
Wajah Ratus Es Abadi yang semula sangat geram mendengar perkataan itu, seketika berubah dan senyum tipis pun menghiasi bibir keriputnya.
Ia pun memandang ke arah Ruang Khusus Nomor Satu dimana Yao Chan masih tertawa setelah mengejek Ye Mao.
Aura yang sangat kuat dan mencekam, tiba-tiba memenuhi ruangan itu bersama sosok seorang kakek yang melesat keluar dari Ruangan Nomor Empat.
Ratu Es Abadi menelan ludahnya saat menyadari kekuatan besar tersebut. Ia pun segera mengalirkan energi untuk melindungi cucunya yang berada di tingkat Pendekar Roh tahap akhir itu.
Kultivator di Tingkat Pendekar Langit dan Pendekar Roh, kini mengalami kesulitan untuk bernafas karena besarnya tekanan dari energi Ye Mao.
Sebagian dari mereka segera melesat keluar saat mengetahui siapa sosok pemilik kekuatan besar tersebut.
“Siapa yang berani menghinaku tadi! … Keluarlah!!”
Belum Sempat Ye Mao menyelesaikan kata-katanya, Ia terkesiap saat menyadari seseorang telah berada di belakangnya, tanpa Ia mengetahui kapan pemuda tersebut bergerak.
“Aku sudah di sini Tua Bangka Ye Mao.”
Yao Chan yang bergerak dengan jurus berpindah dalam sekejap dan berada di belakang Ye Mao, menjawab pertanyaan Kakek itu dengan santainya.
“Berani sekali kau mencampuri urusanku!”
Ye Mao segera berbalik dan membentak Yao Chan untuk menutupi kegusarannya. Ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini memiliki kemampuan yang tinggi.
“Nenek … Dia … Dia …”
Ratu Es Abadi terkejut mendengar suara cucunya yang terdengar terbata-bata dan terlihat mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yao Chan.
“Kenapa dengan Dia, Xia’er? Apa Kau mengenalnya?”
Dewi Es Suci yang bernama Ji Xia itu, seketika menggelengkan kepalanya. Ia pun terdiam saat menyadari telah terlepas kata.
Selama dua bulan terakhir, Jin Xia selalu bermimpi bertemu dengan Yao Chan.
Namun Ia tidak menceritakan tentang hal itu kepada Neneknya, karena Ia tidak mengenali pemuda tampan itu.
Ratu Es Abadi hanya mendengus pelan, Ia sangat tahu karakter cucunya tersebut. Jika telah diam, maka memaksanya pun akan sia-sia saja.
Nenek yang memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Dewa Level Enam itu, segera melesat ke udara dan berada di dekat Yao Chan dan Ye Mao berada.
“Tua Bangka Ye Mao, lagi-lagi kau mengacau di tempat ini. Apa kau sudah bosan Hidup Hah!”
Ratu Es Abadi membentak Ye Mao yang tengah berdebat dengan Yao Chan.
Mendengar perkataan Ratu Es Abadi, Ye Mao segera menyunggingkan senyum sinis.
Ia pun akan segera menanggapi perkataan Nenek tersebut, namun Suara Zhou Kin terdengar mendahuluinya.
“Tetua Ye Mao … Nyonya Ratu Es Abadi, Harap tenang. Bisakah kita berbicara dengan kepala dingin? Mari Kita keluar sejenak dari ruangan yang pengap ini.”
Ketua Zhou Kin yang berkata dengan tegas dan penuh wibawa itu, tidak membuat Ye Mao merasa gentar sedikitpun.
“Ketua Zhou Kin, Kau harusnya mengusir bocah ini, Ia yang memulai mencari masalah dengan ku!”
Ketua Zhou Kin menjadi serba salah karena pada kenyataannya, Yao Chan lah yang menjadi biang keributan itu.
Sementara Yao Chan hanya tertawa dalam hati mendengar perkataan Ye Mao itu. Ia memang sengaja mencari keributan setelah mendengar penjelasan Ketua Zhou Kin.
“Aku hanya meminta semua Kultivator untuk memberiku muka dengan tidak menawar harga tertinggi yang sudah Ku berikan, tapi perkataanmu tadi telah merendahkan Aku. Benar kata anak muda ini. Kau Tua Bangka bau tanah yang tak tahu malu, berani meminang seorang gadis berusia sembilan belas tahun.”
