
Dua hari setelah penyerangan Klan Golok Batu Baja, Yao Chan terlihat sedang santai dengan secangkir teh dan duduk di beranda belakang sebuah bangunan yang megah.
Ia menghela nafas panjang saat mengingat begitu banyak beban yang berada di pundaknya saat ini.
Klan Golok Batu Baja memang telah di taklukan, namun bukan berarti tidak ada lagi kekacauan yang akan terjadi.
Ketenangan ini adalah sesuatu yang hanya sementara dan sesaat saja. Sebelum datang kekacauan besar yang membuat tanah di banjiri oleh darah.
“Chan Gege … Ayo kita berangkat, Xhun Gege sudah menunggu kita.”
Suara gong Li yang telah berdandan sangat cantik membuat Yao Chan menatapnya dengan lekat.
“Aih … Maaf .. Aku hampir lupa.”
Yao Chan segera berdiri, menyadari terlupa akan menemani Gong Li ke sebuah tempat yang masih dirahasiakan oleh isterinya itu.
“Sebenarnya kita hendak kemana Li’er?”
Gong Xhun bertanya kepada Adiknya saat mereka bertiga telah sampai di depannya. Yao Shen terlihat senang saat mengetahui mereka akan berkunjung ke sebuah kota.
“Nanti Kakak juga tahu sendiri, yang pasti aku ingin mengajak Shen’er untuk melihat-lihat suasana kota Anmei.”
Gong Li menjawab seraya memandang Serigala Angin dan Serigala Petir yang tengah berlari ke arah mereka.
“Kota Anmei? Apakah kau akan ke …”
Gong Xhun tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat adiknya itu meletakkan jari di tengah bibirnya.
Sementara Yao Chan terlihat tidak perduli dengan tempat yang ingin dikunjungi oleh Isterinya itu.
Serigala Angin segera membesarkan tubuhnya hingga setinggi tiga puluh meter. Hal itu membuat seluruh Anggota Klan Pedang Suci yang berada ditempat itu, ternganga takjub.
Yao Shen yang ingin menaiki Serigala Petir segera meminta Serigala itu untuk membesarkan tubuhnya setinggi Serigala Angin.
Akhirnya mereka pun berangkat dengan Yao Chan dan Gong Li menaiki Serigala Angin. Sementara Gong Xhun memilih bersama Yao Shen menaiki Serigala Petir.
Kedua Hewan Dewa itu melesat cepat di udara seolah berlari di atas tanah. Dengan Kecepatan yang dimiliki oleh kedua serigala itu, mereka telah tiba di kota Anmei dalam waktu kurang dari satu jam saja.
Keduanya turun saat jarak mereka hanya terpaut dua ratus meter dari Gerbang Kota terbesar di Benua Awan Biru itu yang di jaga oleh puluhan prajurit.
Serigala Angin dan Serigala Petir, keduanya memutuskan untuk tidak ikut memasuki Kota tersebut. Mereka memilih untuk beristirahat sembari berburu di sebuah Hutan
Saat hendak memasuki Gerbang Kota itu, Gong Xhun segera menunjukkan identitas miliknya yang membuat para prajurit segera memberi hormat kepadanya.
“Paman hebat sekali … Para prajurit itu membungkuk semua kepada Paman.”
Yao Shen berceloteh saat melihat hal tersebut, sementara Yao Chan memahami bahwa Kakak Iparnya itu, memiliki nama besar yang di segani di kota Anmei ini.
Hal itu terlihat ketika mereka tiba di sebuah bangunan megah yang sangat besar dan bertuliskan PAVILIUN HARTA KULTIVA.
“Jadi kesini rupanya tujuanmu. Apa kau ingin membeli sumberdaya?”
Gong Xhun bertanya kepada Gong Li yang menggelengkan kepalanya, Ia tersenyum dan akan menjawab pertanyaan sang kakak. Namun sesosok Pria yang terlihat sebaya dengan Gong Xhun telah mendahuluinya.
“Ketua Xhun … Selamat Datang di paviliun kami. Kabar Anda baik-baik saja bukan?”
Pria tersebut memberi hormat kepada Gong Xhun yang segera dibalas oleh Paman Yao Shen tersebut.
“Ketua Zhou Kin … Kabarku baik-baik saja, bagaimana dengan Anda?”
“Aku pun baik-baik saja. Siapakah Tuan dan Nyonya ini? Ah … Anak tampan … Siapa namamu?”
“Namaku Yao Shen Paman…”
Lelaki yang di panggil Zhou Kin itu tersenyum. Ia merasa kagum terhadap kemampuan yang dimiliki oleh Yao Shen, saat Ia menyentuh pundak bocah itu.
Dalam benaknya Ia bertanya-tanya siapa Yao Chan sebenarnya, karena Ia tidak bisa mengukur kekuatan yang dimiliki oleh lelaki tersebut.
