Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
125: Tewasnya Raja Singa Gurun


Yao Chan menyadari perubahan raut wajah lawannya, ia pun memanfaatkannya dengan cepat. Setelah melakukan sebuah gerak tipuan, tebasan pedangnya berhasil melukai bahu kakek berusia dua ratus tahun itu.


Raja Singa Gurun menggeram kesal, permainan pedang Yao Chan begitu bervariasi sehingga dirinya seringkali tertipu oleh gerakan pemuda belasan tahun tersebut. Akibatnya ia harus merasakan perih di bahu kanannya, karena tergores oleh pedang lawan.


Rasa gentar di hati Raja Singa Gurun berubah menjadi kemarahan ketika bahunya telah terluka. Serangannya yang berubah menjadi lebih cepat sedikit mengejutkan Yao Chan.


Jurus-jurus yang digunakan oleh Raja Singa Gurun belum pernah Yao Chan lihat sejak ia keluar dari Alam Kultiva Naga. Yao Chan pun sedikit kebingungan menundukkan kelincahan gerak dari Kakek berusia dua ratus tahun itu.


Yao Chan segera memasukkan pedang Pelangi kedalam Gelang Ruang Dimensi, lalu ia mengeluarkan Pedang Dewa Perang dan segera mengalirkan sejumlah besar qi ke dalamnya.


Gravitasi udara pun seketika berubah menjadi dua puluh kali lebih berat dari sebelumnya. Hal ini membuat Raja Singa Gurun terkejut, sehingga gerakannya pun menjadi lebih lambat dari sebelumnya.


Menyadari perubahan udara karena pedang lawannya, Raja Singa Gurun pun segera melompat mundur. Saat pertarungan berhenti sesaat itu, ia lalu mengalirkan sejumlah besar qi ke seluruh tubuhnya.


Gravitasi udara yang dua puluh kali lebih berat itu kini tidak lagi berpengaruh terhadap Raja Singa Gurun yang telah siap untuk kembali menyerang dengan pisau beracunnya.


"Anak Muda, kau benar-benar lawan terkuat yang pernah ku hadapi selama dua ratus tahun hidupku. Ketahuilah, tidak akan mudah untuk membunuhku. Apa kau masih ingin meneruskan pertarungan ini?"


Sebelum menggunakan jurus terkuatnya, Raja Singa Gurun mencoba bernegosiasi dengan Yao Chan yang tersenyum sinis mendengarnya.


*Kau pikir aku tak bisa membunuhmu? Aku tak akan melepaskan orang sepertimu pergi dari ku dengan membawa nyawanya."


Raja Singa Gurun mendengus kesal mendengar perkataan Yao Chan yang baginya terdengar angkuh dan arogan.


"Bocah, jangan salahkan aku jika kau mati muda ditanganku!"


Selepas berkata demikian, Raja Singa Gurun menggeram dengan keras. Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan bergetarnya udara akibat pengerahan tenaga qi yang besar dari dalam tubuhnya.


Perlahan tubuhnya terlihat diselimuti cahaya tipis berwarna merah kehitaman. Mata Yao Chan melebar melihat kekuatan yang di tunjukan oleh lawannya itu.


"Bocah terimalah kematian mu !"


Tubuh Yao Chan terdorong beberapa meter ke belakang akibat sebuah tendangan yang tiba-tiba telah menghantam dadanya dengan telak.


Yao Chan menyeringai setelah mengusap dadanya yang sedikit terasa sedikit sakit. Walau Zirah Sisik Naga melindungi tubuhnya, namun akibat kuatnya tendangan tersebut, rasa sakit masih ia rasakan.


Raja Singa Gurun tertegun mendapati lawannya tetap berdiri tegak seolah tendangan kuatnya tidak berarti apa-apa. Rasa penasaran membuatnya menyerang dengan jurus yang sama untuk kedua kalinya. Hanya kali ini ia berniat memotong leher Yao Chan dengan belati beracun senjata andalannya.


Mata Raja Singa Gurun melebar saat mendapati tebasan belatinya mengenai ruang kosong.


" Dia ... Dia bisa menghindari serangan jurus terkuatku???"


Raja Singa Gurun menjadi lengah karena tertegun jurus terkuatnya yang mengandalkan kecepatan super tinggi itu, masih bisa di hindari oleh Yao Chan.


