Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
176: Mengamankan Kota


Para anggota Sekte Tombak Api terlihat begitu garang menyerbu kedalam rumah penduduk, mereka pun tanpa basa basi menyerbu dan membunuh penduduk yang di temui.


Namun saat mereka hendak bergerak lebih Jauh lagi, mereka tertegun ketika merasakan hawa membunuh yang luar biasa dari udara.


Mata mereka melotot lebar saat melihat seorang pemuda bersama seorang gadis sangat cantik terlihat melayang di udara sedang menatap mereka semua dengan tatapan yang dipenuhi kemarahan besar pada mereka.


Bahkan ketua Sekte Tombak Api terkesiap melihat hal itu, ada rasa gentar merasuki hatinya saat mendapati ada dua orang pendekar suci di kota Xinan.


Rasa gentar berubah menjadi rasa jerih saat ia mendengar jerit kematian yang mengerikan dari anggotanya yang tewas dengan kepala terpenggal dari lehernya.


Tubuh ketua Sekte Tombak Api bergetar hebat saat mengetahui siapa yang menyerang anggotanya tersebut.


Ia berhasil mengetahui bagaimana anggotanya tiba-tiba saja tewas dan terpenggal kepalanya saat melihat pemuda itu mengedarkan pandangannya.


Dari mata pemuda itu terlihat melesat keluar puluhan bahkan ratusan cahaya yang kemudian membesar menjadi pedang sepanjang dua jengkal yang membabat putus leher anggotanya.


"Mi'er kau cari mereka yang telah masuk kedalam rumah penduduk dan jangan beri ampun."


"Baik Chan Gege ... Aku sudah tidak tahan lagi melihat ulah mereka!"


Yao Chan memberi perintah kepada Qing Mi saat mendengar banyaknya teriakan warga dari dalam rumah. Qing Mi pun melesat ke sebuah rumah darimana berasal sebuah jeritan perempuan yang terdengar olehnya.


Sementara Yao Chan terlihat semakin geram, ia pun berniat menumpas para pengacau yang kini tersisa separuhnya dari jumlah semula.


Yao Chan kembali menggunakan jurus Pedang Mata Dewa yang baru saja berhasil membunuhi para pengacau yang belum ia ketahui dari sekte atau kelompok apa mereka berasal.


Yao Chan sekali lagi mengedarkan pandangan matanya kepada mereka yang datang ke kota Xinan tanpa diundang. Sementara para anggota Sekte Tombak Api masih tertegun dengan apa yang mereka lihat.


Mereka tak tahu bagaimana kawan-kawan mereka tewas mengenaskan tanpa bisa melihat apa yang membuat kepala mereka terpenggal dengan sangat cepat.


Namun mereka pun akhirnya harus mengalami hal yang sama dengan rekan-rekan mereka saat Pedang Mata Dewa milik Yao Chan menebas putus leher mereka.


Ketua Sekte Tombak Api kian bergetar tubuhnya saat mendapati kenyataan bahwa kini hanya tersisa dirinya dan sepuluh Tetua yang yang masih hidup.


Delapan Ratus Anggotanya yang lain bisa ia pastikan telah tewas semua saat melihat seorang gadis keluar dari sebuah bangunan yang berbeda dari ia masuk bangunan pertama kalinya.


Ketua Sekte itu memandang ke sepuluh tetuanya, dimana mereka juga sedang menatap dirinya meminta sebuah keputusan tentang situasi yang mereka hadapi.


Ketua Sekte itu segera mengerahkan sejumlah energi besar ke dalam tombak pusakanya. Mata tombak yang awalnya membara itu, kini diselimuti api yang berkobar besar.


Ia pun segera menembakan api itu ke arah pemuda yang terlihat masih melayang ke udara dan sedang menatap mereka dengan tatapan sedingin es.


Bola Api melesat dengan cepat kearah Yao Chan yang hanya tersenyum tipis melihat serangan itu.


Ia hanya menjentikan jarinya mengeluarkan jurus Sentilan Jari Naga yang dialiri energi qi yang dingin.


BLAAAAR


Bola Api itu tiba-tiba meledak saat bersentuhan dengan bola cahaya dingin dari Yao Chan.