Semua mata pekerja yang tadi menatap heran saat melihat Zhou Kin terburu-buru menuju Pintu Utama, kini memaklumi apa yang membuat Ketua Paviliun Harta Kultiva itu bersikap demikian.
Mereka segera memberi hormat kepada Gong Xhun yang merupakan sahabat baik Ketua organisasi mereka itu.
Yao Chan berjalan seraya mengamati ruangan megah itu, Ia tidak menduga bahwa terdapat organisasi yang memiliki bangunan yang jauh lebih megah dari Istana Kekaisaran Wu itu.
Setiap pelayan yang bekerja di tempat itu, setidaknya adalah pendekar Suci tahap Akhir dan Pendekar Roh tahap awal dan menengah.
“Sebuah organisasi dagang yang kuat, jauh diluar perkiraanku.”
Yao Chan berkata demikian hanya dalam benaknya saja. Ia pernah mendengar tentang Paviliun ini dalam kehidupannya terdahulu. Hanya saja tidak menduga bahwa organisasi ini sangatlah kaya.
“Silakan duduk … “
Akhirnya mereka sampai di ruangan kerja Ketua Zhou Kin yang besar dan tertata dengan rapi itu.
“Maaf mengganggu anda Ketua Kin, kedatangan Kami kemari adalah untuk menanyakan apakah organisasi anda bersedia membeli Buah Apel ini?”
Gong Li berkata seraya mengeluarkan lima buah Apel yang mengeluarkan aroma khas dan Aura yang kuat hingga membuat Ketua Zhou Kin berdiri dari duduknya.
“Apel Dewa! … Tentu saja!”
Wajah Ketua Kin menjadi berbinar saat memastikan bahwa buah Apel itu adalah benar Apel Dewa yang sangat langka.
Sementara Gong Xhun tercekat, Ia tidak menduga bahwa Adiknya itu masih memiliki Buah Apel yang langka dan mahal itu.
Ia pun tiba-tiba saja menyayangkan apa yang dilakukan oleh Gong Li. Ingin rasanya Ia berkata bahwa dirinya saja yang akan membeli buah Apel itu.
Yao Chan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya memandang Kakak Iparnya yang terlihat gelisah dan terus memandang buah di tangan Gong Li.
Akhirnya Ia tahu bahwa Kakak Iparnya itu, menyayangkan tindakan Gong Li yang menjual Buah Apel Dewa itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Yao Chan tersenyum, Ia pun ingin mengerjai Kakak Iparnya dengan menjual secawan besar Air Hijau dari Guci Dewa Air.
“Nyonya … aku akan membeli Apel ini satu Juta Batu Roh per buahnya, Apakah anda setuju dengan harga tersebut.”
Ketua Zhou Kin langsung memberikan harga tinggi kepada Gong Li. Mendengar harga yang sesuai dengan harapannya itu, Gong Li pun segera menyetujuinya.
Tubuh Gong Xhun pun terasa lemas, Ketua Klan Pedang Suci itu berharap, transaksi itu batal dan Ia pun berkesempatan untuk memiliki Buah Apel Dewa itu.
“Ketua Qin … Apakah anda berminat dengan Air Hijau dari Guci Dewa Air ini?”
“APA!!! Air Suci Dewa Air!”
Zhou Kin dan Gong Xhun nyaris saja terlompat dari tempat duduknya saat Yao Chan berkata demikian dan mengeluarkan secawan Air berwarna Hijau dari gelang Ruang Dimensinya.
Udara ruangan itu seketika dipenuhi oleh aroma yang menyegarkan, membuat Gong Xhun dan Ketua Zhou Kin memejamkan mata dan menghirup nafas panjang.
Mereka merasakan kesegaran mengalir ke dalam tubuhnya, sementara Yao Shen terlihat heran melihat hal itu.
“Bunda … mengapa Paman terkejut melihat air hijau itu. Aku lho sudah bosan minum Air yang tidak ada rasanya itu.”
Perkataan Yao Shen membuat mata Gong Xhun dan Ketua Zhou Kin melotot lebar. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Namun menyadari kekuatan besar yang dimiliki oleh bocah itu, tak ada alasan untuk meragukan kebenaran kata-katanya.
“Tuan Muda … Siapakah Anda sebenarnya? Air Suci Dewa Air ini sangatlah langka, bahkan ku pikir kebenarannya hanya mitos belaka. Bagaimana anda bisa memilikinya”
Ketua Zhou Kin bertanya kepada Yao Chan dengan mata yang menatap tajam kepada pria muda itu.
Suasana menjadi hening sesaat setelah Ketua Zhou Kin mengeluarkan pertanyaan tersebut kepada Yao Chan.
Yao Chan ingin menjawab, namun Ia mendengar suara Serigala Angin yang segera memintanya untuk segera datang ke hutan tempat mereka berada.
*****