
Tanda tanya di benak Tetua Ma Hua dan di benak mereka yang berpihak pada Sekte Lembah Dewa saat melihat sikap panik Yao Chan, terjawab saat ledakan besar itu terjadi.
Ledakan besar yang menghasilkan Gelombang energi yang kuat dan panas itu, menerpa juga ke arah mereka dengan sangat cepat dan kuat.
Beruntungnya, Yao Chan telah mengantisipasi hal tersebut dengan membuat Dinding perisai dari qi yang ia miliki. Sehingga mereka tidak terkena terpaan Gelombang energi panas yang dahsyat tersebut.
Mata mereka melotot lebar saat melihat Dinding perisai yang dibuat oleh Xian Mey mengalami keretakan di berbagai tempat saat gelombang energi panas tersebut menerpanya.
"Bodoh ... Benar-benar bodoh kau Chan'er ..!"
Yao Chan mengumpat keras kepada sosok tubuh palsunya yang kini telah sirna dari pandangan mereka.
Semua yang mendengar perkataan Yao Chan itu, hanya tersenyum kecut, sejauh ini mereka belum mengetahui jurus apa dan bagaimana cara Yao Chan membuat duplikat dirinya.
Yang pasti mereka berterimakasih karena Yao Chan yang telah menyelamatkan mereka, sehingga tidak harus mengalami hal seperti yang dialami oleh Iblis Hitam saat ini.
Jika saja mereka mengetahui bahwa yang Yao Chan lakukan dengan membuat duplikat dirinya itu dari perubahan energi qi yang sewaktu-waktu bisa meledak, mungkin mereka akan memarahinya karena telah membahayakan keselamatan mereka.
Dari jarak seratus meter lebih, mereka bisa melihat Jubah di tubuh Song He yang tubuhnya dirasuki Iblis Hitam, terbakar habis dan menyisakan pakaian lapis ke duanya yang juga terlihat compang camping akibat ledakan itu.
"Chan Gege ... Sepertinya mereka merencanakan sesuatu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya ya ? Ah itu!... Gerbang Sihir Pemindah Ruang! Chan Gege mereka akan kabur dengan ..."
Xian Mey yang mulanya bertanya dengan suara pelan kepada Yao Chan, menjadi berteriak saat melihat Peri Hitam membuat Gerbang Sihir Pemindah Ruang yang bisa membuat mereka berpindah tempat sangat jauh dan dengan sangat cepat.
Xian Mey ingin memberitahu Yao Chan, namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Tubuh Yao Chan telah menghilang dari pandangan dan menyisakan keterkejutan luar biasa bagi mereka.
Hal itu dikarenakan sedetik kemudian Yao Chan terlihat sudah berada hampir seratus meter dari mereka lalu menghadang Iblis Merah yang sedang melayang ke arah Peri Hitam.
Kemunculan Sosok Yao Chan dihadapannya yang secara tiba-tiba, membuat Iblis Merah terkejut bukan kepalang. Jantungnya pun seketika berdegup kencang.
Punggungnya pun terasa dingin saat melihat pemuda tersebut menyeringai sambil mengeluarkan Pedang Dewa Perang yang terlihat olehnya seolah muncul dari Ruang hampa.
"Mau kemana kau Iblis Merah, kau pikir bisa pergi semau mu saja."
Yao Chan berkata seraya menebaskan Pedang ditangannya dengan cepat dan kuat, Iblis Merah pun menangkis tebasan ke arah tangannya itu dengan wajah yang terlihat memucat.
"Peri Hitam, cepat bantu aku!"
Iblis Merah yang merasa jerih kepada Yao Chan sudah terdesak ketika pertarungan baru saja memasuki belasan jurus.
Teriakannya kepada Peri Hitam untuk meminta bantuan, bukannya membuat wanita itu membantunya, Peri Hitam malah berlaku yang sebaliknya.
Peri Hitam yang menyadari kekuatan Yao Chan merasa akan sia-sia saja jika ia membantu Iblis Merah, karena kekuatan yang ia miliki jauh dibawah kekuatan pemuda tersebut.
Ia pun bergegas melesat memasuki Gerbang Sihir Pemindah Ruang, untuk menyusul Iblis Hitam dan lainnya. Tanpa ia duga Yao Chan melepaskan serangan tapak menggunakan energi qi nya tepat setelah tubuhnya melewati gerbang.
Yao Chan berdecak kesal karena merasa sedikit terlambat untuk membekukan Gerbang Sihir tersebut dengan Jurus Tapak Naga Es.