Setelah ledakan itu mereda, Yao Chan melihat sebelas orang yang tersisa dari para pengacau itu, telah berada tiga puluh meter di luar tembok yang melindungi Kota Xinan.


Yao Chan kembali meminta Qing Mi untuk mengamankan rumah penduduk untuk memastikan tidak adalagi Anggota mereka yang tersisa.


"Ingin beradu cepat denganku heh..."


Yao Chan tersenyum tipis saat melihat sebelas orang tadi, kini telah berada pada jarak seratus meter darinya.


Ia pun melesat dengan Langkah Dewa Angin yang membuatnya dalam dua detik saja telah berada lima puluh meter di depan sebelas orang tersebut.


Ketua Sekte Tombak Api menjadi terkesiap saat melihat sosok pemuda yang membuat takut hatinya akan kematian, telah berada sepuluh meter di hadapannya.


"Kalian pikir bisa datang dan pergi semau kalian? hehehehe."


Yao Chan terkekeh geli menatap wajah Ketua Sekte dan sepuluh orang Tetuanya itu yang kini terlihat seperti seekor kambing yang akan disembelih.


Ketua Sekte Tombak Api pun menyadari bahwa mereka tidak akan dibiarkan pergi dalam keadaan hidup oleh pemuda itu. Ia pun menjadi putus asa dan tak ingin lagi melarikan diri.


"Bentuk Formasi Tombak Api Darah!"


Mendengar perintah dari Ketua Sekte mereka, Kesepuluh Tetua itu pun segera bergerak membentuk formasi yang terlihat aneh dimata Yao Chan.


Satu orang melompat dipundak kedua kawannya yang berdiri berdekatan, Ia pun berdiri dengan masing-masing kakinya berada di satu pundak mereka berdua.


Kini tiga orang tersebut terlihat menjadi satu kesatuan dengan tiga mata tombak yang menyatu dan terhunus ke arah Yao Chan yang masih belum bisa menerka seperti apa serangan yang akan mereka lakukan.


"Serang sekarang!"


Kesembilan orang dengan posisi yang terlihat aneh itu, segera berteriak bersamaan. Lalu dari ujung ketiga mata Tombak itu terlihat seberkas cahaya yang melesat dengan sangat cepat ke arah Yao Chan.


Ketiga Cahaya itu melesat sangat cepat ke tiga titik yang berbeda di tubuh Yao Chan yang terlihat terlambat menghindar oleh mereka.


Setelah itu tiga orang yang berada di atas pundak kedua rekannya melesat ke udara dengan maksud untuk menusukan tombak mereka.


Namun setelah ketiga cahaya tersebut mengenai tubuh Yao Chan mereka terkejut bukan kepalang mendapati pemuda tersebut masih berdiri dengan tegak dan senyum tersungging lebar di bibirnya.


Ketiga orang itu ingin menarik serangan mereka namun pandangan mereka menjadi gelap saat Pedang Mata Dewa Yao Chan menebas leher mereka bertiga, tanpa bisa mereka hindari walau sempat melihat Pedang cahaya sepanjang dua jengkal melesat dari mata pemuda itu.


Delapan orang lainnya terkesiap melihat serangan terkuat mereka gagal merobohkan lawannya. Namun rasa terkejut tujuh orang tetua itu, menghilang seiring dengan melayangnya nyawa dari tubuh mereka.


Tubuh Ketua Sekte Tombak Api kembali bergetar dengan wajah yang memucat saat mendapati Yao Chan menebas leher ke delapan Orang Tetuanya hanya dengan berdiri dan menatapnya saja.


Dengan tangan bergetar ia menghunuskan Tombak Api pusakanya ke arah Yao Chan yang melangkah santai ke arahnya.


Ia berniat untuk bernegosiasi dengan pemuda itu, namun tubuhnya terasa lemas saat tiba-tiba saja Yao Chan telah berada setengah meter di hadapannya, merebut Tombak lalu melemparkannya ke udara dan menghilang seketika.


Tubuhnya lemas bukan karena lelah dengan rasa takutnya, melainkan karena lehernya berada dalam cengkraman lawan yang membuat matanya melotot lebar.


Yao Chan pun dengan cepat menggunakan jurus mata menghisap ingatannya. Wajahnya terlihat keruh saat mengetahui apa yang telah direncanakan Song He.


*****