
Dua orang kakek itu segera melesat ke udara, namun mereka berhenti ketika melihat pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Yu Lian segera mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia begitu marah melihat situasi di bawahnya di mana pasukan Prajurit sedang mengalami pembantaian oleh para pendekar yang kemampuannya berada jauh diatas para prajurit.
Amarahnya menggelegak membuat Cambuk Naga Api ditanganya membesar dengan panjang hampir dua ratus meter karena aliran tenaga dalam Yu Lian yang membesar. Sementara Yao Chan tersenyum tipis melihat amarah di wajah adik seperguruannya itu
Yu Lian segera mengerahkan cambuk itu untuk membelah kedua pihak yang sedang bertarung. Serangan Yu Lian membuat para prajurit melompat mundur dan segera berlarian menjauhi arena pertempuran. Hal ini sesuai dengan yang direncanakan oleh Para petinggi di kemiliteran semalam.
Ribuan pendekar itu terkejut mendapati sebuah cambuk raksasa yang diselimuti api bergerak ke arah mereka yang sedang bertarung itu. Mereka melompat mundur beberapa meter dari cambuk itu berada.
Yu Lian memang sengaja memperlambat gerakan cambuknya agar mereka yang sedang bertarung bisa menghindarinya. Tujuannya adalah memisahkan para prajurit dari musuh mereka.
Ribuan prajurit bergerak mundur ke bagian selatan alun-alun mengawal para penduduk kota Wu Chan An yang berlarian meninggalkan Alun-alun Istana.
Kedua orang kakek yang melayang di udara itu tidak menyadari bahwa sesaat setelah dia bergerak ke udara, sepasang Kakek dan nenek yang mengawasi mereka dari belakang, dengan cepat melesat dan menotok Pria muda itu hingga tak bisa bergerak dan mengeluarkan suara.
Gerakan kedua pendekar tua itu begitu cepat, hingga dalam sesaat berhasil membawa Pria Muda yang menjadi otak dari penyerangan ini, membawanya ke sebuah tempat tersembunyi di bagian belakang tembok Alun-alun bagian Utara.
Mereka berdua segera memasukan Pria muda itu, kedalam sebuah ruangan dan kemudian menguncinya. Mereka berdua tersenyum tipis melihat ketakutan di wajah pria yang sepertinya seorang bangsawan itu.
Keduanya kembali ke alun-alun yang kini telah menjadi ajang pertempuran. Cara keduanya tiba di alun-alun dengan melayang membuat ratusan mata para pendekar yang menyerang menjadi gentar.
"Sejak kapan Iblis Gunung Cangyan menjadi budak istana Song? Berani sekali kalian membuat dan mengacau di Kekaisaran Wu!"
Kakek dan nenek yang tak lain adalah Guo Jin dan Xie Jia itu membentak kedua kakek yang mengawal Pria muda itu. Keduanya terkejut dan menelan ludah saat membalikan badan dan mengenali dua tokoh tua yang menjadi musuh bebuyutan mereka di masa lalu.
"Hahahaha, Guo Jin kau mengatakan kami budak istana Song, sedangkan dirimu sendiri pun begitu, menjadi budak istana Wu."
Salah seorang diantaranya membalas perkataan Guo Jin dengan mencibir kepadanya. Guo Jin tersenyum tipis mendengarnya.
Jia'er bantulah Lian'er dan yang lainnya membantai mereka semua, biar aku dan Chan'er yang menghadapi mereka berdua."
"Baiklah, berhati-hati lah menghadapinya kakek bau tanah"
Guo Jin tersenyum tipis mendengar ucapan Xie Jia yang terlihat masih mendongkol sejak semalam saat mereka mendapat bagian untuk menculik Pria yang diduga menjadi dalang jika nanti terjadi penyerangan.
Xie Jia tak bisa menolak karena hanya ia yang mengenali pria tersebut. Hanya saja harus bekerja sama dengan Guo Jin membuatnya kesal. Apalagi Yao Chan si Cucu tengilnya itu terus menggodanya.
Perlahan-lahan Xie Jia bergerak melayang turun menghampiri para pendekar yang terlihat sedang kebingungan itu. Para pendekar tidak menduga bahwa para prajurit yang akan mereka lawan justru melarikan diri.
Mereka ingin mengejar para prajurit tersebut, namun Cambuk Api sepanjang dua ratus meter menghalangi langkah mereka. Api yang menyala di cambuk itu seolah menjadi benteng bagi para prajurit yang kini telah tidak terlihat lagi di sisi alun-alun sebelah selatan.
"Jangan diam saja, Habisi mereka yang ada di podium itu dan habisi nenek peot itu sekalian!!!"
Salah seorang dari Dua Iblis Gung Cangyan itu berteriak dengan mengerahkan tenaga dalamnya.
Ribuan Pendekar pun mulai bergerak ke arah podium, sebagian yang lain mulai mengepung Xie Jia yang telah turun dan memegang tongkatnya. Xie Jia berteriak sesaat sebelum akhirnya Tongkat di tangannya hancur, namun sesuatu berada di dalam tongkat tersebut.
Sebuah pedang beraura Ungu, kini terlihat dalam genggaman tangan Xie Jia.
"Pedang Bunga Ungu!!"
"Jadi kalian mengenali pedangku? Baguslah jika begitu, tentu kalian sudah tahu bagaimana kehebatannya bukan?"
Selesai berkata demikian, Xie Jia menebaskan secara mendatar pedang Bunga Ungu ke udara di hadapannya. Seberkas sinar Ungu sepanjang belasan meter melesat dengan cepat dari pedang tersebut.
Lawan-lawannya yang berteriak tadi telah mengetahui kehebatan Pedang Bunga Ungu di tangan Xie Jia. Mereka pun segera melompat ke udara menghindari energi pedang itu.
Namun naas bagi beberapa pendekar di bagian belakang, mereka tidak sempat menghindar dari serangan yang cepat tersebut.
Tubuh puluhan pendekar di tingkat pendekar Bergelar itu tumbang dengan tubuh terpotong akibat sambaran energi pedang Xie Jia.
Belasan pendekar tingkat Raja bergerak menyerang Xie Jia yang tersenyum tipis setelah melihat Guo Jin mulai bertarung dengan lawannya.
Xie Jia maju menapak serangan belasan pendekar Raja yang menyerangnya pertukaran jurus pun mulai terjadi pada pertarungan yang tak seimbang dalam jumlah tersebut.
Namun secara kekuatan pertarungan tersebut bisa di bilang berimbang walau Xie Jia terlihat lebih mendominasi jalannya pertarungan itu.
Sementara itu, ribuan pendekar yang berada di sisi Utara, bergerak menyerang ke arah podium dimana Kaisar Wu Jian dan Puteri Wu Mei berada. Mereka berdua bersama para menteri lain dilindungi oleh Yu Ma dan Lin Yung.
Para menteri pun di lindungi oleh para pengawalnya. Sebelumnya sudah sejak sepuluh hari yang lalu, mereka menyewa seorang Pendekar Raja dari beberapa sekte aliran putih untuk menjadi pengawalnya.
"Lian'er jangan lengah, hadang mereka yang hendak menyerang Podium!"
Teriakan Yao Chan yang sedang bertarung imbang dengan Salah satu Dari Dua Iblis Gunung Cangyan itu, membuat Yu Lian tersentak.
Saat itu ia sedang memperhatikan pertarungan Nenek Xie Jia yang dikeroyok puluhan lawannya. Mendengar teriakan Yao Chan, Yu Lian segera mengangkat kembali Cambuk Naga Api yang ia jadikan penghalang tadi.
Yu Lian mengerutkan dahinya, ia terlihat kesal saat mendapati ribuan orang bergerak ke tempat di mana Ayahnya berada. Yu Lian segera melesat dan menghadang mereka di udara pada ketinggian lima meter dari tanah.
Yu Lian pun segera mengubah ukuran panjang Cambuk Naga Api menjadi seperempat dari sebelumnya. Dengan ukuran yang lebih pendek tersebut, dengan mudah Yu Lian melecutkan Cambuk Naga Api dengan cepat.
Whuutss !!!
BUUMMM!!!!
AAARRGGGGH.
AAARRGGGGH
Suara jeritan silih berganti saat Cambuk Naga Api menghantam kerumunan pendekar yang hendak menyerang Podium. Tubuh ratusan orang tergeletak dengan satu serangan Yu Lian yang begitu cepat dan kuat itu.
...*****...
...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....
...Terimakasih...