Energi qi dari tapaknya menghantam Gerbang Sihir tersebut saat garis tengah lingkarannya tinggal setengah meter lagi.
Serangan Tapak Naga Es Itu membuat Peri Hitam terluka cukup parah namun begitu dengan bersusah payah, Peri Hitam berhasil menutup Gerbang Sihir Pemindah Ruang dan membuatnya hilang dari pandangan Yao Chan.
Yao Chan yang kesal segera memperkuat serangannya kepada Iblis Merah yang kini wajahnya telah memucat parah walau tidak seputih kapas seperti umumnya orang ketakutan.
Walau kekuatan jurus tombak Xun Chang meningkat pesat dengan menggunakan Energi Iblisnya, namun masih belum membuatnya lepas dari bahaya menghadapi jurus Murka Jiwa Pedang yang Yao Chan gunakan.
Saat melihat gerakan cepat disertai tebasan kuat yang seperti mengarah ke lehernya, Iblis Merah segera menggerakan Tombak pusakanya ke depan dada untuk menangkis pedang itu. Namun ia terkesiap saat pedang Yao Chan berubah arah dengan cepat.
CRAAASSSH
Aaarrrgggggghhhhh
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Xun Chang yang telah kembali kesadarannya sesaat setelah Tombak Iblis Merah terlepas dari tubuhnya bersama tangan yang telah putus tertebas Pedang Dewa Perang.
Roh Iblis Merah melesat sangat cepat memasuki tombak pusakanya seolah ditarik kekuatan yang sangat besar saat tangan yang memegang tombak itu putus tertebas pedang.
Yao Chan segera menyambar potongan tangan yang masih menggenggam pedang tersebut, lalu memasukannya dengan cepat ke dalam Gelang Ruang Dimensinya.
Ia pun tersenyum tipis, saat menyadari baru tiga dari lima Pusaka Iblis yang berhasil ia amankan dan tersegel dan Gelang Ruang Dimensinya.
Pandangannya pun segera beralih ke arah Xun Chang yang kini wajahnya memucat karena tangan kanannya telah putus. Yao Chan pun menghampiri Pendekar tua dari Song itu.
""Pendekar Chan ... tunggu ... Biarkan aku yang mengurusnya."
Beberapa saat kemudian, Sosok Gui Han yang telah memiliki kesadarannya kembali, datang menghampiri mereka berdua.
"Kakek Han, masalah ini ku serahkan kepada mu, karena engkaulah yang lebih berhak memutuskan hukuman apa yang tepat baginya yang telah berkhianat pada jalan kebenaran."
Yao Chan lalu dan mengalihkan pandangannya pada tempat di mana Gerbang Sihir Pemindah Ruang Tadi berada.
Wajahnya terlihat sedang berpikir bagaimana mengatasi agar Sihir Pemindah Ruang itu tidak bisa berfungsi dengan baik saat ia nanti berhasil menemukan mereka lagi.
"Terimakasih Pendekar Chan, aku sudah memutuskan akan menghukum dirinya atas kesalahannya itu."
Wajah Xun Chang terlihat memucat mendengar perkataan Kakak seperguruannya itu.
"Kakak, aku mohon padamu, bukan keinginanku untuk berkhianat pada mu dan yang lainnya."
Xin Chang lalu menjelaskan bahwa ia telah berusaha untuk mengambil alih kesadarannya kembali, namun Roh Iblis Merah terlalu kuat baginya.
Gui Han tampak termenung dengan apa yang dikatakan oleh adik seperguruannya yang sejak kecil sudah bersamanya itu.
Ia Memandang Wajah Xun Chang untuk memastikan sang adik tidak sedang membohongi dirinya. Ia pun bisa mengerti bagaiman rasanya saat tubuh manusia di rasuki oleh Roh.
Kebimbangan pun menyelimuti dirinya, jika ia tidak menghukum Xun Chang, nama guru mereka yang terkenal sebagai pendekar aliran putih akan tercemar.
Disisi lain rasa persaudaraan sejak masih kanak-kanak bukanlah hal mudah untuk dihilangkan begitu saja olehnya.
"Pendekar Chan bagaimana menurutmu, benarkah perkataan Adik seperguruanku ini tentang kekuatan roh Iblis itu dalam mengendalikan pikiran dan tubuh manusia?"
Yao Chan menghela nafas panjang, ia pun bingung bagaimana ia harus menyikapi masalah tersebut.
******