Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
182: Yao Chan dalam Situasi Sulit


"Matilah kalian!"


Seraya berteriak demikian, Dewa Racun Barat mengangkat kedua tangannya saat melihat bagian terdepan dari kelompok itu hanya berjarak lima meter lagi dari ujung jalan sempit.


duar duar duar


Terdengar letusan sebanyak puluhan kali sesaat setelah Dewa Racun Barat mengangkat kedua tangannya.


Jalan sempit itu kini dipenuhi oleh asap berwarna Hijau yang mengandung racun sangat mematikan hasil racikannya sendiri.


Erangan kematian silih berganti bagaikan dengungan ribuan lebah madu, saat lebih dari dua ribu orang itu, meregang nyawa karena Menghisap Racun Hijau Dewa Racun Barat.


Beberapa Detik kemudian dua orang terlihat melesat keluar dari gumpalan Asap Hijau yang memiliki panjang seratus meter lebih dan lebarnya yang mencapai sepuluh meter.


Kedua Orang yang ternyata dua orang Kakek itu, langsung duduk saat telah memijak tanah. Keduanya terlihat sedang bermeditasi untuk menetralisir Racun yang masuk melalui pori-pori kulit keriput mereka.


Dewa Racun Barat segera melesat ke arah mereka berdua. Dalam hitungan kurang dari enam detik, ia telah tiba di hadapan dua orang kakek itu.


Menyadari ada seseorang yang datang, dua orang Kakek itu segera membuka mata mereka yang kemudian melotot lebar saat mengenali sosok di hadapannya.


"Kurang Ajar Kau Dewa Racun ... Uhuk ..Uhuk "


Salah satu Ketua Sekte itu memaki Dewa Racun Barat namun belum selesai ia berkata-kata, racun dalam tubuhnya telah memasuki jalur pernafasannya sehingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Enak Saja Kau mengganti julukan ku jadi Dewa Racun Uhuk-Uhuk. Mati sajalah kau!"


Dewa Racun Barat geram sekaligus geli mendengar perkataan Kakek yang kulitnya perlahan berubah menjadi kehijauan itu.


Ia pun mengibaskan tangannya dan dari telapak tangan itu, melesat selarik sinar Hijau yang menghantam dada Kakek itu yang membuatnya mati seketika.


Ketua Sekte lainnya yang masih duduk bermeditasi, segera membuka matanya dan ia terkejut mendapati rekannya telah tewas dengan seluruh kulit tubuhnya menghijau.


"Bunuhlah aku, Racun mu sangat hebat sesuai dengan julukan mu sebagai Dewa Racun dari Barat."


Ketua Sekte itu terlihat pasrah saat menyadari bahwa racun yang masuk ke dalam tubuhnya gagal ia netralisir karena begitu kuatnya.


"Terimakasih karena telah memuji ku, kuberikan hadiah bagus untuk mu yaitu kematian yang sangat cepat dan tidak menyakitkan, terimalah!"


Selepas berkata demikian Dewa Racun Barat mengibaskan tangannya ke arah Kakek yang tersenyum menerima kematiannya.


"Sepertinya ia senang dengan hadiah dariku, baguslah akhirnya aku bisa membahagiakan orang sebelum dia mati."


Dewa Racun Barat menghela nafas panjang sambil menatap Kabut Racun hijaunya yang perlahan memudar tertiup angin yang berhembus menjauhi kota.


Setelah kabut itu menghilang, terlihat lebih dari seribu orang yang hendak mengacau di kota Beiping itu, tergeletak menjadi mayat dengan kulit tubuh yang menghijau.


**


Yao Chan tiba dalam waktu kurang dari enam detik saat melesat untuk menghadang kelompok yang terdiri dari seribu orang lebih itu.


Dan ia pun tersenyum tipis saat mendapati dua orang Kakek yang memiliki kemampuan yang melebihi kemampuan Pendekar Suci Tahap Akhir.


Yao Chan sengaja melayang sepuluh meter dari Udara untuk bisa mengamati kekuatan kelompok tersebut. Ia berdecak kesal saat mendapati bahwa ribuan orang yang berada dibawahnya itu memiliki kekuatan pendekar Raja.


Kelompok itu berhenti saat seorang pemuda menghadang mereka di udara. Melihat hal itu, Dua orang Kakek yang merupakan pemimpin dari dua sekte aliran hitam terkuat di Kekaisaran Ming itu, segera melesat ke udara.


Keduanya berhenti dan melayang lima meter dihadapan Yao Chan. Mata mereka terlihat takjub mendapati seorang pemuda belasan tahun, telah memiliki kemampuan yang tinggi.


"Kakak Liang Hu.. Sepertinya ia memiliki kemampuan yang menyamai guru kita, karena aku tidak bisa mengukur tingkat kekuatannya."


Salah seorang dari kakek itu memanggil Kakak kepada seorang kakek lain yang menggunakan jubah berwarna merah gelap itu dengan jenggot putihnya yang panjang.


