Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
138: Menumpas Laba-laba Merah


Disaat bersamaan dengan tibanya Song He dan yang lainnya di Lembah Siluman, Yao Chan bersama pemilik Kedai sedang menghadang Kelompok Laba-laba Merah di desa Niu yang berjarak tiga jam perjalanan dengan kuda dari Lembah Siluman.


Lelaki bertubuh besar yang merupakan pemimpin Kelompok Laba-laba Merah itu, sedang menatap Yao Chan raut wajah yang terlihat gentar.


"Kalian berdua! Apa maksud kalian menghadang kami dengan membawa senjata seperti itu? kalian mencoba melawan kami? Kalian hanya cari mati saja Hahahaha."


Salah satu anggota Laba-laba Merah menggertak Yao Chan dan Pria pemilik Kedai seraya mentertawakan mereka berdua. Rekan-rekannya pun ikut tertawa mengejek mereka berdua.


"Kalian masih saja menjadi perampok setelah sepuluh tahun berlalu. Sepertinya hanya kematian yang bisa membuat kalian berhenti menjadi perampok."


Setelah berkata demikian tubuh Yao Chan menghilang dari pandangan mereka. Lelaki yang baru saja mengejek Yao Chan itu, tidak sempat untuk terkejut lebih lama karena pandangannya menjadi gelap seiring kepalanya yang menggelinding jatuh dibawah kaki kudanya.


Suara tawa pun berhenti seketika berganti suara ketakutan dan kematian. Yao Chan yang sedari awal memang berniat menumpas mereka, tak ingin melepaskan satu orang melarikan diri darinya.


Pedang Pelangi pun bermandikan darah para perampok Laba-laba Merah. Dalam hitungan kurang dari satu menit, lebih dari dua puluh perampok meregang nyawanya di tangan Yao Chan.


Pemimpin perampok yang bertubuh besar itu hanya bisa mematung dengan wajah pucat. Sementara Pria Pemilik Kedai matanya melotot lebar menyaksikan kemampuan Pemuda yang diyakininya adalah adalah keponakannya. Ia Pun segera melesat membantu Yao Chan.


Sedangkan para perampok Laba-laba Merah berhamburan dan lari menjauhi Yao Chan sejauh mungkin. Namun Yao Chan tak ingin memberi ampun sedikit pun.


Mereka yang berusaha kabur darinya mendapatkan serangan energi dari Pedang Pelangi. Bukan hanya tubuh mereka saja yang terbelah, kuda mereka pun mengalami hal yang sama.


Melihat anak buahnya terbantai dengan mudah oleh seorang pemuda belasan tahun, pemimpin perampok itu mencoba kabur menyelematkan dirinya. Pria Pemilik Kedai yang melihat hal tersebut segera melesat menghadangnya.


"Hendak kemana kau!"


Pemilik Kedai itu segera melancarkan serangan dengan pedangnya. Mengetahui pimpinan perampok tersebut memiliki kemampuan pendekar Raja yang setingkat dengannya, Pria pemilik kedai itu langsung menggunakan jurus pamungkasnya.


Pedang dan Golok pun bertemu, pertukaran serangan pun dimulai. dari belasan jurus menjadi puluhan jurus.


Pemimpin Perampok Laba-laba Merah itu mendengus kesal karena serangannya tak satu pun bisa mengenai pria tersebut. Saat itulah ia menyadari tak lagi mendengar jeritan atau pun suara pertarungan lain di sekitarnya.


Disela-sela pertarungannya, Pimpinan Perampok Laba-laba Merah itu akhirnya menyadari bahwa seluruh anak buahnya telah tewas terbunuh dibantai oleh Yao Chan.


Nyalinya berubah ciut saat mendapati sosok pemuda yang membuatnya gentar itu terlihat melayang di udara dan sedang bergerak perlahan kearahnya.


Karena perhatiannya yang teralihkan oleh kedatangan Yao Chan, Pimpinan Laba-laba Merah itu terlambat menyadari serangan mematikan dari Pria Pemilik Kedai.


Pedang ditangan pria itu menembus tepat di dadanya yang membuat pandangannya menjadi gelap. Darah mengucur melalui bibirnya sebelum akhirnya tubuh besar itu tumbang dengan nyawa melayang.


Yao Chan yang menyaksikan hal tersebut, mengerutkan dahinya, mengingat-ingat dimana ia pernah melihat jurus Pria Pemilik Kedai itu sebelumnya.


Saat ia berhasil mengingatnya, jantung Yao Chan berdegup kencang. Jurus yang baru saja ia lihat adalah jurus yang sering dilatih oleh Ayahnya semasa ia masih kecil. Jurus yang hanya boleh dipelajari oleh keluarga Yao.


"Paman jika Aku boleh tahu, darimana Paman mempelajari jurus Angin Kematian itu?"


Yao Chan pun bertanya ketika kakinya telah memijak tanah didekat Pria Pemilik Kedai yang baru saja selesai membersihkan darah dari pedangnya.


"Anak muda, apa hubunganmu dengan adik misan ku bernama Yao Zhi? dan apa marga mu?"


Tubuh Yao Chan bergetar mendengar pertanyaan tersebut. Ia Ia pun akhirnya menyadari bahwa sosok di hadapannya ini adalah satu-satunya saudara Misan Ayahnya yang bernama Yao Fan.


"Keponakan Yao Chan memberi hormat kepada Paman Fan."


Seraya berkata demikian Yao Chan segera berlutut dihadapan Pemilik Kedai terbesar di desa Niu itu. Yao Fan yang memang sudah menduga jika Yao Chan adalah keponakannya segera menghampiri Yao Chan yang hendak bersujud ke tiga kalinya.


"Bangunlah Chan'er... Syukurlah adik Zhi memiliki penerus yang luar biasa."


Yao Fan memeluk Yao Chan dengan erat. Ia sudah mendengar Kabar tentang kematian saudara misannya itu di tangan Tujuh Iblis Lembah Neraka sepuluh tahun lalu. Hanya saja kabar tentang Yao Chan tidak ia dengar lagu sejak saat itu.


Mendapati keponakannya telah menjadi pemuda yang tampan dan memiliki kemampuan yang tinggi, Yao Dan tentu saja sangat gembira. Ia pun melepaskan pelukannya dan memandang Yao Chan dengan senyum lebar.


"Anak kecil berumur dua tahun itu kini telah menjadi pemuda yang sangat tampan, kau memiliki perpaduan wajah Ayah dan Ibumu. Oh ya bagaimana kabar ... Ibumu? Apakah kondisinya sudah membaik?"


Yao Fan sedikit ragu menanyakan kabar Lin Hua yang dia ketahui telah hilang ingatan karena terlalu syok mendengar kabar tentang kematian suaminya tersebut.


"Paman ... Ibu bukan hanya sudah pulih kembali ingatannya, ia pun telah menikah lagi dengan saudara seperguruan Ayah bernama Yu Ma."


"Apa!!! Syukurlah jika begitu, Aku mengenal baik saudara Yu Ma, tak ku sangka ia kini menjadi Ayah bagi keponakanku."


"Paman bagaimana dengan mayat para perampok itu, kuda-kuda mereka pun tampaknya masih banyak yang hidup."


"Tenang saja, nanti aku akan menemui Kepala Desa untuk mengerahkan penduduk desa Niu membuang mayat mereka semua dan mengambil kuda-kuda mereka."


Yao Fan pun mengajak Yao Chan untuk kembali ke kedai miliknya. Keduanya berjalan beriringan dan sesekali terdengar tawa lepas Yao Chan saat menceritakan kenakalan keponakannya itu saat berumur dua tahun.


Beberapa penduduk yang melihat Pertarungan merasa gembira melihat tak ada satupun perampok Laba-laba Merah yang masih hidup.


Namun disisi lain benak mereka dipenuhi pertanyaan ketika melihat pemuda yang membantai perampok tersebut bersujud kepada Yao Fan. Ada rasa takut menyeruak di hati mereka saat melihat kekejaman pemuda itu.


Saat keduanya telah tiba di depan Kedai, tiba-tiba suara Roh Naga Emas terdengar di kepala Yao Chan membuat langkahnya terhenti secara mendadak. Yao Fan pun menatap heran kepada Yao Chan. Saat ia hendak bertanya, Yao Chan telah berkata terlebih dahulu.


"Maafkan Aku Paman, sepertinya aku tidak bisa menginap aku harus segera menuju lembah Siluman saat ini juga."


Yao Chan mengeluarkan enam buah Apel Dewa dan memberikan kepada Pamannya tersebut. Yao Fan terkejut melihat cara Yao Chan mengeluarkan Sumber Daya yang sangat langka itu yang terlihat olehnya keluar dari ruang hampa.


"Paman ... Apel ini dapat membantu paman menembus tingkat Pendekar Pertapa Tahap menengah. Semoga kita bisa lekas bertemu lagi Paman."


Yao Chan pun mengajak Zhu Yin dan Qing Mi untuk segera berangkat ke Lembah Siluman. Sikap Yao Chan yang terburu-buru membuat Kedua gadis cantik itu heran, namun mereka menyimpan rasa penasarannya itu.


******