Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
082: Menghadapi Raja Pisau Perak


Delapan orang dilumpuhkan oleh Yao Chan dalam dua kali serangannya. Dua orang tewas mengenaskan dengan tubuh yang terpotong, sementara enam orang lainnya, tergeletak dengan dua kaki yang buntung.


Empat dari enam orang yang buntung kakinya, telah tak sadarkan diri, karena darah yang terus keluar dari luka di kakinya tersebut. Kondisi mereka membuat suasana di ruangan itu semakin mencekam.


"Kau...Kau benar-benar manusia kejam!"


Raja Pisau Perak meledak amarahnya melihat Pasukan Elit yang ia andalkan satu persatu tumbang di tangan seorang pemuda yang terlihat polos dan berwajah tampan itu.


"Manusia kejam? Eeh Tua Bangka jelek keriput, kau bukan hanya pikun tapi ternyata juga tukang fitnah. Apa kau lupa dengan profesi mu heh..!"


Yao Chan tentu saja tidak terima dikatakan kejam oleh orang yang berprofesi sebagai Pembunuh Bayaran. Hanya saja akhir-akhir ini Yao Chan merasa dirinya memang berubah menjadi kejam.


Sementara itu dua belas orang Pembunuh Elit dari Kelompok Pembunuh Pisau Perak, benar-benar terguncang hatinya.


Tidak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya akan berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kekejaman bagaikan serigala lapar.


"Ketua bantu kami membalaskan kematian saudara-saudara kita."


Salah seorang dari Pembunuh Elit itu, akhirnya meminta Raja Pisau Perak untuk turun tangan membantu.mereka.


"Baiklah.. saatnya memberi minum Pisau Perak Pusaka warisan guruku ini, sudah sejak lama ia tidak.meminum darah manusia."


Raja Pisau Perak mengeluarkan sebuah Pisau dari balik jubahnya. Pisau yang memiliki gagang berwarna perak itu, langsung ia keluarkan dari sarungnya. Seketika itu juga Aura Kematian merembes memenuhi udara di dalam ruangan.


Beberapa mata menatap takjub kearah pisau pusaka itu. Mereka pernah melihat kehebatan Pusaka Pisau Perak tersebut. Kini mereka menatap Yao Chan dengan tatapan penuh rasa iba.


Yao Chan mengerutkan dahinya melihat pusaka tersebut, namun ia lebih heran melihat beberapa orang menatap iba padanya.


"Anak muda, kasihan sekali dirimu, kau harusnya bisa bersenang-senang bersama banyak gadis dengan wajah tampan mu itu. Sayangnya kau harus mati oleh Pusaka Raja Kami."


Perkataan salah seorang yang menatap Yao Chan dengan iba itu, menjawab pertanyaan di benak Yao Chan.


"Ooo jadi begitu alasan kalian memandang iba padaku. Sebenarnya aku juga iba kepada kebodohan kalian. Kakek tua, jelek, keriput, pikun pula, kalian sebut sebagai Raja.. mmmpph."


Yao Chan tertawa tertahan karena tiba-tiba merasakan Aura membunuh terarah kuat kepada dirinya. Yao Chan menatap Raja Pisau Perak yang entah kenapa wajah tua dan keriput itu, kini terlihat begitu murka.


"Bocah!! sedari tadi kau terus menghina diriku, jangan salahkan aku jika tubuhmu tercabik-cabik oleh Pisau Pusaka ku ini"


Raja Pisau Perak tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata menyerang Yao Chan dengan hebat. Namun Yao Chan telah bersiaga sesaat setelah merasakan Aura membunuh yang kuat dari pria sepuh itu.


Trang Trank Trank


Benturan dua Pusaka itu, menimbulkan suara nyaring di malam yang rupanya telah berganti pagi. Yao Chan beberapa kali terpaksa melayang ke udara untuk menghindari sabetan maupun tusukan dari Raja Pisau Perak.


Pertukaran serangan terus berlangsung hingga hampir seratus jurus. Para Pembunuh Elit yang awalnya merasa antusias bahwa Raja mereka bisa menghabisi Yao Chan, kini mulai terlihat pesimis.