Kata-kata Ratu Es Abadi yang pedas itu membuat wajah Ye Mao mengelam. Ia pun akan bergerak untuk menampar Ratu Es Abadi yang terlihat telah waspada itu.
Keduanya menghilang dari ruang lelang tersebut. Para kultivator yang sebagian masih berada di dalam ruang lelang, segera melesat keluar untuk melihat pertarungan yang akan terjadi sesaat kemudian.
Sementara Ratu Es Abadi masih terlihat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tidak menduga jika seseorang bisa menghilang dari pandangan, tanpa melewati portal dimensi ruang.
“Ketua Kin … Apakah Anda mengenal pemuda tadi?”
“Iya … Pemuda itu bernama Yao Chan, Ia sangat kuat karena Ia manusia yang akan diangkat menjadi Dewa. Setidaknya itulah informasi yang kudapat dari Ketua Gong Xhun, Kakap Iparnya.”
“Apa?!! Menjadi Dewa!! …”
Ratu Es Abadi sangat terkejut mendengar hal itu, namun dalam hatinya Ia menyayangkan jika Yao Chan telah menjadi adik Ipar dari Ketua Gong Xhun.
“Sepertinya perempuan itu adalah isterinya, dan anak kecil itu pasti puteranya.”
Ratu Es Abadi berkata dalam benaknya saat melihat Ketua Gong Xhun menghampiri mereka bersama Gong Li dan Yao Shen.
“Salam Ratu Es Abadi … Bagai …”
Gong Xhun tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena terdengar sebuah ledakan keras dari ruang Khusus Nomor Empat.
“Kurang Ajar!! Apa maksudmu dengan menghancurkan ruangan kami, Ketua Chu Lung!”
“Hahahaha … Ketua Zhou Kin, apakah kau masih belum paham juga. Kedatangan kami kesini adalah untuk mengambil alih Paviliun Harta Kultiva darimu. Serahkanlah jika Kau masih ingin tetap hidup. Hahahaha !”
Perkataan sosok bernama Chu Lung yang menjawab perkataan Ketua Zhou Kin, mengejutkan mereka berempat.
Suasana kembali menjadi tegang, sesaat setelah terdengar suitan panjang. Puluhan Kultivator berkemampuan tinggi, terlihat melesat memasuki Ruang Lelang.
Ketua Zhou Kin mengerutkan dahinya, saat menyadari Paviliun Harta Kultiva telah di serang oleh Klan Kipas Dewa Angin.
Sesaat kemudian terdengar suara riuhnya pertarungan di luar bangunan paviliun besar itu.
“Kau! … Lancang sekali Kau!!”
Ketua Zhou Kin menjadi murka. Ia pun mengerahkan Seluruh kekuatannya secara tiba-tiba.
Aura Pendekar Dewa Level Tujuh segera memancar dari tubuh Ketua Zhou Kin. Hal itu membuat tekanan udara menjadi berat.
Gong Li segera membawa Yao Shen untuk menjauhi tempat tersebut.
Sosok yang dipanggil Ketua Chu Lung itu, menelan ludahnya, Ia tidak menduga bahwa kekuatan Ketua Zhou Kin, kini telah satu level diatasnya.
Ketua Chu Lung pun segera memberi tanda dengan tangan kirinya, entah kepada siapa Ia memberikan tanda tersebut.
Sementara Gong Xhun dan Ratu Es Abadi segera bersiap, saat menyadari dari ruang nomor empat yang telah hancur pintunya itu, melesat keluar dua orang lain yang memiliki kemampuan setara dengan mereka.
Dua orang yang datang mendekat itu, membuat wajah ketua Gong Xhun dan Ratu Es Abadi menjadi buruk.
Mereka tidak menduga jika dua orang ketua Klan dari dua benua yang berbeda, terlibat dalam penyerangan kali ini.
“Xia’er pergilah bersama adik ketua Gong, dan lindungi dirimu.”
Ratu Es Abadi berkata kepada cucunya yang tengah bersiap untuk bertarung bersama pihak Paviliun Harta Kultiva.
Mendengar perintah Neneknya itu, Ji Xia pun segera melesat ke arah Gong Li yang terlihat menantinya.
*****