Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
078: Membantai Anggota Pisau Perak


"Tunjukan dimana ruang menteri tua Bangka itu berada!" Yindao104 berkata lirih kepada Yindao208.


Mereka berenam sudah berada di atas atap kediaman Perdana Menteri Lin Bao saat malam mencapai puncaknya dan bergulir menuju pagi.


"Tepat dibawah kita pemimpin" Yindao208 menjawab sambil mencabut dua buah pisau perak dari balik jubahnya. Kelima pembunuh yang lain pun segera mengeluarkan Pisau Perak mereka.


"Hendak kemana kalian, para Yindao"


Saat hendak melompat, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang terdengar dari atas kepala mereka.


Tubuh mereka berenam terpaku dan bergetar hebat saat melihat seorang pemuda sedang melayang enam meter diatas kepala mereka sambil menggenggam sebuah pedang.


Bukan hanya kemampuannya yang membuat tubuh mereka bergetar tetapi sebutan pemuda itu terhadap mereka. Seharusnya hanya kelompok mereka saja yang mengetahui sebutan bagi anggota Pisau Perak.


Mereka akhirnya mengumpat dalam hati kepada kedua rekan mereka yang ditangkap Yao Chan tadi siang. Mendapati kenyataan bahwa nama mereka diketahui, tentulah kedua rekan mereka tersebut telah berkhianat dan membocorkan rahasia kelompok Pisau Perak.


"Berani sekali kalian membunuhi pejabat istana, tentu kalian tahu hanya kematian yang pantas untuk kalian!"


Selesai berkata demikian, Yao Chan melesat dengan teknik Langkah Dewa Angin. Tubuhnya seolah menghilang dan tiba-tiba telah berada di tengah mereka dengan pedang yang telah ternoda oleh sedikit darah.


Yindao104 dan Yindao125 terkejut bukan kepalang mendapati dua anak buah mereka tiba-tiba jatuh dari atap dengan kepala menggelinding terlebih dahulu.


Sementara Yindao208 dan rekannya Yindao216 segera menjauhi Yao Chan dengan wajah memucat. Keduanya tak bisa melihat gerakan pedang Yao Chan yang membunuh kedua rekan mereka dalam satu serangan saja.


"Tenang saja,.kalian akan menyusul rekan kalian dan bisa bersenang-senang di akhirat.."Lanjut Yao Chan seraya menyeringai laksana serigala yang sedang menatap mangsanya.


Yao Chan segera menerjang Yindao208 dan Yindao216 dengan menggunakan jurus pertama Teknik Pedang Dewa Perang yaitu jurus Gelora Jiwa Pedang.


Jurus yang khusus ini digunakan untuk menghadapi dua orang lawan dalam tingkat yang sama. Namun karena tingkat kemampuan kedua lawannya berada jauh dibawahnya, dengan mudah Yao Chan mendesak mereka.


Yindao208 dan Yindao216, tak mampu bertahan lama dari serangan Yao Chan. Mereka harus rela kehilangan nyawa dengan kepala terpisah dari tubuh.


Yao Chan menatap tajam dua orang tersisa yang ia ketahui merupakan pembunuh kelas 1 yang memiliki kemampuan Pendekar Raja tahap Akhir.


"Sekarang giliran aku mengirim kalian menemui orang-orang yang telah kalian bunuh sebelumnya."


Kedua pembunuh tersebut, tersurut dua langkah ke belakang. Mereka menelan ludah melihat kemampuan dan kekejaman Yao Chan yang membunuh rekan-rekan mereka dengan mudah.


Melihat hal itu, keduanya sepakat bahwa mereka pun tak akan dibiarkan pergi dalam keadaan hidup-hidup. Untuk pertama kalinya kedua pembunuh bayaran itu merasakan takut dalam hati mereka.


"Yindao125 aku akan menahannya, kau pergilah dan sampaikan kepada ketua tentang pemuda ini."


Yindao104 mmberikan kata-katanya kepada rekannya Yindao125 yang merasa senang mendengarnya. Dengan demikian dirinya memiliki harapan untuk bisa lolos dari maut hari ini.


Yindao104 segera mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang ia miliki. Yao Chan mengerutkan dahinya melihat hanya salah satu saja yang akan menghadapinya. Yao Chan pun tersenyum setelah menyadari rencana mereka.


Yao Chan dan Yindao104 bergerak secara bersamaan. Senjata keduanya bertemu, namun Pisau yang digunakan Yindao104 bukanlah lawan sepadan bagi Pedang Pelangi yang merupakan Pusaka Bumi.


Pisau tersebut patah menjadi dua saat berbenturan dengan Pedang Pelangi untuk kedua kalinya.


Di saat itulah Yindao125 segera melesat, mencoba meninggalkan arena pertarungan sesuai arahan rekannya.