PRAAAK


Raja Singa Gurun pun tewas dengan kepala pecah akibat tendangan jurus Tendangan Kuda Liar Yao Chan. Ia pun mati dengan rasa penasaran bagaimana Yao Chan bisa menghindari serangan terkuatnya dan tiba-tiba telah berada di belakangnya.


Yao Chan yang menyadari musuh memiliki kecepatan setingkat lebih cepat darinya, akhirnya menggunakan jurus Mata Menghentikan Waktu.


Selain karena jumlah qi yang dibutuhkan sangat besar. Yao Chan juga belum sepenuhnya menguasai jurus tersebut sehingga belum bisa mengeluarkan kehebatan sesungguhnya jurus Mata Menghentikan Waktu.


Jurus yang baru saja Yao Chan gunakan tidak benar-benar menghentikan waktu hanya memperlambatnya saja. Sehingga gerakan Raja Singa Gurun yang super cepat terlihat seperti gerak slow motion di matanya.


Sesaat sebelum Raja Singa Gurun menebaskan belati ke arah lehernya, Yao Chan telah bergerak lebih dulu melompat ke belakangnya. Lalu mengalirkan sejumlah besar qi ke kedua kakinya, sehingga dengan mudah di merobohkan Raja Singa Gurun.


Tubuh Raja Singa Gurun jatuh dan menghantam tanah dengan kuat. Yao Chan segera melesat kearahnya, lalu mengambil belati beracun tersebut dan menyimpannya ke dalam Gelang Ruang Dimensi.


"Aku harus segera mencari tahu kenapa tubuhku tidak bisa lagi membuat kristal qi, jika tidak bisa memecahkan masalah ini aku tidak akan bisa meningkatkan kekuatan ku lebih tinggi lagi."


Yao Chan bergumam dalam benaknya saat kembali ke para penduduk desa yang masih berkumpul di tempat mereka berada sebelumnya.


Setelah memberikan beberapa puluh koin emas sebagai pengganti kerusakan rumah penduduk yang hancur karena pertempurannya, Yao Chan pun segera meninggalkan desa Lei Kong.


Yao Chan membersihkan tubuhnya setelah sepuluh menit kemudian tiba kembali di penginapan. Ia pun merebahkan tubuhnya yang sedikit kelelahan akibat pertarungan dengan Raja Singa Gurun.


**


"Chan Gege ... Apakah kau sudah bangun?"


Suara Yu Lian menyadarkan Yao Chan dari meditasinya. Ia tak juga bisa memejamkan mata sekembalinya dari Desa Lei Kong.


Akhirnya ia pun memutuskan bermeditasi untuk memulihkan kembali energi qi nya yang banyak terkuras akibat pertarungan itu.


Setelah membasuh wajahnya, Yao Chan lalu membuka pintu ruangannya. Terlihat tiga orang gadis cantik telah menunggu di depan ruangannya.


"Chan Gege, Jian Gege sudah menunggu kita untuk sarapan."


"Baiklah ... mari kita kesana, oh iya Nona Qing Mi, sebaiknya kau nanti ikut dengan kami, baru setelah urusan kami selesai di barat, kita ke Utara untuk menemui Kakekku, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya."


Ucap Yao Chan sambil memandang Qing Mi yang terlihat anggun dengan gaun merahnya. Zhu Yin yang melihat hal itu menjadi kesal, Melihat Zhu Yin yang sedikit kesal, Yu Lian segera mengalihkannya dengan mengajak mereka untuk segera ke ruangan dimana Kaisar Wu Jian sudah menunggu mereka untuk sarapan pagi.


Perbincangan hangat terjadi saat sarapan ketika Yao Chan menjelaskan bahwa ia telah menumpas kelompok Singa Gurun dan membunuh pemimpin mereka.


Kaisar Wu Jian terlihat gembira mendengar kabar baik itu. Namun saat sarapan baru saja selesai, tiba-tiba seorang pengawal meminta izin untuk masuk bersama seorang yang di kenali oleh Yao Chan sebagai Tetua He Jun.


Firasat buruk segera menghampiri Kaisar Muda Wu itu saat itu saat Tetua He Jun berkata bahwa ada informasi yang sangat penting untuk segera ia sampaikan.


*****