"Benar Adik Hong Qi ... Aku pun tidak bisa mengukur kekuatannya, tapi sepertinya ia tidak lebih kuat dari Guru, kita berdua pasti bisa mengalahkannya."


"Anak Muda siapa kau dan apa maksudmu menghadang kami dan dengan cara seperti ini?"


Hong Qi bertanya kepada Yao Chan yang masih tertegun mendengar percakapan kedua orang Kakek itu.


"Kekuatan ku telah berada di tingkat pendekar langit, jika guru mereka lebih kuat dari ku, apakah gurunya itu telah mencapai tingkat yang hanya dapat dicapai oleh orang yang berada di Dunia Kultiva?"


Berbagai pertanyaan mengisi benak Yao Chan tentang kekuatan sosok yang disebut guru oleh mereka berdua.


Kedua Kakek itu setidaknya seusia dengan Dewa Obat yang berusia seratus lima puluh tahun. Menilik dari usia kedua Kakek tersebut, usia Guru mereka setidaknya berada pada kisaran dua ratus tahun.


Hal itu membuat Yao Chan menyadari bahwa ia telah terlupa satu hal tentang sosok seorang manusia yang pernah memasuki Dunia Kultiva dan menjadi Kultivator yang bisa memiliki usia hingga seribu tahun.


Ia menjadi lebih bersemangat untuk bertemu dengan sosok yang menurut Zhu Long berasal dari Kekaisaran Ming. Sosok itu bernama Zeng Hu.


Yao Chan tersadar dari lamunannya saat mendengar Kakek bernama Hong Qi itu membentak keras padanya.


"Bocah! ... Apa kau tuli dan bisu hingga diam saja seperti itu. Jawab pertanyaan ku!"


Yao Chan hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Hong Qi.


"Aku tidak tuli dan bisu Kek, aku hanya sedang berpikir apakah guru yang kalian bilang tadi bernama Zeng Hu?"


Kedua Kakek itu terlihat terkejut hingga melebarkan matanya, menatap tajam Yao Chan dengan sebuah pertanyaan dibenak mereka.


Darimana Yao Chan mengetahui Nama Guru mereka yang berusia lebih dari dua ratus tahun itu? Sedangkan ia terlihat baru berusia belasan tahun saja.


"Anak muda siapa kau? dan apa hubunganmu dengan orang bernama Zhu Long itu? dan bagaimana Kau bisa mencapai tingkat Pendekar Langit?"


Kini Liang Hu yang berbicara dengan tatapan tajam mencoba memastikan dugaannya tentang tingkat kemampuan Yao Chan yang menurutnya telah berada di tingkat Pendekar Langit.


Pendekar langit adalah tingkat kekuatan yang hampir dicapai oleh gurunya saat sepuluh tahun lalu ia menemui sang guru di sebuah goa yang tersembunyi oleh dinding energi yang aneh.


"Jadi benar kalian murid si Zeng Hu, yang pernah terkencing-kencing melarikan diri dari Kakek Zhu Long hahahaha."


Yao Chan menyadari jika pertanyaannya terjawab dengan sendirinya, saat Kakek bernama Liang Hu itu menyebut nama kakek leluhurnya Zhu Long.


Liang Hu Hong Qi merasa geram mendengar perkataan Yao Chan yang menghina guru mereka.


"Kurang ajar kau bocah bau kencur busuk, akan ku robek mulut kotor mu itu!"


Hong Qi berteriak keras dan bersamaan dengan kakaknya Liang Hu, ia mengalirkan sejumlah besar qi ke seluruh tubuhnya membuat Udara berfluktuasi hebat.


Yao Chan tersenyum, karena berhasil memancing kemarahan mereka dengan menyebut guru kedua Kakek itu lari terkencing-kencing.


Namun senyumnya menghilang saat Aura energi qi yang besar merembes keluar dari tubuh kedua Kakek sesat itu.


"Pendekar setengah langit, sepertinya ini tidak semudah yang aku pikirkan untuk menumpas mereka. Aku harus mencari bantuan agar anak buah mereka tidak ..."


"Tetua Feng.. Kau pimpin mereka untuk menguasai Kota Nanjing itu, kami akan mengurus bocah ini terlebih dahulu."


Perkataan Liang Hu membuat Yao Chan yang sedang berpikir keras itu tersadar saat mendapati situasi lebih buruk saat menatap ke bawah.


Sosok yang dipanggil Tetua Feng adalah seorang Kakek yang mempunyai kekuatan di tingkat Pendekar Suci tahap Menengah.


Kakek Feng itu pun segera memberi komando kepada anggota kedua sekte itu agar segera bergerak menuju kota Nanjing.


Wajah Yao Chan semakin risau karena ia belum menemukan solusi terhadap situasi dihadapannya yang begitu sulit itu.


******