"Pelangi Merah"


Yao Chan yang sudah memprediksi hal tersebut lalu berteriak sembari melepaskan energi dari Pedang Pelangi. Energi berwarna merah itu, melesat menderu kearah Yindao125 yang sudah membalikan badan hendak pergi.


Yindao104 terkejut, tak menduga jika Yao Chan telah mengetahui rencananya untuk memberi kesempatan kepada Yindao125 melarikan diri.


Dirinya tertegun saat melihat tubuh Yindao125 terpotong menjadi dua bagian saat energi pedang berwarna merah tersebut menyentuh tubuhnya.


"Kau...kurang ajar...aku tak akan memaafkanmu"


Entah berapa jumlah pisau yang dibawa Yindao104, yang pasti sepuluh pisau telah ia lemparkan, namun tak satupun yang mampu menyentuh tubuh Yao Chan.


"Keluarkan seluruh kemampuan mu atau hanya sebegini saja kemampuan pembunuh kelas 1 dari Pisau Perak?"


Yao Chan berhasil menghindari serangan beruntun Yindao104 yang tertegun mendengar kata-kata Yao Chan.


Pisau Perak yang dibawanya hanya tinggal dua buah yang kini berada di kedua tangannya. Delapan belas buah sudah ia gunakan untuk menyerang Yao Chan namun lawannya masih berdiri tegak tanpa satupun mengalami luka.


Seandainya di atas atap ada lampu penerangan, maka akan terlihatlah wajah pucat Yindao104. Selama karirnya sebagai pembunuh, belum pernah ia mengalami kegagalan seperti saat ini.


"Kenapa kau diam saja? apakah selama ini kau belum pernah bertemu lawan sepertiku?"


Yao Chan menyeringai, perlahan ia mengalirkan tenaga dalam lebih besar ke seluruh tubuhnya. bersiap menggunakan jurus Aura Jiwa Pedang, jurus ke dua dari Teknik Pedang Dewa Perang.


"Anak muda siapa kau sebenarnya? Seingat ku, kita belum pernah bertemu sebelumnya, ada dendam apa kau dengan kelompok kami?"


Yindao104 mencoba bernegosiasi dengan Yao Chan, karena dirinya sadar tidak bisa meninggalkan pertarungan setelah melihat kekejaman Yao Chan.


"Tidak ada urusan katamu? apa kau sedang mabuk lem pak tua? Orang yang akan kalian bunuh adalah Kakek ku."


Yao Chan menyeringai melihat tubuh pembunuh bayaran itu menggigil saat mendengar bahwa Perdana Menteri yang akan dia bunuh adalah kakeknya.


Merasa tak bisa menyelamatkan nyawanya, Pembunuh bayaran itu membuang kedua pisaunya.


"Baiklah.. sebelum.aku mati, setidaknya beritahu namamu agar kelak di akhirat aku bisa mencari dan membalaskan dendam kepadamu."


Yao Chan tersenyum geli mendengarnya, namun ia tak ingin lelaki tua itu mati gentayangan.


"Namaku Yao Chan, sampaikan salam ku pada Raja akhirat."


Selepas berkata demikian, Yao Chan bergerak dengan kecepatan yang tak bisa terlihat oleh lawannya, sesaat kemudian tubuh pembunuh bayaran tersebut jatuh dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Yao Chan membersihkan pedangnya yang ternoda oleh darah sambil memandang ke sebuah arah di mana sepasang mata sejak tadi mengawasi pertarungan mereka.


"Pergilah, sampaikan kepada pimpinan kalian bahwa aku akan datang bertamu ke markas kalian sesaat lagi."


Yao Chan berkata dalam hati, lalu melompat turun dimana para prajurit telah berkumpul di sekitar mayat para pembunuh bayaran yang baru saja ia habisi.


Yao Chan segera kembali ke ruangan pamannya yang terlihat hilir mudik, tentu saja Lin Yung mendengar suara pertarungan Yao Chan, namun ia tak berani meninggalkan Ayahnya yang menjadi target dari para pembunuh tersebut.


"Paman, tolong buka pintunya ini aku Yao Chan."


Lin Yung bergegas membuka pintu, dan memberikan pertanyaan beruntun yang membuat Yao Chan tersenyum.


"Mereka sudah aku habisi semua paman, ada satu orang yang mengawasi pertarungan kami tadi, tapi ia segera pergi setelah aku selesai membunuh mereka semua. Sepertinya itu salah satu anggota mereka."


Jawab Yao Chan, lalu ia menjelaskan bahwa dirinya akan mengejar hingga ke markas kelompok Pisau Perak untuk menumpas mereka. Yao Chan juga mengatakan bahwa ia telah mengetahui dimana markas rahasia mereka.


...*****...


...Terimakasih atas Vitamin Like dan Votenya....


...Sehingga Author bisa rilis 2 Chapter...


...Jangan Lupa Like Chapter yang tertinggal...


...Terimakasih....