Yao Chan bukan saja bisa menghindari serangan dari jurus terkuat milik Raja Pisau Perak, bahkan ia telah memberikan luka di beberapa bagian tubuh pemimpin mereka.


Hal ini membuat Raja Pisau Perak meradang, ingin rasanya ia menguliti dan menyobek-nyobek mulut tajam pemuda yang ia akui adalah lawan terkuat yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya.


"Kalian kenapa diam saja, cepat bantu aku!!"


Raja Pisau Perak meneriaki para Pembunuh Elit itu dengan gusar. Mendengar teriakan itu, dua belas Pembunuh Elit secara bersamaan bergerak menyerang Yao Chan.


Melihat hal itu, Yao Chan pun kembali menggunakan Jurus Murka Dewa Pedang. Jurus dari Teknik Dewa Perang ini, menitikberatkan serangan dengan Tusukan dan tebasan yang dilakukan dengan sangat cepat.


Dentingan suara senjata yang beradu menghiasi suasana di lembah yang dingin itu. Posisi dalam pertarungan kini berbalik, Yao Chan mulai terlihat terdesak akibat gempuran Raja Pisau Perak yang dibantu oleh para Pembunuh Elit.


Yao Chan belum berhasil membunuh satupun diantara lawannya. Tusukan dan tebasan pedangnya yang cepat, hanya mampu memberikan luka yang ringan. Kekompakan para Pembunuh Elit dalam bertahan dan menyerang secara bergantian sulit ditembus oleh Yao Chan.


Yao Chan terlihat sedikit kesal saat menyadari jubah birunya sobek di beberapa bagian. Ia pun melompat ke udara dan melayang hingga punggungnya menyentuh atap rumah.


"Sepertinya harus ku gunakan teknik Perisai Zirah Naga dan Teknik Murka Jiwa Pedang secara bersamaan. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat, dan kembali ke rumah Kakek"


Setelah berkata demikian dalam hatinya, Yao Chan segera mengalirkan tenaganya ke dalam Zirah Sisik Naga Emas. Perlahan kulit tubuh Yao Chan berubah, timbul sisik-sisik besar berwarna keemasan di sekujur tubuhnya hingga ke wajahnya.


Raja Pisau Perak dan yang lainnya, mengerutkan dahinya melihat kondisi tubuh Yao Chan yang kulit tubuhnya telah berubah menjadi kuning keemasan.


Belum pernah mereka melihat teknik yang seperti itu, sehingga membuat mereka menjadi lebih waspada.


Yao Chan tersenyum yang kini terlihat menyeramkan di mata para lawannya. Beberapa diantarnya bahkan merasakan rasa gentar menyelimuti hatinya.


"Tua bangka jelek, keriput dan pikun, aku tidak ingin membuat roh kalian gentayangan, jadi perkenalkan namaku Yao Chan dan sampaikan salam ku kepada Raja Akhirat."


Sesaat setelah berkata demikian, Yao Chan melesat secepat kilat dengan langkah Dewa Angin. Tubuhnya seolah menghilang dari pandangan lawannya dan dalam sekejap telah berada di tengah-tengah mereka.


Keterkejutan para Pembunuh Elit, dimanfaatkan dengan cepat oleh Yao Chan, ia menebaskan Pedang Dewa Perang dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.


Tiga orang yang terdekat dengannya meregang nyawa dengan leher yang hampir putus. Sementara dua orang terluka cukup dalam di bagian dadanya karena sempat bergerak mundur. Namun serangan susulan berupa tusukan menancap di dadanya hingga menembus punggung.


Yao Chan tidak memberi jeda kepada lawannya, ia kembali mengamuk dengan Pedang Dewa Perang ditangannya yang tak berhenti mengambil nyawa lawannya.


Kini kini hanya tersisa lima orang saja dari dua puluh Pembunuh Elit Kelompok Pisau Pisau Perak Yang wajah mereka kini seputih kapas.


Mereka bukan tidak bisa mendaratkan serangan kepada Yao Chan yang sengaja membuka celah agar mereka menyerang tubuhnya. Tusukan maupun tebasan pisau mereka, seolah bertemu dengan besi saat menyentuh kulit tubuh Yao Chan.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih....