat berbicara kepada kedua orang Kakek yang berada di kanan dan kirinya.Mereka adalah tiga orang yang di lihat oleh Xie Jia saat berada di penginapan di kota perbatasan beberapa hari yang lalu.
"Benar Tuan Muda, tetapi walau mereka dalam formasi pertahanan, namun kualitas prajurit mereka jauh di bawah para pendekar yang kita bawa. Hanya satu orang Pendekar Suci yang ada di podium, itu pun dua tingkat dibawah kami."
Salah seorang Kakek itu menjelaskan kepada Pria yang merupakan pemimpin mereka.
"Lalu di mana pemuda yang kabarnya memiliki kemampuan melayang itu Paman. Jika ia datang, bisa saja dia menggagalkan rencana kita."
"Tuan Muda tidak usah khawatir, sekalipun ia datang biar aku yang mengurusnya. Pendekar yang kita bawa kurang lebih empat ribu orang, dan kini mereka berada di bersama kita dan sebagian lain di sisi timur alun-alun.
Seorang Kakek yang lain menjawab dengan sedikit kesombongan dalam nada bicaranya. Hal itu adalah wajar karena ia sedikit lebih kuat dari Kakek satunya yang merupakan adik seperguruan mereka.
"Baiklah Paman, tapi jangan lupa membawakan Puteri Wu Mei untukku. Apakah orang-orang k
Tanpa ia sadari, mereka bertiga sedang diawasi oleh dua pasang mata milik sepasang Kakek dan Nenek yang berada dua puluh meter di dibelakang mereka.
Akhirnya acara Penobatan Kaisar pun dimulai, suara puluhan genderang, membuat seluruh orang terdiam dan beberapa saat kemudian, seorang pria tua berdiri dan berjalan di tengah podium setelah genderang tersebut berhenti berbunyi.
Pria tua tersebut tak lain adalah Menteri yang mengurusi tentang pembangunan kekaisaran Wu, kemampuan berbicara dan orang tertua membuat ia menjadi pembawa acara sekaligus yang meletakan Mahkota Kekaisaran pada saat penobatan nanti.
Menteri itu menyampaikan beberapa kata pembuka dan lalu memulai melakukan ritual yang biasa dilakukan sebelum meletakan Mahkota Kaisar di Kepala Putera Mahkota.
Ritual tersebut berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit. Putera Mahkota Wu Jian segera berdiri di ikuti oleh seluruh orang dan rakyat yang menyaksikan hal tersebut.
Mereka yang berada di podium segera berbalik menghadap ke arah singgasana. Di depan singgasana tersebut, Putera Mahkota Wu Jian tampak berlutut, dihadapan sang pembawa acara.
Sesaat kemudian seorang pelayan membawa baki yang diatasnya terletak sebuah mahkota yang terbuat dari bahan emas. Di samping Mahkota tersebut, terlihat sebuah lencana sebesar telapak tangan yang bertuliskan Kaisar Wu.
Putera Mahkota Wu Jian segera menundukkan kepalanya saat pria tua pembawa acara itu mengambil Mahkota Kaisar. Ia meletakan dengan hati hati Mahkota Kaisar di kepala Wu Jian yang kini telah resmi menjadi Kaisar.
Lalu Pria Tua tersebut mengambil lencana Kaisar dan menyerahkan kepada Kaisar baru yang menerimanya dengan kedua tangan.
Kaisar Wu Jian pun segera berdiri dan menghadap ke arah alun-alun seraya mengacungkan lencana di tangan kanannya. Seluruh orang yang berdiri kini berlutut kepada Sang Kaisar Baru.
Seiring dengan hal tersebut Kembang api pun dinyalakan sebagai tanda prosesi penobatan telah selesai yang kemudian akan dilanjutkan dengan pidato Kekaisaran untuk pertama kalinya. Seluruh orang yang hadir kembali duduk, namun tidak dengan mereka yang berada di sisi Utara dan sebagian di sisi Timur alun-alun.
Mereka justru mencabut senjata berupa pisau panjang yang mereka sembunyikan di balik jubah. Ribuan orang bergerak menyerang para prajurit yang sedang berlutut di tengah alun-alun itu.
Kegemparan pun terjadi, saat ribuan orang pendekar yang menjadi pengawal mulai bertarung dengan para prajurit, dan membunuhnya.
Sementara puluhan orang tampak bergerak ke arah podium. hendak menyerang mereka yang berada di sana. Namun suasana tiba-tiba menjadi hening saat Dua Aura mencekam memenuhi udara.
Prajurit muda di belakang Putera Mahkota yang tak lain adalah Yao Chan, segera melesat ke udara. Bersamaan dengan itu pelayan di belakang Tuan Puteri pun segera melompat ke udara dan mengeluarkan Cambuk dari Ruang hampa. Kedua nya melayang di udara dan memancarkan aura kekuatan yang sangat besar.
Puluhan orang yang bergerak ke arah podium itu pun berhenti dengan wajah takjub melihat dua orang sosok muda itu, melayang dan bersiap menyerang ke arah mereka.
Sementara tiga orang yang tadi berbincang-bincang terkejut menyaksikan hal tersebut. Dua orang kakek itupun menelan ludah mereka saat mendapati dua orang muda melayang dengan aura kekuatan yang tidak jauh berbeda dengan mereka.
...*****...